
Fero menatap heran pada Hansen yang sepanjang hari tampak sering senyum-senyum sendiri.
Saat bel pulang sekolah terdengar, Hansen juga tampak langsung beranjak dengan cepat, terlihat buru-buru sekali.
"Hans ..."
"Apa?" Hansen menoleh pada Fero di belakangnya.
"Lo lagi sakit ya?" Tangan Fero terulur, berlagak mau memegang dahi Hansen namun segera ditepis oleh Hansen saat itu juga.
"Apaan sih lo!" protes Hansen atas sikap Fero yang berlebihan.
Fero terbahak. Namun kemudian dia menatap Hansen dengan serius. "Lo ... deketin Vanya, ya?" tebaknya.
"Kok jadi kesana arah pembicaraan lo?" tanya Hansen yang sudah menduga jika Fero akan bisa mengetahui hubungannya dengan Vanya sebelum ia beritahu.
"Jawab aja, Bro." Fero mengulas senyum penuh arti dan Hansen langsung memahami artinya.
"Gue udah pacaran sama Vanya," kata Hansen to the point.
Mata Fero terbelalak. "Serius lo?" tanyanya terkejut.
Hansen mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, lo tau kan apa yang harus lo lakuin?" ujarnya kemudian.
Fero langsung menepuk jidatnya sendiri, lantas mengangguk juga kemudian. Ia tau maksud perkataan Hansen adalah ia harus menjaga rahasia ini.
"Ada uang tutup mulutnya gak?" tanya Fero lagi.
"Ini ...." Hansen menunjukkan kepalan tinju didepan wajah Fero. "... mau Lo?" ujarnya kemudian.
"Hahah, canda aja bos. Gak usah serius amat." Fero menyengir.
"Ya udah deh. Gue mau langsung cabut, kasihan Vanya pasti nungguin gue."
"Iya deh, yang udah gak jomblo lagi," gerutu Fero.
Hansen terkekeh menanggapinya namun ia segera berlalu menuju parkiran motor.
Sesampainya di tempat itu, Hansen mendapati Vanya yang sudah menunggunya disana.
"Kak," panggilan Vanya saat Hansen mendekat.
"Ya. Ayo pulang," ajak Hansen.
Vanya tampak menggeleng, wajahnya tampak merasa bersalah.
"Kenapa?"
"Aku kayaknya gak pulang bareng kakak. Ada tugas kelompok dirumah Windi, jadi kita semua mau kesana," ujar Vanya terus terang.
Hansen memaklumi itu. "Ya udah, aku anterin ke rumah Windi," katanya lagi.
Vanya menggeleng. "Kita semua berangkat bareng Farel kak. Naik mobilnya dia," jawabnya.
"Farel?" Hansen merasa tidak mengenali adik kelasnya yang ini. Entah Hansen yang kurang bergaul, atau cowok bernama Farel ini lah yang kurang populer di area sekolah mereka.
"Iya, dia murid baru di kelas aku, Kak."
"Oh." Hansen manggut-manggut, sekarang barulah ia tau kenapa ia tak pernah mendengar nama murid tersebut.
"Sama siapa aja perginya?" Hansen bersyukur karena Vanya mau berpamitan padanya dan tidak langsung pergi begitu saja.
"Aku, Dinda, Rega sama Metha, Kak!"
"Rega juga ikut?" tanya Hansen dengan senyum miringnya. Rega itu pernah terlibat perkelahian dengan Hansen kira-kira setahun yang lalu. Pemicunya adalah karena kalah dalam pertandingan Futsal yang diadakan diluar sekolah.
__ADS_1
"Iya, kita satu kelompok. Gak apa-apa, kan kak?"
"Ya udah, hati-hati ya kamu." Hansen mengusak pelan puncak kepala Vanya, yang ditanggapi gadis itu dengan senyuman dan anggukan.
Mau tak mau, hari ini Hansen harus pulang ke rumah sendirian.
Hansen memperhatikan Vanya yang menghampiri teman-temannya di dekat parkiran mobil. Ada cowok yang asing dimata Hansen dan dia menyimpulkan jika itulah yang bernama Farel. Tampangnya lumayan, pikir Hansen.
Hansen belum beranjak dari tempatnya sebelum memastikan jika Vanya benar-benar naik ke mobil X-pander itu bersama semua teman yang ia sebutkan namanya tadi.
Setelah melihat Vanya dan kelompoknya benar-benar pergi, barulah Hansen menyalakan mesin motornya.
Hansen tiba di rumah dan suasana terasa amat sepi tanpa Vanya.
"Belum apa-apa, gue udah kangen sama dia," gumam Hansen yang langsung naik ke kamarnya di lantai atas.
Hansen meletakkan ranselnya didekat meja belajar, kemudian meraih smartphone miliknya. Ia mengirimkan pesan dari aplikasi hijau pada Vanya.
[Pulangnya jangan terlalu sore ya. Apa nanti mau aku jemput?]
Dan pesannya itu tidak langsung dibalas oleh Vanya. Hansen memilih untuk membersihkan diri lalu mengganti seragam sekolahnya.
Tak berapa lama, ponsel Hansen terdengar berdering. Hansen pikir itu adalah Vanya yang meneleponnya, ternyata itu adalah sang Mama.
"Ya, Ma? Ada apa?" jawab Hansen.
"Hans, kamu udah pulang sekolah? Kalian sehat semua kan, Nak? Maaf ya mama baru sempat nelpon sekarang."
"Iya, gak apa-apa kok, Ma. Nikmatin aja liburan mama. Aku udah pulang sekolah kok ini."
"Adikmu gimana, Hans?"
"Tadi Vanya pamit mau kerja kelompok dirumah temennya," jawab Hansen jujur.
"Iya, Ma."
Dalam hati Hansen, tanpa perlu diminta pun ia pasti akan menjaga Vanya.
Saat panggilan itu terputus, Hansen melihat ada balasan pesan yang dikirimkan oleh Vanya.
[Gak usah dijemput, Kak. Nanti aku bareng sama yang lainnya aja. Aku gak bakal pulang terlalu sore kok.]
Hansen tersenyum membaca pesan dari Vanya, kemudian dia membalasnya lagi.
[Cepat pulang, Miss you.] Dan terkirim. Hansen terkekeh karena pesan yang dia buat sendiri.
Tak mau memikirkan Vanya terus, Hansen memilih turun ke bawah untuk makan siang. Ia jadi teringat apakah Vanya melupakan makan siangnya?
Hansen memilih menelepon Vanya sekarang. Panggilannya tidak langsung terjawab, sampai panggilan ketiga barulah Vanya menerima teleponnya.
"Kamu udah makan siang?" tanya Hansen pada Vanya diseberang sana.
"Ini mau makan siang, kak."
"Makan dimana?"
"Ya disini, Kak, dirumah Windi. Bundanya yang masakin buat kita," kata Vanya yang terdengar antusias.
Hansen mendengar jika seseorang memanggil Vanya. Itu suara lelaki yang Hansen yakini adalah Farel, atau justru Rega?
"Van, ayo makan dulu sini."
Disusul suara Vanya yang langsung pamit pada Hansen saat itu juga.
"Kak, udah dulu ya teleponnya. Bye."
__ADS_1
Hansen belum menjawab, tapi Vanya sudah memutuskan panggilannya sebelah pihak. Entah kenapa, sekarang Hansen mendadak kesal.
Hansen menarik nafas dalam, kemudian mulai menyuap makanannya sendiri.
Ditengah-tengah kegiatan makannya, Hansen malah kepikiran jika Vanya tertarik pada cowok bernama Farel itu. Apalagi dari yang Hansen lihat, tampang cowok itu lumayan tampan dan penampilannya juga oke. Kalau Rega, Hansen tak begitu khawatir, karena Rega berpacaran dengan Windi.
"Ah apaan sih gue. Vanya kan udah milih gue," katanya berusaha menenangkan diri sendiri.
Menunggu sampai pukul 05. 30 sore dan sadar jika Vanya belum juga tiba dirumah, membuat perasaan Hansen menjadi khawatir.
Saat ia ingin kembali menelepon Vanya, kegiatan itu terhenti kala mendengar suara klakson mobil didepan rumah.
Hansen menyibak gorden jendela demi melihat siapa yang datang. Tidak mungkin itu Mama dan Papa Chandra karena mamanya masih akan pulang dua sampai tiga hari lagi.
Dan saat benar-benar memastikan siapa yang turun dari mobil tersebut, Hansen baru sadar jika itu adalah Vanya. Harusnya Hansen langsung ingat saat melihat mobil X-pander itu, sayangnya ia tidak menaruh perhatian pada mobilnya. Itu berarti Farel yang mengantarkan Vanya pulang.
Hansen buru-buru keluar rumah dan menghampiri mereka disana. Hansen pikir, ada teman Vanya yang lain di dalam mobil itu, nyatanya disana cuma ada Farel sendiri yang mengantarkan Vanya.
Hansen memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia kenakan. Ia menatap Vanya dan Farel bergantian.
"Kok baru pulang, Van?" tanya Hansen datar.
"Iya, Kak. Kerja kelompoknya lumayan susah," jawab Vanya apa adanya. Meski begitu, Vanya sadar jika aura wajah Hansen sangat tidak bersahabat sekarang.
"Ini siapa, Van?" celetuk Farel yang menyadari wajah tak bersahabat yang dipasang Hansen saat melihatnya.
"Uhm, ini kakak aku, Rel."
Farel mengangguk, kemudian memasang senyum terbaiknya dihadapan Hansen.
"Maaf ya, Kak. Tadi Vanya kerja kelompok bareng aku sama teman-teman yang lainnya juga."
"Hmm," sahut Hansen dingin.
"Kalau gitu, aku pamit pulang ya, Van." Farel menatap Vanya, kemudian mengangguk sopan pada Hansen disana.
Seperginya mobil Farel, Hansen segera berbalik arah untuk masuk ke dalam rumah. Ia tidak menyapa Vanya lagi. Namun panggilan Vanya membuat langkah Hansen berhenti.
"Kak?"
Hansen hanya menoleh sekilas.
"Maafin aku ya, Kak, karena pulangnya lumayan sore," ujar Vanya dengan wajah penuh penyesalan.
"Hmm," jawab Hansen cuek.
Vanya buru-buru mengejar langkah Hansen dan mencekal pergelangan tangannya.
"Kakak marah ya sama aku?" tanya Vanya sambil menatap kedua bola mata Hansen bergantian.
"Menurut kamu?"
"Marah," jawab Vanya sambil menggigiit bibirnya.
Hansen kembali berjalan tanpa menghiraukan ucapan Vanya.
"Kak, maafin aku ya." Vanya masih mengejar langkah Hansen.
"Udah, kamu mendingan mandi. Udah sore juga, kan!" Hansen menaiki tangga tanpa menoleh pada Vanya sedikitpun.
Entah kenapa Vanya merasa sedih dengan sikap Hansen yang kembali dingin padanya. Ia tau ia salah karena melanggar janjinya untuk tidak pulang terlalu sore. Tapi kenapa Hansen harus bersikap seperti dia sudah melakukan kesalahan besar?
...Bersambung ......
Dukung karya ini terus yuk. Biar terus berlanjut💚💚💚
__ADS_1