Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
6


__ADS_3

Tinggal serumah dengan gadis yang ia sukai, adalah salah satu ujian terberat bagi Hansen.


"Boro-boro bisa ngelupain, malah disuruh tinggal serumah," gumamnya saat melihat Vanya yang baru saja turun dari anak tangga demi menyambut kedatangannya hari ini.


"Van, mulai hari ini Hansen bakal tinggal bareng-bareng sama kita semua disini. Jadi, kalian harus saling terbiasa satu sama lain ya," kata Chandra berpesan pada putrinya sembari sesekali menatap pada Hansen yang baru tiba.


"Iya, Pah." Vanya mengangguk pertanda menuruti pesan sang Ayah.


"Kalau gitu, kamu tunjukkin sama Hansen dimana letak kamarnya dan ruang-ruang apa aja yang ada di rumah ini."


"Oke, Pah." Vanya mengacungkan jempol. Kemudian bergerak ke sisi Hansen. "Ayo, Kak!" ajaknya ceria.


Hansen masih bergeming ditempatnya, baginya keadaan ini terasa akward dan sulit dijabarkan.


"Hans, mulai sekarang anggap ini sebagai rumah kamu juga jadi jangan canggung dan sungkan," kata Chandra pada anak sambungnya.


Hansen menipiskan bibir pada pria bersahaja yang baru menikahi sang Mama satu hari kemarin.


"Iya, Om."


Zia langsung menoleh pada putranya, bersamaan dengan Chandra yang juga menatap sedikit bengong pada Hansen.


"Kok, 'om' sih? Kan Saya udah jadi papa kamu sekarang," kaya Chandra dengan terkekeh.


"Ah, iya, iya." Hansen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oke, Pa!" katanya kaku.


Zia menahan tawa dari posisinya, tak lama ia ikut menghampiri posisi suami dan anak-anaknya karena sejak tadi ia hanya memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Ya udah, sekarang kamu masuk ke kamar kamu gih, nanti lama-lama juga terbiasa sama semua keadaan ini," kata Zia dengan senyuman.


Chandra langsung merangkul bahu wanita yang sudah menjadi istrinya itu. "Iya, Ma. Hansen belum terbiasa aja disini," katanya menimpali perkataan Zia.


Zia pun mengangguk setuju.


Kini, Hansen menoleh pada Vanya. Gadis itu tampak mengangkat bahu dengan cueknya.


"Kamar gue dimana?" tanya Hansen pelan pada gadis itu.


Vanya pun tersenyum, lalu mulai berjalan mendahului Hansen untuk menunjukkan letak kamar pemuda itu yang letaknya ada dilantai atas.


"Ini kamar kakak," kata Vanya sembari membukakan pintu.


Hansen masuk dan melihat sekeliling. Kamarnya lumayan besar, tidak jauh berbeda dengan kamarnya di rumah lamanya. Didominasi dengan warna cokelat dan putih, ada balkon yang bisa membuat Hansen tidak jenuh karena ia bisa melihat-lihat pemandangan luar.


"Ya udah Kak, aku ke kamarku dulu. Kalau butuh apa-apa, kakak bisa panggil aku ya."


"Kamar lo dimana?" tanya Hansen saat Vanya hampir bergerak pergi.


"Disebelah," jawab Vanya sambil lalu.


Hansen mengangguk dalam posisinya. Ia mulai membongkar koper dan ranselnya ketika Vanya benar-benar sudah keluar dari ruang pribadinya tersebut.


Setengah jam berlalu, Hansen masih sibuk menata dan menyusun barang-barangnya sendiri ke dalam kamar yang kini ia tempati. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan saatnya mereka harus makan sekarang.


"Kak ..."


Hansen tau itu adalah suara Vanya yang memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya.


"Ya?"


Mulai sekarang Hansen harus siap dan berlagak menjadi kakak yang baik untuk gadis itu, setidaknya ia harus mencobanya.


Hansen berdiri dari posisinya dan membuka pintu kamar tersebut.


"Kenapa?" tanyanya pada Vanya yang berdiri diambang pintu.


Vanya tampak langsung menunduk, entah apa yang terjadi tapi wajah gadis itu terlihat memerah.

__ADS_1


"Ada apa?" Hansen mengulangi pertanyaannya.


"Mama sama Papa ngajakin makan malam bareng. Kakak udah ditunggu di ruang makan," jawab Vanya masih tak berani mengangkat wajah.


"Lo kenapa?" tanya Hansen merujuk pada sikap aneh Vanya.


"Gak apa-apa. Gak biasa aja lihat kakak gak pake baju," jawabnya polos.


Disitulah Hansen sadar bahwa dirinya sedang berte-lan-jang dada sekarang.


"Ah, sori. Gue tadi nyusun barang-barang, panas, jadi kaosnya gue buka," jawab Hansen jujur.


"AC nya gak dinyalain?"


"Gue gak nemu remote-nya."


"Harusnya sih ada. Nanti aku bantu carikan," kata Vanya lagi.


"Boleh?" tanya Hansen dengan suara rendah.


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berani menatap Hansen.


"Ya udah, langsung ke bawah aja ya, Kak. Biar makan malam bareng." Vanya tampak malu-malu dan Hansen tak kuasa menahan tawanya.


"Haha, oke."


"Jangan ngetawain aku, Kak. Pake bajunya, lho!" pesan Vanya sebelum benar-benar meninggalkan Hansen disana.


Hansen memegang dadanya yang berdebar, ia senang sekali melihat gadis itu tersenyum malu-malu karenanya. Tapi mengingat kenyataan selalu membuat Hansen tertampar keras.


"Dia adek lo, Hans!" Hansen menggerutu sembari mengingatkan dirinya sendiri.


...***...


"Gimana hasil ujian kalian?" tanya Chandra saat mereka sudah selesai makan malam dan berkumpul di ruang keluarga.


"Belum keluar, Pah. Kan ambil raportnya masih seminggu lagi. Sekarang masih masa-masa remedial," jawab Vanya.


"Gak tau sih, Pa. Tapi kayaknya nilai bahasa Inggris aku yang bakal merosot parah," ujar Vanya.


"Kok gitu?" timpal Zia.


"Iya, Ma. Habisnya aku gak gitu bisa bahasa Inggris. Udah pernah kursus tapi gak cocok di aku."


Hansen hanya diam, lebih tepatnya dia tidak mendengarkan percakapan ketiga orang itu, ia sibuk menonton televisi yang sedang menayangkan pertandingan sepak bola Derbi Manchester.


"Belajar sama Kakakmu aja, Van. Hansen jago lho bahasa Inggrisnya," kata Zia.


"Serius, Ma?" tanggap Vanya.


Hansen yang mendengar namanya disebut, hanya melirik sekilas. Ia belum mencerna apa yang sekarang tengah dibahas oleh Vanya dan ibunya.


"Kakak mau ngajarin aku bahasa Inggris?" tanya Vanya yang kini benar-benar mengarah pada Hansen.


"Apa-an?" tanggap Hansen tak acuh.


"Ajarin aku bahasa Inggris, ya. Kata Mama kakak jago bahasa Inggrisnya."


Disitulah Hansen tersentak. "A-apa?" responnya kaget.


"Iya, kalau sama kamu kan Vanya bisa lebih leluasa. Kamu juga pasti ngajarinnya lebih sabar karena kan Vanya adik kamu sendiri sekarang," timpal Zia kemudian.


Hansen berkedip gelisah. Ia tidak tau harus berkata apa sekarang. Tapi ada baiknya dia menolak saja.


"Kenapa gak kursus bahasa aja?" kata Hansen mencoba memberi saran.


"Udah pernah. Tiga tempat malah. Tapi, Vanya itu memang susah diajarinnya. Siapa tau sama kamu cocok dan dia bakal nurut," kata Chandra ikutan nimbrung.

__ADS_1


Kali ini Hansen mati kutu, ia tidak mungkin menolak lagi. Apalagi ibunya sendiri yang merekomendasikan dirinya. Mana bisa Hansen mengeluh atau beralasan bahwa ia tidak pandai bahasa Inggris sedang sang ibu saja mengatakan dia mahir dengan pelajaran tersebut.


"Ya udah, kalau gitu nanti aku ajarin Vanya," ujar Hansen pasrah. Ia juga sungkan pada ayah sambungnya jika ia bersikap cuek pada Vanya.


"Makasih ya, Kak." Vanya menatap Hansen dengan mata berbinar.


"Huum."


"Papa dan Mama seneng banget kalau kalian akur kayak begini. Ngeliatnya adem,"ujar Chandra kemudian.


"Iya ya, Pa." Zia menyetujui perkataan suaminya.


Chandra pun mengangguk.


Sedang disana, Hansen mulai dijalari rasa pening karena keadaan seakan menjepitnya.


"Oh iya, Kak. Remote AC nya udah ketemu belum?" tanya Vanya ketika ia ingat bahwa Hansen tidak menemukan benda tersebut.


"Belum dicari lagi sih."


"Ya udah, aku cari di kamar kakak ya."


Hansen mengangguk tanpa mengalihkan atensinya dari layar televisi.


Beberapa saat kemudian, Hansen kembali ke kamarnya saat pertandingan yang ia saksikan telah selesai.


"Astaga!" Hansen memegang dadanya sendiri karena terkejut melihat Vanya ada di kamarnya. "Kamu ngapain?" tanyanya kemudian.


"Nyari remote AC," jawab Vanya apa adanya.


"Bukannya udah dari tadi nyarinya?"


"Belum. Tadi gak sempat, jadi baru sekarang aku kesini buat cari remote-nya. Ntar kakak tidurnya kepanasan. Kasihan," kata Vanya sembari matanya sibuk mencari-cari keberadaan benda yang ingin ditemukannya.


Hansen menarik nafas panjang. Sekarang ia berada hanya berdua dengan Vanya, tapi posisinya Vanya adalah adiknya, jadi Hansen tidak boleh memperhatikan gadis itu melebihi batasan--seperti yang biasa ia lakukan selama ini.


"Kakak udah coba lihat di rak yang itu?" tanya Vanya mengarah pada lemari kabinet disisi kiri.


"Belum."


"Kayaknya disana deh." Vanya berjalan menghampiri lemari, namun tangannya tidak sampai untuk menuju rak yang ingin ia capai.


Vanya tampak melompat-lompat kecil untuk mencapai rak kabinet tapi ia gagal.


"Biar gue aja," kata Hansen sembari datang mendekat. Tangan Hansen terulur ke atas namun tatapannya mengarah pada Vanya yang kini juga mendongak dihadapannya.


Jarak mereka sangat dekat, sampai Vanya bisa merasakan hembusan nafas Hansen yang berat.


"Yup, bener remote-nya disini," kata Hansen sembari menunjukkan benda yang sejak tadi dicari-cari. Ia tersenyum miring melihat Vanya mematung layaknya orang yang sedang terpesona.


Mendengar suara Hansen, Vanya segera tersadar, ia langsung mundur ke belakang dengan gugup, namun hal itu justru membuatnya hampir terantuk pada dinding dibelakangnya.


Dalam keadaan itu, secepat kilat Hansen memegang tubuh Vanya demi menghindarkannya dari benturan pada tembok.


Vanya langsung terkesiap saat merasakan tubuhnya menubruk dada bidang Hansen. Bersamaan dengan itu pula, tatapan keduanya terkunci satu sama lain.


"Lo gak apa-apa, kan?" tanya Hansen pelan.


Vanya mengangguk, lalu segera memutus kontak mata diantara mereka.


"Ya udah, remote-nya udah ketemu, aku balik ke kamar aku ya, Kak!" Vanya jelas menghindar.


Hansen pun mengangguk dalam diamnya. Vanya tampak buru-buru keluar dari ruangan tersebut dan ia pun masuk ke kamarnya sendiri.


Vanya menutup pintu kamar dan memegang dadanya sendiri yang terasa berdegup dengan kencang.


"Ya Tuhan, kenapa kakak sambungku harus Kak Hansen?"

__ADS_1


...Bersambung ......


...Dukung karya ini terus ya💚...


__ADS_2