Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
31


__ADS_3

Sekarang Zia benar-benar sudah mengetahui perihal hubungan Hansen dengan anak sambungnya, Vanya.


Zia tetap tidak bisa memaklumi hal ini, karena menurutnya Hansen dan Vanya harusnya saling menyayangi sebagai kakak dan adik. Lalu, bagaimana bisa mereka harus terjebak dalam sebuah hubungan, padahal mereka berdua tau jika itu sangat melanggar norma dan adab yang seharusnya mereka ikuti?


Untuk membuat hubungan yang tidak wajar itu renggang, sepertinya Zia harus mengorbankan perasaan putranya, Zia takkan sanggup menjawab apabila Chandra mengetahui lalu menanyakan hal ini padanya. Zia menghindari hal itu, dia mau keluarganya baik-baik saja.


Untuk itu, Zia meminta Chandra segera mengurus berkas Hansen agar bisa kuliah di Singapore saat anak itu lulus SMA nanti. Kalau saja bisa, Zia bajakan menginginkan Hansen dan Vanya berpisah jarak mulai dari sekarang, tapi mengingat Hansen masih harus mengikuti satu semester lagi disekolahnya, maka Dia mencoba menahan kesabarannya.


Zia memilih tak menceritakan ini pada Chandra, dia harap semua yang terjadi pada Hansen dan Vanya bisa berubah seiring waktu. Menurut Zia pula, perasaan mereka berdua itu masih labil, jadi dia sangat berharap suatu saat Hansen atau Vanya bisa berubah haluan dengan pasangan yang lain.


Serupa dengan Zia, Hansen memilih tidak mengutarakan hal yang sudah diketahui Zia pada Vanya. Dia mau semuanya berjalan baik-baik saja, sebab Hansen tau nyali Vanya akan ciut jika tau bahwa Zia sudah mengetahui tentang hubungan mereka.


Hansen mau menjalani hubungan dengan Vanya seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Jadi, dia memilih diam agar Vanya tetap merasa nyaman.


"Kak, nanti pulang sekolah aku mau lanjut kerja kelompok sama yang lain."


Vanya mengatakan pada Hansen mengenai jadwal kegiatannya sepulang sekolah nanti. Hal itu juga didengar oleh Chandra dan Zia yang berada di meja makan yang sama.


"Oh. Sama Farel juga?" tanya Hansen dengan nada tak senang.


"Iya, Kak." Vanya menunduk. "Aku sama Farel kan udah terlanjur satu kelompok biologi waktu itu, jadi sekarang kelompoknya tetap sama dengan yang kemarin itu," jelas Vanya.


"Siapa Farel, Van?" tanggap Zia menimpali. Dia mau mengalihkan Vanya pada cowok lain, usaha tak ada salahnya, kan? Lagipula untuk bersama Hansen terus, itu tidak mungkin, pikir Zia.


"Teman satu kelas aku, Ma. Satu kelompok biologi."


"Oh, pasti orangnya keren, ya?" tanya Zia.


Hansen langsung melirik sang Mama dan kebetulan Zia juga menoleh padanya, sepertinya sengaja mau memanas-manasi. Dari tatapannya, Zia seolah berkata pada Hansen bahwa Vanya itu lebih baik bersama orang lain ketimbang pacaran dengan Kakak sendiri.


"Mana aku tau, Ma."

__ADS_1


"Kalo iya juga gak apa-apa, Van," kata Zia terkekeh.


Hansen kesal sendiri dengan ibu kandungnya itu, apa sebegitu inginnya Zia untuk memisahkannya dengan Vanya.


"Lebih keren Hansen kemana-mana dong, Ma!" celetuk Hansen malah meladeni hasutan Zia pada Vanya.


Chandra ikut terkekeh-kekeh mendengar ucapan Hansen, dia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Kayaknya cakepan anak lajang kita, lho," timpalnya.


"Tuh, apa aku bilang," kata Hansen mengendikkan bahunya dengan gaya cuek.


"Kalau menurut Vanya, keren siapa? Hansen atau Farel?" tanya Zia kemudian. Zia sengaja melakukan itu, karena dia yakin Vanya takkan berani mengakui Hansen didepan semua orang karena takut dicurigai mengenai hubungan mereka berdua.


"Kalau keren sih kerenan Kak Hansen, Ma," jawab Vanya polos.


Hansen melirik sang Mama dan Mamanya kesal sendiri karena Vanya memuji Hansen didepannya seperti ini. Padahal, seharusnya Zia senang mendengar itu kan? Bukankah yang dipuji Vanya disini adalah anaknya sendiri? Tapi entah kenapa Zia tak senang dengan hal itu.


"Kalau yang paling tampan siapa, Van?" tanya Zia lagi. Hansen geleng-geleng kepala, dia merasa ibunya seperti anak kecil. Tapi Hansen memaklumi ketidaksukaan Zia akan hubungannya dengan Vanya.


"O iya, dong. Papa emang paling tampan," kata Chandra.


Selesai sarapan, mereka semua ke depan rumah. Zia mengantar anak-anak dan suaminya yang akan berangkat ke tujuan masing-masing.


"Van, kamu naik mobil aja sama pak Cipto. Gak usah naik motor sama Hansen," usul Zia pada Vanya yang menyalami tangannya dengan takzim.


"Lho, kenapa, Ma?" tanya Vanya tak tahu menahu.


Hansen hanya diam, sekali lagi dia mencoba memaklumi sikap sang Mama yang tidak mungkin menerima hubungannya dengan Vanya begitu saja.


"Naik motor kan panas, Van. Rambut kamu juga bisa lepek karena pake helm. Terus juga, duduknya gak nyaman."


Hansen yang mendengar itu hanya mengendikkan bahu cuek, kemudian dia memasuki garasi untuk mengeluarkan motor besarnya dari tempat itu. Hansen takkan memaksa Vanya, toh ini karena permintaan ibunya juga.

__ADS_1


"Vanya sama Kak Hansen aja deh, Ma." Vanya menyahut. Menurutnya, ulasan sang Mama tentang naik motor itu memang benar, dia tak menampik bahwa naik motor dan pakai helm bisa membuat rambutnya lepek, tapi kalau soal kenyamanan, Vanya paling suka duduk dibelakang punggung lebar Hansen dan bersandar dibahu pemuda itu. Tak masalah jika dia harus berpanas-panasan.


"... lagian, panas pagi kan sehat, Ma," sambung Vanya, membuat Zia terperangah mendengarnya.


"Papa pergi dulu ya, Ma." Tepukan Chandra di pundak Zia, menyadarkan wanita itu, buru-buru dia menyalami tangan suaminya.


"Iya, Mas. Tapi itu ..." Zia menunjukan Vanya yang sudah naik ke boncengan motor Hansen. "Mereka---"


"Ya biarin aja, Sayang. Mereka kan satu tujuan. Lagian, apa kamu gak senang lihat mereka akur dan akrab begitu?" ujar Chandra realistis.


Zia melongo beberapa detik, sampai akhirnya dia terkesiap lagi saat Vanya melambaikan tangan ke arahnya.


"Kita berangkat ya, Ma!" seru Vanya.


Disusul dengan suara klakson dari motor Hansen yang sengaja ditekan oleh pemuda itu. Zia menelan ludah dengan susah payah, ternyata memisahkan Vanya dan Hansen tak semudah pemikirannya. Apalagi Hansen tampak membangkang kali ini, bahkan tidak memedulikan permintaannya yang meminta mereka untuk segera mengakhiri hubungan.


Sedikit banyak, Zia sebenarnya sadar bahwa Hansen seserius itu pada Vanya, karena itu pulalah Zia semakin takut jika hubungan mereka semakin serius. Mau bilang apa dia pada Chandra nantinya? Begitulah pemikiran Zia.


"Ma, kok melamun? papa pergi sekarang ya."


Chandra mengecup dahi Zia penuh kasih sayang dan wanita itu membalasnya dengan anggukan serta senyuman paling manis.


"Hati-hati ya, Mas."


Zia melambaikan tangannya pada mobil Chandra yang ikut berlalu. Hatinya merasa gundah dan cemas dengan hubungan Hansen dan Vanya, sebab bisa saja sewaktu-waktu Chandra akan segera mengetahuinya.


"Aku harap, saat Mas Chandra mengetahui semua itu, Hansen dan Vanya udah putus. Atau minimal, mereka udah terhalang jarak," batin Zia.


...Bersambung ......


Maaf ya lama up. Pada masih nungguin cerita ini gak sih? Mana komennya 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2