Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
45


__ADS_3

Hansen mengerjapkan matanya, sekujur tubuhnya terasa amat sakit. Kakinya bahkan tidak bisa digerakkan. Hansen mulai menyadari situasi. Dia memindai keadaannya, juga sekeliling ruangan yang ditempatinya. Lalu pandangannya jatuh pada seseorang yang tertidur meringkuk disamping tempat tidurnya.


"Vanya ..." batin Hansen, dia mengira dia tengah bermimpi atau berhalusinasi.


Hansen mulai mengingat-ingat kejadian yang menimpanya, hingga menyebabkannya berakhir tragis seperti saat ini. Dia ingat bahwa dia mengalami kecelakaan karena balap liar.


Sepertinya Hansen tidak bermimpi. Yang memegang tangannya saat ini benar-benar Vanya. Dia sengaja tak memanggil nama gadis itu, karena tak ingin membangunkannya.


Hansen menyesali keadaan, tapi satu yang dia syukuri atas insiden ini. Kecelakaannya justru membawa Vanya kembali ke sisinya. Tapi apakah selamanya Vanya bisa ada didekatnya?


Hansen hanya melihat Vanya di ruangan itu. Tidak ada Fero ataupun Zia disana, sebab Zia mendapat panggilan dari Chandra untuk lekas pulang. Meski tadinya Zia tak tega meninggalkan Hansen sendiri, tapi panggilan Chandra pun tak mungkin dia abaikan. Inilah resiko Zia yang tak jujur sejak awal pada suaminya. Mau tak mau wanita itupun pulang, dan dengan berat hati membiarkan Vanya tetap tinggal.


Vanya agak tersentak dari tidurnya, karena merasakan adanya pergerakan dan saat dia mengangkat pandangan justru tatapannya bersirobok dengan Hansen yang juga tengah menatapnya.


"Kakak udah bangun?" tanya Vanya dengan senyum sendunya.


"Hmm ..." sahut Hansen menahan rasa nyeri di bagian tubuhnya.


"Kakak butuh apa? Mau minum?" tawar Vanya sembari sibuk mencari air untuk Hansen dekat nakas yang tak jauh dari hospital bed.


"Kamu," jawab Hansen pelan. Kening Vanya mengernyit menandakan kebingungannya, namun Hansen langsung memperjelas ucapannya yang ambigu. "... aku butuh kamu," tuturnya kemudian.


Vanya mengulas senyum, meski hal itu tak mampu menutupi wajah sedihnya yang jelas terpancar di paras ayu tersebut.


"Ini, kakak minum dulu ya." Vanya menyerahkan segelas air putih dengan sedotan agar memudahkan Hansen untuk meminumnya.


Hansen menurut tanpa banyak protes. Dia memang cukup haus, tenggorokannya terasa kering.


"Udah?" tanya Vanya perhatian, dia melihat Hansen menyudahi minumnya dan pemuda itu mengangguk sebagai respon atas pertanyaan Vanya.


"Mama tadi kesini, udah pulang karena dirumah ada Papa. Gak bisa lama-lama disini karena sejak awal mama gak bilang ke papa soal apa yang terjadi sama kakak. Kak Fero juga lagi keluar, katanya cari makan. Dia laper," jelas Vanya tanpa diminta.


"Kalau kamu?" tanya Hansen dengan susah payah sambil menahan rasa sakitnya. "Gak laper?" lanjutnya kemudian.


"Nanti aja makannya, gantian sama Kak Fero. Biar ada yang jagain kakak disini," jawab Vanya sambil menunduk.


Hansen menipiskan bibir. Sejak dia putus dari Vanya 2 bulan yang lalu, sulit baginya untuk merasa bahagia seperti saat ini.


"Makasih ya," ujar Hansen pelan. "Udah mau jagain aku," katanya. Dia menggenggam jari jemari Vanya dengan cukup erat, membuat gadis itu bingung harus berlaku bagaimana.


"Udah sewajarnya kalo seorang adik jagain kakaknya yang sedang sakit," kata Vanya akhirnya.

__ADS_1


Hansen membuang tatapannya ke arah langit-langit kamar, bersamaan dengan itu dia juga melepas tangan Vanya dari genggamannya. Ada rasa kecewa dihatinya, karena Vanya melakukan semua ini sebagai bentuk hubungan antar kakak dan adik diantara mereka, bukan karena hubungan lain yang lebih daripada itu.


"Aku gak mau jadi kakak kamu," cetus Hansen kemudian.


Vanya tersenyum lembut. "Nyatanya kak Hansen emang udah jadi kakak aku sekarang," sahutnya.


"Naif," lirih Hansen merujuk perkataan Vanya.


Vanya hanya menipiskan bibir karena ujaran pemuda itu.


Suasana mendadak hening, tak ada dari mereka berdua yang kembali memulai pembicaraan. Hansen seakan larut dengan pemikirannya sendiri begitupun dengan Vanya.


Vanya ingin sekali bertanya pada Hansen mengenai kecelakaan yang menimpa pemuda itu. Kenapa Hansen harus melakukan kegiatan semacam balap liar. Untuk apa? Tapi mulut Vanya seakan terkatup rapat dan tak bisa memulai percakapannya hanya karena merasa tidak berhak ikut campur dengan urusan sang kakak.


Sementara Hansen, ingin sekali mendengar Vanya mengatakan bahwa dia berada disini bukan karena hubungan kakak adik diantara mereka, melainkan karena khawatir pada Hansen karena perasaan gadis itu terhadapnya masihlah sama seperti dulu.


Suara kenop pintu yang ditekan terdengar, disusul oleh sosok Fero yang masuk ke dalam ruangan.


"Hans? Lo udah bangun?" Fero pun memberondong Hansen dengan banyak pertanyaan.


Hansen menjawab Fero seadanya, mengenai apa yang dia rasakan. Lalu mereka bercakap-cakap mengenai apa yang terjadi setelah kejadian kecelakaan semalam.


Vanya mendengarkan dalam diam. Yang kebanyakan dia tak begitu memahami arah pembicaraan dua pemuda itu.


Vanya tetap tidak ikut nimbrung, dia memainkan ponsel didekat sofa, sampai akhirnya benda pipih itu berdering secara tiba-tiba, membuat perhatian Hansen dan Fero teralih pada Vanya disana.


Vanya yang tak enak hati karena merasa deringan ponsel itu mengganggu percakapan Fero dan Hansen akhirnya langsung menerima panggilan yang masuk ke ponselnya begitu saja.


"Hallo, ada apa, Rel?" jawab Vanya. Merasa sungkan bicara disaat Fero dan Hansen sedang berbincang, akhirnya Vanya memutuskan keluar dari ruang perawatan Hansen untuk menjawab teleponnya.


...****...


"Hallo, ada apa, Rel?"


Tentu saja Hansen mendengar ucapan Vanya sebelum akhirnya gadis itu pergi keluar dari ruangannya untuk menerima panggilan seluler.


Seketika itu juga otak Hansen langsung bekerja, penasaran siapa yang menelepon Vanya barusan. Apa itu Farrel? Dari panggilan Vanya pada si penelepon tadi, sepertinya itu memang telepon dari Farrel. Mengingat itu, justru semakin menambah sakit pada Hansen. Sekarang bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi hatinya juga.


Apa selama kurang lebih dua bulan ini Farrel akhirnya berhasil mendapatkan hati Vanya? Mengingat bahwa Hansen begitu sibuk bekerja belakang hari, dia jadi tidak begitu fokus memperhatikan interaksi Vanya dengan orang lain. Hansen hanya terfokus pada pekerjaannya, yang pada akhirnya mengabaikan Vanya. Mengingat ini, ada penyesalan tersendiri dihati Hansen.


Fero terus berbicara pada Hansen mengenai kejadian di arena balapan. Namun Hansen sudah tak begitu berminat membahas dan mendengarkannya. Dia justru kepikiran pada Vanya yang mungkin sudah mengalihkan perasaan dengan mencoba dekat pada Farrel.

__ADS_1


Vanya kembali masuk ke ruangan Hansen beberapa menit kemudian, dan tatapannya langsung bertemu dengan Hansen yang memang menunggunya kembali.


"Hans, kalo gue pulang dulu ke rumah gak apa-apa? Gue mau mandi dulu lah ya. Dari pagi enggak mandi karena ngurusin Lo disini!" kata Fero.


Hansen mengangguk, dia memang mau menyuruh Fero keluar dari ruangannya jika pemuda itu tidak mau pulang, sebab dia hendak bicara empat mata dengan Vanya lagi.


"Ntar Bang Reza sama Nando bakal kesini jengukin Lo, pokoknya Lo tenang aja. Masalah di TKP udah diberesin sama mereka," ujar Fero kemudian yang kembali direspon Hansen hanya dengan anggukan samar.


Sebelum Fero benar-benar meninggalkan ruang perawatan Hansen, dia berpesan pada Vanya.


"Gue titip Hansen ya, Van. Tolong jagain dia sampe gue balik lagi kesini," ujar Fero.


Vanya mengangguk. "Iya, Kak. Aku pasti jagain kak Hansen. Gak usah khawatir," katanya.


"Oke." Fero benar-benar pergi setelahnya, menyisakan Vanya dan Hansen yang kembali berdua saja didalam ruang perawatan tersebut.


Tidak ada kalimat yang bisa keluar dari mulut Vanya, meski dia ingin memarahi aksi Hansen yang melakukan balapan liar. Dia memilih duduk di sofa, sebab didepan Hansen dia seperti mati gaya.


"Kamu pacaran sama Farrel?" celetuk Hansen tiba-tiba.


Tentu saja Vanya terkejut. Dia langsung membantah hal yang Hansen tanyakan.


"Enggak!"


"Tadi dia yang nelpon kamu!" Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan, seolah-olah kalimat itu memang benar adanya, meski dia belum memastikan.


"Dia cuma nanyain tugas sekolah, Kak."


Hansen membuang muka. Hatinya seperti diremass kuat karena nyatanya Vanya dan Farrel mulai dekat seperti perkiraannya.


Vanya mendekat pada posisi Hansen. Dia duduk dipinggiran tempat tidur dan melihat jelas wajah Hansen yang cemberut.


"Cepat sembuh, Kak. Aku mau Kakak sehat seperti dulu lagi."


Hansen membalas tatapan Vanya, disitulah Vanya tak dapat membendung airmatanya lagi. Dia kembali menangis karena melihat keadaan Hansen seperti ini.


"Aku mohon kakak jangan nyiksa diri dengan kegiatan-kegiatan yang membahayakan, Kak. Aku gak bisa ngelihat kakak kayak gini," batin Vanya yang tidak dapat menyuarakan itu secara terang-terangan pada Hansen.


Tangan Hansen terulur, terlihat bergetar saat sampai di pipi Vanya untuk menghapus airmata milik gadis itu.


"Jangan nangis, Sayang. Aku sakit hati ngelihat kamu seperti ini," tutur Hansen membuat Vanya memejamkan matanya rapat-rapat, karena tidak kuat lagi untuk membendung perasannya terhadap pemuda itu.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2