
Vanya mengesah lega setelah melihat Hansen kembali terlelap.
Pemuda itu tertidur lagi setelah diberikan obat oleh perawat.
Padahal sebelumnya Hansen sangat ngotot untuk tidak berpisah dengan Vanya. Dia menginginkan mereka kembali bersama. Memohon, bahkan menangis didepan Vanya hanya agar mempertahankan hubungan mereka yang sudah kepalang hancur karena sejatinya mereka sudah putus lebih dari dua bulan yang lalu.
Akan tetapi, Vanya tau sekeras apa Hansen memintanya, dia juga harus bersikeras untuk tetap membuat jarak diantara mereka. Karena Vanya tau hubungan mereka tak akan berhasil.
Senangnya Vanya tak tega untuk melihat Hansen seperti ini, dia juga hancur sama halnya dengan yang Hansen rasakan. Tapi mau bagaimana, dia juga tau bahwa mereka tak seharusnya memaksakan hubungan bersamaan dengan mempertaruhkan pernikahan kedua orangtua mereka.
"Vanya?"
Vanya menoleh dan mendapati Dira yang baru saja datang untuk menjenguk Hansen.
"Kak Dira?" Vanya tak tau darimana Dira tau jika Hansen dirawat disini, mungkin Fero yang memberitahunya. Atau justru Zia?
"Kamu ngapain disini?"
"Aku jagain Kak Hansen, Kak." Vanya menjawab apa adanya.
"Bukannya kalian udah putus?" sarkas Dira dengan nada tak senang.
Vanya hanya diam. Tak mau meladeni ucapan Dira yang justru akan membuatnya emosi nantinya. Lagipula Hansen sedang tidur dan butuh istirahat dalam keadaan tenang.
"Kalau kamu mau pulang, pulang aja gih. Ada aku kok disini. Aku bisa jagain Hansen disini," ujar Dira.
Vanya menggeleng. Dia justru menatap jari jemarinya yang digenggam Hansen meski posisi pemuda itu tengah pulas.
Hal itu sontak membuat Dira juga menyadari apa yang dilihat Vanya. Dia berdecih pelan melihat tangan Hansen dan Vanya yang bertautann.
"Hansen butuh ketenangan. Aku pikir dengan adanya kamu disini malah membuat Hansen gak tenang." Lagi-lagi Dira menyindir kehadiran Vanya.
"Gimanapun juga Kak Hansen itu kakak aku!" cetus Vanya yang akhirnya gak bisa menahan kesabarannya lagi.
Mendengar itu Dira justru tertawa sumbang. "Oh, jadi hubungan kakak adik dijadikan alasan ya?" sinisnya.
Vanya menggeleng samar. "Kalo kak Hansen disuruh milih juga pasti dia lebih milih aku yang disini ketimbang kak Dira!" ujarnya kesal.
__ADS_1
Dira mendengkus. Dia mendekat pada posisi Hansen, lagaknya tak mau kalah dengan Vanya. Jika Vanya berada disisi kiri Hansen, maka dia menempati posisi kanan tempat pemuda itu terbaring lemah.
"Hans, cepat sembuh ya. Gue kangen sama lo. Kita jalan bareng, sama cerita-cerita bareng lagi," ujar Dira sengaja memanas-manasi Vanya.
Vanya hanya diam, dia tak mau menanggapi ujaran Dira lagi. Lelah. Ya, lelah dia menghadapi gadis itu.
"Oh iya, aku udah bilang ke kak Doni kalau kamu gak bisa masuk kerja dulu ya," celoteh Dira kemudian yang membuat Vanya mengernyit saat mendengarnya.
"Kerja? Apa kak Hansen kerja?" batin Vanya.
Namun Vanya tak mau menyuarakan rasa ingin tahunya pada Dira, buat apa? pasti gadis itu takkan mau memberitahunya.
Tak berselang lama, Fero memasuki ruangan Hansen setelah hampir dua jam pulang ke kediamannya.
"Eh, Dira? Lo kok disini?" tanya Fero menatap Dira. Dia merasa tak menghubungi gadis itu, kenapa Dira ada disini? Terlebih lagi Fero tau Hansen takkan menyukai kehadiran Dira disini.
"Iya, Tante Zia bilang Hansen disini," jawabnya.
Disitulah Vanya tau bahwa Zia yang memberitahukan kondisi Hansen pada gadis itu. Mungkin Zia masih tidak rela jika Hansen dan Vanya akan bersama di ruangan perawatan ini. Dengan adanya Dira, mungkin akan bisa meminimalisir kebersamaan mereka.
"Oh, Tante Zia bilang sama lo. Ya udah sekalian aja lo bilangin ke Kak Doni keadaan Hansen yang belum bisa masuk kerja ya!" kata Fero.
Menjelang sore, ruangan itu kedatangan tamu lain yang juga menjenguk Hansen disana.
Reza dan Nando datang setelah membereskan permasalahan yang terjadi ditempat kejadian setelah kejadian kecelakaan Hansen semalam. Mereka bahkan harus menghadapi polisi yang menginterogasi. Syukurnya mereka tidak ditahan dan bisa berdalih agar Hansen juga tidak didatangi polisi.
Karena ruangan terasa penuh dan ramai, Vanya memilih keluar dari ruangan tersebut. Dia menuju cafetaria rumah sakit untuk makan sebab dia melewatkan kegiatan itu hanya untuk menjaga Hansen.
Sementara itu, Hansen terbangun dari tidurnya dan melihat jika ruang perawatannya malah ramai dengan teman-teman nya, termasuk Dira yang juga ada disana. Tapi, Hansen justru tidak melihat Vanya.
"Fer, Vanya mana?" tanya Hansen yang membuat Dira tak suka, sebab begitu terbangun pemuda itu malah mencari Vanya.
Fero hendak menjawab, tapi Dira lebih dulu menyela untuk memberikan jawaban pada Hansen.
"Kenapa cari Vanya, sih? Ada aku disini, Hans ..." Dira mengulas senyum terbaiknya. "Kamu gak apa-apa, kan? Kamu harus segera pulih ya. Aku khawatir banget sama kamu," lanjutnya bertubi-tubi.
Mendnegar ujaran Dira, kepala Hansen justru semakin sakit. Dia hendak Vanya yang ada disisinya saat dia terbangun, tapi justru orang lain yang ada disana.
__ADS_1
"Fero, Vanya mana?" Sekali lagi Hansen bertanya pada Fero.
"Ke kantin. Mungkin makan, dia belum makan katanya."
Hansen merasa bersalah. Dia menahan Vanya diruangannya tanpa memikirkan keadaan gadis itu.
"Sama siapa Vanya ke kantin?" tanya Hansen dengan nada khawatir.
"Sendirian." Fero menatap Hansen dengan tatapan heran, sebab bisa-bisanya pemuda itu masih mengkhawatirkan Vanya disaat kondisinya seperti saat ini.
"Udahlah, Hans. Jangan mikirin Vanya. Kamu harus pikirin keadaan kamu sendiri," kata Dira protes.
"Kamu bisa diem gak, Dir? Aku pusing," ujar Hansen terus-terang.
Dira langsung terdiam, dia bersungut-sungut karena Hansen seperti tidak senang dengan kehadirannya. Tapi Dira tak mau mengindahkan, dia tau Hansen begini karena Vanya ada disini. Sebab, belakangan hari Hansen sudah mulai melunak padanya. Jadi dia kembali menyalahkan semua ini karena Vanya.
"Pasti ini karena Vanya. Coba Vanya gak lagi hadir di kehidupan Hansen pasti Hansen bisa bersikap baik sama gue seperti belakangan hari," batin Dira.
Fero mendengarkan ujaran Hansen yang memintanya mencari Vanya. Memastikan gadis itu baik-baik saja.
"Oke, gue keluar bentar ya," ujar Fero.
Reza mendekati Hansen sesudah kepergian Fero. "Vanya itu siapa, Hans?" tanyanya ingin tau.
"Vanya itu adeknya Hansen, Bang!" Dira yang menjawab, membuat Hansen sebal padanya.
"Oh, gua pikir cewek lo," kelakar Reza yang disambut dengan tawa Nando yang juga ada disana.
"Iya, gue pikir cewek Hansen, yang buat Hansen semangat buat cari cuan," kata Nando menimpali kemudian.
Hansen hanya menipiskan bibir mendengarnya. Dia juga bingung harus mengatakan apa pada teman-temannya. Toh yang Dira katakan juga benar jika Vanya memang adiknya.
"Cantik gak adek Lo, Hans? Bisa lah dikenalin sama gue," canda Nando sambil menaik-naikkan alisnya.
Hansen terkekeh sambil meringis menahan rasa sakitnya. "Jangan ... dia bukan sekedar adek buat gue," jawabnya akhirnya.
Hal itu sontak membuat Reza dan Nando saling menatap dengan penuh arti. Mereka tau jika ada sesuatu diantara Hansen dengan gadis bernama Vanya tersebut.
__ADS_1
...Bersambung ......