Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
35


__ADS_3

Beberapa hari berlalu dan Vanya semakin merasa perubahan sikap Zia kepadanya. Dia tidak tau apa salahnya sehingga ibu sambungnya tidak sehangat dulu lagi padanya. Apa ini memang ada kaitannya dengan hubungannya dengan Hansen, atau justru ada hal lain?


Memang Zia tidak menunjukkan sikap aneh seperti marah-marah kepada Vanya atau meminta Vanya melakukan hal yang tidak disukainya, tapi wanita yang biasanya banyak bicara itu mendadak diam, bahkan bukan hanya sekedar diam biasa melainkan seperti kehilangan kosa kata didepan Vanya.


"Ma?" Vanya akhirnya tak tahan, saat dia melihat kondisi rumah agak sepi siang itu, dimana sang Papa masih sibuk bekerja dan Hansen pergi bermain futsal bersama Fero, dia menyapa Zia dan ingin menanyakan ada apa.


Jelas Vanya ingin tau apa yang membuat Zia berubah padanya.


"Kenapa, Van?" tanya Zia lembut, meski begitu Vanya tetap akan menanyakan perubahan sikap Zia beberapa minggu ini.


"Aku mau nanya sesuatu sama mama. Boleh?"


"Boleh kok, memangnya ada apa?" Zia menjawab tanpa memperhatikan Vanya, dia sibuk melihat tv didepan sana.


"Ma, aku ada salah ya sama mama?"


Zia tak langsung menjawab, membuat Vanya ketar-ketir menunggu jawaban wanita itu.


Alih-alih menjawab, Zia malah memberikan Vanya pertanyaaan.


"Kenapa kamu nanya begitu? Kamu ngerasa ada salah sama mama?" tanyanya.


Vanya menunduk, dia bingung karena Zia justru seakan memberinya pilihan agar jujur mengakui apa kesalahannya pada wanita itu.


"Kamu ada buat salah apa sama Mama? Kok diem?" tanya Zia lagi.


Vanya pikir dia yang akan mendapat jawaban dari Zia mengenai letak kesalahannya, nyatanya justru wanita itu lah yang menanyakan apa salah yang telah dia perbuat.


"Oke, kalau kamu gak bisa jujur sama mama." Zia bangkit dari duduknya, sebelum benar-benar pergi dia sempat menekan remote tv untuk mematikan benda elektronik itu.


Entah kenapa melihat respon Zia seperti ini membuat Vanya menangkap maksud bahwa sebenarnya ibu sambungnya itu telah mengetahui semua yang coba dia tutupi. Dan sekarang, Zia menunggu Vanya untuk jujur dan terbuka mengakui segalanya. Apa iya? Jika tebakannya salah, maka pengakuannya akan membuat masalah. Tapi jika tebakannya benar mengenai Zia yang telah tau semuanya maka ibu sambungnya itu takkan terkejut lagi mendengar kejujurannya.


Jadi, langkah apa yang harus Vanya lakukan sekarang? Apakah dia benar-benar harus jujur?

__ADS_1


"Ma?" panggil Vanya, yang spontan membuat langkah Zia terhenti.


"... Aku cuma mau tanya sama mama, kenapa mama dingin ke aku. Mama bisa bilang ke aku apa kesalahanku agar aku bisa memperbaikinya, Ma."


Zia menggeleng samar, dia pikir Vanya akan mengakui kesalahannya, nyatanya gadis itu tetap menunggunya untuk membongkar semua yang telah ia ketahui.


"Kamu yakin mau denger dari mama? Apa gak lebih baik kalau kamu yang mengakui sendiri tentang kesalahan kamu?"


Fix, Vanya yakin jika Zia telah tau semuanya. Tapi, darimana Zia tau?


"Mama memang nunggu kamu bertanya sama mama, seperti ini. Mama harap kamu mau jujur sama mama, menyadari kesalahan kamu dan menghentikan semuanya," tegas Zia.


Wajah Vanya memucat, dia menundukkan kepala dalam-dalam. Sekarang dia semakin yakin jika Zia sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Hansen.


"Ma ..." Vanya meluruhkan tubuh didepan Zia yang berdiri dihadapannya. "Maafin aku, Ma. Aku udah buat mama kecewa karena hubunganku dengan Kak Hansen," katanya yang akhirnya mengakui.


Zia menarik tubuh Vanya. Dia juga tak tega sebenarnya melihat anak sambungnya sampai bersikap seperti ini.


"Bangun, Van. Kamu gak perlu seperti ini untuk meminta maaf sama mama. Cukup kembalikan keadaan seperti semula, mama juga gak nyaman jika keadaannya terus seperti ini."


"Hentikan semuanya, Vanya. Mama mohon. Putuskan hubungan kamu sama Hansen. Mama gak mau hidup dirumah ini dengan perasaan bersalah. Mama juga gak tau harus bilang apa sama papa kamu jika beliau bertanya, jadi sebelum papa kamu tau tolong akhiri semuanya, ya."


Zia tau meminta pada Hansen tidak ada gunanya, jadi sekarang dia akan mencoba meminta pada Vanya untuk mengakhiri hubungan terlarang mereka.


Tentu saja permintaan Zia amat berat untuk Vanya lakukan. Dia diam dengan wajah yang kini sudah basah oleh airmata. Mengakhiri hubungannya dengan Hansen bukan hal yang mudah, terlebih dia sangat mencintai pemuda itu. Hansen adalah cinta pertamanya.


"Van, kamu mau kan mengakhiri semuanya sama Hansen? Ini demi keutuhan keluarga kita, Van. Papa kamu bisa marah besar sama Hansen kalau tau mengenai hal ini, sementara mama gak mau Hansen terkena amarah papa, jadi mama mau semuanya berakhir sebelum ketahuan sama papa."


Vanya tak bisa menjawab, dia kehabisan kata. Tapi dalam hatinya membenarkan ucapan Zia. Papa Chandra pasti akan marah apabila mengetahui semua ini dan yang terkena imbasnya bukan dirinya melainkan Hansen yang pasti akan disalahkan.


"Mama tau, kamu sayang sama Hansen. Tapi hubungan kalian itu tabu. Gak bener. Lebih baik berakhir sebelum berlarut-larut."


"Aku gak bisa, Ma. Aku udah janji sama kak Hansen," jawab Vanya dengan suara tergugu disertai isak tangisnya.

__ADS_1


Zia menggelengkan kepalanya, dia pikir semua takkan rumit jika Vanya mau mengikuti arahannya untuk mengakhiri semuanya.


"Kamu sayang gak sih sama Hansen? Kalau kamu sayang harusnya kamu gak akan tega ngelihat dia terkena imbas dari hubungan kalian. Kamu tau kan bagaimana sikap papa kamu. Lalu kamu mau Hansen disalahkan atas semua ini, Vanya?" Zia sudah tak sanggup lagi membendung kemarahannya, kali ini dia harus tegas agar ada salah satu diantara Hansen atau Vanya yang mau mengakhiri hubungan mereka.


Vanya semakin menangis sesenggukan. Dia tidak terbayang bagaimana dia harus mengucapkan kata putus pada Hansen.


"Mama cuma minta itu aja sama kamu, Van. Kembalikan suasana rumah ini seperti dulu lagi, sebelum kamu dan Hansen terlibat hubungan yang gak semestinya."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Zia pergi meninggalkan Vanya sendirian diruang tv. Gadis itu bingung untuk menentukan pilihan. Disatu sisi lain dia juga takut jika Hansen benar-benar menerima kemarahan dari sang papa.


"Aku harus apa, Kak?" tanya hati Vanya. Dia mengingat ucapan Hansen beberapa Minggu lalu yang mengatakan bahwa dia harus sabar dan tetap mempertahankan hubungan mereka apapun yang terjadi, tapi jika keadaannya begini, Vanya harus apa?


Vanya tidak siap jika terus mendapat sorot dingin dari Zia yang ternyata memang sudah mengetahui hubungannya dengan Hansen.


Saat Vanya sedang bimbang dengan segala pemikiran dan keadaan yang seakan menghimpitnya, tiba-tiba dia mendengar suara motor Hansen didepan rumah. Sepertinya pemuda itu sudah kembali.


Vanya berjalan pelan ke arah depan, dia pikir dia memang harus memutuskan hubungannya dengan Hansen. Dia harus mengorbankan perasaannya sendiri demi keutuhan keluarga mereka juga demi menghindarkan Hansen dari amukan sang papa.


"Van?" Hansen tersenyum saat memasuki rumah dan disambut oleh gadis kesayangannya.


Sementara Vanya menjadi ragu lagi untuk memutuskan hubungan hanya karena melihat senyum semringah pria yang dicintainya itu.


"Udah makan tadi?" tanya Hansen, dia hendak mengacak rambut Vanya seperti biasanya, tapi gadis itu menghindar secara sengaja.


Hansen mengernyit menatap Vanya, wajah gadis itu tampak sembab seperti habis menangis. "Kamu kenapa?" tanyanya akhirnya.


Vanya menggeleng lemah. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan membalas senyuman Hansen.


"Bilang sama aku, kamu kenapa, hmm?" Hansen mau mengambil tangan Vanya dan menggenggamnya, tapi lagi-lagi gadis itu menghindar.


Hansen yakin ada yang tidak beres. Mendadak dia teringat sang Mama. "Mama ada bilang apa sama kamu?" tebaknya.


Vanya diam, namun sesaat kemudian gadis itu berucap ringan.

__ADS_1


"Mari kita akhiri semuanya, Kak."


...Bersambung ......


__ADS_2