Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
41


__ADS_3

Hansen mendatangi kantor tempat Doni bekerja hari ini, dia melamar untuk bekerja paruh waktu sesuai dengan yang dijelaskan Doni kemarin. Syukurnya dia langsung diterima hari itu juga. Dia mulai bersosialisasi dengan orang-orang di kantor tersebut.


Tempat kerja Doni yang kini juga menjadi tempat Hansen bekerja adalah perusahaan di bidang interior. Disana banyak arsitek yang bekerja sama dalam satu naungan yang sama. Ada yang mendesain bangunan langsung atau ada pula yang hanya memberi ide untuk konsep ruangan dalam rumah pribadi.


"Hei, kamu." Seseorang memanggil Hansen untuk meminta bantuannya.


Hansen pun mendatangi seorang wanita yang tadi memanggilnya.


Wanita itu cukup terkejut melihat rupa Hansen yang boleh dibilang good looking. "Kamu baru kerja disini ya?" tanyanya lagi.


"Eh, iya, Mbak." Hansen tersenyum ramah.


"Nama saya Gina. Kamu siapa?"


"Saya Hansen, Mbak."


"Oke, Hansen... bantuin saya fotocopy semua gambar-gambar ini ya." Gina menyerahkan beberapa lembar kertas pada Hansen. "Rangkap dua semuanya," tambahnya.


"Oke, Mbak. Siap." Hansen mau bekerja dengan giat. Dia tau menjadi sukses tidak mudah dan mungkin harus dia jalani dari titik terbawah.


Sebelum Hansen benar-benar meninggalkan meja tempat Gina bekerja, wanita itu kembali memanggilnya.


"Hans?"


"Ya, mbak? Ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Makasih ya," ujar Gina dengan senyuman tulus.


"Iya, Mbak." Hansen pun mengulas senyum lalu benar-benar menuju ke ruang khusus untuk memfotokopi berkas yang Gina minta.


...***...


Dilain sisi, Vanya mulai merasakan bahwa dia amat merindukan Hansen. Sudah 10 hari kakak sambungnya itu tidak pulang ke rumah. Vanya bukannya tak tau Hansen sudah memberikan alasan pada sang Papa, untuk alasan kepergiannya yang harus menginap dirumah Fero.


Tentu saja Vanya tau jelas itu hanya alasan yang dibuat-buat oleh Hansen sebab Vanya sangat tau jika masalah utama yang membuat Hansen tak ingin menetap lagi dikediaman papanya adalah karena hubungan mereka yang sudah berakhir.


"Kak, sampai kapan kamu mau pergi dari rumah kayak gini?"

__ADS_1


Vanya memandangi ponselnya. Ingin sekali dia menghubungi Hansen lebih dulu, untuk membujuk pemuda itu agar kembali pulang ke rumah. Masalahnya bukan hanya Vanya yang merindukan, tetapi juga Zia yang jadi sangat urung-uringan. Mama sambung Vanya itu seolah tidak bersemangat untuk melakukan keseharian, seperti dia yang patah hati ditinggalkan Hansen padahal disini Vanya lah yang harus merelakan sang kakak untuk tidak berhubungan sama sekali.


Tok tok tok ...


Suara ketukan pintu kamar, membuat Vanya berderap untuk membukakan pintu. Saat dia buka ternyata Zia yang berdiri disana dan menatapnya sendu.


"Ma..."


Zia tiba-tiba memeluk Vanya begitu saja, dia hanya butuh kekuatan atas keputusan Hansen. Apalagi selama pergi, Hansen belum pernah lagi meminta uang saku padanya membuatnya khawatir apakah anak itu bisa hidup tanpa bantuan darinya sebab selama ini Hansen ketergantungan dengannya.


"Mama kangen sama Hansen, dia ada hubungin kamu gak, Van?" tanya Zia lemah.


Vanya menarik nafasnya dalam-dalam, sampai akhirnya Zia melerai pelukan ditubuh anak sambungnya tersebut. Andai Vanya bisa berkomentar, dia juga butuh kekuatan layaknya Zia yang ingin dikuatkan olehnya.


"Nggak ada, Ma. Aku sama Kak Hansen udah gak komunikasi lagi."


"Tapi kalian ketemu di sekolah, kan? Hansen tetap sekolah kan? Dia gak bolos kan?"


Padahal Zia sudah menanyakan hal ini berkali-kali pada Vanya setiap anak gadisnya itu pulang dari sekolah dan dia sudah tau jika Hansen tetap melanjutkan sekolah, tapi tetap saja Zia melakukan tindakan yang sama dengan menanyakan hal serupa pada Vanya.


"Kak Hansen sekolah, Ma. Dia makin aktif ekskul sekarang," jawab Vanya lesu. Dia telah teringat saat terakhir Hansen pulang dari ekskul dan ditemui oleh Dira ke sekolah mereka. Dia jadi bersedih mengingat hal itu.


"Iya, Ma. Aku tau. Aku tau." Vanya berucap dengan suara bergetar. Dia tak ingin mendengar lagi alasan Zia serta ungkitan wanita itu mengenai hubungannya dengan Hansen, sebab itu semakin membuatnya terluka.


"Van, andai mama sama papa kamu belum menikah, mungkin mama bakal rela kalian punya hubungan. Mama akan mundur dari pernikahan dengan Papa, jika memang Hansen sesayang itu sama kamu. Tapi masalahnya sekarang, mama dan papa udah terikat pernikahan dan itu bukan hal main-main," jelas Zia panjang lebar.


"Iya, Ma. Vanya ngerti." Vanya sadar bahwa disini dialah yang harus mengalah, sebab tak mungkin Zia yang mundur dari pernikahannya bersama Chandra hanya demi hubungan Vanya dan Hansen yang belum tentu menikah suatu saat nanti. Meski hati Vanya tetap memilih Hansen saat ini, begitu juga sebaliknya tapi Vanya sadar betul bahwa waktu bisa merubah segalanya termasuk perasaan. Dan ada banyak waktu lagi yang akan dihabiskan Vanya dan Hansen untuk meraih masa depan mereka. Siapa yang tau kedepannya akan bagaimana?


"Vanya sadar, Ma. Bahwa yang paling pantas mengalah disini adalah Vanya dan Kak Hansen. Malam gak usah merasa bersalah lagi ya."


Zia memeluk Vanya dengan penuh kasih sayang, kedua perempuan berbeda usia itu saling menumpahkan tangis yang terdengar pilu karena merindukan sosok yang sama. Hansen.


Andai bisa merubah segalanya, Zia ingin memperbaiki apa yang patut diperbaiki agar sesuai dengan keinginan putranya, tapi dia sadar semua tak mungkin dan pernikahannya dengan Chandra sudah terlanjur terjadi. Tak ada gunanya mengalah saat ini, sebab dia hanya bisa menjalani pernikahannya yang menjadi alur hidupnya sekarang. Meski jika dia disuruh memilih, dia pasti akan lebih memilih Hansen ketimbang suami barunya sebab bagi Zia, anak adalah segalanya.


"Mama gak mau Papa murka kalau tau hubungan kalian masih lanjut," ujar Zia.


"Hubungan apa, Ma?"

__ADS_1


Zia dan Vanya menoleh seketika dengan jantung yang nyaris melompat keluar karena suara Chandra tiba-tiba hadir diantara mereka.


Keduanya lantas segera menghapus airmata, untuk tidak membuat pria paruh baya itu curiga.


Zia menatap Chandra yang dibalas Chandra dengan tatapan keheranan sebab melihat wajah sendu istrinya.


"Kalian sedang bahas apa, sih?" tanya Chandra kemudian.


Zia tampak salah tingkah, sementara Vanya mencoba mencari alasan.


"Papa kok bisa dikamar Vanya?" tanya Vanya mengalihkan pembicaraan.


"Tadi papa cari mama, gak ada dimana-mana. Jadi papa tebak ada dikamar kamu, eh ternyata beneran disini." Chandra menjawab pertanyaan putrinya.


"Mama cuma lagi curhat aja, Mas," kata Zia. Dia sebenarnya ragu apakah Chandra sempat mendengar percakapannya dengan Zia atau tidak tadi.


"Curhat apa? Kok kayak sedih gitu?" Chandra tersenyum, sebenarnya dia senang putrinya bisa dekat dengan istri barunya.


"Cuma curhat masalah Hansen, Pa," akui Zia. Tapi tentu dia takkan mengaku yang sedetail-detailnya.


"Kamu sedih karena Hansen gak pulang? kan dia dirumah Fero buat belajar, biar bisa lebih fokus. Begitu kan?" ujar Chandra yang mengatakan alasan yang diberikan Hansen padanya.


"I--iya, Mas, tapi tetap aja Mama kangen sama Hansen."


Chandra merangkul istrinya. "Hansen itu anak lelaki biarkan dia mandiri. Jangan kamu terlalu mencampuri. Ada hal-hal yang gak selalu bisa kita masuki dalam kehidupannya. Biar dia menjadi lelaki sejati," kata Chandra bijak.


Zia malah meneteskan airmatanya, membuat kening Chandra berkerut penasaran.


"Lagian, kalau kamu kangen kamu tinggal telepon dia, Sayang."


Zia hanya tersenyum simpul, tak mungkin dia bisa menjelaskan pada Chandra bahwa Hansen enggan menjawab segala jenis panggilan dan pesan yang dia kirimkan. Putranya itu masih melakukan protes terhadapnya.


"Ya udah, kalau kamu mau, kita telepon Hansen sekarang ya. Ini pake aja handphone aku," kata Chandra kemudian.


Zia menatap Vanya seolah meminta persetujuan dan ternyata Vanya mengangguk, dia juga ingin mencuri dengar soal kabar Hansen sekarang. Mumpung Chandra meminjamkan ponselnya, tak mungkin Hansen akan menolak panggilan dari nomor ayah sambungnya kan?


"Oke, kita telepon aja Kak Hansen sekarang, Pa!" ujar Vanya menimpali.

__ADS_1


Mereka tak pernah tau jika sekarang Hansen sedang sibuk dengan pekerjaan barunya.


...Bersambung ......


__ADS_2