
"Kalau seandainya aku suka kakak, boleh gak sih, kak?"
Mata Hansen membola mendengar penuturan Vanya. Apa ia tidak salah mendengar?
"Jangan kebanyakan bercanda, kerjain PR lo," kata Hansen memilih mengubah topik cerita.
Vanya mengulas senyum, melihat wajah Hansen yang memerah itu membuatnya gemas sendiri.
"Kakak udah punya pacar belum?"
"Kenapa tanya hal itu?"
"Aku kan pengen tau."
Hansen terkekeh pelan. "Memangnya itu bakalan ngaruh sama lo?" tanyanya tak acuh.
Vanya mengangguk. "Ya kalau kakak punya pacar, aku pengen kenalan."
"Buat apa?"
"Biar tau aja. Biar dia gak salah sangka sama hubungan kita."
Hansen menggeleng-gelengkan kepalanya dengan samar. Meladeni pertanyaan Vanya hanya akan membuatnya semakin dekat dengan gadis itu. Lagipula, pacar apa? Bahkan kandidat yang ingin Hansen jadikan pacar sudah menjadi adiknya dan sekarang ada didepannya pula.
"Gue laper. Lo kerjain aja PR-nya dulu!" Hansen buru-buru keluar dari kamar, ingin menghindar dari pertanyaan Vanya yang absurd.
Vanya mengendikkan bahu melihat kepergian Hansen.
"Perasaan tadi baru makan di cafe deh, kok udah laper lagi?" ujarnya pada dirinya sendiri atas alasan Hansen yang mengatakan lapar.
...****...
Hansen sebenarnya tidak mencari makanan di dapur, ia memang menghindar dari Vanya dan memilih keluar dari kamarnya sendiri. Hansen duduk di ayunan rotan yang berada di teras samping rumah, ia memilih menelepon Fero dan mengadukan hal yang terjadi antara dia dan Vanya pada sahabatnya itu.
"Jadi, Vanya minta bantuan lo buat ngerjain PR? Dan itu di kamar lo?" tanya Fero dari sebrang panggilan.
"Ya gitu lah," jawab Hansen.
__ADS_1
"Wah, awas khilaf lo!" kata Fero penuh peringatan disusul dengan suara tawanya kemudian.
"Khilaf pala lo! Dia udah jadi adek gue, b*go!"
"Emang lo udah nerima kenyataan itu? Gue rasa sih belom!" ledek Fero kemudian.
Hansen pikir mengadu pada Fero akan meringankan pikirannya, nyatanya dia malah semakin kepikiran karena ternyata Fero tak memberi solusi, Fero malah meledeknya dan seperti mendoktrinnya untuk terus mendekati Vanya meski kini keadaan mereka tidak lah mudah.
"Ya semua terserah lo, kalau lo emang udah anggap dia adik, ya udah ... ntar siap-siap aja kalau dia dideketin sama cowok lain!"
Selalu peringatan yang sama yang didengar Hansen dari Fero, membuat kepala pemuda itu penuh oleh firasat buruk jika Vanya benar-benar akan didekati oleh cowok lain.
"Dan ... kalau Vanya punya pacar, siap-siap deh lo bakal gigit jari!"
Hansen memutus panggilannya dengan Fero secara sepihak, buat apa dia menelpon anak itu kalau ternyata ia semakin merasa tidak tenang.
Hansen kembali ke kamarnya lima belas menit kemudian, bukannya melihat Vanya yang sedang sibuk mengerjakan PR bahasa Inggrisnya, justru Hansen melihat gadis itu tengah tertidur di tempat tidurnya dalam posisi meringkuk.
Demi apapun, sekarang Hansen mau menjerit. Entah menjerit karena kesenangan atau justru menjerit karena posisinya yang serba salah saat ini.
Hansen mendekati pinggiran tempat tidur, baru kali ini ia melihat wajah Vanya yang pulas dan sumpah demi apapun ia tidak pernah berpikir dapat melihat hal ini secepat sekarang, karena dalam angan-angan seorang Hansen Alvaro adalah melihat Vanya tertidur kala mereka sudah memiliki ikatan yang resmi, bukan seperti saat ini.
Hansen akhirnya duduk dipinggiran ranjang, memperhatikan Vanya yang tertidur lelap. Sepertinya gadis itu sangat kelelahan sekali sepulang sekolah tadi. Akhirnya Hansen memilih untuk membiarkannya saja.
Akan tetapi, entah kenapa saat momen seperti ini terjadi, yang diingat Hansen justru perkataan Fero yang sempat mengingatkannya untuk tidak khilaf.
"Khilaf, khilaf... emang gue mau ngapain?" gumam Hansen sambil menatap wajah damai Vanya.
Makin ditatap, ternyata Vanya makin terlihat cantik dimata Hansen. Apalagi, dalam keadaan tidur seperti ini sepertinya Vanya tak akan sadar jika Hansen sedikit menyentuhnya.
Ah, apa-apaan? Baru saja ia mengingat peringatan dari Fero. Kenapa sekarang malah mau berbuat lebih?
Tidak ... Hansen harus menjaga Vanya terutama dari dirinya sendiri. Hansen juga harus menjaga prilakunya agar tidak terlalu dekat dengan gadis ini.
Dengan berat hati, mau tak mau Hansen harus meminta Vanya bangun dan menyuruh gadis itu agar pindah ke kamarnya sendiri. Ini Hansen lakukan sebagai bentuk perlindungan bagi Vanya dari kekhilafan dirinya.
"Van, bangun ..." Hansen menyentuh tangan Vanya dengan ujung jari telunjuknya. Sebenarnya ia menahan diri agar tidak terjadi skinship berlebih diantara mereka, karena itu bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
"Van, pindah ke kamar lo! Gue mau tidur siang juga!" alasan Hansen.
Vanya mengerjap-ngerjapkan matanya, mengucek sekilas, lalu mengulas senyum saat menyadari ada Hansen dihadapannya.
"Pindah ya, gue mau tidur siang juga," kata Hansen pada gadis itu.
Vanya menggeleng. "Aku udah PW, Kak!" katanya enteng (PW \= Posisi Wuenak)
"Tapi gue mau tidur siang juga!"
"Ya udah tidur aja sih, kak. Ini kan kamar kakak. Anggap aja aku gak ada."
Hansen terbelalak dengan ucapan Vanya yang sangat mengentengkan sesuatu.
Vanya ini sangat polos atau sudah gila? Apa dia tidak tau jika mereka tidur satu ranjang bisa menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan?
"Pindah lah, Van. Gue gak biasa ada cewek di kamar gue!"
Vanya malah merespon Hansen dengan menguap panjang, tak lama gadis itu kembali memejamkan mata.
"Astaga, Vanya!" gerutu Hansen saat melihat Vanya kembali tertidur begitu saja.
"PR lo kerjain!" Hansen berusaha agar Vanya teringat dengan tugasnya, siapa tau itu bisa membuat Vanya terbangun. Sayang seribu sayang, gadis itu tetap menyambung tidurnya yang sempat terganggu karena ulah Hansen.
Mau tak mau, Hansen akhirnya mengalah. Ia kembali membiarkan Vanya tertidur ditempat tidurnya. Mau sekesal apapun Hansen atas sikap menyebalkan Vanya, tapi rasa sukanya pada gadis itu juga jauh lebih besar. Untuk itulah, ia takut berada dekat dengan Vanya karena naluri kelelakiannya seakan diuji saat ini juga.
"Kayaknya gue bener-bener diuji sekarang!" gerutu Hansen sembari pergi ke sudut ruangan, ia berbaring di sofa meski kakinya harus melewati pinggiran sofa yang tak mampu menampung panjang tubuhnya.
Kemudian Hansen mencoba memejamkan matanya, ia sendiri tidak terbiasa tidur siang sebenarnya. Tapi entah kenapa ia ingin berada disana juga, hingga ia memutuskan untuk tidur saja karena itu sudah ia jadikan alasan untuk mengusir Vanya tadi.
Hansen melipat tangannya di dada, kemudian berbaring dalam posisi menyamping hingga matanya tertuju pada Vanya yang tertidur di tempat tidurnya.
"Gue harap, gue bisa lupain lo secepatnya, Van. Gue gak mau ngerusak hubungan orangtua kita karena perasaan gue ini."
Meski sulit, lagi-lagi Hansen harus berusaha untuk melupakan Vanya walau ia tidak yakin akan bisa melakukannya dengan cepat.
"Lo terlalu melekat dihati gue, padahal sedikit lagi, Van... sedikit lagi gue udah mau nyatain perasaan gue ke lo waktu itu. Ternyata kenyataan kita harus berakhir seperti ini," gumam Hansen yang mulai merasakan ngantuk. Lambat laun, pemuda itu benar-benar jatuh tertidur di kursi sofa sembari menatap pada posisi Vanya.
__ADS_1
...Bersambung ......
...Jangan lupa dukung karya ini dengan vote, gift, like dan tinggalkan komentarnya guys ❤️💚...