Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
44


__ADS_3

Vanya terkejut kala mobil yang mengantarkannya dan Zia justru bukan mengarah ke rumah Fero, melainkan ke sebuah Rumah Sakit swasta. Dikepalanya ada banyak pertanyaan. Apa tujuan Zia mengajaknya kesini? Bukankah mereka akan menemui Hansen dikediaman Fero?


"Ma? Kenapa malah ke Rumah Sakit?" Vanya takut Zia berubah pikiran, dalam arti lain sebenarnya ini sambungnya itu tidak berniat mempertemukannya dengan Hansen.


"Iya, kita kesini dulu," jawab Zia dengan suara serak.


Belum sempat Vanya menanyakan apa tujuan mereka kesana, wanita paruh baya itu lebih dulu mengajak Vanya untuk segera masuk ke dalam Rumah Sakit.


"Ayo, Van!"


Zia sebenarnya memang tak mau mengajak Vanya untuk ikut menemui Hansen, terdengar tega memang tapi dia harus melakukan itu karena semakin minim pertemuan mereka maka mereka berdua akan lebih cepat melupakan.


Akan tetapi, niat Zia itu harus dia urungkan, mau tak mau dia harus mengajak Vanya sebab menurut penuturan Fero yang sejak awal memberinya informasi ini, Hansen terus mencari dan menyebut nama Vanya.


Mau tak mau, Zia akhirnya mengajak Vanya juga untuk menjenguk Hansen ke Rumah Sakit. Meski sejak awal kepergian mereka, Zia tak menjelaskan sama sekali pada Vanya bahwa Hansen mengalami kecelakaan.


"Mama mau ke ruangan itu dulu, kamu tunggu disini ya." Zia meninggalkan Vanya didekat koridor yang terdapat beberapa kursi tunggu. Dia hendak mengecek kondisi Hansen dulu untuk memastikan, jika memang putranya harus benar-benar menemui Vanya, barulah dia mengajak Vanya ikut masuk, tapi jika Hansen sedang tidur atau semacamnya, Zia pikir Vanya tak perlu tau apa yang menimpa Hansen.


Sebenarnya, Zia merasa menjadi orang jahat karena semua ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia memang harus menjaga interaksi Hansen dan Vanya agar mereka tidak kembali bersama. Bagaimanapun, keutuhan keluarga mereka lebih penting, ketimbang perasaan labil anak-anak remaja yang dirasakan Hansen dan Vanya.


Dalam arti lain, sebenarnya Zia memang meragukan keseriusan hubungan mereka. Dia terkesan meremehkan. Menganggap lambat laun mereka akan lupa dengan sendirinya. Dan kenekatan Hansen saat ini, bukan karena dia benar-benar menginginkan Vanya. Itu hanyalah ego seorang anak yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Gak semua yang Hansen mau harus dia dapatkan. Dia harus belajar untuk merelakan sesuatu." Begitulah batin Zia yang menguatkan hati untuk tetap bersikukuh memisahkan hubungan Hansen dan Vanya.


Zia memasuki ruang perawatan Hansen, yang mana, semalam sang anak sudah diberikan tindakan diruang IGD. Dan syukurnya Hansen sudah melewati masa kritisnya. Hal itu turut membuat Zia lega, sebab semalaman dia memikirkan Hansen sampai tak bisa tertidur lagi sejak berita ini dia dengar dari Fero.


"Tante?" Fero menyambut kedatangan Zia pagi itu. Dia menyalami tangan wanita paruh baya itu dengan takzim.


Zia mendekat pada hospital bed dimana Hansen berada. Pemuda itu tampak tertidur pulas, jadi Zia pikir tak perlu ada pertemuan dengan Vanya.


Kepala Hansen diperban. Dengan luka-luka lecet di sekujur lengannya. Lehernya diberi gips, juga kaki kirinya yang tampak dibalut dengan kain elastis. Hati Zia semakin retak melihat kondisi anaknya.


"Gimana keadaan Hansen?" tanya Zia dengan nada sendu, tak terbendung airmatanya hingga air bening itu mengalir jatuh dipipinya.


"Kata Dokter tulang kaki Hansen patah. Pembuluh darah dikepalanya pecah---"

__ADS_1


"Udah, udah, jangan dilanjutin." Zia menyela, tak sanggup mendengar penjelasan Fero mengenai kondisi Hansen disana.


"Maaf, Tante..." Fero menunduk lesu, entah permintaan maafnya untuk hal apa. Mungkin merasa bersalah karena membiarkan Hansen terlibat dalam balap liar hingga menyebabkan kondisinya seperti sekarang.


Zia kembali menangis, kini bahkan tersedu-sedu. Dia merasa telah banyak bersalah pada Hansen. Sedikit banyak, Zia menyalahkan dirinya sendiri terkait apa yang menimpa Hansen sekarang.


"Apa kata dokter?" tanya Zia kemudian.


"Kakinya harus dioperasi untuk pemasangan pen, itupun harus ada persetujuan keluarga, Tante."


Zia mengangguk, setelah ini dia akan menemui dokter yang menangani putranya.


"Kenapa bisa Hansen ikut balapan liar, Fer?" Zia tersengguk-sengguk. Membayangkan bagaimana Hansen mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, itu membuat kepalanya nyeri, juga hatinya berdenyut sakit.


"Maaf, Tan ..." Sekali lagi permintaan maaf keluar dari mulut Fero.


"Vanya ..."


Zia dan Fero refleks menoleh pada Hansen disana. Pemuda itu masih memejamkan mata, namun menyebut nama Vanya. Sepertinya dia bermimpi.


"Dia terus nyebut nama Vanya, Tan."


"Sejak kapan?"


"Sejak semalam. Bahkan saat sebelum dia pingsan selepas kecelakaan."


Hati Zia terasa tercubit. Dia merasa sudah menghalangi kebahagiaan putranya. Apa segitunya Hansen mencintai Vanya? Apa dia yang terlalu meremehkan perasaan putranya terhadap anak sambungnya?


"Maaf, Tan. Apa Vanya gak Tante ajak kesini?"


...***...


Vanya memasuki ruangan yang tercium aroma disinfektan. Dia belum menyadari siapa yang berbaring di ranjang pesakitan. Masuk kesana karena akhirnya dia diajak oleh Zia.


Akan tetapi, yang membuat Vanya sempat bingung adalah melihat wajah sembab Zia yang sepertinya habis menangis. Tidak, bahkan saat mengajak Vanya ikut masuk ke ruangan yang dituju, mama sambungnya itu masih mengeluarkan airmata.

__ADS_1


"Vanya ..."


Jantung Vanya terasa berdetak dua kali lebih cepat karena mendengar suara Hansen di ruangan yang sama. Untuk sepersekian detik berikutnya, dia menyadari jika disana juga ada Fero dan sekarang matanya tertuju pada hospital bed dimana seseorang yang amat dia kenali terbujur disana.


"Kak Hansen!" batin Vanya amat terkejut sampai matanya mendelik untuk memastikan bahwa dia tidak salah lihat.


"Vanya ..." Hansen terus saja memanggil nama gadis itu dengan kondisi tanpa sadarnya.


Vanya mendekat ke arah ranjang, sebelum benar-benar sampai dia melirik Zia sekilas dan Mama sambungnya itu mengangguk sebagai kode bahwa Vanya boleh mendekat ke arah tempat tidur.


Vanya tidak bisa menahan airmatanya saat menyadari jika yang terbaring disana benar-benar Hansen.


"Kak?!" Vanya tidak mempedulikan lagi jika disana ada Zia yang menonton aksinya. Dia menangisi Hansen yang ternyata dalam kondisi tidak baik-baik saja. Hancur hati Vanya melihat keadaan cinta pertamanya itu.


"Kakak kenapa bisa gini?" Vanya tersengguk-sengguk disisi Hansen. Dia menggenggam jari jemari pemuda itu sambil terus bertanya meski dia tau Hansen tak mungkin menjawab segala pertanyaannya.


"Kak, jawab aku. Apa kakak begini karena marah sama aku? Kenapa kak? Kenapa?" Vanya terduduk dilantai. Dia tampak benar-benar hancur.


Zia membuang muka melihat itu, dia sadar bahwa dia telah mematahkan dua hati milik anak-anaknya. Tapi dia harus apa? Disaat keadaan memang tak bisa berpihak pada Hansen dan Vanya. Haruskah dia mendukung hubungan mereka? Sebab disini dia sadar bahwa didalam bawah sadarnya pun, Hansen terus menyebut nama Vanya.


"Kak. Kakak harus sembuh, ya. Gak apa-apa kalau kakak marah sama aku. Tapi kakak harus sembuh. Aku gak bisa lihat kakak begini. Kasih aku rasa sakitnya juga biar aku bisa ngerasain apa yang Kakak rasain."


Fero yang juga masih disana ikut bersedih melihat keadaan ini. Dia tau pasti jika Hansen dan Vanya saling menyayangi, tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Sejak awal, Fero sudah menebak jika hubungan mereka takkan bisa bersama selamanya. Tapi kenapa sekarang dia juga merasa sakit hati melihat semua ini? Dia turut sedih dengan hubungan Hansen dan Vanya yang harus berpisah bukan karena kehendak mereka masing-masing.


"Mama kenapa gak bilang kalau Kak Hansen yang sakit, Ma?" protes Vanya pada Zia. Dia tak habis pikir kenapa Zia baru memanggilnya dan tidak memberitahunya sejak awal.


"Maafin Mama, Van. Mama pikir Hansen bisa tanpa kamu, ternyata---" Zia tak melanjutkan kalimatnya. Dia sadar bahwa dia salah.


"Ma... izinin aku untuk jaga dan rawat Kak Hansen selama sakit. Aku mohon, Ma."


Zia menggeleng. Menandakan ketidaksetujuannya.


"Aku mohon, Ma. Please! Setelah Kak Hansen sembuh, kami bakal pisah lagi. Paling enggak, izinkan aku untuk jadi adik yang bisa merawat kakaknya!"


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2