
Menjelang siang, mereka semua akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke villa agar tidak tiba terlalu gelap.
Kejadian yang menimpa Vanya kemarin menjadi pelajaran bagi Hansen untuk tidak membiarkan gadis itu terlalu dekat dengan Dira. Entah kenapa perasaan Hansen mengatakan jika jatuhnya Vanya ada kaitannya dengan Dira, meski Dira mengatakan tidak tau apa penyebab Vanya bisa terjatuh.
Hansen ingin menanyakan ini pada Vanya nanti, karena Vanya memang belum mau membahas hal itu saat ini.
"Yang penting kita sampai di villa dulu ya, Kak."
Hanya itu yang Vanya ucapkan ketika Hansen mulai membahas insiden kemarin.
Dira yang sudah mengetahui hubungan Hansen dan Vanya--langsung dari pengakuan Hansen sendiri--sebenarnya merasa amat tidak percaya. Dalam hati, Dira merasa itu tidak pantas, tapi dia masih bingung apakah harus mengadukan hal ini pada Tante Zia atau tidak.
Beberapa kali beristirahat di pos pemberhentian, akhirnya mereka tiba juga di kaki gunung menjelang sore.
Wajah-wajah lelah itu tak dapat ditutupi, meski begitu mereka semua amat senang karena momen liburan kali ini berbeda daripada biasanya.
Terutama Hansen, ia merasa lega karena Vanya tidak mengalami cedera yang serius dan dapat pulang dalam keadaan tidak kurang satu apapun.
"Kamu lanjut istirahat ya. Kamu pasti capek," ujar Hansen ketika mereka sudah tiba di depan villa.
Vanya mengangguk, lalu dia masuk ke arah kamar yang ditempati Metha.
"Tha, gue tidur disini sama lo, ya."
Metha mengernyit saat mendengar ujaran Vanya. Ingat kan, mereka seharusnya tidur bertiga bersama Dira dalam satu kamar saat pertama kali tiba di villa, tapi karena kebiasaan buruk Metha yang selalu tidur serampangan, hingga akhirnya Metha menempati kamar yang lain--sendirian.
"Kenapa? Kemarin kan lo sekamar sama Dira," jawab Metha.
"Jadi gak boleh, nih? Gak apa-apa kalo tidur lo gak bisa tenang sampai kaki lo pindah ke kepala gue, yang penting gue tidur disini sama lo ya, gue males tidur sama Kak Dira."
"Bukan gak boleh, tapi gue kan pengen tau alasannya." Metha berbicara sambil membongkar pakaian kotornya selama mendaki dan memasukkan itu ke dalam keranjang baju kotor.
"Gak ada alasan. Malas aja. Gue kan lebih akrab sama lo, Kak Dira itu terasa asing buat gue," kata Vanya kemudian.
"Yee... terserah lo aja deh."
__ADS_1
Vanya akhirnya berbaring di ranjang setelah ia mandi. Metha ikut duduk disisi Vanya yang tampak bermain game dengan ponselnya tersebut.
"Lo udah gak apa-apa? Soal jatuh kemarin itu---"
"Gue lagi gak mau bahas itu, ya, Tha." Vanya memotong ujaran Metha.
Metha pun mengangguk. "Oke deh kalo gitu," katanya tak mau membahas lebih lanjut.
Lalu, Metha tampak menarik nafas panjang, sebelum akhirnya berbicara kembali.
"Gue ... tau soal hubungan lo sama Kak Hansen," cicitnya tiba-tiba.
"Hah?" Sontak saja Vanya langsung bangkit dan duduk mensejajari Metha. "Maksud lo?" tanyanya dengan reaksi terkejut yang sangat kentara.
"Dari awal gue udah tau kok."
"Tau dari siapa?" Vanya gelagapan.
"Gue gak buta, Van! Gue bisa nilai kedekatan kalian."
Vanya hanya diam, ia tidak tau harus menjawab apa atas ujaran Metha.
Vanya menggeleng lesu. Ia sudah terlalu menyukai dan menyayangi Hansen, apalagi sikap pemuda itu yang selalu membuatnya merasa amat disayangi.
"Tapi kan, lo berdua itu saudara-an."
Vanya menghela nafas sepenuh dada. "Lo tau kan kalo cinta itu buta? dan gue udah sampai di tahap itu sekarang," tuturnya.
"Udah beneran cinta? Lebih baik lo akhiri sekarang sebelum semuanya semakin berlarut-larut," saran Metha.
"Gue sama Kak Hansen udah sepakat buat bertahan sekalipun kedua orangtua kita bakal menentang hal ini."
Metha menggenggam tangan Vanya, dan menatapnya secara serius. "Itu sih terserah lo, lo yang paling tau perasaan lo sendiri, Van. Gue cuma ngasih saran aja... karena gue gak mau lo sakit pas semuanya gak sesuai dengan yang Lo harapin," katanya serius.
Vanya tau, ia bahkan sudah memikirkan konsekuensinya jika dia dan Hansen harus dipaksa berpisah.
__ADS_1
"Kita gak tau apa yang bakal direncanakan bokap lo kalau dia tau lo nekat pacaran sama kakak lo sendiri, Van. Lo tau sendiri kan, Om Chandra itu punya banyak cara untuk membuat semuanya terarah seperti yang dia kehendaki. Dan lo sebagai anak, cuma bisa menuruti dia, Van. Selama ini, lo gak pernah menentang dia, jadi gue gak mau lo ngelakuin hal itu ... hanya karena Kak Hansen."
"Tapi gue sayang sama kak Hansen. Dia juga gitu ke gue, Tha."
Metha manggut-manggut. "Ya udah, kalo lo emang mau jalanin dulu, tapi lo masih terlalu muda untuk menjalin hubungan yang serius. Anggap aja ini sebagai hubungan untuk memacu semangat belajar lo, jangan terlalu diseriusin biar gak sakit hati." Metha menepuk-nepuk punggung tangan Vanya.
Vanya kembali terdiam dan menciptakan hening diantara mereka.
"Kayaknya Dira juga tau, kalau hubungan lo sama Kak Hansen lebih dari sekedar kakak adik doang."
Vanya akhirnya mengangguk. Metha saja bisa menebak karena melihat interaksinya dan Hansen, apalagi Dira. Pasti ini yang membuat Dira kesal padanya.
"Apa insiden lo jatuh kemarin ada kaitannya sama Dira? Lo cerita deh sama gue, biar gue juga bisa jagain lo dari dia," cerocos Metha.
"Sebenarnya gue kepeleset sih, tanah yang gue injak ditempat itu kan dekat sama tempat buang air darurat, jadi disana itu licin dan kayak berlumut gitu. Gue beneran jatuh sendiri bukan diapa-apain Kak Dira." Vanya akhirnya mengakui kejadian yang sebenarnya.
"... tapi, Kak Dira itu tau gue kepeleset dan dia cuma ngeliatin gue aja tanpa berniat nolong. Gue gak tau dia sengaja atau enggak, tapi dia kelihatan santai dan diam aja. Dia gak langsung lari buat cari bantuan. Gue udah teriak-teriak sampe lemas, bahkan gue udah gak sanggup lagi rasanya, disitulah Kak Dira baru bergerak dan kelihatan panik, terus kayak cari bantuan gitu," jelas Vanya panjang lebar.
"Serius lo? Dia pasti sengaja tuh!" Metha menggeram. "Liat aja, bakal gue kerjain dia!" katanya kemudian-- tampak penuh tekad.
"Dasar lo!" respon Vanya.
"Ya gue kesel dengernya!" sungut Metha. "Terus, lo gak ceritain kejadian ini sama Kak Hansen?" tanyanya kemudian.
"Belum." Vanya menggeleng. "Gue gak tau harus bilang atau enggak," paparnya.
"Ya, lo kasih tau aja lah!"
"Gue gak mau dianggap perusak hubungan pertemanan mereka yang udah dijalin sejak kecil."
"Jangan naif deh, Van! Lo juga pasti gak suka sama Dira, kan? Dia itu keliatan banget mau nempel sama Kak Hansen terus. Lo liat gak gayanya pas minta difoto bareng Kak Hansen? Uwek ... enggak banget!" Metha berlagak seperti orang hendak muntah.
Melihat itu Vanya hanya cekikikan dan mereka keluar kamar setelah mendengar panggilan dari Mbak Lia yang meminta mereka agar segera keluar untuk makan malam bersama.
"Ya udah, ayo! Kita harus isi energi biar bisa mikir ... gimana caranya ngerjain si Dira," ujar Metha bersemangat.
__ADS_1
...Bersambung......
Dukung karya ini terus yaa, vote nya udah bisa dikirim kesini dong🙏❤️