
Untuk menikmati liburan, pilihan yang diberikan Chandra pada anak-anaknya ada dua. Gunung atau pantai.
Syukurnya, Vanya dan Hansen memiliki jawaban yang kompak dan serupa. Mereka memilih untuk berlibur ke gunung dengan alasan itu akan lebih sejuk dan bisa menyegarkan pikiran.
Karena sudah mendapat keputusan dari anak-anaknya, Chandra memberikan izin untuk Vanya dan Hansen menikmati liburan akhir tahun mereka dengan pergi ke gunung yang masih berada dalam kabupaten kota yang mereka tinggali.
Tentunya mereka tidak hanya pergi berdua. Karena Chandra dan Zia tetap menginginkan ada pengawasan untuk kedua putra-putri mereka.
Sehari sebelum berlibur, Hansen dan Vanya sudah mengemasi barang-barang bawaan mereka. Sebuah ransel berukuran besar menjadi bawaan Hansen dan begitupula yang menjadi bawaan Vanya.
"Kalian gak berlibur berdua ya. Mama sama Papa tetap mau kasih kalian pengawasan."
Hansen dan Vanya saling menatap. Mereka sudah menebak jika kemungkinan mereka pergi berdua saja itu tidak mungkin.
"Siapa yang ngawasin kita, Ma?" tanya Hansen pada Zia.
"Mama sama Papa ajak temen-temeb kalian untuk ikut liburan bareng. Ada Metha buat nemenin Vanya. Ada Fero buat nemenin kamu, Hans …"
Hansen pikir kalau cuma Fero itu tak masalah, karena dia memang sudah tau jika Hansen dan Vanya berpacaran tapi kalau Metha? Metha bisa saja menjadi mata-mata dan mengadukan hubungan keduanya pada ornagtua mereka nanti.
"Dan … ada tamu spesial yang bakal ikut nemenin kalian berdua."
Vanya dan Hansen kembali melempar tatap. Seolah saling bertanya siapa kiranya yang dimaksud Zia dengan tamu spesial.
"Nah, ini dia orangnya udah dateng." Zia menoleh ke ambang pintu dimana seseorang baru saja menyapa mereka.
"Hai Tante, Om … Hans … Vanya …"
Hansen melongo melihat ada Dira disana. Apalagi Vanya. Ia tidak bisa menerima jika Dira ikut-ikutan dalam momen liburan mereka.
"Dira ikut sama kalian ya. Kasihan dia baru aja tiba disini dan liburannya gak kemana-mana. Mama inisiatif buat usulin dia biar gabung ikut ke acara jalan-jalan kalian ke gunung. Gak apa-apa, kan?"
Hansen tak menjawab. Vanya juga bergeming.
"Udah, ayo kalian berangkat!" kata Chandra menimpali. Chandra langsung memanggil sopirnya untuk mengantar mereka ke tempat tujuan. Tapi sebelumnya mereka juga harus menjemput Fero dan Metha di kediaman masing-masing.
Selama perjalanan menuju rumah Fero yang lebih dulu akan mereka kunjungi, ketiga remaja itu hanya diam. Hansen memilih mendengarkan musik, ia tak mau Dira curiga akan hubungannya dengan Vanya. Sementara Vanya juga tak pandai berbasa-basi, ia memilih membaca novel didalam mobil.
"Kalian emang begini ya?" celetuk Dira tiba-tiba.
Vanya menoleh sedikit, pada gadis yang duduk disampingnya. "Gini gimana maksud kakak?" tanyanya.
"Suka diem-dieman," ujar Dira sambil menyengir.
__ADS_1
"Gak juga sih. Ini kebetulan aja pas lagi gak ada bahan obrolan," respons Vanya.
"Oh, gitu." Dira manggut-manggut. "Kamu udah pernah ke gunung sebelumnya?" tanyanya.
Vanya menggeleng. "Belum. Aku cuma pernah nginap di villa papa yang letaknya dekat gunung, tapi ngedaki gunung belum pernah sih," ujarnya jujur.
Dira langsung melotot. "Memangnya sekarang ini kita bakal mendaki? Aku pikir cuma nginep di villa sepeti yang kamu bilang itu," tuturnya terkejut.
"Kata kak Hansen sih dia pengen mendaki, aku mau ikut dong," jawab Vanya apa adanya.
Dira meringis, membayangkan mendaki gunung saha sudah membuatnya lelah apalagi jika benar-benar melakukan hal itu. Ia tak percaya diri dengan kemampuannya dan ia tak yakin akan tiba dipuncak gunung dengan selamat. Ketakutannya membuatnya enggan untuk ikut.
"Nanti aku di villa aja deh, kalau kalian beneran mau mendaki," putus Dira akhirnya.
Mereka tiba di kediaman Fero dan menjemput sahabat Hansen tersebut. Keadaan langsung ramai sejak kedatangan Fero yang kocak dan hobi membuat guyonan.
"Dia siapa, bro?" tanya Fero pada Hansen yang kini keduanya sudah pindah di jok paling belakang.
"Maksud lo Dira?"
"Oh namanya Dira…" Fero mengulumm senyum.
"NaksirlLo?" tebak Hansen. "Coba aja lo deketin," sambungnya.
"Ya boleh lah. Sekalian aja lo berusaha ngalihin perhatian dia biar dia gak curiga sama hubungan gue dan Vanya," bisik Hansen ditelinga Fero.
"Oke kalau gitu," jawab Fero bersemangat.
Mobil yang menumpangi mereka akhirnya tiba di rumah Metha demi menjemput gadis itu juga.
Metha menduduki jok depan, tepatnya disamping sopir.
"Ayo berangkat!!" ucap mereka antusias.
Sebenarnya, dalam perjalanan ini Hansen ingin duduk disebelah Vanya dan mengobrol dengan gadis itu tapi karena ada Metha dan Dira, dia harus mengurungkan niat itu.
Ditengah oerjalan, Vanya tertidur pulas dan menyandar pada Dira.
"Kalau lo gak kuat nahan tubuh Vanya biar gue aja pindah ke depan dan lo ke belakang, Dir," kata Hansen mencoba mengambil kesempatan.
"Uhm, ya udah deh… kasihan Vanya pulas banget tidurnya," kata Dira yang juga tak tega jika memindahkan posisi Vanya yang bersandar padanya.
Dengan sigap, Hansen pindah ke jok tengah, meskipun agak susah karena dalam keadaan mobil yang terus berjalan ditambah tubuh Hansen yang tinggi tapi entah bagaimana akhirnya pemuda itu mengambil alih posisi Dira.
__ADS_1
Dira hendak pindah ke belakang, tepatnya disamping Fero, sayangnya dia tidak bisa berpindah dalam keadaan seperti ini.
Akhirnya Dira harus pasrah duduk didekat Hansen dan Vanya. Posisinya sekarang adalah Hansen ada ditengah-tengah antara Vanya dan Dira.
Hansen membawa kepala Vanya untuk bersandar di dadanya. Ia mengelus-elus pelan kepala Vanya agar gadis itu kembali tertidur lelap tanpa terbangun. Hal itu tidak luput dari perhatian Dira. Dia kagum melihat Hansen yang tampak begitu menyayangi adik sambungnya.
Fero terdengar bernyanyi keras, ternyata dia mendengarkan musik lewat ponselnya menggunakan earphone. Sementara didepan Metha tampak tertidur dengan tenang dan bersandar. Jadi sekarang hanya Hansen dan Dira yang menyadari keadaan. Pak sopir pasti lebih fokus ke jalanan yang mulai berkelok-kelok.
"Lo sayang banget sama adek lo ya, Hans?" celetuk Dira tiba-tiba.
"Iya," jawab Hansen apa adanya.
"Gue jadi ingat kalau dulu lo juga selalu perhatian sama gue."
Hansen menoleh sekilas pada Dira. "Ya, dulu kan lo juga udah kayak adek gue, Dir," paparnya.
"Dulu?" ulang Dira.
"Iya, dulu."
"Kalau sekarang?"
Hansen menipiskan bibir. "Kalau sekarang mungkin lo bisa jadi teman baik gue dan Vanya," katanya.
Dira membuang pandangan ke arah jalanan. "Temen baik? Cuma itu?" ucapnya.
"Ya, cuma itu."
"Kalau gue berharap lebih, apa boleh?" tanya Dira tanpa menoleh pada Hansen. ia terlalu malu mengakui hal ini apalagi mereka baru saja bertemu kembali setelah beberapa tahun terpisah karena jarak.
Hansen jelas tau apa yang dimaksud dari perkataan Dira barusan. Untuk itulah, ia tak mau memberi harapan lebih.
"Gue udah punya pacar," jawab Hansen to the point sekaligus mematahkan hati Dira.
Dira mengangguk meski perasaannya terasa sangat sakit. Bukan main-main ia berkata ingin berharap lebih pada Hansen. Karena selama ini, sosok pemuda itu selalu hadir dalam bayangannya meski mereka sudah tidak bersama dalam berbagai momen dan waktu. Dira selalu menganggap Hansen adalah sosok yang akan menemaninya dimasa depan. Itulah impiannya.
"Tau gak, dulu kita pernah buat janji bahwa kita bakal menikah pas dewasa," ujar Dira kemudian.
Hansen malah tertawa. "Emang gue pernah bilang gitu ya? Sorry, gue lupa," katanya terus terang. Meski ucapan Hansen terdengar jahat, tapi jikapun ia pernah berkata demikian itu hanyalah masa lalu dan diucapkan oleh anak kecil.
"Ya wajar sih lo lupa," respons Dira. "Karena lo gak sungguh-sungguh sayang sama gue," tuturnya berat.
"Jangan pernah berpikir kalau itu bakal gue tepati, Dira. itu hanya sebuah ucapan yang dibuat oleh anak-anak seusia kita pada waktu itu, dan saat mengucapkannya kita cuma sedang bermain-main," ujar Hansen menohok hati Dira.
__ADS_1
...Bersambung ......