Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
14


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, hari ini kedua orangtua Hansen dan Vanya akhirnya pulang. Mereka menjemput Zia dan Chandra di bandara.


"Ya ampun, kangen banget deh sama Mama, Papa," kata Vanya sembari memeluk kedua orangtuanya bergantian.


"Sama, kita juga kangen sama kalian."


Zia menghampiri Hansen dan memeluk putranya beberapa saat.


"Semuanya oke, kan? Kok kayak gak senang gitu Mama sama Papa pulang?"


Hansen mengulas senyum tipis. "Semuanya aman, kok, ma. Kan mama tau aku orangnya emang gini,' ujarnya.


Zia terkekeh. "Iya, maka cuma bercanda, kok," katanya disusul suara tawa.


Mereka pulang menggunakan mobil yang hari ini dikemudikan oleh Hansen.


"Gimana keadaan rumah? Kalian gak berantem kan?" Kali ini Chandra yang menanyai putrinya.


"Ya enggaklah, Pa." Vanya yang menjawab.


"Papa pikir ditinggal dirumah bakal ada perang dunia ke tiga," kelakar Chandra.


Hansen hanya mendengarkan saja tanoanikut menimpali. Vanya yang lebih banyak menjawab pertanyaan dari Zia dan Chandra.


"Gak kok, Pa. Kalau gak percaya tanya aja Mbak Sari dan Bi Inah."


"Iya deh, percaya. Kita percaya kok, ya kan, pa?" timpal Zia.


Suasana didalam perjalanan menuju pulang itu terasa sangat akrab dan ramai.


"Eh, kalian udah pada makan belum? Kita mampir ke restoran keluarga aja gimana?" usul Zia kemudian.


"Belum sih, ma."


"Ya udah, kita kesana aja. Udah lama kan kita gak makan bareng."


"Baru juga 4 hari, Ma." Hansen yang menyahut.


Zia, Vanya dan Chandra tertawa karena jawaban uang Hansen berikan.


Sampai akhirnya mobil yang dikendarai Hansen tiba di pelataran restoran keluarga yang menjadi favorit mereka. Itu restoran yang sama dimana pertama kalinya Zia mengajak Hansen untuk mengenal Vanya, tempat pertemuan keluarga mereka yang pertama kalinya dan waktu itu Hansen memilih pulang lebih dulu.


"Oh iya, gimana raport kalian? Udah diterima, kan?" tanya Chandra saat mereka baru saja duduk.


"Udah, Pa. Kemarin dibagikan raportnya."


"Gimana hasilnya?"


Vanya dan Hansen saling bertatapan singkat.


"Bagus kok, pa." Vanya yang menjawab.


"Nanti papa cek ya," kata Chandra.


Vanya menyengir. "Oke, Pa," katanya pasrah.


Vanya kesulitan membuka kepiting yang menjadi menu makanan mereka siang ini dan Hansen dengan sigap membantu gadis itu.


Zia dan Chandra tentu saja memperhatikan keduanya, dalam hati mereka bersyukur karena Hansen dan Vanya benar-benar akur dan kompak. Mereka berharap kedua anak mereka dapat terus rukun dan saling menjaga satu sama lain.


Ditengah-tengah kegiatan makan siang keluarga itu, tiba-tiba ada seorang gadis yang menyapa Hansen.


"Hansen? Kamu Hansen, kan?"

__ADS_1


Membuat pemuda itu menoleh dan ikut terkejut saat melihat siapa yang menyapanya disana.


"Dira?"


Gadis bernama Dira itu tersenyum lembut, lalu menghampiri meja dimana Hansen dan keluarganya sedang makan siang. Disanalah ia juga melihat jika ada Zia yang ia kenali sebagai ibu dari Hansen.


"Tante Zia?"


"Hai, Dira," sapa Zia. "Apa kabar kamu? Wah kamu udah jadi gadis yang cantik ya sekarang,"


"Heheh Tante bisa aja. Aku sehat kok Tante."


"Kamu sama siapa kesini? Ayo gabung sama kita," ajak Zia.


Dira menggeleng sungkan. Tapi Zia menyakitkannya.


Sementara ditempat yang sama juga, Vanya menyenggol kaki Hansen menggunakan kakinya, isyarat itu ia berikan sebagai rasa ingin tahunya mengenai siapa Dira.


"Kenalin Dira, ini suami Tante. Namanya Om Chandra dan ini Vanya, anak Tante …"


Dira menyalami tangan Chandra dengan takzim kemudian menyapa Vanya disana.


"Hai, Vanya."


Vanya tak menyahut, ia hanya melempar senyuman tipis ke arah Dira.


"Dira ini dulu teman kecilnya Hansen. Rumah kita tetanggaan. Deket banget malah," terang Zia membuat Chandra disisinya manggut-manggut.


"...tapi berhubung papanya harus tugas ke Jayapura, mereka jadi pindah. Pas Hansen kelas dua SMP ya, Hans?" Zia menoleh pada Hansen untuk mendapat jawaban dari mulut sang putra.


"Iya kali, Ma. Aku lupa," jawab Hansen memang tak begitu mengingat hal itu.


Dira juga hanya tersenyum sungkan kemudian.


"Ehm, aku sama Kak Doni, Tante."


"Oh iya. Gimana kabar Doni?"


"Dia udah menikah dan tinggal disini makanya aku sekarang balik kesini buat ikut tinggal sama dia."


"Terus Mama sama papa kamu gimana?" tanya Zia lagi.


"Mama dan papa udah meninggal, Tante."


Wajah Zia tampak terkejut, begitu juga Hansen yang diam-diam turut mendengarkan. Mereka cukup mengenal dekat pasar keluarga Dira jadi hal ini sedikit banyaknya membuat mereka kaget.


"... Papa sama Mama mengalami kecelakaan," jelas Dira lagi.


"Maafin Tante ya Dira. Tante gak bermaksud buat kamu sedih." Zia merangkul bahu Dira demi menunjukkan rasa bersalahnya. Sejatinya ibu Hansen itu memanglah orang yang penyayang dan tak tega jika sampai menyakiti hati orang lain apalagi hanya karena lisannya.


Dira tersenyum lembut. "Gak apa-apa kok, Tante."


Setelah mengobrol singkat, Dira undur diri dari hadapan mereka semua, dia ingin pergi ke meja dimana kakaknya sudah menunggu.


"Salam buat Doni sama istrinya, ya, Dir," kata Zia sebelum gadis itu benar-benar pergi.


"Iya, Tante."


"Kapan-kapan main ke rumah baru Tante ya. Eh, coba mana nomor kamu. Siapa tau nanti Tante buat acara kan bisa undang kamu dan Dimas biar datang," kata Zia mengulurkan ponselnya pada Dira.


Setelah itu, Dira benar-benar pergi.


"Kasihan banget ya Dira udah jadi yatim piatu. Padahal kedua orangtuanya itu baik banget lho, Mas," kata Zia pada sang suami.

__ADS_1


Chandra menepuk pelan punggung tangan Zia. "Iya, kasihan. Maka dari itu selama kita masih hidup, kedua anak-anak kita ini harus mendapatkan yang terbaik biar suatu saat mereka mampu berdiri diatas kakinya sendiri," katanya merujuk pada Vanya dan Hansen yang banyak diam sejak kedatangan Dira tadi.


Zia kembali berceloteh. Ibu Hansen itu memang ceriwis dan banyak bicara.


"Tau gak, dulu Hansen sama Dira itu lucu banget lho. Kemana-mana maunya berdua. Sekolah SD mereka kan Deket, nah Hansen selalu boncengin Dira. Pernah juga Dira jatuh dari sepedanya Hansen, untungnya enggak kenapa-napa."


Vanya menatap Hansen seolah ingin mengonfirmasi hal yang baru saja Zia katakan namun pemuda itu hanya mengendikkan bahu dengan cueknya. Khas Hansen sekali.


Setelah menikmati makan siang di restoran, mereka memutuskan langsung pulang karena Zia dan Chandra juga lelah karena baru tiba di rumah mereka.


Bi Inah dan Mbak Sari langsung sigap membawakan barang-barang kedua majikan mereka.


Sementara Vanya dan Hansen naik ke lantai dua untuk menuju kamar mereka. Seminggu kedepan mereka akan libur sekolah karena pembagian raport sudah dilakukan kemarin.


"Kak?" Vanya memanggil Hansen yang berjalan disisinya.


"Hmm?"


"Boleh nanya sesuatu gak?"


"Soal apa?"


"Dulu kakak sama si Dira-Dira itu emang deket banget ya?"


Hansen tertawa pelan atas pertanyaan Vanya.


"Memangnya kenapa kamu tanya soal Dira?"


"Ya aku pengen tau aja."


"Ya dulu sih deket. Deket khas anak-anak. Main bareng sama sekolah bareng."


"Kakak pernah gak suka sama dia?"


Hansen mengusap kasar wajahnya sendiri. "Gak, Van. Dira itu udah kayak adek aku sendiri dulu," jawabnya terus terang.


"Aneh …" cicit Vanya.


"Aneh apanya?"


"Aku yang harusnya jadi adek buat kak Hansen malah dijadiin pacar, nah si Dira malah dianggap adek."


Hansen kembali tertawa. "Jadi menurut kamu gimana yang gak aneh?"


"Tauk!" kata Vanya tak acuh.


"Mungkin karena sejak kecil bergaul sama Dira dan aku tau gimana dia jadi dari situlah terbentuk pemikiran bahwa dia sudah seperti adik aku sendiri."


"Lah, kalau aku?" tanya Vanya.


"Kamu beda dong. Kita kan ketemunya udah gede. Meski gak gede-gede amat tapi sejak SMP aku udah suka kamu jadi susah buat anggap kamu sebagai adik." Hansen berkata sembari membenarkan anak-anak rambut yang menutupi wajah Vanya.


"Jangan sampai suka sama Dira, lho, kak."


Hansen tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Gak akan," katanya yakin.


"Abisnya aku lihat … dia itu cantik!"


"Kamu lebih cantik dimata aku," tutur Hansen sejujurnya.


Dira memang tampak cantik, dia memiliki tubuh semampai dan rambut yang hitam panjang bergelombang. Kulitnya kecoklatan tampak eksotis. Sedang Vanya lebih pendek, kulitnya putih dan rambutnya juga cuma sebahu saja. Jika diibaratkan, Vanya itu seperti artis Putri Titian saat masih remaja. Tapi, tetap saja Vanya minder dengan penampilannya, entah bagian mana dari dirinya yang membuat Hansen bisa menyukainya.


"Udah … jangan pikirin soal ini terus. Ngapain juga kita bahas soal Dira. Lebih bagus kita bahas soal liburan kita. Kamu mau kemana?" tanya Hansen mengalihkan topik yang membuat Vanya minder.

__ADS_1


...Bersambung …...


__ADS_2