Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
8


__ADS_3

Vanya dan Hansen duduk berhadap-hadapan di story' cafe, mereka sedang menunggu pesanan makanan mereka datang.


"Kakak beli helm baru ya?" tanya Vanya pada Hansen yang sejak tadi fokus pada ponselnya.


Sontak saja pertanyaan Vanya membuat Hansen kembali menatap gadis itu.


"Iya."


"Buat apa?"


"Ya buat orang yang nebeng sama gue." Hansen berbohong, sebenarnya itu ia beli khusus untuk Vanya, karena ia tau jika mereka sudah tinggal serumah--maka kemungkinan Vanya yang meminta untuk berangkat ke sekolah bersamanya--pasti ada.


"Emang kakak sering nebengin orang lain, gitu?" selidik Vanya.


"Gak juga. Tapi kadang gue kan sama Fero," kata Hansen.


Vanya malah terkikik sekarang, tidak terbayang kalau Fero harus mengenakan helm yang baru dibeli oleh Hansen itu.


"Kok ketawa? Ada yang lucu?" tanya Hansen bingung melihat sikap Vanya.


"Gak apa-apa, cuma gak nyangka aja kalau kakak beli helm itu buat dipake kak Fero juga," kata Vanya sambil nyengir.


"Emang kenapa?"


"Ya, kan, warna helm-nya pink. Apa kak Fero mau pake warna pink?" Vanya cekikikan sekarang.


Skakmat. Hansen terdiam seolah ucapan Vanya mampu membungkam mulutnya.


Hansen berusaha cuek dan kembali menatap layar ponselnya, padahal atensi yang sebenarnya hanyalah Vanya.


Tak lama, seorang pelayan datang dan menyajikan makanan di meja mereka. Vanya mengucapkan terimakasih pada pelayan itu, sebelum akhirnya sang pelayan pun pergi dari tempat mereka.


"Ayo makan, Kak!"


"Hmm," sahut Hansen dan meletakkan ponselnya disisi meja.


Vanya menatap Hansen yang mulai menyuap makanan. Pun Hansen sesekali melirik Vanya dari sudut matanya. Mereka saling tak menyangka dapat makan berdua dalam satu meja seperti saat ini.


"Kakak suka makan pedes?" tanya Vanya.


Hansen mengangguk. "Sehari gak makan pedas kayaknya ada yang kurang," jawabnya terus terang.


"Kalau gitu aku mau belajar masak makanan pedas deh buat kakak."


Hansen menipiskan bibir. "Kok buat gue?" tanyanya.


"Ya kita kan udah tinggal serumah, siapa tau ada keadaan yang mengharuskan aku masakin kakak, jadi aku udah tau apa yang harus aku masak." Vanya mengoceh dengan mulutnya yang juga mengunyah makanan.


Hal itu tampak sangat menggemaskan dimata Hansen. Ia memperhatikan setiap pergerakan Vanya sekaligus menyimak ujaran gadis itu dengan seksama. Sesuka itu Hansen padanya.


"Kan masih banyak ART, lo gak harus masakin gue, Van."


"Kali aja Bi Inah sama Mbak Sari pulang kampung, Kak ..." jawab Vanya kemudian.


"Kan ada Mama," jawab Hansen lagi.


"Ya, aku kan bisa bantuin mama, sekaligus belajar masak juga."

__ADS_1


"Iya deh, serah lo aja." Hansen tertawa, Vanya pun ikut tertawa.


Hansen mengambil tissue saat melihat adanya sisa makanan diujung bibir Vanya, lalu secara spontan ia mengelapnya.


Vanya tersenyum melihat perhatian Hansen padanya. "Makasih ya, kak," tuturnya tulus.


Hansen berdehem sekilas lalu menyahut Vanya dengan gumaman saja.


Suasana mendadak canggung diantara mereka, sampai akhirnya mereka menyelesaikan sesi makan dengan keheningan.


"Biar gue aja yang bayar," kata Hansen.


"Kan aku yang ngajak kakak."


"Gak apa-apa, tempo hari kan lo udah traktir gue beli minuman," ujar Hansen lagi.


"Kapan?" tanya Vanya tak mengingat yang Hansen maksud.


"Waktu di danau." Hansen memperjelasnya dan Vanya langsung mengingat yang dimaksud pemuda itu.


Setelah Hansen membayar makanan mereka, keduanya keluar dari story' cafe dan kembali menaiki motor yang Hansen bawa.


"Kak?" Vanya memanggil Hansen saat motor kembali berjalan.


"Hmm?"


"Aku ada PR bahasa Inggris."


"Terus?"


"Bantuin aku ngerjain itu, ya?" pinta Vanya.


"Gak mau ya, kak?" tanya Vanya menuntut jawaban sang kakak.


"Ya udah, nanti gue bantuin."


"Makasih ya, Kak." Vanya mempererat pelukannya di pinggang Hansen.


Mereka tiba di rumah lima belas menit kemudian.


Setelah Vanya menyerahkan helm nya pada Hansen, gadis itu langsung masuk ke dalam rumah. Sementara Hansen sendiri masih harus memarkirkan motornya ke dalam garasi.


Hansen naik ke kamarnya lalu segera membersihkan diri dan mengganti pakaian sekolahnya dengan baju rumahan. Kaos dan celana pendek menjadi pilihannya.


Baru saja Hansen mau mendengarkan musik hardrock kegemarannya menggunakan earphone, tapi tiba-tiba pintu kamarnya sudah di ketik dari luar.


"Kak!"


Disusul suara Vanya yang terdengar memanggilnya.


"Ya?" Mau tak mau, Hansen melepas earphone yang sudah terpasang, menggantungkan benda itu di lehernya sembari berjalan untuk membukakan pintu kamar.


"Kak, jadikan mau bantuin aku ngerjain PR Bahasa Inggris?" tanya Vanya menatap Hansen penuh harap.


Hansen tak tega menolaknya, meski dengan begini hubungannya dengan Vanya akan semakin dekat lagi, tapi akhirnya Hansen mengiyakan juga.


"Mana PR nya?" tanya Hansen.

__ADS_1


Vanya langsung menunjukkan buku PR nya ke hadapan Hansen.


"Ya udah, masuk!"


Vanya pun masuk ke kamar Hansen lalu berjalan menuju meja belajar yang ada disudut ruangan.


Vanya duduk di kursi yang ada disana, lalu membuka buku PR nya untuk menunjukkan pada Hansen yang mana yang harus dikerjakan.


"Ini Kak, tentang present perfect tense."


"Lo gak ngerti di bagian mana?"


"Tenses nya, terus masih bingung penggunaan have dan has," ujar Vanya dengan wajah bingungnya.


Hansen maju selangkah dan berdiri disamping Vanya yang duduk di kursi belajar. Pemuda itu sedikit membungkuk untuk melihat tugas sekolah Vanya yang sudah terletak di meja.


"Lo tinggal cocokin sama subjeknya. Lo hafalin aja kalau have digunakan untuk I, you, they, dan we. Sedangkan, has digunakan untuk singular subject, seperti he, she, it," jelas Hansen.


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau bentuk kalimat positif, negatif dan introgatifnya gimana?" tanya Vanya kemudian.


"Serius lo gak ngerti?" selidik Hansen, ia menatap Vanya disisinya, begitupun gadis itu ikut melihat Hansen dengan tatapannya.


Vanya mengangguk. "Serius, aku bingung. Masih sering kebalik-balik," akuinya terus terang.


Hansen menipiskan bibir. Lalu mulai menerangkan.


"Ini kan ada rumusnya, lo ikuti rumusnya aja. Gini ...."


Vanya memperhatikan lekat saat Hansen mulai menerangkan dengan wajah yang serius. Wajah pemuda itu tampak semakin tampan dalam mode seperti ini. Vanya jadi gemas sendiri. Seandainya saja Hansen bukan kakak tirinya, pasti Vanya tidak akan sering menasehati diri sendiri untuk tidak melewati batasan.


"Jadi, lo udah ngerti kan?" tanya Hansen setelah memberikan penjelasan dengan panjang lebar.


Vanya kembali mengangguk, meski sebenarnya ia tidak begitu fokus pada apa yang Hansen jelaskan, karena Vanya lebih tertarik memperhatikan Hansen yang sedang menerangkan.


"Nah, sekarang coba lo kerjain PR nya, biar gue lihat yang mana yang belum Lo pahami," kata Hansen kemudian.


Vanya tampak kikuk dan gelagapan. Tapi ia berusaha mengerjakan juga apa Hansen katakan.


Hansen sebenarnya tau jika tadi Vanya tak fokus mendengarkan penjelasannya. Sehingga sekarang ia mengulumm senyum melihat gelagat gadis itu yang garuk-garuk kepala saat mengerjakan soal-soal di buku PR nya.


"Bisa?" tanya Hansen masih dengan kulumann senyumnya.


Vanya menyengir lalu geleng-geleng kepala.


"Gimana mau bisa, kalo lo bukan dengerin gue tapi cuma ngeliatin gue doang," ujar Hansen blak-blakan.


"Habisnya kakak ganteng banget," celetuk Vanya keceplosan.


Hansen tidak bisa menahan tawanya lagi sekarang. Ia malah mengacak rambut Vanya dengan gemas, kemudian berjalan menjauh dari gadis itu.


"Kak?" panggil Vanya, gadis itu berdiri dari duduknya.


Hansen menoleh sekilas. "Kenapa?" tanyanya tak acuh. Padahal saat ini Hansen sedang menahan debaran didadanya karena dipuji Vanya.


"Kalau seandainya aku suka kakak, boleh gak sih, kak?"

__ADS_1


...Bersambung ......


Jangan lupa dukung karya ini dengan vote, gift, like dan tinggalkan komentarnya guys ❤️💚


__ADS_2