Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
30


__ADS_3

Hansen dan Vanya akhirnya menonton film di rumah yang kini ditempati oleh Tante Dona. Mereka tidak mau terjebak dengan tatapan Dira yang seakan terus menghakimi hubungan mereka.


"Kak, kalau ternyata Kak Dira ngadu sama Mama soal kita, gimana Kak?"


"Udah kamu tenang aja, Van. Dira gak bakal berani buka mulut."


Hansen meminta Vanya untuk menikmati film yang mereka pilih yaitu bergenre horor.


"Siang-siang nonton Zombie, ih." Vanya terkekeh dan Hansen ikut tertawa.


"Gak apa-apa dong. Kita nikmatin fasilitas netfl*x disini, seru kok filmnya." Hansen mengacak rambut Vanya dengan gemas.


"Tapi wajahnya serem-serem kak!"


"Namanya juga Zombie, kalau mau yang ganteng lihat wajah kakak!" ujar Hansen songong.


Mereka tertawa kembali, tapi saat film dimulai keduanya tampak serius menonton. Tanpa mereka sadari, ada mata yang melihat interaksi mereka di ruang tv tersebut.


Sangking asyiknya menonton bersama, Hansen sampai tak sadar saat Zia dan Dona sudah menghampirinya disana.


"Hans ..." Zia memanggil sang anak, dia melirik Vanya yang terlihat sudah tertidur di pangkuan Hansen sekarang.


Meski Hansen dapat melihat kemana arah tatapan sang Mama, tapi dia berusaha bersikap biasa saja. Dia tak mau Mamanya curiga jika dia malah gelagapan saat menemukannya dalam posisi seperti ini bersama Vanya.


"Vanya tidur, Hans? Pindahin ke kamar tamu aja," timpal Dona yang juga melihat Vanya terlelap disana.


Alih-alih menjawab atau merespon ujaran mama dan tantenya, Hansen malah menanyakan keberadaan Dira. Sebenarnya dia hanya mau mengalihkan pembicaraan karena malas memindahkan Vanya, dia takut malah membuat gadis itu terbangun dari tidurnya.


"Dira mana, Ma?"

__ADS_1


"Dira udah pulang tadi. Kok gak diajakin nonton bareng, sih?" kata Zia.


"Iya, tadi kayaknya dia serius banget sama Mama dan Tante Dona," jawab Hansen nyengir.


"Mama mau bicara sama kamu, Hans ..." Zia tampak menatap Hansen serius. Dia tak menghiraukan alasan yang Hansen berikan terkait Dira yang tidak diajak menonton bersama.


"Ya udah ngomong aja, Ma," respon Hansen santai.


Zia melirik Vanya disana, entah kenapa sekarang dia tidak nyaman melihat Vanya yang tampak manja sekali pada Hansen, bahkan tertidur dipangkuan putranya tersebut. Meski Zia juga menganggap Vanya sebagai anaknya sekarang, tapi Vanya dan Hansen tetaplah bukan saudara sedarah yang layak melakukan hal ini, rasa-rasanya justru berlebihan. Apalagi mereka berdua bukan anak kecil lagi. Dan yang membuat Zia begini juga tentu karena terpengaruh oleh pesan yang diterimanya tempo hari.


"Mama mau ngomong berdua sama kamu. Kamu pindahin Vanya dulu ke kamar ya."


Hansen tidak bodoh, dia menangkap ada yang tidak beres. Apa tadi Dira memang sudah mengadu yang tidak-tidak saat mereka meninggalkan gadis itu bersama Zia dan Dona?


"Ya udah," jawab Hansen patuh. Dia mengangkat tubuh Vanya dalam sekali pergerakan, lalu membawa gadis itu diatas kedua tangannya.


Hansen membukakan pintu kamar tamu yang ada dirumah tersebut lalu membaringkan Vanya disana dengan sangat hati-hati takut membangunkan gadis itu.


Sebelum benar-benar menemui sang Mama, Hansen menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu.


"Ada apa, ma?" Hansen menyadari jika di ruang tv sekarang hanya tinggal Zia seorang, Dona sepertinya sengaja pergi sebab tau jika Zia ingin bicara sesuatu dengan anaknya.


"Hans, mama mau nanya sama kamu. Tapi mama harap kamu menjawab dengan jujur dan gentle sebagai seorang laki-laki."


Hansen menganggukkan kepalanya. Dia tau cepat atau lambat hal semacam ini akan terjadi dan harus dia hadapi. Masih mending yang sekarang menanyainya hanya Zia seorang, bagaimana jika Chandra turut menyidangnya. Mungkin Hansen akan jauh lebih gugup daripada saat ini.


"Mama tau kamu bukan anak kecil lagi, Hans. Mama tau kamu udah beranjak dewasa, kamu bahkan udah legal, udah 17 tahun dan mama sadar kamu berhak menentukan pilihan kamu sendiri," ujar Zia memulai kata-katanya.


Hansen berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia takkan melawan segala tuduhan Zia padanya. Hakikatnya sebagai seorang anak memang harus menurut, tapi jika Zia melontarkan kalimat agar Hansen meninggalkan Vanya, jawaban Hansen tetap sama. Tidak akan.

__ADS_1


"Tapi, mama lihat kamu sama Vanya deket banget, Hans ..."


"Apa itu salah, Ma?"


"Gak salah!" sergah Zia. "Gak salah kalau kamu anggap dia sebagai adik kamu sendiri, tapi itu salah besar kalau kamu anggap dia layak menjadi orang yang lebih dari sekedar adik atau teman. Kamu pasti paham apa yang mama maksud, kan, Hans?"


"Ma ..." Hansen menatap mata Zia dengan tatapan mengiba.


"Mama harap penilaian mama sama kalian itu salah ya, Hans. Mama harap itu cuma prasangka mama aja. Mama gak tau mau bilang apa sama papa kalau ternyata ..." Rasanya Zia tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tapi, Ma---"


"Ternyata kalian memang pacaran?" tuding Zia kemudian. Suaranya memang pelan, tapi sangat menekankan.


Hansen membuang tatap, dia tak bisa membalas sorot tajam sang Mama.


"Jadi bener, Hans?" Zia memegang kedua pundak Hansen. "Padahal mama berharap semua itu cuma perasaan mama aja, Hans. Bilang sama Mama kalau ini semua gak bener!"


Tak mengelak, Hansen justru menganggap ini saat yang tepat untuk dia berkata jujur pada sang Mama, lagipula mamanya meminta dia untuk gentle, kan?


"Aku sayang sama Vanya, Ma," ujar Hansen terus-terang.


"Hans!" hardik Zia keras.


"Aku juga cinta sama dia!" akui Hansen yang semakin membuat mata Zia terbelalak.


"Hansen! Kamu sadar siapa Vanya, kan? Dia adik kamu! Adik, Hans! Gak seharusnya kamu seperti ini."


"Tapi kami saling sayang, Ma. Jadi, jangan minta Hansen buat pisah sama Vanya, karena Hansen gak bisa. Tolong jangan paksa Hans, Ma!"

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2