Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
21


__ADS_3

Dengan panik dan tergesa-gesa, Hansen langsung berlari menuju tempat yang ditunjukkan oleh Dira.


"Vanya!!!" Hansen menjerit ke arah bawah. Dengan senter yang ia bawa, ia menyorot ke arah sana dan melihat jika Vanya tersangkut dengan tangan yang berpegangan di batang pohon kecil.


"Kak ..." lirih Vanya sambil menangis. Tangannya sudah tak kuat lagi menahan diri dan bobot tubuhnya sendiri, tapi sebisa mungkin ia bertahan disana.


"Tunggu, aku bakal kesana."


Hansen ingin bergerak namun tangan Dira mencegahnya. "Jangan Hans, itu terlalu bahaya! Gimana kalo kita cari bantuan dulu!" katanya memberi usul.


Hansen sudah tak bisa berpikir jernih sekarang, tujuannya hanya satu yaitu menolong Vanya disana. Ia tidak sanggup melihat keadaan Vanya seperti itu.


"Kenapa gak lo aja yang cari bantuan? Gue mau nolong Vanya sekarang juga!" bentak Hansen membuat Dira menciut.


Hansen hendak turun ke arah tanah yang menurun itu, namun Dira kembali mencegahnya.


Dengan keras, akhirnya Hansen menepis tangan Dira.


"Hans, lo gak punya alat apa-apa buat bantuin Vanya," kata Dira lagi berusaha meyakinkan Hansen yang tampak kalap.


"Gak! awas!" Hansen bergerak ke arah dimana Vanya terjatuh.


Disaat itulah Dira menjerit ke arah tenda camp-nya.


"Tolong! Tolongin kita disini."


Disisi lain, Fero dan yang masih berada di tenda juga keheranan karena Hansen, Vanya dan Dira tidak kunjung kembali. Mas Seto sudah bersiap untuk menyusul dan mencari keberadaan mereka disaat dia mendengar teriakan Dira.


Hingga saat itu juga, Mas Seto mengajak yang lainnya untuk ke arah dimana suara Dira terdengar.


"Fer, Mas Seto ... lihat, Hansen nekat mau nolongin Vanya disana!" kata Dira mengadu pada Fero dan Mas Seto.


Gadis itu tampak panik, dengan wajah yang juga pias.


"Vanya? Emang Vanya kenapa?"


"Vanya tadi jatuh disana!"


Mereka menuju arah yang Dira maksud dan melihat jika Hansen ingin menuruni jalanan dengan tangan kosong.


"Hans, lo pegang ini!" kata Fero yang membuat Hansen akhirnya mengadah pada sang sahabat.


Fero melemparkan tali tambang yang ia bawa, kemudian Hansen berpegangan pada benda itu.

__ADS_1


Hansen melirik Vanya yang sudah tampak lemah dibawah sana. Ia pun melemparkan sisa talinya pada gadis itu.


"Van, pegang talinya!" pekik Hansen.


Mereka yang masih berada diatas turut waspada dan memegang ujung tali satunya untuk menjadi tumpuan dan menarik Hansen dan Vanya ke atas.


"Gak bisa!" jawab Vanya lemah, ia masih berpegangan dengan batang pohon kecil.


"Please, berusaha, Van!" kata Hansen mendesak. Ia merasa sangat takut jika Vanya benar-benar terjatuh ke bawah sana. Sementara itu, ia juga terus bergerak turun secara perlahan untuk menuju ke posisi Vanya dengan berpegangan pada tali yang tadi dilemparkan Fero.


Vanya akhirnya berusaha memberanikan diri untuk meraih tali tersebut, namun dengan begitu, ia harus melepaskan satu tangannya dari batang pohon yang menahan tubuhnya sejak tadi.


"Ayo, Van!" Metha dan yang lainnya juga menjerit dari atas untuk menyemangati gadis itu.


Vanya meraih talinya, dan bersamaan dengan itu pohon kecil yang sejak tadi menjadi tumpuan tubuh Vanya pun tercabut dari akarnya.


"Vanya!!" jerit Hansen yang kaget saat Vanya terhuyung karena kini dia tak dapat berpegangan pada pohon kecil itu lagi.


Dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya Vanya dapat meraih kedua tali yang sudah ia pegang dengan satu tangan tadi. Kini kedua tangan Vanya berhasil bertumpu di tali tambangnya.


Disaat itu pula, Fero, Haris, Mas Seto dan Bima menarik talinya bersamaan dengan seluruh tenaga mereka, agar bisa membuat Hansen dan Vanya tertarik ke atas.


"Satu ... dua ... tiga ... tarik!" kata Haris membuat ancang-ancang.


Vanya tergeletak di tanah saat dia sudah benar-benar selamat, ia tampak begitu lemas. Sedang Hansen buru-buru menghampiri sang adik sambung untuk melihat kondisinya.


Vanya hanya merespon Hansen dengan anggukan samar.


"Mana yang sakit?" Hansen tampak begitu perhatian dan ketakutan.


Dira memperhatikan hal itu dan dia membuang pandangannya ke arah lain. Meski begitu, ia merasa lega karena akhirnya Hansen tak jadi nekat untuk turun menyusul posisi Vanya yang terperosok jauh nyaris mencapai jurang.


"Tangan aku sakit banget, Kak," lirih Vanya.


Hansen tak mau memaksa Vanya berbicara lebih lanjut karena menyadari begitu lemahnya gadis itu. Kemudian dengan kedua tangannya, ia mengangkat dan menggendong Vanya ke arah tenda mereka.


Yang lainnya juga mengesah lega karena akhirnya Vanya berhasil diselamatkan.


"Maafin aku ya, maafin aku karena lalai menjaga kamu," bisik Hansen yang menyalahkan dirinya sendiri hingga Vanya bisa luput dari pandangannya.


"Kakak gak salah," lirih Vanya dalam gendongan Hansen.


"Stttss ... udah jangan banyak bicara, kamu istirahat aja ya. Besok kita balik ke villa," kata Hansen.

__ADS_1


Malam itu, akhirnya Hansen meminta bantuan pada Metha untuk menggantikan pakaian Vanya, karena bajunya sangat kotor akibat kejadian tadi. Metha tentu saja mengiyakan, tanpa Hansen pinta pun dia akan melakukan itu.


Sesudah itu, Hansen juga memastikan Vanya agar makan malam, dia sendiri yang menyuapi Vanya yang masih tampak lemah dan terkejut. Vanya seperti kehilangan semangat karena insiden jatuh ke jurang. Hansen pun demikian tapi ia berusaha bersikap setenang mungkin agar Vanya kembali tersenyum.


Keesokan harinya, mereka berkemas untuk kembali ke Villa karena perjanjiannya memang hanya berkemah satu malam saja.


"Dira, gue mau bicara sama lo!"


Dira mengernyit saat Hansen mengatakan hal itu namun ia mengikuti Hansen juga yang berjalan agak menjauh dari tenda.


"Kenapa, Hans?"


"Mengenai kejadian semalam. Bisa lo jelasin ke gue kenapa Vanya bisa jatuh?"


"Gue gak tau, gue kan lagi buang air, Hans," jawab Dira gugup.


"Jangan becanda lo! Gue tau ada yang lo tutup-tutupi disini!" sergah Hansen.


"Lo nuduh gue yang buat Vanya jadi jatuh?" kata Dira dengan wajah memerah.


"Gue gak nuduh, gue mau lo ceritain kejadiannya!"


"Gue bilang, gue gak tau!" kata Dira kekeuh.


"Oke, mungkin saat ini Vanya belum bisa cerita banyak ke gue apa yang membuat dia bisa jatuh, tapi kalau nanti gue tau kalau penyebab jatuhnya Vanya semalam karena lo, sorry, Dir ... gue gak akan bisa maafin lo!"


Hansen ingin berlalu dari hadapan Dira saat itu juga tapi ucapan Dira membuatnya menghentikan langkah.


"Tega banget lo nuduh gue berbuat kayak gitu sama Vanya, Hans!" lirih Dira.


Hansen bergeming tak berniat menjawab.


"Apa segitu berartinya adik tiri lo itu? Sampai lo nuduh gue kayak gini, Hans?"


Sekarang Hansen menoleh sekilas pada Dira namun ia tak benar-benar memutar tubuhnya kearah gadis itu.


"Vanya bukan cuma sekedar adik tiri buat gue, kalau lo emang pengen tau banget ... oke, gue bakal ngaku sama lo ..."


Mata Dira membola, ia sebenarnya tak siap mendengar pengakuan Hansen, tapi disatu sisi yang lain, jiwa penasarannya seakan ingin mengetahui semua teka-teki ini.


"Lo gak perlu repot mencari tau hubungan spesial apa yang terjalin diantara gue sama Vanya. Ya, kita berdua emang pacaran," tukas Hansen kemudian, yang membuat Dira benar-benar melengos setelah mengetahui fakta tersebut.


"Hans ... lo gila dan nekat! Dia itu adek lo!" lirih Dira akhirnya.

__ADS_1


"Gue tau. Tapi Vanya cuma sebatas adik sambung gue, dia gak ada hubungan darah sama gue, dan perasaan gue ke dia ... itu mutlak hak gue. Gue yang paling tau mengenai apa yang harus gue lakuin. Jadi, jangan sekalipun lo berniat menyakiti Vanya, lo ngerti kan?"


...Bersambung .......


__ADS_2