Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
17


__ADS_3

Dira sendiri enggan keluar dari dalam Villa, ia hanya melihat pemandangan dari sebuah jendela besar yang memperlihatkan view ke halaman belakang.


Dari posisinya, Dira dapat melihat dengan jelas jika didekat kolam renang ada Vanya, Hansen dan Metha yang tampak saling bercengkrama dengan akrab. Dira tak tau apa yang sedang mereka perbincangkan tapi Dira mengulas senyum setiap melihat Hansen yang ikut tertawa disana.


"Hai, Dira ..."


Dira menoleh dan melihat sosok Fero ada dibelakangnya.


"Hai ..." sahut Dira sambil tersenyum tipis.


"Lo kok gak ikut gabung sama mereka?" tanya Fero yang mulai melaksanakan aksinya untuk mendekati Dira.


"Lagi males aja sih."


"Oh. Bukan karena gak enak badan, kan?" ucap Fero.


"Enggak. Mungkin karena capek di perjalanan aja kali ya."


Fero tersenyum dan kini dia berdiri tepat disebelah Dira. Pemuda itu ikut melihat interaksi Vanya, Hansen dan Metha yang ada di luar dari jendela besar yang ada dihadapannya.


"Lo udah lama kenal sama Hansen?" tanya Dira pada Fero.


"Ehm, dari kelas 2 SMP. Kita sekelas waktu itu, terus pas kenaikan kelas ... pisah lagi. Tapi saat masuk SMA kita bareng lagi sampai sekarang," jawab Fero detail.


Dira manggut-manggut. Dari jawaban Fero dapat dia simpulkan jika pemuda ini salah satu teman yang akrab dengan Hansen. Bisa dikatakan jika Fero pastilah sahabat dekat Hansen. Wajar saja Fero juga diajak ikut liburan ke villa ini, pikir Dira.


"Lo sendiri, udah lama kenal Hansen?" Fero balik bertanya.


"Dari kecil," jawab Dira lirih. Mendadak, ia mengingat kilas balik kebersamaannya dengan Hansen dulu. Meski ingatan masa kecilnya banyak yang terlupakan, tapi Dira sangat ingat masa-masa sekolah dasar yang sering dia habiskan bersama Hansen.


"Wah, berarti lo lebih kenal Hansen daripada gue ya," ujar Fero sambil tertawa pelan.


"Harusnya sih, gitu. Tapi Hansen yang sekarang udah banyak berubah," kata Dira dengan suara pelan.


Fero menangkap nada sedih dari perkataan Dira, ia ingin menanyakan hal itu lebih lanjut tapi Dira segera menarik diri. Dira pamit untuk masuk ke kamar lebih dulu.


"Gue masuk ke kamar dulu ya." Dira buru-buru pergi sebelum Fero menanggapi perkataannya.

__ADS_1


...****...


Malam harinya, mereka semua makan malam bersama di meja makan. Hidangan malam ini dimasak oleh Mbak Lia dan syukurnya semua terasa senang dengan makanan itu.


"Kakak mau ini gak? Ini enak banget," ucap Vanya yang ingin mengambilkan Hansen cumi saus padang. Vanya tau jika Hansen sangat menyukai makanan pedas, maka dari itu ia mau merekomendasikan makanan tersebut yang ia rasa pasti cocok dengan selera Hansen.


"Ehm, ya boleh," jawab Hansen tak menolak pemberian Vanya.


"Lho, Hans ... bukannya lo alergi makan seafood ya?" celetuk Dira tiba-tiba.


Seketika itu juga, Vanya menatap Hansen penuh tanya. Ia tak tau mengenai hal ini. Tapi, bagaimana mungkin Dira yang memperingatkannya? Harusnya Hansen sendiri yang mengatakan pada Vanya mengenai hal ini.


"Ehm, iya tapi kalau makan sedikit gak apa-apa gue," jawab Hansen dengan cueknya.


Dira tampak mendelik tak percaya. "Gak usah di makan deh, Hans. Ntar yang ada lo jadi alergi, gatel-gatel, terus Lo gak nikmatin momen liburan ini," usul Dira.


Vanya masih terdiam dengan pemikirannya sendiri. Sampai akhirnya ia pun turut mendukung ucapan Dira.


"Kalau kakak emang alergi makan cumi, gak usah dimakan kak. Gak apa-apa kok, ketimbang nanti kakak sakit," ujar gadis itu dengan tatapan nanar.


Hansen menangkap nada sedih dari suara Vanya, sampai akhirnya ia menyimpulkan itu benar karena setelahnya Vanya berlalu pergi meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan kata pamit.


"Gue udah selesai makan," kata Hansen mengisyaratkan jika dia akan undur diri dari ruang makan tersebut.


Hansen buru-buru mengejar Vanya sampai ke kamar yang ditempati olehnya di villa itu.


"Van ..." Hansen mengetuk pintunya dibarengi dengan suaranya yang memanggil Vanya dengan lembut.


Tak berapa lama, Vanya membukakan pintu, mereka bertatapan satu sama lain tapi Hansen langsung dapat melihat kesedihan diwajah cantik adiknya.


"Kamu kenapa udahan makannya?"


"Gak apa-apa, Kak. Aku udah kenyang." Vanya membuang pandangan ke arah langit-langit, sesungguhnya ia menahan tangisnya agar tidak tumpah.


"Bilang sama aku. Ada apa, hmm?"


Vanya menggeleng, tenggorokannya terasa tercekat. Ia merasa bersalah telah memberikan Hansen makanan yang harusnya dijauhi oleh pemuda itu. Harusnya Vanya tau mengenai ini tapi kenapa ia sama sekali tak tau.

__ADS_1


"Kamu ... marah sama aku?" tebak Hansen.


Vanya kembali menggeleng tanpa sahutan.


"Maaf ya, aku gak bermaksud buat kamu jadi sedih."


Vanya menarik nafas dalam-dalam. "Gak kok, kak. Kakak gak salah. Justru aku yang salah," katanya disertai airmata yang langsung meluruh.


Hansen mengusap airmata Vanya.


"Kamu gak salah. Kamu cuma belum tau. Aku yang salah gak ngasih tau kamu."


Vanya menangis dan Hansen membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Dengan tersengguk-sengguk Vanya mengakui kekesalan hatinya.


"Aku cuma gak suka kalau orang lain lebih tau tentang kakak ketimbang aku. Harusnya aku juga menjauhkan kakak dari makanan yang buat kakak sakit, tapi ternyata ... justru aku yang ngasih kakak makanan itu."


"Kan aku udah bilang tadi, kamu cuma belum tau," tutur Hansen lembut sembari mengusap punggung Vanya dengan ritme teratur.


"Aku merasa bodoh kak."


"Sssttss ... jangan ngomong gitu. Kamu gak tau dan aku gak menyalahkan kamu. Anggap aja ini pelajaran yang membuat kamu menjadi tau hal yang sebelumnya kamu gak tau. Oke?"


Vanya mengangguk dalam pelukan Hansen. Ia beruntung karena pemuda itu menyikapi sikap manjanya dengan sangat sabar. Hansen juga tak mengoloknya ketika ia cengeng. Vanya merasa amat disayangi oleh kakak sambungnya ini.


"Ya udah, kamu jangan nangis lagi ya. Ingat, kita kesini buat happy. Besok kamu ikut aku mendaki, kan?" tanya Hansne yang kini sudah melerai pelukannya pada Vanya, ia menangkup kedua pipi Vanya sekarang.


Vanya hanya mengangguk dan Hansen mengusap puncak kepala gadis itu.


Sementara disisi lain, ada seseorang yang melihat interaksi akrab Hansen dan Vanya. Ia sebenarnya mau lewat, tapi tak sengaja mendengar percakapan mereka hingga membuatnya terdiam cukup lama di samping tembok yang letaknya tak terlalu jauh dari posisi kedua sejoli tersebut.


"Mereka gak kayak kakak dan adik," gumamnya pada diri sendiri. "Mereka lebih terlihat seperti orang pacaran."


Hansen dan Vanya tidak memperhatikan sekitar karena mereka sedang mendalami perasaan masing-masing.


...Bersambung ......

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, VOTE, GIFT DAB TINGGALKAN KOMENTAR YA ❤️❤️❤️


__ADS_2