Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
37


__ADS_3

Fero keheranan melihat Hansen yang datang ke rumahnya dengan membawa tas besar.


"Lo kayak abis diusir aja, Bro!" respon Fero melihat Hansen yang wajahnya ditekuk.


"Gue emang gak diusir. Gue pergi sendiri dari rumah, gue numpang disini ya, beberapa hari aja."


Fero tentu terkejut mendengar pernyataan Hansen. Bagaimana bisa pemuda itu pergi dari rumah.


"Ada masalah? Kalo lo keluar dari rumah itu, gak bisa ketemu adek kesayangan lo, dong! Gak nyesel?" ledek Fero.


Hansen hanya mendengkus pelan mendengar ujaran sahabatnya itu. Fero benar, keputusannya ini bakal mempengaruhi pertemuannya dengan Vanya yang biasanya bisa melihat dari jarak yang sangat dekat karena mereka tinggal dirumah yang sama.


Melihat wajah Hansen yang kusut, Fero akhirnya mengajak sang sahabat untuk segera memasuki rumah dan akan menanyai Hansen lagi di kamarnya nanti.


"Lo boleh kok disini dulu, sampai Lo ngerasa tenang. Tapi, lo cerita ke gue masalahnya dimana biar gue tau kenapa lo sampe kabur-kaburan kayak begini," ujar Fero bijak.


Hansen tak langsung menjawab. Dia menarik nafas panjang yang sesekali dihembuskan dengan kasar. Amarahnya masih tersisa, juga rasa kecewa karena semua kenyataan yang ada. Dia tak tau harus meluapkan segalanya kemana yang jelas hatinya terasa sangat sakit sekarang.


"Vanya ..."


"Kenapa sama Vanya?" tanya Fero.


"Vanya mutusin gue."


"Hah?" Fero menatap Hansen tak percaya. Bagaimana bisa Vanya memutuskan hubungan mereka? Kelihatannya kedua anak manusia itu baik-baik saja bahkan terlihat lengket seperti perangko. "Serius lo?" tanggapnya kemudian.


Hansen mengangguk-anggukkan kepalanya. "Gara-gara nyokap gue, Vanya terpaksa mutusin hubungan kita. Gue mau yakinin dia lagi, tapi dia gak mau ketemu gue. Dia ngurung diri di kamar dan ini buat gue sakit hati, Fer!" adunya pada Fero.


Fero benar-benar tak menyangka dengan hal ini. Apalagi Hansen tak biasanya begitu terbuka mengenai masalah hubungan. Baru kali ini Fero melihat Hansen sangat putus asa. Tapi Fero mengerti, walau bagaimanapun sahabatnya itu sudah mencintai Vanya sejak lama.


"Lo udah coba jelasin ke nyokap lo?"


"Udah. Udah gue jelasin berulang-ulang kali gue gak bisa ngelepasin Vanya gitu aja. Tapi nyokap tetap gak mau ngerti."


Hansen menceritakan semuanya pada Fero. Termasuk ketakutan sang Mama terhadap kemarahan papa jika mengetahui hubungan yang Hansen bina bersama Vanya.


"Nyokap lo gak sepenuhnya salah, Bro!"


"Gue tau."

__ADS_1


"Beliau mau ngelindungin lo dari kemarahan papanya Vanya. Beliau juga mau mempertahankan rumah tangganya. Gak mungkin kan, nyokap lo berantem sama suami barunya gara-gara hubungan lo dan Vanya? Dia pasti sulit memilih jika disuruh milih antara lo dan papanya Vanya!"


"Gue paham, gue tau hubungan Mama sama Papa Chandra bukan lagi sebatas pacaran kayak gue dan Vanya. Tapi, gue bener-bener gak bisa putus dari Vanya gitu aja. Gue masih mau berjuang. Gue bahkan belum nunjukin keseriusan gue sama Vanya. Kalaupun papa tau, gue bakal hadapi."


Fero menepuk pundak Hansen, mencoba menyalurkan semangat pada sang teman. "Itu dia masalahnya, Nyokap Lo gak mau sampai bokap lo tau!" sergahnya.


Hansen hanya bisa terdiam. Dia tak bisa mengucap apapun lagi dan ingin larut dalam pemikirannya sendiri. Dia mau mencari jalan keluar dari hubungan yang terasa buntu namun sangat ingin dia jalani.


"Setelah ini, apa rencana lo?" tanya Fero setelah cukup lama hening diantara mereka.


"Gue mau cari kerja. Mau mandiri."


Fero terperangah dengan ujaran sahabatnya. "Mau kerja apa, lo? Kita bahkan belum lulus sekolah!" protesnya.


"Apa aja, yang penting gue bisa mandiri. Sampai suatu saat gue bisa bawa Vanya keluar dari rumah itu untuk jadi milik gue seutuhnya."


"Dah gila ya lo!" Fero ikut pusing memikirkan tujuan Hansen yang diluar nalar. Sampai segitunya Hansen mau memperjuangkan Vanya. "Bukan apa-apa nih ya, lo jangan tersinggung... kita masih terlalu muda, Bro! Masih banyak cewek lain diluar sana yang---" Fero tak melanjutkan kalimatnya karena tatapan tajam Hansen seolah mampu menghentikannya.


"Sorry, maksud gue, lo masih bisa berubah pikiran, Hans. Kita masih labil dan barangkali aja lo bisa ngelupain Vanya dengan cara pacaran sama cewek lain. Lo gak harus nyiksa diri Lo sendiri kayak gini."


"Maksud lo nyiksa diri itu gimana? Gue gak merasa nyiksa diri kalo cuma kerja dan mandiri!"


Fero mencoba membuka pikiran Hansen, meski dia tak yakin Hansen bisa digoyahkan karena dia sangat tau jelas sikap Hansen yang selalu bersikukuh dengan target yang ingin dicapainya.


"Gak ada yang sulit kalau gue mau usaha. Gue cuma perlu gigih dan gak menyerah. Gue yakin gue bisa."


"Terus, lo mau mulai kerja dimana? Maaf maaf aja nih ye, gue bukan ngeremehin lo, bahkan gue gak yakin lo punya kemampuan dan skill disuatu bidang pekerjaan."


Hansen menipiskan bibir, bidang pekerjaan yang dia pilih memang takkan terpikirkan oleh Fero. Tapi dia akan memulai cara itu untuk mengumpulkan uang dan memulai usahanya sendiri dengan modal yang dia cari atas jerih payahnya sendiri.


...****...


Vanya mengaduk-aduk makanannya dengan tidak berselera. Makan malam kali ini amat sunyi tanpa Hansen. Tatapan mata gadis itu terlihat kosong. Dia tampak tidak baik-baik saja dan itu jelas disadari oleh Zia.


Zia tak ingin bertanya kenapa Vanya bersikap tak semangat seperti itu. Jelas dia sudah tau alasannya. Tapi tidak dengan Chandra, dia menangkap bahwa putrinya sedang memiliki pikiran yang mengganggu keceriaan gadis itu.


"Kok makanannya cuma diaduk-aduk aja, Van?"


Vanya tak menjawab, dia larut dalam lamunannya akan kebersamaan dengan Hansen.

__ADS_1


"Van? Kamu sakit?"


Vanya tersentak dan mendapati sorot mata Chandra yang tertuju langsung kepadanya.


"Gak, kok, Pa."


"Makanannya kenapa gak dimakan?" tanya Chandra perhatian.


"Lagi kurang selera aja, Pa."


"Ayo makan yang banyak. Papa lihat kamu gak bersemangat gitu."


Vanya mencoba mengikuti keinginan sang papa dengan menyuap nasi dari sendoknya meski dia tak berselera.


"Besok sekolah, kan? Kenapa Hansen belum pulang?" tanya Chandra pada Zia. Tak biasanya anak sambungnya belum pulang sampai-sampai melewatkan makan malam seperti ini. Biasanya, Hansen akan berada dirumah pada jam ini, jikapun hendak keluar lagi dan tidak makan malam bersama mereka, tapi Hansen pasti sudah dirumah sejak sore, tapi saat Chandra pulang tadi, dia tak melihat motor Hansen di garasi.


"Ng ..." Zia bingung harus menjawab apa. Dia sudah memikirkan alasan apa yang akan dia berikan pada Suaminya, tapi saat Chandra bertanya mendadak dia lupa harus menjawab seperti apa.


"Hansen gak bilang kamu, apa kegiatannya?" Wajah Chandra berubah khawatir.


"Tadi dia bilang mau main futsal," jawab Zia beralasan.


"Terus? Kenapa belum pulang sampai sekarang?"


"Mungkin dia nginap dirumah temennya, Mas."


Chandra mengernyit. Namun sesaat kemudian dia seolah memaklumi. "Lain kali, kalau Hansen mau menginap dan gak pulang ke rumah, dia bisa kirim pesan ke papa ya," ujarnya.


"Ng--yah, nanti aku bilangin ke Hansen, Mas."


Zia merasa lega setelah dapat memberi alasan pada suaminya, tapi dia tau kelegaan ini takkan bertahan lama. Jika besok Hansen tidak juga kembali pulang ke rumah, maka dia harus menyiapkan alasan lain lagi. Ah, Zia pusing memikirkan ini, belum lagi dia juga khawatir tentang kepergian Hansen.


Zia hanya bisa berharap bahwa kemarahan Hansen hanya sementara, dia berdoa dalam hati supaya besok anaknya sudah pulang ke rumah.


Vanya yang masih murung, semakin menekuk wajah mendengar kedua orangtuanya membahas mengenai Hansen. Tiba-tiba dia merasa merindukan sosok itu. Dia menatap ke kursi makan yang biasa Hansen duduki, mendadak dia hendak menangis lagi.


"Ma, pa. Vanya masuk ke kamar duluan ya."


Tanpa menunggu jawaban kedua orang itu, Vanya berlalu ke lantai atas, dia bahkan meninggalkan hidangan makanan yang masih tersisa banyak di piringnya.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2