Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
43


__ADS_3

Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, sudah 2 bulan Hansen bekerja di kantor Doni, sekaligus tetap melakukan kerja sampingannya di malam hari dengan mengikuti aksi balap liar yang juga digelar setiap seminggu 2 kali.


Khusus untuk pekerjaan sampingannya yang kedua, Hansen sudah menjadi juara favorit baru di kalangan tersebut sebab dia sudah memenangkan balapan empat kali berturut-turut.


Hansen tentu tau resiko dari kegiatan yang dijadikan mata pencaharian ini, salah satunya ialah dia jadi memiliki musuh yang iri dengan keberhasilannya. Dan dalam dunia balapan, tentu musuhnya bukan orang baik yang akan membiarkan kejayaannya begitu saja.


Hansen tau jika Rega membencinya sejak kalah pertandingan futsal di luar sekolah dan melibatkan mereka dalam cekcok yang serius sejak waktu itu. Yang kali ini semakin membuat Rega membencinya, karena saingan Hansen dalam balapan adalah kakak Rega yang umurnya 2 tahun diatas Hansen, bernama Raka.


Untuk urusan diluar sekolah, mereka memang tak pernah membawa-bawa hingga ke area sekolah. Terlebih, di sekolah Rega adalah adik kelas Hansen. Jadi kegiatan malam mereka tidak pernah diketahui pihak luar apalagi pihak sekolah.


Malam ini Hansen kembali harus balapan dan ternyata lawannya adalah Raka lagi. Tampaknya pemuda itu masih penasaran untuk mengalahkan Hansen setelah dikalahkan Hansen pada Minggu lalu.


"Hans, lawan lu hari ini si Raka lagi, noh! Kayaknya dia belum nerima kekalahan yang kemarin itu," kata Reza, mekanik yang mengawasi keamanan motor Hansen.


"Ya biarin aja, Bang."


"Gua yakin dia mau cari kelemahan lu!"


Hansen hanya mengedikkan bahu cuek, dia tak mau memikirkan hal itu karena baginya yang terpenting saat ini adalah dia bisa mengumpulkan modal dengan cepat dan dapat memulai usahanya sendiri.


Pertaruhan malam ini tak main-main, uang yang didapat dari kemenangan cukup besar yaitu sebanyak 7 juta untuk sekali balapan.


Malam Minggu menambah suasana yang larut justru semakin ramai. Banyak orang yang berdatangan untuk menonton balapan motor yang sebenarnya ilegal dan tidak resmi ini, tapi begitulah permainan anak muda, yang makin dilarang justru semakin tertantang.


"Lu siap?" tanya Reza seraya menyerahkan helm pada Hansen.


Hansen mengangguk. "Siap, Bang!" jawabnya.


"Hans … Lo pasti menang lagi malam ini," timpal Nando–salah satu teman main Hansen di bengkel Reza. Dia memberikan semangat pada Hansen.


"Sip. Doain ya!" kata Hansen sambil menepuk pundak Nando dengan akrab. Disusul dengan tinjuan pelan dibahu Hansen yang diberikan Fero sebab dia juga datang untuk menonton pertarungan jalanan yang akan dilakukan Hansen malam ini.

__ADS_1


Hansen memasuki arena balap, dia menghentikan motornya di depan garis start. Disana sudah ada beberapa motor lawan yang telah menunggu, salah satunya tentu saja Raka.


Raka tampak melirik Hansen sekilas, dengan senyum miring khas-nya yang dibalas Hansen dengan sorot datar. Hansen juga dapat melihat Rega yang ada disana. Pemuda itu pasti sudah menceritakan mengenai yang dia ketahui tentang Hansen pada kakaknya.


Dan saat pertarungan yang sebenarnya akan segera dimulai. Hansen sudah fokus menatap jalanan yang harus ditaklukkan, misinya dalam balapan ini adalah bukan mengalahkan yang lain, melainkan menjadi yang tercepat untuk mencapai garis finish.


"Tiga … dua … satu …" Bendera yang dipegang seorang wanita muda pun diangkat tinggi bersamaan dengan ancang-ancang yang selesai dibacakan.


Motor Hansen melaju dengan kecepatan tinggi, harusnya tidak ada masalah dengan mesin sebab Reza mengecek segala aspek keamanan untuk keselamatan Hansen sebelum memulai balapan.


Hansen tau jika dia sudah berada didepan, nyaris bersamaan dengan motor milik Raka yang juga menyusulnya dengan lagak tak ingin kalah.


Sesekali Hansen melirik ke samping dengan ujung matanya, tampaknya Raka memang penasaran untuk mengalahkannya. Laju kecepatan kendaraan roda dua yang mereka kendarai sudah diatas rata-rata. Sedikit lagi mencapai garis finish, namun Raka menggagalkan fokus Hansen, dia memepet motor Hansen dengan sengaja, lalu menendang body motor dengan kakinya. Saat itu juga, Hansen mengelak, namun dia justru kehilangan keseimbangan.


...***...


Jantung Zia nyaris meloncat dari rongganya kala dia mendengar kabar jika Hansen mengalami kecelakaan. Dia juga mendapat info bahwa itu terjadi karena Hansen melakukan aksi balap liar yang dilakukan di area terlarang.


Zia menangis. Ini sesuatu yang tidak pernah dia inginkan untuk terjadi, kini dia tau bahwa inilah yang dikerjakan putranya untuk bertahan hidup tanpa uang saku darinya.


"Ada apa, Ma?"


Zia menggeleng, dia masih bingung harus menjawab apa pada Chandra. Haruskah dia jujur mengenai apa yang terjadi pada Hansen? Sedang dia tau alasan yang Hansen berikan pada Chandra untuk menginap di rumah Fero adalah demi lebih fokus belajar. Apa jadinya jika kini dia memberitahu kalau Hansen kecelakaan karena melakukan aksi balap liar?


"Ma, mama kenapa? Kok nangis?" desak Chandra yang tak mendapat jawaban dari sang istri.


"Gak apa-apa, Mas. Mama tadi mimpi buruk." Alasan yang Zia berikan. Dia takut untuk jujur, sebab dia tak mau kepercayaan Chandra pada Hansen akan hilang akibat kejadian ini.


"Mimpi apa?" respon Chandra.


"Mimpi Hansen, Pa. Kayaknya Mama emang kangen banget sama dia," jawab Zia dengan sesenggukan.

__ADS_1


"Memangnya dalam seminggu ini Hansen gak ada pulang kerumah?" tanya Chandra.


"Hah?" Zia terkejut dengan pertanyaan Chandra, selama ini dia selalu bilang jika Hansen pulang ke rumah dua hari sekali. Dia juga memesankan hal itu pada para Asisten Rumah Tangga jika suaminya bertanya pada mereka mengenai Hansen. "P-pulang kok, Mas. Cuma tetap aja beda, namanya juga udah gak tinggal di rumah yang sama," dustanya.


"Oh …" Chandra mengelus rambut Zia. "Kamu mungkin terlalu khawatir sama Hansen, dia akan baik-baik aja. Mama, mama, jangan begini dong, gimana kalau nanti Hansen benar-benar kuliah di luar negeri? Apa mama bakal nangisin dia tiap malam?" Chandra malah terkekeh. Padahal sekarang hati Zia tengah nelangsa mendengar kabar kecelakaan anaknya.


"Ya udah, ayo tidur lagi. Besok kamu temui aja Hansen di rumah Fero, kalau emang beneran kangen banget. Apa mau aku temani?"


Tentu saja itu sebuah angin segar untuk Zia, dia mengiyakan untuk menemui Hansen tapi menolak tawaran Chandra yang ingin menemaninya.


Zia akan memanfaatkan waktu itu untuk melihat keadaan Hansen di Rumah Sakit, meski pada kenyataannya dia ingin segera pergi kesana saat ini juga. Sepanjang malam Zia tak bisa melanjutkan tidurnya. Dia kepikiran dengan kondisi Hansen dan itu membuatnya tidak tenang.


...***...


Minggu pagi, Vanya melakukan sarapan pagi seperti biasanya. Dia tidak mengetahui mengenai kabar Hansen yang mengalami kecelakaan malam tadi. Namun, dia melihat wajah Zia yang pucat. "Mama sakit?" tanyanya.


Zia hanya menggeleng sebagai respon untuk pertanyaan Vanya.


"Mama kamu cuma kangen sama Hansen. Nanti mau kerumah Fero buat ketemu Hansen. Kamu temani mama yah, Van?" Chandra menimpali.


Mendengar itu, Vanya hanya bisa diam. Dia ingin menolak untuk menghindari pertemuan dengan Hansen lagi, tapi hati kecilnya justru menginginkan ikut sebab dia juga amat merindukan kakak sambungnya.


Belakangan, Vanya jarang melihat Hansen di sekolah lagi. Meski mereka satu sekolah tapi pemuda itu tak pernah kelihatan batang hidungnya. Saat Vanya mengecek pada salah satu teman sekelas Hansen, kabarnya Hansen memang masuk sekolah setiap hari, tapi Hansen selalu buru-buru pulang seperti dikejar waktu.


Jika kemarin-kemarin Hansen tampak sibuk dengan ekskul, belakangan hari pemuda itu malah lebih sering tak hadir disetiap pertemuan kegiatan tersebut. Sebenarnya Vanya juga penasaran kenapa dan kemana Hansen sepulang sekolah, tapi dia memendam keingintahuannya.


"Vanya? Kamu mau kan nemenin mama ke rumah Fero. Mama gak mau ditemani papa soalnya," kata Chandra disertai kekehan kecil.


"Ng—ya, ya, Pa!" jawab Vanya.


Vanya dan Zia saling menatap satu sama lain. Vanya tak mengerti arti tatapan Zia, tapi sesungguhnya Zia sedang memikirkan apakah sebaiknya Vanya memang ikut dengannya menjenguk Hansen atau justru tidak sama sekali?

__ADS_1


...Bersambung … ...


Mohon dukungannya utk novel ini terus berlanjut 💚🙏


__ADS_2