Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
47


__ADS_3

Kondisi Hansen perlahan-lahan mulai membaik, pasca operasi dia juga berlatih untuk kembali berjalan sendiri. Gips dilehernya sudah dibuka, namun perban dikepalanya masih harus diganti setiap dua hari sekali.


Zia juga rutin mengunjungi Hansen di rumah sakit. Sesekali dia juga membantu mengurus putranya disana, hanya saja Zia tidak bisa full day, sebab dia takut Chandra mengetahui hal ini.


"Hans, mama pulang dulu ya. Kamu baik-baik disini sama Fero." Hari ini Zia pamit pulang setelah melihat Fero datang ke ruang perawatan Hansen.


"Iya, Ma. Hati-hati dijalan." Hansen mengulas senyum tipis. Hubungan mereka yang sempat merenggang waktu itu tampaknya mulai membaik setelah kecelakaan yang terjadi.


Zia meninggalkan ruang perawatan setelah mencium kening putranya dengan penuh kasih sayang.


Bertepatan dengan kepergian Zia, Vanya juga sampai di Rumah Sakit. Gadis itu juga kerap datang menjenguk Hansen setiap hari saat sepulang sekolah. Kadang dia juga bertemu dengan Zia disana. Dan saat seperti itu, Vanya lebih memilih untuk banyak diam sebab menghargai mama sambungnya. Dia tak banyak bicara dengan Hansen, karena dia tau Zia tak akan menyukai interaksi yang terlalu dekat diantara mereka.


Saat Vanya masuk ke ruangan Hansen, disana hanya ada Fero, dia tak berpapasan dengan Zia.


"Eh, Van?" Fero tersenyum melihat kedatangan Vanya. Dia tau dengan adanya Vanya mood Hansen akan membaik dan itu memberi pengaruh positif untuk kesehatan sahabatnya, Hansen.


"Tau Lo mau kesini tadi bareng aja kesininya sama gue," kata Fero pada Vanya, sebab mereka sama-sama baru pulang sekolah.


"Iya, tadi seharusnya kita barengan aja ya kak!" sahut Vanya.


"Ya udah, gue mau ke kantin. Lo mau nitip makanan gak? Atau nanti mau ke kantin sendiri?" tawar Fero, sebab dia langsung menuju ke Rumah Sakit sepulang sekolah, belum sempat makan siang.


"Nanti aku beli sendiri aja, Kak." Vanya tak mau merepotkan Fero, meski pemuda itu sudah menawarkan.


"Ya udah, kalo gitu gue keluar dulu ya. Titip Hansen." Fero mengendikkan dagu ke arah Hansen yang tampak semringah melihat kedatangan Vanya.


"Oke, Kak."


Seperginya Fero, Vanya langsung duduk di kursi yang berada disebelah tempat tidur Hansen. "Gimana keadaannya hari ini, Kak?" tanyanya.


"Lebih baik setelah kamu datang," jawab Hansen apa adanya.


Vanya mengulas senyum tipis. "Kakak udah makan siang?" tanyanya sembari melihat wadah makanan diatas nakas yang ternyata masih utuh. "Lho, kok belum disentuh makanannya?" tanyanya kemudian.


"Nungguin kamu," jawab Hansen dengan nada manja.


Vanya menggeleng samar, tak habis pikir dengan jawaban pemuda itu. Padahal seharusnya Hansen sudah makan di jam ini.


"Ya udah, sekarang kakak makan ya. Jangan nambah penyakit dengan telat makan." Vanya membuka plastik wrap yang menutupi makanan yang disiapkan pihak rumah sakit untuk pasiennya.

__ADS_1


Sebelum menyuapi Hansen, Vanya menyetel tinggi tempat tidur agar posisi Hansen setengah terduduk.


Hansen tentu saja senang karena Vanya masih memperhatikannya juga peduli padanya. Dia mulai membuka mulutnya seiring dengan suapan yang mulai dilakukan Vanya padanya.


"Kakak jangan telat makan dong, nanti makin sakit," omel Vanya.


Hansen hanya diam tak berniat menjawabnya. Pemuda itu hanya tampak senyum-senyum saja.


"Kakak dengar kan aku ngomong apa?" tanya Vanya sekali lagi.


Hansen mengangguk. "Denger, Sayang," sahutnya membuat wajah Vanya merona.


"Kak?!" protes Vanya, namun Hansen cuek saja dan tak berniat menarik kata-katanya kembali.


Vanya menarik nafas sepenuh dada, sembari terus menyuapi Hansen.


"Tau gak, makanan dari Rumah Sakit itu rasanya hambar. Entah karena lidah aku yang gak berselera, atau emang begitu masakannya. Tapi, kalau makannya disuapin kamu rasanya jadi lebih enak. Makanya aku nungguin kamu datang dulu baru mau makan," kata Hansen panjang lebar.


"Terus kalau aku gak datang, gimana? Gak makan dong?"


"Ya, aku gak makan kalau gak sama kamu."


"Jangan gitu dong, Kak. Mama juga pasti datang kesini. Kakak bisa makan sama mama."


"Aku baru tau Kakak semanja ini," ujar Vanya bersungut-sungut, tapi sebenarnya dia memang cukup senang merawat Hansen, tapi alangkah lebih baik jika kakak sambungnya itu sehat seperti sediakala.


"Manjanya kan cuma sama kamu, Van." Hansen tidak menerima suapan Vanya lagi, yang justru membuat Vanya mengernyit sebab tangannya sudah terulur didepan wajah Hansen dengan sesendok makanan yang siap untuk disambut.


"Kenapa?" tanya Vanya yang heran melihat pemuda itu terdiam.


"Maafin aku ya," ujar Hansen kemudian.


"Maaf kenapa, Kak?" tanya Vanya.


"Maaf udah buat kamu repot. Maaf udah buat kamu khawatir, maaf juga udah manja sama kamu."


Vanya menipiskan bibir. "Udah kewajiban aku kak. Aku kan---"


"Kamu sayang sama aku kan?" sela Hansen, yang tau jika Vanya akan mengatakan bahwa dia melakukan itu karena mereka adalah saudara.

__ADS_1


Vanya mengangguk tak memungkiri.


"Sayang banget, kan?" tambah Hansen lagi.


Vanya kembali mengangguk, dia tau dia memang sesayang itu pada kakak sambungnya.


"Bukan sayang sebagai kakak tapi sayang yang lebih dari itu. Iya kan?"


Vanya mengulas senyum getir. "Lanjutin makannya, abis itu kakak minum obat," ujarnya mengalihkan pembicaraan.


Tangan Hansen yang lemah berusaha memegang tangan Vanya yang dekat dengannya. "Aku sayang banget sama kamu, lebih dari hubungan kakak dan adik. Kamu tau itu gak akan berubah sampai kapanpun," paparnya.


"Kak ..."


"Aku pengen kamu juga ngomong hal yang sama dengan aku. Kasih aku semangat untuk cepat sembuh," ujar Hansen penuh harap.


Vanya menarik nafas, membuang tatap agar tidak menatap mata Hansen yang sendu ketika melihatnya.


"Aku sayang sama kakak. Tapi untuk sekarang ataupun nanti, aku hanya bisa menyayangi kakak sebagai kakakku."


Hansen yang mendengar itu menggenggam tangan Vanya dengan lebih erat. Dia belum mau menerima semua ini.


"Kalau emang gitu, baik ..." Hansen menarik nafasnya dalam. "Coba kamu bilang sama aku, kalau aku boleh sama cewek lain selain kamu, ayo!" pintanya tak benar-benar serius, hanya ingin mendengar apakah Vanya akan sanggup dengan hal itu atau tidak.


"Kak?" Vanya terkejut dengan permintaan Hansen, tapi buru-buru dia mengubah air wajahnya menjadi biasa saja. Meski dia tau Hansen tak serius dengan ujarannya, tapi Vanya tau Hansen sedang mengujinya untuk mengatakan hal itu. "A-aku mau kakak bisa buka hati buat cewek lain. A-aku rela," ujarnya kemudian yang justru membuat Hansen geram.


Hansen menarik Vanya mendekat, hingga wajah gadis itu berada tepat didepan wajahnya, lalu mencium bibir Vanya saat itu juga. Gerakan itu begitu refleks dan tidak terduga, tentu saja Vanya terkejut tapi dia tidak dapat menolak ciuman yang Hansen labuhkan dibibirnya.


Hansen bukan hanya menciumnya, tapi menahan bibir Vanya dengan bibirnya, ciuman itu seolah menunjukkan kekecewaannya atas pilihan Vanya, juga betapa frustrasinya dia dengan semua ini. Suara cecapan dan kecupan seolah memenuhi ruangan, Hansen meluapkan kerinduannya pada Vanya lewat ciuman itu. Dia tidak memberikan akses untuk Vanya bisa lepas darinya begitu saja.


Ciuman intens yang awalnya terasa kasar dan menuntut itu lambat laun berubah menjadi lebih lembut. Nafas hangat Hansen menerpa kulit wajah Vanya sampai akhirnya Vanya sedikit mendorong agar Hansen melepaskan ciumannya sebab dia sudah kehabisan nafas.


Hansen menatap wajah Vanya dari jarak dekat setelah ciuman mereka terlepas. Dia membelai wajah merona gadis itu.


"Maafin aku, aku gak bakal lepasin kamu sampai kapanpun!" tegas Hansen akhirnya. Dia dapat merasakan bahwa Vanya juga masih memiliki perasaan yang sama. Gadis itu hanya berusaha menahan diri selama ini, sebab menghargai kedua orangtua mereka.


"Kak ..." lirih Vanya dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu denger kan? Apapun yang terjadi dikedepan hari. Baik aku yang bakal sama cewek lain atau enggak. Ataupun kamu yang mungkin berpaling dari aku ke cowok lain ... kamu harus ingat kata-kata aku hari ini bahwa aku gak akan melepaskan kamu begitu aja!" tekan Hansen dengan sorot matanya yang terlihat serius. Dia mengecup dahi Vanya dalam dan penuh perasaan, namun tak ada jawaban dari bibir Vanya untuk meresponnya.

__ADS_1


Vanya terlalu terkejut dengan yang baru saja terjadi. Juga kata-kata Hansen yang terdengar begitu mengintimidasinya. Vanya sadar bahwa perasaan Hansen padanya tidaklah main-main. Untuk itu, dia pasti akan sulit lepas dari pemuda itu. Walau sebenarnya, jauh dalam hati Vanya juga tak menginginkan jika Hansen melepaskannya begitu saja.


...Bersambung......


__ADS_2