
Keesokan harinya, Vanya benar-benar bertemu dengan Hansen di sekolah. Bahkan saat mereka makan di kantin, Vanya dapat melihat pemuda itu yang memasang wajah murung.
Vanya hendak menghindar namun dia telat karena Hansen sudah lebih dulu melihatnya yang memasuki area kantin.
"Van!"
Langkah Vanya otomatis terhenti. Namun dia tak menoleh pada Hansen.
"Kita harus bicara! Jangan menghindar dari aku kayak gini."
Vanya tak menggubris, dia hendak berjalan kembali menuju kelasnya, tapi tangan Hansen sigap menangkap lengan gadis itu.
"Please," mohon Hansen yang membuat Vanya memejamkan matanya rapat-rapat karena tak tega mendengar nada memelas yang didengungkan pemuda itu.
"Di atap gedung. Sekarang." Setelah mengatakan hal itu, Hansen berjalan lebih dulu ke atap sekolah. Di rooftop memang tempat yang paling aman untuk membicarakan privasi, tidak banyak orang yang berada disana.
Melihat itu, Vanya akhirnya mengikuti Hansen setelah melihat pemuda itu berjalan cukup jauh menuju tempat yang dia katakan.
Hansen menatap pemandangan area sekolah dari posisinya saat ini, dia mendengar langkah kaki mendekat dan dia tau jika Vanya menyusulnya.
"Aku gak mau putus. Aku mau berjuang buat kamu," mulai Hansen.
"Kak, gak akan ada yang baik jika berawal dari pemaksaan." Vanya mencoba memberi pengertian.
Hansen berbalik badan dan menatap Vanya dengan tatapan sendunya.
"Pemaksaan?" Hansen tertawa sumbang. "Aku gak memaksa kamu. Aku juga gak merasa terpaksa sama hubungan kita. Kita saling sayang. Gak ada yang terpaksa disini, Vanya!" katanya melanjutkan dengan nada getir.
"Tapi keadaannya, Kak! Keadaan kita yang gak memungkinkan. Jadi semuanya terasa dipaksakan."
Hansen mendekat pada Vanya, tapi gadis itu membuang pandangan karena tak sanggup beradu mata dengan manik hitam milik Hansen.
"Kamu yang gak mau berjuang untuk kita, Van. Kamu."
Vanya meneteskan airmatanya sekarang. "Iya, Kak. Aku gak bisa lagi, karena aku tau ini gak akan mudah. Aku gak siap untuk kehilangan kakak nanti atau kapanpun itu, tapi aku pikir ... kalau aku berhenti sekarang itu gak akan terlalu menyakitkan."
Hansen terkekeh miris. "Sekarang atau nanti, itu sama-sama sangat menyakitkan buat aku," tuturnya. Andai Hansen lupa kodratnya sebagai lelaki, pasti dia akan menangis juga sekarang, tapi dia masih menjaga agar airmatanya tidak jatuh, sebab dia takkan mau terlihat lemah karena semua perjuangannya belum sepenuhnya dimulai.
Vanya mengangguk setuju dengan ujaran Hansen. "Iya kak. Sekarang atau nanti, endingnya akan tetap sama. Kita tetap bakalan pisah juga," jawabnya pesimis.
__ADS_1
"Vanya, kakak sayang sama kamu. Harusnya kamu mau bertahan bukan seperti ini."
Vanya diam, tanpa perlu Hansen katakan dia tau ketulusan pemuda itu dalam hal menyayanginya.
"Aku juga kak. Tapi kita udah selesai."
"Van. Jangan gini, kakak mohon."
"It's over, Kak." Vanya berbalik badan, siap meninggalkan rooftop sekolah.
"Vanya!" seru Hansen lagi, dia belum siap untuk benar-benar ditinggalkan oleh gadis itu. "Aku bakal terus usaha. Aku bakal buktikan bahwa aku bisa. Sampai suatu saat nanti aku bisa jemput kamu buat jadi milik aku seutuhnya!" paparnya.
Vanya menghentikan langkah sejenak, dia lantas menoleh pada Hansen. "Udah, Kak. Kita gak bisa merubah alur yang udah ditetapkan untuk kita. Selamanya kita akan tetap jadi kakak adik. Jadi, jangan paksain keadaan lagi. Satu lagi, kakak pulang kerumah. Kasihan Mama, Kak. Kita bisa mulai belajar untuk terbiasa sebagai saudara!" ujarnya dengan lelehan airmata.
"Gak Van! Aku gak akan nyerah!" pekik Hansen, yang kali ini tidak membuat Vanya kembali ke hadapannya. Pemuda itu menjerit tertahan. Merasa frustrasi akan keadaan yang membuatnya sulit untuk meraih cintanya.
...***...
Bloom!
Satu lemparan bola basket kembali masuk ke dalam ring. Menambah skor untuk kelas Hansen yang sedang mengadakan pertandingan tersebut.
Setelah berulang-ulang melempar, melompat dan men-drible bola akhirnya kelas mereka menang dengan skor yang cukup jauh dengan lawannya.
Hansen, Fero, dan beberapa teman satu tim mereka yang lain pun saling ber-high-five ria setelah pertandingan itu usai dan dimenangkan oleh mereka.
Usaha tidak ada yang sia-sia. Ini adalah hasil untuk usaha mereka yang giat berlatih. Selain bermain futsal, Hansen juga aktif di ekstrakurikuler basket di sekolahnya. Dan dia semakin sering melakukan aktivitas itu, sejak Vanya memutuskan hubungan mereka. Hansen merasa perlu menyibukkan diri untuk membuatnya lupa sejenak, akan keadaan yang membuatnya nyaris gila jika memikirkan hal ini secara berulang-ulang.
"Hans!!"
Fero menyenggol lengan Hansen saat seorang gadis memanggil temannya itu. Hansen hanya menggeleng samar tanpa ingin menggubris sang gadis. Tak disangka gadis itu justru turun dari tribun dan mendekat pada Hansen yang masih berdiri di pinggir lapangan basket.
Fero kembali menyenggol lengan Hansen, untuk memberi kode pada pemuda itu bahwa gadis yang tadi menyerukan namanya sudah berada ditengah-tengah mereka sekarang.
Akan tetapi, karena Hansen masih sibuk membenahi barang-barangnya ke dalam tas olahraga, membuatnya tidak menyadari maksud dari Fero sampai Fero pun pergi meninggalkannya.
"Hans ... Hansen?"
Hansen yang terkejut, langsung menoleh saat itu juga, karena tadinya dia berpikir dibelakangnya hanyalah Fero, lalu kenapa tiba-tiba suara Fero berubah menjadi suara seorang perempuan?
__ADS_1
"Dira? Kok lo disini?" tanya Hansen acuh tak acuh.
"Gue denger lo tanding basket disini, jadi gue samperin."
"Denger dari siapa?" tanya Hansen cuek.
"Dari ... Metha."
Kening Hansen mengernyit. Yang dia tau Metha itu dekat dengan Vanya, tapi kenapa Metha memberitahu Dira mengenai keberadaannya? Juga, sejak kapan Metha dan Dira masih berkomunikasi? Hansen pikir selepas mereka liburan di gunung waktu itu, Metha dan Dira tidak lagi menjalin kontak satu sama lain, terlebih mereka tidak begitu akrab menurut Hansen. Hal ini membuat Hansen merasa aneh.
"Hangout bareng yuk, Hans!" ajak Dira kemudian.
"Gue sibuk."
"Sibuk apa?"
"Banyak kerjaan gue!" tolak Hansen ketus.
"Oh, gue pikir sibuk pacaran," kata Dira dengan cengiran. Entah kenapa Hansen justru menangkap nada cemoohan dinada bicara Dira.
"Itu urusan gue, jangan dicampuri," kata Hansen dingin.
"Ayolah, Hans. Cuma makan bareng juga gak apa-apa. Lo pasti capek dan laper abis tanding basket." Dira menatap Hansen penuh harap.
"Sorry, gue gak bisa!" Hansen memakai tas olahraganya dan siap untuk pergi. Dalam hati, dia merutuk Fero yang meninggalkannya bersama Dira. Omong-omong soal Fero, bukankah sahabatnya itu mau mendekati Dira, kenapa malah membiarkannya berdua dengan Dira? Harusnya Fero memepet Dira terus agar gadis itu tidak mendekati Hansen lagi dan lagi.
"Hans! Ayo dong!" Rupanya Dira tidak patah semangat, dia mengikuti dibelakang tubuh Hansen demi memaksa pemuda itu untuk jalan bareng dengannya.
Hansen menghela nafas panjang. "Gue mau, tapi sama Fero juga!" katanya memberi pilihan.
Dira mencebik. Dia mau jalan berdua dengan Hansen tapi kenapa Hansen harus mengajak Fero?
"Kalau Lo gak mau gak apa-apa, batal aja sekalian."
Dira pikir lebih baik mengalah daripada tidak jalan dengan cowok itu sama sekali.
"Ya udah deh iya, sekarang Fero nya dimana?"
...Bersambung ......
__ADS_1