Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
40


__ADS_3

Dira benar-benar menepati janjinya untuk merekomendasikan Hansen agar dapat pekerjaan sampingan dari kakak lelakinya.


Dengan alasan itu pula, hari ini dia kembali akan bertemu dengan Hansen untuk mengatakan bahwa kakaknya sudah mengiyakan untuk memberi Hansen pekerjaan paruh waktu.


"Jadi, Kak Doni beneran mau kasih gue kerjaan, Dir?" tanya Hansen saat gadis itu kembali menemuinya.


Dira datang ke sekolah Hansen sepulang dari sekolahnya sendiri. Kebetulan Hansen masih mengikuti ekskul futsal di sekolah sehingga masih berada di kawasan sekolah meski sudah jam pulang.


Dira mengangguk. "Iya, makanya lo harus ketemu dia, buat bicarain job desk nya itu gimana," paparnya.


"Oke deh. Kapan kak Doni ada waktu, biar gue tanyain soal kerjaan itu," kata Hansen tampak bersemangat.


"Hans, Lo yakin mau kerja? Udah diskusiin ini sama Tante Zia? Gue mau bantu lo kalo lo mau terbuka sama gue."


Hansen tak langsung menjawab, dia berpikir singkat sampai akhirnya dia menjawab pertanyaan Dira.


"Gue serius mau kerja, emang gue belum bicarain ini sama Mama, tapi gue rasa mama gak akan masalah. Gue anak lelaki yang wajib mandiri, kalau bisa gue juga gak mau bergantung sama Mama. Hidup Mama juga ditanggung sama Papa Chandra sekarang, jadi gak seharusnya gue jadi beban," jawabnya realistis.


Dira manggut-manggut. "Tapi nih, ya. Setahu gue, usaha mendiang bokap kandung lo bukannya masih berkembang ya?" tanyanya.


"Iya. Sekarang usaha itu kan diurus sama tangan kanan almarhum Papa, bisa gue kelola kalo gue udah jadi sarjana."


"Jadi kalo sekarang gak bisa ya?"


"Gak bisa, Dira. Semua itu udah disepakati didepan pengacara juga. Dan sah secara hukum."


"Oh gitu. Ya udah, Lo temui kak Doni aja nanti."


Hansen mengangguk. "Kabari aja kapan Kak Doni ada waktu luang, dia kan pasti sibuk juga. Btw, makasih ya atas bantuan lo!"


Dira mengiyakan, sebenarnya dia masih bingung kenapa Hansen harus ngotot mau bekerja sekarang padahal jika dia lulus sarjana nanti, sudah jelas ada perusahaan mendiang ayah kandungnya yang bisa dia kelola.


"Lo udah selesai ekskul belum?"


"Kenapa?" tanya Hansen.

__ADS_1


Dira tersenyum tipis. "Anterin gue pulang, boleh gak?" tanyanya penuh harap.


Hansen mengangguk. "Ya udah, bentar ya," katanya.


Hansen tidak ada maksud apa-apa, mengantar Dira pulang karena dia menghargai gadis itu yang sudah repot untuk menemuinya hari ini, padahal sebabnya Dira bisa saja memberi kabar soal pekerjaan dari pesan text tapi Dira malah mendatangi Hansen secara langsung.


Dira menaiki boncengan motor Hansen, dengan hati yang sangat senang. Akhirnya dia memiliki kesempatan lagi untuk mendekati pemuda itu.


Tanpa Hansen sadari, rupanya Vanya juga masih berada di sekolah. Dia sedang ada urusan terkait kepengurusan OSIS karena Vanya merupakan anggota dari organisasi itu, yang kebetulan mengadakan rapat sepulang sekolah.


Vanya pun melihat Hansen dan Dira yang pulang bersama dan tampak semakin dekat. Vanya merasa sangat sakit di ulu hatinya. Tapi sebisa mungkin dia menahan perasaan itu hanya karena merasa bahwa dia dan Hansen sudah tak memiliki hubungan lagi.


"Aku harus bisa ikhlasin kakak, jika bersama Dira kakak bisa ngelupain aku, mungkin aku harus belajar lagi biar ini gak terlalu sakit, Kak," batin hati Vanya.


"Hei, Van!" Vanya menoleh dan mendapati Farel di belakangnya. Pemuda itu tersenyum dan menawarkan untuk pulang bersama.


"Ayo gue antar pulang!"


Vanya menggeleng. "Maaf, gue dijemput sopir," jawabnya menolak halus.


"Aku duluan ya, Rel!" Vanya segera beringsut dan pergi menjauh dari Farel. Dia tidak mau memberi harapan pada pemuda itu, terlebih dia masih menata hatinya sendiri.


Vanya tidak mau menjalin hubungan dulu, sebab itu bukan mengobati luka dihatinya tetapi malah membuatnya memanfaatkan orang lain sebagai pelarian. Vanya menghindari hal semacam itu karena sampai kini dihatinya masih nama Hansen yang bertahta. Vanya tidak tau sampai kapan dia akan begini yang jelas dia mau berusaha melupakan Hansen secara perlahan meski dia tak yakin itu akan berhasil atau justru sia-sia.


...***...


"Kerjaan di kantor aku gampang kok, Hans. Kamu jadi pengantar pesanan. Bantu semua pekerja yang butuh bantuan kamu. Misal mereka suruh fotocopy ya kamu lakuin. Misal kamu diminta beliin ini itu ya kamu beliin," kata Doni menjelaskan detail pekerjaan pada Hansen saat mereka bertemu.


"Gitu doang kak?" tanya Hansen.


"Apa gak ada kerjaan selain itu, Kak?" protes Dira. Dipikirannya, pekerjaan yang Doni berikan pada Hansen sudah selayaknya OB yang disuruh-suruh.


"Cuma adanya itu, karena kamu belum punya pengalaman, dan itu kerja yang gak terikat. Kakak bisa aja kasih kamu kerjaan yang lain kalo kamu udah punya ijazah. Tapi untuk sementara cuma itu yang bisa kamu lakuin paruh waktu."


Doni tampak memasang wajah penuh penyesalan. Hanya segitu yang bisa dia bantu pada Hansen yang butuh pekerjaan sampingan.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok, Kak!"


"Tapi, Hans..." Tampaknya Dira yang benar-benar tidak terima dengan pekerjaan yang akan Hansen lakukan dikantor sang kakak.


"Gak apa, Dira." Hansen menatap gadis itu dengan sorot meyakinkan. Dia akan bekerja dari bawah untuk memulai segala usahanya. Yang terpenting pekerjaan itu bukan hal-hal seperti merampok atau semacamnya.


"Yaudah, kapan kamu mau masuk kerja---"


"Besok, Kak!" sela Hansen bersemangat.


Doni menepuk-nepuk pundak Hansen, dia salut dengan keinginan yang kuat dari pemuda itu. "Semoga kamu betah ya, Hans," katanya menyemangati.


Sepulang dari pertemuan itu yang dilakukan di sore hari, Hansen pun pergi menuju bengkel langganannya. Disana dia mengenal seorang mekanik yang sudah dia anggap layaknya Abang sendiri.


"Bang!"


"Eh, elu. Udah datang? Masih pagi ini," kata Reza berkelakar. "Acara kita masih nanti malam," sambungnya


"Ya, gak apa-apa, Bang. Mau ngecek motor."


"Nah bagus, gue suka nih yang begini. Semoga ntar malam hasilnya memuaskan ya, Hans!" kata Reza senang.


"Yoi." Hansen mengacungkan jempol dan mulai menilik pada motornya sendiri.


Pekerjaan sampingan lain yang Hansen lakukan untuk mendapatkan uang ialah melakukan balap motor liar. Dari namanya saja sudah jelas itu ilegal dan Hansen tau konsekuensi dari job sampingan ini.


Tapi Hansen merasa tak memiliki jalan lain, dia harus bisa hidup tanpa bantuan sang Mama, paling tidak sampai dia lulus SMA. Dia mau membuktikan pada Zia jika dia bisa hidup tanpa meminta pada wanita yang telah melahirkannya itu.


Terkesan pembangkang memang, tapi inilah pilihan Hansen sejak memutuskan pergi dari kediaman yang sempat dia tinggali bersama Zia dan Vanya.


Hansen memiliki keyakinan jika dia sukses atas kemampuannya sendiri, maka dia tak perlu mengikuti kemauan Zia untuk melepaskan Vanya. Hansen tau ini seperti dirinya melawan ibunya sendiri tapi Hansen benar-benar tidak bisa meninggalkan Vanya begitu saja. Dia bertekad untuk menjemput gadis itu suatu saat nanti.


Mengenai usaha peninggalan almarhum ayahnya, Hansen tau itu akan diwariskan kepadanya suatu saat nanti, tapi dia juga ingin membuktikan bahwa dia bisa memiliki usaha sendiri tanpa usaha tersebut yang membuatnya terlihat bergantung pada harta orangtua.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2