
"Vanya!"
Gadis itu menoleh pada seseorang yang memanggil namanya. Dia melihat Farel yang datang dengan dua gelas jus strawberry ditangannya.
"Nih, minum dulu." Farel mengulurkan segelas pada Vanya dan diterima oleh gadis itu.
"Makasih."
"Hmm." Farel melihat Vanya yang gelisah melihat jam ditangan kirinya. "Yakin gak mau aku anter pulang?" tanyanya kemudian.
"Gak usah. Gue lagi nunggu dijemput sama Kak Hansen."
Vanya memang sudah mengirim pesan pada Hansen untuk menjemputnya di rumah Farel sebab mereka sudah selesai mengerjakan tugas kelompok. Semua teman-temannya yang lain sudah pulang sejak 10 menit yang lalu, tapi Hansen belum tiba untuk menjemput Vanya disana, hingga gadis itu menunggu dengan gelisah.
"Ya udah, minum dulu aja sambil nunggu kakak lo jemput. Mungkin dia masih di jalan," kata Farel menenangkan Vanya.
Vanya mengangguk dan mulai meminum jus yang diberikan Farel di teras rumah cowok itu.
"Van, ada yang mau gue tanyain sama lo," celetuk Farel.
"Soal apa?" Vanya ingat jika saat pagi tadi di sekolah Farel mengatakan ada yang ingin dibicarakan dengannya. Apa sekarang Farel ingin membahas hal itu dengannya?
"Gue ... dapat video kiriman dari kakak kelas yang kebetulan sekelas sama Kakak lo."
Vanya terdiam. Ini pasti video yang ditunjukkan Fero padanya dan Hansen pagi tadi. Video dirinya dan Hansen saat pergi ke pasar malam tempo hari.
"Vi-video apa?" tanggap Vanya berlagak tak tahu menahu.
"Video lo sama kakak lo."
Vanya menoleh pada Farel yang duduk tak jauh darinya itu. "Emang kenapa gue sama kakak gue?" katanya balik bertanya. Sebenarnya, Vanya juga mau mendengar respon Farel mengenai video itu.
"Lo ada hubungan sama kakak lo sendiri, Van? Gue denger dia bukan kakak kandung lo," ujar Farel tampak hati-hati dalam pengucapan katanya.
Vanya menipiskan bibir. "Terus kalo dia bukan kakak kandung gue, kenapa? Salah kalo gue jalan sama dia?" tukasnya.
Farel tersenyum kecil. Dia menggelengkan kepala dengan samar. Menyeruput jus nya sejenak, kemudian menatap Vanya lamat-lamat.
"Van, hanya dari video itu gue bisa ngelihat kalo lo sama kakak lo bukan sebatas kakak adik yang biasa. There's something right?"
__ADS_1
Vanya berdecak pelan. "Bukan urusan lo!" jawabnya malas.
Farel tersenyum kembali. "Gue emang gak berhak ikut campur atau nge-judge hubungan lo sama kakak lo, Van. Tapi, lo masih bisa berubah pikiran dengan cara muter balik. Lo gak harus lalui jalan yang sulit, kalo lo tau didepan sana bakal ada rintangan yang belum tentu sanggup lo hadapi. Lo pasti ngerti maksud gue, kan?"
Vanya terdiam. Dia mencerna ujaran Farel didalam hatinya yang terdalam.
"... selagi hubungan lo belum terlalu jauh. Selagi perasaan lo juga masih bisa ditata, gue harap lo pikirin ini baik-baik."
Vanya hanya diam tanpa respon, tapi tak dipungkiri jika ujaran Farel merambat dipikirannya juga.
"Kalo lo butuh seseorang yang bisa bantu lo buat ngelupain hubungan terlarang lo sama kakak lo, gue siap menjadi orang itu, Van."
Vanya membuang pandangannya ke arah halaman rumah Farel. Dia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan pemuda ini selanjutnya.
"Gue suka sama lo, Van. Jadi gue mau lo tau bahwa masih ada pilihan lain selain Kakak lo. Dan itu adalah gue."
Vanya menarik nafasnya dalam-dalam. Sedikit lagi tangan Farel mencoba menyentuh jemarinya, tapi Vanya sigap menarik diri. Bersamaan dengan itu ponsel Vanya pun berdering yang ternyata adalah panggilan dari Hansen.
"Aku udah didepan pagar rumah Farel. Aku yang masuk atau kamu yang keluar?" tanya Hansen dari seberang sana.
"Aku aja yang keluar, Kak." Vanya tak mau Hansen melihat jika sekarang dia tengah berdua saja dengan Farel di teras rumah pemuda itu.
"Gue pamit pulang ya."
Tak perlu pamit pada orangtua Farel yang sedang tak dirumah. Disana hanya ada Farel dan beberapa asisten rumah tangganya, jadi setelah mengucapkan kata itu Vanya buru-buru keluar dari teras rumah dan berjalan agak jauh untuk mencapai gerbang karena halaman rumah Farel cukup luas.
Sesampainya di gerbang, Vanya sudah melihat Hansen yang menunggunya diatas motor pemuda itu.
"Maaf ya, lama. Tadi ngisi bensin dulu. Ngantri."
Vanya mengangguk. Dia menaiki boncengan setelah memakai helm yang diberikan Hansen.
Hansen menyalakan motornya dan meninggalkan kawasan tersebut setelah Vanya duduk dibelakangnya.
"Tugas kelompoknya udah selesai tadi?" tanya Hansen dalam perjalanan mereka.
"Udah, Kak."
"Oh, baguslah. Kita langsung pulang atau kamu mau kemana lagi?"
__ADS_1
"Langsung pulang aja ya, Kak."
"Oke."
Vanya tidak bersemangat setelah mendengar ujaran Farel padanya tadi. Sedikit demi sedikit dia mulai meragukan hubungannya dengan Hansen kedepannya. Dia tidak siap jika memang harus berpisah dengan Hansen nanti, tapi dia juga tak siap jika nantinya sang Papa akan mengetahui semua ini.
Hansen dapat merasakan sikap Vanya yang berubah pendiam. Gadis itu biasanya banyak bicara tapi sekarang tidak. Ada apa?
Sebenarnya Hansen juga telat menjemput Vanya tadi karena harus menemui Dimas dulu, untuk menanyakan perihal video yang disebarkan digrup kelas mereka. Ternyata pengakuan Dimas diluar perkiraan Hansen.
Hansen pikir, Dimas yang merekam secara langsung kedekatannya dengan Vanya di pasar malam, nyatanya bukan. Dimas juga mendapat video itu dari nomor asing. Karena ingin membuat heboh kelas, Dimas pun menyebarkan videonya di grup kelas. Bukan bermaksud untuk menjatuhkan Hansen, hanya untuk lucu-lucuan saja. Jokes para cowok terkadang memang tidak terkendali, sering random dan berujung pada godaan-godaan kecil diantara mereka.
Hansen tak marah pada Dimas, hanya saja dia jadi penasaran siapa yang sengaja merekam dirinya dan Vanya di pasar malam waktu itu.
"Ini, Kak. Makasih ya udah jemput aku."
Suara Vanya yang menyerahkan helm pada Hansen membuat pemuda itu tersadar dari lamunannya. Dia segera meraih helm yang Vanya ulurkan, baru mulutnya terbuka untuk bertanya pada gadis itu tapi Vanya lebih dulu masuk ke dalam rumah begitu saja.
Hansen menatap heran pada gadis itu. Apa ada sesuatu yang membuat mood Vanya memburuk? Atau Vanya sedang ada masalah?
Hansen memarkirkan motornya didalam garasi rumah, kemudian ingin menyusul Vanya untuk menanyakan ada apa. Tapi belum sempat kakinya mencapai anak tangga, panggilan dari sang Mama membuat Hansen harus mengurungkan niatnya.
"Hans?"
Hansen menoleh dan mendapati Zia yang bersedekap dada didepannya.
"Darimana kalian?" tanya Zia kemudian, merujuk pada Hansen dan Vanya yang pulang bersama-sama di jam yang sudah menunjukkan waktu petang.
"Tadi aku cuma jemput Vanya yang baru selesai kerja kelompok, Ma."
Zia berdecak tak senang. "Hans, akhiri hubungan gak jelas kalian. Mama udah bilang---"
"Ma," sela Hansen. "Aku sedang gak mau bahas hal ini ya, Ma. Please."
"Hansen!" Zia menatap putranya yang sudah berderap begitu saja.
Mendengar seruan sang Mama, Hansen tak menoleh, tapi dia menghentikan langkah.
"Mama kecewa sama kamu, Hans!" tegas Zia membuat Hansen memejamkan matanya rapat-rapat.
__ADS_1
...Bersambung ......