Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
42


__ADS_3

Hansen gelagapan karena mendapat panggilan mendadak dari ayah sambungnya. Tidak biasanya Chandra meneleponnya seperti ini, apalagi sekarang adalah hari pertama Hansen bekerja di kantor Doni.


"Angkat gak, ya?" gumam Hansen, masalahnya yang lain adalah karena panggilan itu juga bukan panggilan biasa melainkan panggilan video. Jika dia menerima panggilannya maka Chandra dapat melihat kegiatannya saat ini.


Setelah berpikir singkat, akhirnya Hansen memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut dan segera mengganti profil ponselnya menjadi silent, agar tidak mendengar lagi dering panggilan yang seakan tak sabar untuk dia jawab.


Hansen bergegas menyelesaikan tugasnya memfotokopi berkas-berkas berisi gambar yang tadi dititipkan Gina kepadanya.


"Ini, Mbak. Udah selesai." Hansen menyerahkan semua pesanan Gina kepada wanita itu.


"Makasih ya," kata Gina. Dia menyelipkan selembar uang biru untuk Hansen membuat pemuda itu tak enak hati.


"Gak usah, Mbak. Aku kan kerja disini."


"Gak apa-apa, lagi ada rezeki berlebih aja. Lagian biasa disini kalau kasih tip ke orang yang udah bantuin," jawab Gina dengan senyumnya yang manis.


Hansen mengangguk pelan, kemudian ingin segera berlalu dari hadapan wanita itu.


"Eh, Hans?" panggil Gina lagi.


"Ya, Mbak? Ada yang kurang?" tanya Hansen merujuk pada kertas-kertas hasil fotokopi tadi.


"Bukan, ini udah pas kok. Cuma mau nanya hal lain aja. Boleh gak?"


Kening Hansen mengernyit dalam, namun mulutnya kemudian berucap. "Memangnya mau nanya apa, Mbak?" tanyanya.


"Pulang kerja kamu kemana? Ikut kita-kita jalan yuk!" ajak Gina.


"Kita-kita?"


"Iya, divisi perancangan ide mau ngumpul, makan all you can eat, kamu ikut juga yah!" ajaknya.


Hansen menggaruk kepalanya yang tidak gatal sekilas. "Gak deh, Mbak. Aku kan bukan bagian dari divisi itu, lagian aku juga baru kerja hari ini," tolaknya halus.


"Ih, gak apa-apa. Lagian ini cuma acara seru-seruan aja kok. Gak formal. Ikut ya!" Gina tampak semangat sekali mengajak Hansen membuat pemuda itu segan untuk menolak ajakannya.


"Ayolah. Atau kamu takut pacar kamu marah ya?" Gina tersenyum menggoda.


Hansen tertawa pelan. "Bukan gitu, Mbak. Aku ada kerjaan lain setelah pulang dari sini," jawabnya.

__ADS_1


"Ya ampun, kamu ternyata pekerja keras banget ya!" puji Gina dengan wajah kagum menatap Hansen. Dia kembali tersenyum yang membuat Hansen kikuk didepan wanita itu.


"Ya udah, aku permisi ya, mbak."


"Dah!" Gina melambaikan tangannya, dia tampak semakin tertarik dengan Hansen yang terlihat tampan dan juga pekerja keras. Meski pemuda itu masih sekolah, tapi postur tubuh Hansen tampak seperti pria dewasa yang terlihat menggoda jiwa kewanitaannya.


Sementara itu, setelah Hansen benar-benar terbebas dari Gina, dia segera mengecek ponselnya. Ternyata panggilan Chandra tidak hanya sekali melainkan sampai tujuh kali. Hal ini membuat Hansen tak enak hati.


"Papa ada perlu apa, ya?" gumam Hansen yang menjadi penasaran.


Tak berapa lama, dalam benak Hansen justru memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi. Apalagi itu ada kaitannya dengan sang Mama atau justru Vanya?


Mendadak, Hansen jadi merasa menyesal karena tadi sempat mengabaikan panggilan dari Chandra. Dia jadi bingung sekarang, haruskah dia kembali menghubungi ayah sambungnya? Paling tidak, Hansen harus memastikan dulu apa hal yang sebenarnya ingin Chandra katakan, apakah ini benar-benar menyangkut hal yang genting?


Akhirnya Hansen memilih menuju pantry, dia memutuskan untuk menelepon balik Ayah sambungnya itu.


...***...


Setelah Chandra mencoba menghubungi Hansen beberapa kali, Zia dan Vanya harus menelan kecewa karena ternyata panggilan itu tidak mendapat jawaban.


"Gak diangkat sama Hansen," kata Chandra menatap Zia dan Vanya bergantian.


Chandra kembali menghubungi untuk kesekian kalinya tapi ternyata panggilan itu kembali tidak dijawab.


"Ya udah, Papa sama Mama ke kamar dulu ya, Van." Chandra pun mengajak Zia untuk keluar dari kamar Vanya.


Vanya mengesah kecewa, ternyata untuk mencuri dengar kabar Hansen saja sulitnya luar biasa. Dia menjadi khawatir pada kondisi kakak sambungnya. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Hansen hingga menyebabkannya tidak menerima panggilan dari sang Ayah?


"Biasanya Kak Hansen gak pernah gak angkat telepon dari papa," gumam Vanya yang mulai gelisah.


"Mudah-mudahan Kak Hansen gak kenapa-napa," ujar Vanya dalam hatinya.


Vanya mencoba menenangkan diri tapi dia tetap kepikiran mengenai pemuda itu, dia mengalihkan pikiran dengan cara memainkan ponselnya tapi yang ada dia justru menatapi foto Hansen yang masih dia simpan secara diam-diam.


"Kak, aku kangen ..." gumam Vanya yang lambat-laun malah mengeluarkan airmatanya. Dia berbaring dengan gelisah kesana dan kemari.


Beberapa saat melamunkan Hansen, Vanya mendengar suara ponsel yang berdering. Ternyata itu adalah ponsel Chandra yang tertinggal di kamarnya.


Vanya melihat ponsel itu yang ternyata panggilan itu dari Hansen. Dengan ragu-ragu dia akhirnya menjawab panggilan telepon sang kakak sambung dengan perasaan yang serba salah. Dia tak ragu tapi dia ingin.

__ADS_1


"Pa, ada apa tadi papa nelpon Hansen?" Terdengar suara pemuda itu dari seberang panggilan.


"K-kak ..." Vanya bersuara dengan gugup dan ragu.


"Vanya?"


Senang mendengar namanya disebut kembali oleh pemuda itu, tapi Vanya hanya ingin memastikan perasaan hatinya yang gundah memikirkan kabar dan keadaan sang kakak.


"Kakak gak kenapa-napa, kan?" tanya Vanya akhirnya.


"Gak kok. Emang kenapa?" tanya Hansen yang terkesan dingin di pendengaran Vanya.


"Ehm, tadi papa khawatir aja karena teleponnya gak kakak angkat-angkat," kata Vanya.


"Papa atau kamu yang khawatir?" tanya Hansen kemudian.


Tentu saja Vanya menggigitt bibir diposisinya, ingin sekali dia berkata bahwa dirinya juga mengkhawatirkan Hansen disana dan ingin sekali dia meminta agar pemuda itu kembali pulang kerumah tapi apa hak-nya sekarang?


"Papa sama Mama khawatir sama Kakak."


"Kamu enggak?"


"Kak, pulang ya," ujar Vanya lembut. Tanpa pernah dia ketahui jika disana Hansen juga menahan perasaannya kuat-kuat agar tidak berteriak pada Vanya mengenai rasa rindunya pada gadis itu.


"Aku mau pulang kalau kamu yang minta," ujar Hansen kemudian.


"Kak ..."


"Sampai kapan kita begini? Aku begini karena hubungan kita, Van," ujar Hansen yang tak bisa membendung lagi perasaannya.


Karena Vanya tak mau berlarut-larut dalam pembahasan mengenai perasaan mereka, akhirnya dia mengalihkan pembicaraan.


"Ya udah, karena kakak udah baik-baik aja. Aku tutup teleponnya ya. Nanti aku bilangin ke Papa kalau kakak udah telepon balik."


"Haha." Hansen tertawa sumbang disana. "Aku gak baik-baik aja, Van. Dan kamu harusnya tau hal itu!" tudingnya.


Vanya memejamkan mata rapat-rapat. Dia menahan perasaannya sekuat tenaga.


"Kak aku mohon berhenti bahas ini ya. Maaf telponnya aku tutup."

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2