
Setelah nyaris dua Minggu dirawat di Rumah Sakit, akhirnya hari ini Hansen diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kondisinya sudah mulai membaik, tapi hal ini justru membingungkan Zia sebab dia mau Hansen pulang ke kediamannya, tapi disisi lain dia juga tak ingin kondisi Hansen pasca kecelakaan menjadi pertanyaan suaminya, sebab sejak awal Zia sudah menutupi hal ini dari Chandra.
"Sayang, kamu pulang kerumah mama aja ya," pinta Zia akhirnya. Saat ini mereka masih di Rumah Sakit untuk mengurus kepulangan Hansen.
"Aku gak bisa, Ma. Lagian Papa Chandra gak tau kalau aku mengalami kecelakaan, aku gak mau kalau nanti mama dan papa jadi bertengkar karena aku, sebab sejak awal mama udah bohong sama papa untuk nutupin kelakuan aku, kan?" ujar Hansen.
"Tapi mama juga gak mungkin ngebiarin kamu tinggal dirumah Fero terus, lebih baik kamu pulang. Itu bakal buat hati mama lebih tenang. Nanti biar mama yang jelasin sama papa secara baik-baik," ujar Zia meyakinkan putranya.
Hansen melirik Vanya yang juga ada disana. Dia tidak bisa untuk tinggal seatap dengan gadis itu, disaat mereka sudah tak memiliki hubungan lagi. Tapi, secara tiba-tiba Hansen berpikir bahwa dengan kembali tinggal disana memungkinkannya untuk bisa mendekatkan diri lagi dengan Vanya. Ah, kenapa tempo hari dia tidak berpikir demikian? Mungkin kemarin dia terlalu emosional karena tiba-tiba saja Vanya mengakhiri hubungan mereka.
Vanya yang dilirik Hansen tidak menanggapi apa-apa. Dia sibuk mengemasi barang-barang ke dalam sebuah tas besar agar Hansen bisa segera pulang. Entah pulang kemana, itu terserah pemuda itu saja. Tapi jauh didalam hati, Vanya berharap Hansen kembali ke rumah mereka.
"Kalau menurut mama gitu, ya udah kita pulang ke rumah aja," jawab Hansen akhirnya.
Dan mendengar itu, Vanya tersenyum dalam diamnya. Dia senang akhirnya Hansen mau kembali untuk pulang bersama dengan mereka kerumah.
...***...
Kepulangan Hansen ke rumah, membuat seluruh penghuni rumah heboh. Tak terkecuali dua asisten rumah tangga yang juga mengenali pemuda itu sejak Zia dan putranya menempati rumah besar milik Chandra sesaat setelah melangsungkan pernikahan.
Mereka menyambut Hansen dengan ramah, tidak banyak bertanya apa yang menyebabkan Hansen harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.Ya, untuk sementara Hansen memerlukan alat itu untuk membantunya berjalan sebab kakinya masih belum terlalu bisa untuk berjalan dengan lancar pasca operasi.
ART juga memasak makanan kesukaan Hansen sesuai arahan Zia. Syukurnya Chandra masih di kantor, dan belum tiba dirumah saat Zia membawa Hansen pulang ke kediaman mereka.
"Ma, nanti mama mau kasih alasan apa sama papa kalo beliau tanya soal kondisi aku?" tanya Hansen.
"Udah, itu biar jadi urusan mama. Yang penting kamu disini dan cepat sembuh seperti sediakala, Hans." Zia mematut senyum tipis diujung kalimatnya, dia lega akhirnya Hansen kembali tinggal bersamanya. Dia juga merindukan putranya meski selama Hansen sakit dia tetap merawat Hansen sebisanya.
"Ya udah, kalau menurut mama begitu."
Seusai makan, Hansen diminta Zia untuk menempati kamar yang ada di lantai dasar. Sebelumnya itu adalah kamar tamu yang kini disulap menjadi kamar Hansen atas permintaan Zia.
"Ma, kenapa kamar aku jadi disini?" protes Hansen. Dia lebih suka kamar lamanya, dimana itu hanya bersebelahan dengan kamar Vanya.
"Kaki kamu kan lagi sakit, kalau mau naik tangga susah. Lebih baik pindah kesini aja," jawab Zia. Dia pikir ada baiknya juga kamar Hansen dipindah ke bawah, sebab jika dilantai atas justru akan membuat Hansen semakin dekat dengan Vanya.
"Tapi, Ma?" Hansen mencoba protes tapi tentu saja keputusan Zia mutlak dan tak bisa diganggu gugat, terlebih Zia punya alasan kuat untuk memindahkan kamar Hansen ke lantai dasar yakni karena kondisi kaki pemuda itu sendiri.
"Sekarang kamu istirahat ya. Mama juga mau mandi, bentar lagi papa kamu pulang," ujar Zia sambil mengelus rambut Hansen sekilas.
Hansen mengangguk. Dia tau Zia perlu waktu untuk menjelaskan mengenai kondisinya pada Chandra.
"Kalau kamu butuh apa-apa, panggil Mbak Sari sama Bi Inah aja ya."
__ADS_1
"Iya, Ma."
Seperginya Zia, Hansen terduduk dibibir tempat tidur. Dia memandang keadaan kamar barunya yang tidak jauh berbeda dengan tampilan kamar lamanya sebab semua barang-barangnya sudah dipindah ke kamar tersebut.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menyadarkan Hansen bahwa seseorang datang ke kamarnya.
"Ya?"sahut Hansen. Dia berharap itu Vanya, ternyata saat pintu terbuka itu adalah salah seorang ART dirumah mereka.
"Ada apa, Mbak Sari?" tanya Hansen.
"Ini, Den. Mau anterin obatnya Den Hansen," jawab Sari.
"Oh iya. Makasih ya, Mbak."
Sari masuk dengan nampan berisi obat dan air putih hangat. Dia meletakkan itu disamping nakas.
"Mbak?"
"Ya, Den?"
"Vanya mana ya?"
"Boleh tolong panggilkan Vanya gak, Mbak?"
Sari tidak langsung menjawab, dan Hansen takut jika asisten rumah tangga dirumah Chandra itu justru mencurigai hubungannya dengan Vanya.
"Uhm, itu ... aku gak tau urutan minum obatnya, mau nanya Vanya, yang mana aja yang dua kali diminum sama tiga kali diminum," alasan Hansen.
"Oh gitu ya, Den. Ya udah nanti saya panggilkan Non Vanya."
Hansen bernafas lega, dia menunggu beberapa saat sampai akhirnya Vanya benar-benar datang ke kamarnya.
Hansen tersenyum melihat kedatangan adik sambung kesayangannya. Sementara Vanya hanya memasang wajah datar pada Hansen.
"Ini, minum obatnya," kata Vanya yang justru membuat Hansen mengernyit sebab merasa bahwa Vanya bersikap dingin padanya.
Hansen menerima uluran obat dari Vanya, lantas segera mengonsumsinya.
"Udah kan? Aku balik ke kamar aku," ujar Vanya kemudian.
Hansen tak menyahut, tapi saat Vanya hampir beranjak, dia mencekal pergelangan tangan gadis itu membuat Vanya urung pergi dari kamarnya.
__ADS_1
"Kamu marah sama kakak?"
Vanya tak menyahut, dia memang masih kesal karena Hansen meladeni wanita muda bernama Gina tempo hari. Namun, dia tak mungkin mengakuinya secara terang-terangan pada pemuda itu.
"Kenapa?" tanya Hansen lembut.
"Ng--nggak kenapa-napa, kok!" dusta Vanya.
"Marah sama aku?"
"Marah? Buat apa juga marah," cetus Vanya.
"Ya gak tau, mungkin cemburu soal yang waktu itu." Hansen ingat, bahwa sejak kedatangan teman-teman kerjanya, termasuk Gina tempo hari, Vanya tak pernah lagi datang ke rumah sakit untuk menjenguknya, sampai akhirnya hari ini barulah Vanya kembali terlihat saat Hansen diperbolehkan untuk pulang kerumah.
"Cemburu? Cemburu apaan?" desis Vanya dengan nada tak senang.
Hansen tertawa pelan. Dia sudah tau sejak awal kalau Vanya memang mencemburuinya.
"Sayang, jangan cemburu lagi ya. Kakak cuma sayang dan cinta sama kamu, kok!" ujar Hansen dibarengi dengan mengeratkan genggamannya ditangan Vanya.
Vanya tak menoleh pada Hansen, namun mendengar penuturan pemuda itu membuat hatinya tersentuh. Ibarat es yang membeku, ujaran Hansen tadi seperti melelehkan hatinya.
"Van?" panggil Hansen.
Vanya tak bergeming ditempatnya. Dia tetap diam.
Sebisa mungkin Hansen mencoba untuk bisa berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Lalu dia mendekat dan memeluk Vanya dari belakang tubuh gadis itu. Tentu saja Vanya tersentak, dia terkejut karena aksi yang Hansen lakukan terhadapnya.
"Kak ..." lirih Vanya, hendak menghindar namun urung karena Hansen justru menyandarkan kepala di ceruk lehernya.
"Jangan banyak gerak, karena aku belum kuat menopang tubuh aku sendiri. Sementara biar dulu seperti ini ya," ujar Hansen seolah-olah menumpang pada tubuh Vanya untuk membuatnya tetap bisa berdiri.
Hansen mengeratkan pelukannya dipinggang ramping Vanya. Mencium rambut gadis itu sesekali.
"Kak, gak enak kalau papa sama Mama ngelihat."
"Gak akan," jawab Hansen tenang.
"Tapi, kak."
"Selamanya aku sayang sama kamu, Van." Tanpa pernah Vanya sadari, Hansen menitikkan airmatanya untuk gadis itu.
...Bersambung ......
__ADS_1