
"Kak?" panggil Vanya pada Hansen, keduanya masih berboncengan diatas motor untuk menuju sekolah seperti biasanya.
"Hmm?" sahut Hansen.
"Aku kok ngerasa tatapan mama beda ke aku ya, Kak."
Hansen agak tersentak dengan ujaran Vanya, tapi buru-buru dia bersikap biasa agar Vanya tak memikirkan hal yang aneh mengenai ibunya.
"Beda gimana?" tanyanya bersuara sedatar mungkin.
"Beda aja gitu, kayak aneh. Gimana ya bilangnya, emm ... aneh deh pokoknya!"
"Itu perasaan kamu aja kali."
"Iya kak. Aku ngerasain kok!"
Hansen menepuk-nepuk punggung tangan Vanya yang melingkari perutnya. "Semuanya baik-baik aja kalau kamu gak ngerasa aneh-aneh, Van," tuturnya lembut.
"Jadi aku gak usah mikirin soal tatapan mama yang aneh ke aku, gitu?"
"Iya, mungkin Mama memang sedang capek aja. Atau kamu nya yang sedang banyak pikiran."
"Ya, aku emang lagi kepikiran tugas sekolah sih, Kak."
"Terus udah selesai tugasnya?" tanya Hansen kemudian.
"Udah kok, Kak. Tapi gak tau hasilnya."
"Pasti bagus kok. Kamu harus optimis ya," kata Hansen menenangkan sekaligus menyemangati Vanya.
Sesampainya mereka di sekolah, ternyata Fero sudah menunggu Hansen di gerbang. Sepertinya ada yang mau dikatakan cowok itu pada Hansen, sampai menunggunya disana. Padahal mereka bisa bicara di kelas.
"Kenapa, Fer?" tanya Hansen yang baru memasuki gerbang sekolah bersama Vanya.
"Gue ada yang mau dibilang sama lo!"
"Soal apa? Penting banget, ya?"
Hansen menuju Fero, diikuti oleh Vanya dibelakangnya.
"Sini deh. Gue ada video ini." Fero menunjukkan layar awal video yang belum diputar.
"Video apaan? Coba lo putar."
"Ini tuh video lo sama Vanya. Udah kesebar di grup kelas kita."
Vanya langsung melotot, sedang Hansen langsung terkejut mendengarnya.
"Gue kok gak tau," kata Hansen yang langsung meraih ponsel Fero.
"Lo gabung di grup kelas kita, gak?"
Setelah Hansen ingat-ingat lagi, dia memang tak tergabung dalam grup kelas, dia hanya masuk di grup sekolah yang mencakup semua kelas.
__ADS_1
Hansen mulai memutar video itu, disaksikan oleh Vanya juga. Ternyata itu adalah momen saat mereka pergi ke pasar malam tempo hari. Ada yang merekamnya. Memang terlihat biasa bagi orang yang berpacaran. Masalahnya disini adalah yang Hansen gandeng itu adalah Vanya, adik sambungnya sendiri.
"Lo bakal jawab apa kalo video ini ke sebar seantero sekolah?" tanya Fero dengan raut khawatir.
"Ya emangnya salah kalau gue jalan sama adek gue," jawab Hansen santai. "Lagipula kita gak ngapa-ngapain kan di video itu. Itu cuma jalan biasa doang."
"Tapi, menurut komentar-komentar teman-teman sekelas kita, Lo sama Vanya itu keliatan banget penuh cintanya."
"Emang gitu ya?" timpal Vanya kemudian.
"Iyalah. Lo lihat aja sendiri," kata Fero.
Hansen dan Vanya saling bertatapan. Mereka tak mau memusingkan hal ini, jikapun video itu diketahui pihak sekolah, mereka bisa berdalih bahwa itu kedekatan antara kakak dan adik.
"Siapa yang pertama kali nyebar video ini di grup, Fer?" tanya Hansen.
"Si Dimas," jawab Fero.
"Ya udah, nanti gue temui dia." Hansen menoleh pada Vanya sekilas. "Kamu ke kelas sendirian gak apa-apa kan, Van?" tanyanya.
Vanya mengangguk dan langsung berjalan menuju kelasnya sendiri sebab dia tau Hansen akan mengurus soal video itu lebih dulu.
"Ya udah, ayo kita temui Dimas. Gue bakal ngomong dan nanya dia dapat video itu darimana. Atau justru dia sendiri yang ngerekam gue sama Vanya di pasar malam."
Fero setuju. "Udah kayak artis aja lo berdua. Banyak paparazi yang mengintai gerak-gerik Lo sama Vanya," paparnya menahan gelak.
Hansen hanya menipiskan bibir mendengar celotehan Fero.
"Hai, Van?"
"Ya?" jawab Vanya seadanya.
"Ntar pulang sekolah kita bakal tugas kelompok lagi, kan?"
Vanya mengangguk, namun dia melihat senyum aneh diusung oleh Farel.
"Sekalian ada yang mau gue omongin sama lo, Van." Farel menatap Vanya serius.
"Apaan?" tanya Vanya cuek.
"Nanti aja deh, pas kita selesai tugas kelompok." Farel pun berbalik menuju tempat duduknya dikelas.
Vanya duduk disebelah Metha yang tampak mengerjakan tugas karena belum selesai.
"PR fisika lo udah siap, Van?" tanya Metha tanpa menoleh pada Vanya. Dia terus menulis, lebih tepatnya menyalin jawaban dari buku seorang teman sekelas mereka yang memberi contekan.
"Udah. Tapi gak yakin bener," jawab Vanya apa adanya.
"Nih, cocokin sama punyanya Galih," ujar Metha memberi saran. Galih adalah juara kelas yang mungkin minim kesalahan saat mengerjakan tugas.
"Gak ah. Ntar ketauan lagi kalo nyontek punya Galih," tolak Vanya.
"Yang penting dapat nilai bagus," jawab Metha cuek.
__ADS_1
Vanya geleng-geleng kepala. Mau menyangkal ujaran Metha dengan mengatakan 'untuk apa nilai bagus hasil nyontek', tapi Vanya tak mau menyinggung sikap Metha yang menyalin tugas tersebut.
Pelajaran dimulai beberapa menit setelah itu, kemudian Vanya mulai menyimak penjelasan gurunya didepan kelas.
"Vanya, Lo udah denger belom gosip yang beredar?" bisik Metha disela-sela kegiatan belajar mereka.
Vanya kira Metha akan memberitahunya mengenai video yang tadi ditunjukkan Fero, ternyata bukan soal itu, kelasnya masih adem-ayem sepertinya tidak ada dari mereka yang menyorot Vanya dengan tatapan aneh, itu artinya mereka semua belum mendapat kiriman video serupa dengan yang ada di hp Fero.
"Memangnya gosip apaan?" sahut Vanya ingin tau.
"Rega sama Windi katanya udah putus," adu Metha mengenai teman sekelas mereka.
"Lho, kenapa?"
"Gak tau. Kayaknya gara-gara Dinda, deh."
"Orang ketiganya Dinda?" tanya Vanya tak percaya.
"He'eh." Metha manggut-manggut.
"Vanya?" Guru didepan memanggil Vanya, membuat gadis itu terlonjak. Ternyata guru fisika itu memperhatikan gerak-gerik Vanya yang tadi sepertinya terlibat obrolan dengan Metha.
"Y-ya, Bu?" sahut Vanya gugup.
"Coba kerjakan yang nomor 3," titah Bu Mega sembari mengulurkan spidol agar Vanya mengerjakan soal itu didepan kelas tepatnya di papan tulis.
Metha menundukkan kepalanya. Dia tak mau dipinta ikut mengerjakan soal seperti Vanya juga, sebab dia kurang mengerti pelajaran Fisika.
Dengan ragu-ragu Vanya akhirnya melangkah ke depan kelas. Dia mencoba mengerjakan soal itu, dia juga bukan termasuk murid yang pintar-pintar banget, tapi dia selalu mau mencoba.
Vanya mengerjakan soal itu dengan pengetahuannya yang juga terbatas.
"Su-sudah, Bu," ucap Vanya sesaat setelah menyelesaikan soal tersebut.
Bu Mega langsung melihat pada jawaban Vanya dan mengoreksinya. Syukurnya jawaban Vanya benar.
"Sekarang giliran kamu, Metha."
Metha memejamkan matanya rapat-rapat. Salahnya sendiri bergosip di kelas saat Bu Mega menerangkan, pikirnya.
Metha melirik Vanya dan gadis itu memberikan sorotan bahwa Metha pasti bisa mengerjakannya.
"Gimana nih?" Metha berbisik saat berpapasan dengan Vanya yang ingin kembali duduk di kursinya.
"Udah, coba aja lo kerjain dulu."
Mau tak mau Metha pun maju, alhasil dia bingung harus menjawab apa. Dia mengerjakan asal-asalan dan tentu jawabannya salah. Metha diminta berdiri selama jam pelajaran Bu Mega. Itu hukuman untuknya.
Sepulang sekolah, mereka semua berkumpul untuk mengerjakan tugas kelompok. Vanya hanya mengirimi Hansen pesan yang mengatakan pamit untuk pergi. Dia tak menghampiri pemuda itu demi menghindari gosip yang mungkin sudah menyebar dikelas Hansen dan syukurlah Hansen memaklumi itu, sampai Hansen benar-benar akan menyelesaikan masalah ini dulu.
Hansen hanya bisa melihat kepergian Vanya dari kejauhan. Vanya dan teman-temannya kembali menaiki mobil Farel untuk pergi mengerjakan tugas. Sebenarnya Hansen percaya bahwa Vanya takkan berpaling darinya, tapi dia tidak yakin dengan pemuda bernama Farel yang terang-terangan menatap Vanya dengan tatapan kagum.
...Bersambung ......
__ADS_1