
Vanya langsung beringsut untuk menjaga jarak dari Hansen, dia tau kakak sambungnya itu akan berlaku nekat lagi jika dia tak pandai-pandai membawa diri.
Sedikit banyak, Vanya sebenarnya senang karena Hansen begitu mencintainya. Tapi disisi lain, ada rasa takut dihati Vanya. Bagaimana jika Hansen melakukan hal-hal nekat agar mereka tetap bisa bersama?
Keadaan ruangan tersebut berubah canggung setelah ciuman panas yang sempat terjadi diantara mereka. Sumpah demi apapun, Vanya tidak menyangka jika Hansen bisa menciumnya seperti itu. Meski diakhir ciumannya berubah melembut, tapi Vanya bukan gadis bodoh yang tidak menyadari jika diawal tadi Hansen menciumnya dengan emosional.
Itu adalah ciuman kedua yang terjadi diantara mereka. Parahnya, mereka melakukannya lagi setelah hubungan yang sempat dibina sudah terputus dua bulan yang lalu.
Syukurnya suasana akward yang sempat terjadi setelah kejadian itu bisa mencair lagi saat Fero kembali ke ruangan Hansen dengan beberapa kantong makanan.
"Nih buat Lo, Van." Fero mengulurkan sebuah bungkusan pada Vanya.
"Lho, gue kan gak jadi titip, Kak?"
"Gak apa-apa. Ini udah lewat jam makan siang. Mau makan jam berapa lagi Lo? Ntar lo sakit, Hansen juga makin sakit lagi," kata Fero apa adanya.
"Iya, makan aja, Van," timpal Hansen dengan senyum manisnya. Pemuda itu sudah tidak secanggung tadi, dia tampak mulai bisa menguasai keadaan sekarang.
Sedangkan Vanya, dia hanya merespon kedua pemuda itu dengan anggukan. Sejujurnya dikepalanya masih terngiang kilasan kejadian beberapa saat lalu saat Hansen menciumnya.
Mungkin Vanya hanya tak habis pikir dengan cara Hansen menciumnya tadi. Itu berbanding terbalik dengan ciuman pertama mereka yang dilakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ciuman Hansen hari ini terasa lebih kasar, menuntut dan penuh dengan luapan kerinduan. Agak tergesa-gesa tapi Vanya juga tak dapat menolaknya, dia juga larut dalam ciuman tersebut, yang mana pada akhirnya Vanya dapat merasakan betapa Hansen tidak mau melepaskannya dalam hubungan yang kini sudah tak jelas apa namanya.
Vanya mengambil posisi disudut ruangan, membuka bungkusan makanan yang dibelikan Fero. Dia makan dalam diam, sambil sesekali mendengar pembicaraan kedua orang itu.
"Cepat sehat dong Lo! Kita udah mau ujian akhir juga!" ujar Fero.
"Iya. Bakal cepat sembuh gue yang penting tiap hari Vanya kesini," jawab Hansen sembari melirik Vanya. Vanya yang mendengar ujaran kakak sambungnya itu juga menatap Hansen dan tatapan mata mereka bersirobok.
Hansen mengulas senyum yang direspon Vanya dengan menundukkan kepalanya.
Tak berapa lama, ruangan Hansen kedatangan tamu. Yang adalah rekan-rekan satu kerjaannya di kantor Doni. Ada sekitar 4 orang yang datang. Tentu saja ada Gina diantara mereka, yang ternyata tampak sangat mengkhawatirkan Hansen.
Perlu diketahui jika Gina berusia sekitar 23 tahun. Dia staf paling muda dikantor sebelum adanya Hansen, tentu saja. Dia baru lulus kuliah dan masuk ke kantor itu lewat jalur orang dalam dan menempati divisi perancangan ide.
Tentu saja kunjungan teman-teman kerja Hansen menarik atensi Vanya yang masih berada di ruangan yang sama. Dan dia sangat dapat melihat jika seorang wanita muda bernama Gina amat perhatian pada Hansen disana.
__ADS_1
"Hans, kamu sukanya makan apa? Biar pas kesini lagi nanti aku bawain makanan kesukaan kamu," kata Gina yang disambut gelak tawa oleh teman yang lainnya, sepertinya mereka mendukung.
"Emang mau kesini lagi nanti?" balas Hansen yang malah menanggapi ujaran Gina.
"Mau, itupun kalau boleh," jawab Gina malu-malu.
"Boleh boleh," kata Hansen sambil melirik Vanya. Ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu diujung sana. Hansen hanya ingin menebak apakah Vanya masih mencintainya? Jika kedatangan Dira tempo hari sudah membuat Vanya tak senang, kini kedatangan Gina justru membuat Vanya terlihat minder, dan Hansen dapat membaca gelagat gadis itu.
"Seriusan boleh? Kalau gitu nanti aku datang kesini lagi deh. Gak bakal capek kalo lihat kamu," ujar Gina bersemangat.
Vanya menutup bungkusan makanannya. Dia sudah tidak berselera untuk melanjutkan makan. Melihat dari interaksinya, sepertinya Hansen juga tertarik dengan wanita muda bernama Gina itu, membuat hati Vanya dongkol berada dalam ruangan yang sama dengan mereka.
Vanya bangkit dari duduknya, dia hendak langsung pulang saja.
"Eh, Van? Lo mau pulang?" tanya Fero yang melihat adik sambung Hansen berderap menuju pintu.
Disitulah keempat tamu Hansen yang lain baru menyadari jika ada seorang gadis yang juga tengah berada di ruang perawatan Hansen.
"Iya," jawab Vanya ketus. Dia memang tidak berniat pamit dengan semua yang ada disana, termasuk Hansen dan Fero.
"Naik ojek, mungkin," jawab Vanya menatap Hansen dengan tatapan kesal.
Hansen malah tersenyum tipis, namun hanya dia yang mengetahui apa makna dari senyumnya itu. "Ya udah, hati-hati ya. Apa mau dipesankan taksi online sama Fero?" tawarnya kemudian.
"Gak usah. Makasih!" Vanya segera berlalu, sebelum melihat reaksi teman-temen kerja Hansen yang menatapnya kagum, sebab dua dari mereka adalah lelaki muda.
"Itu tadi siapa, Hans?" tanya Roy, salah seorang teman kerja Hansen. Posisinya dengan Gina sama, mereka dari divisi perancang ide.
"Ya elah Roy ... itu anak SMA. Lo gak lihat seragamnya?" timpal Andri, rekan Hansen yang lain.
"Lah, emang kenapa? Gue cuma tanya sama Hansen itu siapa," sahut Roy.
"Etdahhh ... gue tau isi kepala Lo!" kata Andri kemudian. Yang langsung disambut tawa oleh semua yang ada disana.
...***...
__ADS_1
Vanya pulang ke rumah dengan hati yang panas. Begitu sampai dirumah dia langsung membuka kulkas dan meneguk air es dengan cukup banyak. Dia perlu metode ini untuk mendinginkan hatinya meski itu tidak benar-benar bisa meredam rasa dongkolnya.
"Apaan sih? Katanya kerja cuma bantu-bantu di kantor kakaknya Dira, tapi ternyata malah deket sama cewek mateng," sungut Vanya kesal.
Vanya memang sudah mendengar cerita Hansen mengenai pekerjaan sampingan pemuda itu di kantor Doni, Kakaknya Dira.
Jika hanya Dira, mungkin Vanya bisa melawannya, tapi jika Gina, yang notabenenya seorang wanita muda dengan karir bagus, Vanya merasa rendah diri dan sadar jika itu bukan saingannya.
"Mana cewek itu cantik lagi, dewasa pula," batin Vanya sangat dongkol. Ini bukan semata-mata karena dia merasa cemburu saja, tapi karena didepan matanya Hansen justru merespon sikap Gina yang jelas-jelas mencari perhatian dengannya.
"Ah, apaan sih? Bukannya aku udah rela ya kalau kak Hansen bersama cewek lain." Vanya mengusap kasar wajahnya sendiri. "Kalau gitu, kenapa sekarang aku gak terima semua ini?" batinnya.
Vanya mengakui dia tidak menyukai interaksi Hansen dengan wanita muda bernama Gina itu. Wanita itu terkesan berlebihan menurutnya, atau ini karena dia tak menyukainya saja makanya dia menganggap seperti itu?
"Vanya?"
Vanya menoleh dan mendapati Zia disana.
"Ya, Ma?"
"Abis jengukin Hansen ya?" tanya Zia kemudian dengan suara berbisik.
"Ehm... iya, Ma. Cuma bentar doang," jawabnya jujur.
"Tadi mama juga dari sana." Zia tampak berpikir seperti menimbang-nimbang kata yang ingin dia bicarakan selanjutnya.
"Ada apa sih, Ma?" tanya Vanya yang merasa ada yang ingin Zia katakan namun terlihat ragu.
"Van ... kalian udah gak ada hubungan lagi, kan?"
Vanya mengangguk, meski sebenarnya dia bingung kenapa Zia menanyakan hal ini. Belum lagi karena tiba-tiba dia teringat adegan ciumannya bersama Hansen tadi, benarkah mereka memang sudah tak ada hubungan?
"Baguslah. Mama harap kalian memang udah putus sepenuhnya, karena mama mau Hansen bener-bener kuliah ke luar negeri setelah lulus dari SMA, dan mama udah minta papa buat siapin semua berkas dan keperluan untuk keberangkatannya."
...Bersambung ......
__ADS_1