
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hansen, Vanya, Metha dan Fero sudah berkumpul di halaman Villa. Sedangkan Dira sudah mengatakan dari awal kepergian mereka waktu itu jika dia tidak tertarik untuk ikut mendaki sehingga mereka semua tak mau memaksanya.
Hansen tampak sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya untuk mendaki. Tenda camping, matras dan senter tak lupa ia bawa.
Sementara Vanya dan Metha sibuk menyiapkan perbekalan makanan dan minuman untuk mereka. Mereka juga tidak melupakan untuk membawa kompor kecil dan perlengkapan memasak yang instan.
Rencananya, mereka akan mendaki pagi ini dan bermalam semalaman. Besok pagi, barulah mereka akan kembali ke Villa.
Mas Seto ikut menemani mereka, ada juga dua orang teman Mas Seto yang akan menjadi pendamping pendakian ini. Mereka sudah ahli di bidang ini dan akan mengawasi Hansen dan yang lainnya.
Hansen memberikan Vanya sarung tangan dan tersenyum ke arah sang adik.
"Pakai sarung tangannya, nanti makin dingin," katanya memberi usul.
Vanya menerima sarung tangan Hansen seraya mengucapkan terima kasih disertai senyuman.
Tak berapa lama, mereka semua sudah bersiap untuk berangkat namun tiba-tiba suara Dira mengejutkan mereka.
"Gue ikut ya. Kayaknya gak seru juga kalau di villa sendirian."
...***...
Pendakian dilakukan setelah mereka mendengar arahan dari kedua teman Mas Seto. Mereka bernama Haris dan Bima. Mereka akan memandu perjalanan ini.
"Sekarang kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing," kata Haris yang diangguki oleh semuanya.
Setelah sesi doa bersama, mereka mulai mendaki gunung yang tampak menjulang dihadapan mereka. Meski udara terasa sangat sejuk dan dingin tapi cuaca cukup cerah juga mendukung keberangkatan mereka.
"Kamu capek?" tanya Hansen yang terus memperhatikan Vanya.
"Belum kok, kak."
"Kalau udah capek, bilang ya biar kita berhenti."
Vanya mengangguk sepakat dengan pernyataan Hansen.
Perjalanan mendaki itu terasa ramai karena Fero yang beberapa kali melempar guyonan dan itu ditimpali oleh Bima yang sama gesrek-nya.
"Ikan ikan apa yang bisa mendaki gunung?" ujar Fero.
"Ikan apa ya?" Metha berusaha menebak, sementara Hansen dan Vanya hanya saling melempar pandangan.
"Ikan terbang," sahut Bima random.
"Salah," kata Fero.
"Ikan Duyung," jawab Metha yang juga ngasal.
"Hahaha ... salah," kata Fero kemudian.
"Terus apaan dong?"
"Jawabannya ... i-kan Mas."
__ADS_1
"Lho kok ikan mas?" Metha tak terima dengan jawaban Fero.
"Karena kalau 'ikan mbak' gak bisa mendaki, karena mbak-nya masih jagain rumah," ujar Fero tanpa rasa bersalah.
"Sial*n lo!" timpal Bima yang kemudian ngakak.
Hansen dan Vanya hanya ikut terkekeh karena sudah biasa dengan kekonyolan Fero. Sementara Dira disana juga memilih diam dan menyimak.
Sebenarnya, Dira tak begitu ingin ikut mendaki. Kegiatan ini akan menguras tenaganya. Sejak awal dia memang tak berniat ikut, hanya saja ia sedang ingin membuktikan kecurigaannya. Ya, malam tadi Dira lah yang tak sengaja melihat interaksi antara Hansen dan Vanya.
Dira pikir, kedekatan mereka terbilang berlebihan jika sebagai kakak dan adik. Untuk itulah ia mau melihat sikap keduanya lagi hari ini dan terpaksa untuk mengikuti mereka mendaki gunung.
Terbukti saat kini Dira melihat Vanya yang kesulitan dalam berjalan mendaki, tampak Hansen langsung sigap untuk membantunya.
"Kemarin Hansen bilang dia udah punya pacar, apa pacarnya gak bakal cemburu kalo lihat kedekatannya dengan Vanya?" batin Dira yang terus saja memperhatikan kedua sejoli itu.
"Atau jangan-jangan... pacarnya itu justru Vanya?" Pemikiran Dira semakin kemana-mana karena melihat kedekatan tak biasa antara kakak dan adik itu.
Perjalanan mereka dihentikan saat mereka tiba di pos perhentian. Disana mereka duduk dan minum. Ada juga Metha yang memakan cemilannya.
"Seru juga ya jalan-jalan kita kali ini. anti mainstream," ujar Metha pada semua.
"Iya lah. Kalau liburan cuma ke Mall doang mah udah biasa," tanggap Vanya.
"Iya, tapi pulang dari sini pasti kaki gue pegal-pegal," kata Metha.
"So pasti!" timpal Fero. "Tapi lihat, kita sekarang beneran ada di gunung, guys. Dan pemandangan disini bagus banget."
Fero melirik Dira yang tampak diam sejak perjalanan mereka. "Kamu seneng gak, Dir? Sebelumnya kamu udah pernah mendaki kayak begini?" tanyanya.
Fero tertawa pelan. "Ini bakal jadi pengalaman yang gak terlupakan, ya gak guys?" tanyanya pada yang lain.
"Yoi." Mereka menyahut hampir serentak.
Perjalanan dilanjutkan kembali karena mereka tak mau membuang-buang waktu, lagipula mereka sudah merasa cukup beristirahat.
Sampai pada akhirnya mereka semua tiba di puncak gunung yang mereka daki.
Vanya menghirup udara disana dalam-dalam, bersamaan dengan itu ia sedikit tersentak karena tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh tangannya.
Vanya menoleh dan melihat jika itu adalah Hansen. Vanya pun melempar senyuman pada sang kakak.
"Gimana perasaan kamu?" tanya Hansen.
"Aku seneng dan gak nyangka akhirnya aku bisa berada di puncak gunung ini, Kak."
Hansen mengangguk. "Iya, ini pengalaman pertama kita sekaligus momen kebersamaan kita yang pertama juga," tuturnya.
"Aku gak bakal lupain momen ini seumur hidup aku, Kak."
"Sama. Aku juga."
Hansen merapikan topi kupluk yang dipakai oleh Vanya, bersamaan dengan itu Metha menghampiri mereka.
__ADS_1
"Hans, bantuin Mas Seto sama yang lain buat pasang tenda ya."
Hansen menoleh ke arah Metha. "Oh, oke," katanya.
Hansen kembali menatap Vanya dan berkata dengan pelan.
"Aku pasang tenda dulu ya. Kamu jangan main jauh-jauh nanti tersesat."
"Oke, Kak."
Vanya mengacungkan jempolnya dan memperhatikan Hansen yang menjauh namun masih nampak dipelupuk matanya karena disana sangat luas.
"Van ..."
Vanya tersentak saat mendengar panggilan yang mengangetkannya.
"Eh? Kenapa, Kak?" Vanya melihat ada Dira disana.
"Aku boleh tanya gak sama kamu?"
"Nanya? Nanya apa, kak?" respons Vanya.
"Kamu tau gak kalau Hansen itu udah punya pacar?"
Vanya tak mengerti kenapa Dira menanyakan hal ini padanya, tapi Vanya yang polos akhirnya mengangguk saja.
"Kamu kenal sama pacarnya?"
"Eh?" Vanya bingung harus menjawab apa, haruskah ia mengaku pada Dira jika pacar Hansen itu adalah dirinya sendiri?
"Aku suka sama Hansen, Van. Tapi dia udah punya pacar," kata Dira kemudian.
Sekali lagi Vanya tak paham kenapa Dira harus mengatakan hal ini padanya. Meski Vanya sudah dapat menebak jika Dira menyukai Hansen tapi ia tak menyangka jika Dira akan seterbuka ini kepadanya. Untuk apa? Pikir Vanya.
"Kenapa ya, Hansen gak ajak pacarnya ikut liburan juga?"
Vanya memasang senyuman getir yang tampak keki. Ia tak tau jika maksud pertanyaan Dira disini terkesan menyindirnya. Vanya hanyalah gadis polos yang tidak mampu memahami arti dari kalimat yang Dira berikan.
"Uhm, aku gak tau, kak," jawab Vanya akhirnya. Ia tampak salah tingkah.
"Atau mungkin ... pacarnya ada disini juga ya?" celoteh Dira yang kali ini membuat wajah Vanya langsung pias.
Tak berapa lama, Dira langsung terkekeh. "Lucu kali ya, kalau pacar Hansen ada disini juga. Pasti kasihan deh, dia bakal lihat kemesraan kamu sama Hansen, ups... sorry," katanya sambil tersenyum.
"Maksud kakak apa?" tanya Vanya.
"Gak apa-apa sih. Aku lihat kamu sama Hansen itu mesra banget. Padahal kalian kan cuma saudara tiri."
"Mesra?" Vanya berusaha tertawa. "Kakak salah mengartikan kedekatan kami," tuturnya berdusta.
"Ah, iya, mungkin aku yang salah tapi beberapa kali aku lihat Hansen sangat manis sama kamu."
"Ya wajar lah kak, dia kan kakak aku. Mana mungkin dia marah-marah kalau aku gak ngebuat salah?" kilah Vanya. Dalam hati ia sudah ketar-ketir karena sepertinya Dira mencurigai hubungannya dengan Hansen.
__ADS_1
...Bersambung ......