Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
19


__ADS_3

Mendengar jawaban Vanya, entah kenapa Dira tetap merasa janggal. Apalagi jika ia mengaitkan dengan apa yang ia lihat didepan mata kepalanya sendiri. Bagaimana Vanya dan Hansen sangat dekat bahkan terkesan mesra. Apakah memang begitu sikap Hansen memperlakukan Vanya yang dia anggap adik?


Tidak ... bagaimanapun, Dira pernah merasa diposisi yang dianggap sebagai Adik oleh Hansen dan Hansen tidak seperhatian itu padanya. Dira bahkan mengingat saat Hansen membenarkan topi kupluk yang dipakai Vanya beberapa saat lalu. Tatapan keduanya menyiratkan rasa yang lebih dari sebatas saudara.


"Aku yakin jika sebenarnya mereka saling menyukai." Meski awalnya Dira tak begitu penasaran dengan sosok pacar yang kemarin Hansen katakan padanya, tapi sekarang Dira merasa ingin tau siapa pasangan Hansen. Apakah itu benar-benar Vanya?


Jika itu benar, maka kesempatan Dira untuk mendekati Hansen masih terbuka lebar. Toh, Tante Zia takkan mungkin merestui hubungan terlarang mereka karena sejatinya mereka haruslah bersikap layaknya saudara.


Tak lama, suara Metha memanggil Vanya untuk ikut bergabung ke tenda yang sudah dipasang.


"Van, ayo sini!" panggil Metha. Hal itu dimanfaatkan Vanya untuk pergi dari Dira sekaligus menghindari pertanyaan-pertanyaan gadis itu yang menjurus ke arah menyelidiki hubungannya dengan Hansen.


"Ayo makan. Kamu mau teh atau kopi? Biar aku buatkan," kata Metha yang tampak sudah memasak air didalam kompor kecil yang dibawa.


"Tolong buatin teh aja deh," jawab Vanya.


"Oke." Metha mengacungkan jempolnya.


Dira juga kembali ke perkemahan dimana tenda terpasang. Disana telah berdiri 3 tenda camping untuk mereka semua.


"Tendanya bisa muat buat bertiga, jadi cewek-cewek dalam satu tenda aja ya," usul Haris yang memandu perjalanan mereka.


"Oke, Mas," jawab Vanya tak merasa masalah dengan hal itu.


Tapi, lagi-lagi Metha yang menyuarakan protes.


"Van, kalau gue tidurnya nindih-nindih lo jangan marah ya," kelakarnya disertai cengiran. Metha juga mengucapkan hal serupa pada Dira yang direspon gadis itu dengan senyuman.


"Ntar lo tidurnya jangan ngorok ya, Hans," canda Fero yang selalu jenaka.


Hansen berlagak menempeleng kepala Fero dan Fero pun berakting meringis. Mereka tertawa kemudian.


Siang itu, mereka semua makan bersama dengan lauk yang dibawa dari rumah. Untuk malam nanti, barulah mereka harus memasak untuk mengisi perut.


"Wah, sejuk banget ya disini. Makan di alam terbuka apalagi di atas gunung itu sensasinya beda," kata Metha.


"Iya, seru banget. Kapan-kapan Gue mau kesini lagi nanti," celetuk Vanya menimpali.


"Jangan lupa ajakin kita kita yes," ujar Metha lagi.


"Ya mudah-mudahan ya, kalo ingat," canda Vanya.


Mereka berkemah disana dan mengakrabkan diri masing-masing.


Tampak Bima yang pendiam di jodoh-jodohkan Fero dengan Metha. Fero juga terdengar sering menggoda mereka.

__ADS_1


"Metha masih jomblo kok, Mas," ujar Fero seolah mempromosikan gadis itu.


Bima hanya tersenyum menanggapinya, sementara Metha malah nyolot.


"Apaan sih lo!" kata Metha namun dia tampak ikut mengulumm senyum.


Sementara disisi lain, Vanya dan Hansen mengasingkan diri dari mereka. Keduanya berjalan-jalan namun tak begitu jauh meninggalkan tenda karena sudah diperingati oleh Mas Seto.


"Ini buat kamu." Hansen memetik sebuah bunga liar berwarna kuning dan memberikannya pada Vanya. Vanya tersipu menerimanya.


"Makasih ya, Kak."


Hansen mengangguk. "Ayo kita kumpulkan jenis yang lain yang tumbuh disekitar sini, nanti aku buatkan buket bunga buat kamu," katanya.


Vanya senang sekali mendengarnya. Hansen memang sangat manis. Mereka melanjutkan jalan-jalan mereka disekitar tempat itu dan Vanya memetik bunga ilalang yang ada disana lalu memberinya pada Hansen.


"Ini kak, biar estetik." Vanya terkekeh yang direspon Hansen dengan tawa renyah yang sama.


"Kak, tau gak, tadi Kak Dira nanyain aku ..."


"Nanya apa?" tanya Hansen.


"Kayaknya dia curiga deh sama kedekatan kita."


"Aku gak peduli, Van," jawab Hansen dengan cueknya.


Hansen mengendikkan bahu, lalu dia menarik kedua tangan Vanya dan menggenggamnya.


"Kalau itu terjadi, berarti kita berdua harus udah siap menerima resikonya."


"Aku takut kak."


"Kamu takut mama dan papa marah?" tebak Hansen.


Vanya menggeleng. "Bukan," katanya.


"Jadi?"


"Aku takut disuruh berpisah sama kakak saat itu juga," ujar Vanya terus terang.


Hansen terdiam cukup lama, sampai akhirnya ia mengesah panjang.


"Apapun yang terjadi, kita harus berusaha bertahan ya."


Vanya mengangguk dan sebuah kecupan lembut Hansen labuhkan di dahi gadis itu. Vanya merasakan kehangatan mulai menjalar di seluruh aliran darahnya.

__ADS_1


Sementara disisi lain, Dira sebenarnya mau mengekori kepergian Hansen dan Vanya. Ia masih penasaran dan mau membuktikan jika mereka berdua memang punya hubungan dan lebih dari sekedar kakak dan adik.


Akan tetapi, cowok bernama Fero ini selalu mendekatinya. Padahal, tadinya Dira sudah senang saat Fero sibuk menggoda Metha dan Bima. Ia pikir ia bisa menjalankan misinya untuk membuntuti Vanya dan Hansen, nyatanya, Fero seakan sengaja mengalihkan jalannya.


"Aku pikir tadinya kamu gak mau ikut mendaki, syukurlah kamu ikut juga," kata Fero memulai pembicaraan dengan gadis itu.


Dira terpaksa memasang senyum. Ia tak mau imej nya menjadi buruk jika tidak merespon teman-teman Hansen dengan baik.


"Iya, daripada di villa cuma berdua sama Mbak Lia. Kayaknya bakal bosen banget."


"Humm, aku senang kamu ikut."


Tapi secara mendadak, Dira menyadari ada yang berbeda dari nada bicara Fero. Biasanya mereka akan menggunakan kata lo-gue, tapi kenapa sekarang Fero menggunakan bahasa Aku dan kamu. Aneh... sangat aneh.


"Disini pemandangannya bagus banget kan?"


Dira hanya mengangguk.


"Mau gak, kalau kita foto berdua." Fero mengeluarkan ponselnya dan mengajak Dira berswafoto.


Dira menggeleng. "Gak ah," tolaknya halus.


"Kenapa? Kamu kayak lagi banyak masalah gitu, coba deh di skip dulu masalahnya. Kita kesini mau liburan dan happy happy kan?"


Kalau dipikir-pikir, yang dikatakan Fero benar juga. Buat apa Dira memikirkan Hansen dan Vanya terus menerus. Toh, jika nanti kecurigaannya benar maka ia akan melihat itu dengan sendirinya tanpa perlu bersusah-susah mencari tau.


Apa yang disembunyikan oleh kedua sejoli itu cepat atau lambat akan ketahuan juga, pikir Dira.


"Ya udah ayo!"


Fero pun mulai mengarahkan kameranya ke pada wajah mereka berdua lalu ... ckrek .. keduanya berhasil mengambil foto dengan berbagai angel yang cantik dan menunjukkan view pemandangan khas di gunung dengan kabut yang cukup tebal.


"Makin lama makin dingin ya disini," kata Dira lagi.


"Kamu kedinginan?" Fero membuka jaketnya dan memakaikannya pada Dira. Dira merasa tak enak hati atas ulah Fero, dia menatap Fero dengan penuh tanda tanya.


"Gak apa-apa, aku masih bawa jaket lain di camp. Kamu pakai aja itu, soalnya aku takut kamu hipotermia disini. itu bisa bahaya."


Entah kenapa Dira merasa Fero begitu perhatian padanya. Kalau dilihat-lihat Fero juga tidak jelek. Tapi, entah kenapa Dira tetap sulit mengenyahkan Hansen dari pikirannya.


"Makasih ya, Fer."


"it's oke, gak masalah."


...Bersambung ......

__ADS_1


Dukung karya ini dengan cara kirim vote dan ketik komentar kalian guys❤️❤️❤️❤️


__ADS_2