Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
34


__ADS_3

Hansen terus kepikiran dengan ujaran Zia, siang tadi. Dia tau jika tindakannya ini telah mengecewakan wanita yang telah melahirkannya itu, tapi apakah salah jika Hansen ingin bersama dengan Vanya?


Mungkin jika melihat dari status mereka sekarang itu memang terdengar tabu, tapi mereka tak memiliki hubungan darah sama sekali. Hal itu pula yang membuat tekad didalam diri Hansen terus ingin berperang pada keadaan demi mempertahankan hubungannya dengan Vanya.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pintu membuat Hansen tersadar dari lamunannya. Dia bangkit dari posisinya yang sebelumnya sedang berbaring di tempat tidur, kemudian berjalan pelan demi membukakan pintu disana.


Hansen tertegun mendapati Vanya sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Gadis itu selalu nampak cantik dipandangan mata seorang Hansen Alvaro.


"Kak?!" Vanya mengibas-ngibaskan tangan didepan wajah Hansen yang tercenung.


"Eh? Ya?" Hansen tersadar, kemudian terlihat salah tingkah hanya karena terpesona pada Vanya.


Vanya terkikik. "Kakak kenapa? Kok kayak melamun gitu?" tanyanya.


"Gak kenapa-napa, cuma sedang mengangumi kamu dalam diam aja," gombalnya.


Vanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


"Ada apa, Van?" Hansen tak tau apa yang dibutuhkan Vanya sehingga gadis itu mengetuk pintu kamarnya di jam ini, padahal tadi mereka sudah menyelesaikan makan malam bersama dan sepertinya tak ada tanda-tanda bahwa Vanya ingin mengatakan sesuatu.


"Ehm, Kak. Aku ada PR bahasa Inggris lagi, nih." Vanya menggaruk pelipisnya sekilas. "Ajarin aku bisa, gak? Sekalian ada yang mau aku bicarain juga," sambungnya.


Hansen langsung mengangguki tanpa berpikir dua kali. "Mau belajar dimana? Disini atau di kamar kamu?" tanyanya.


"Ng ..." Vanya tampak bingung. "Di ruang tv aja gimana, Kak?" tawarnya.


"Kena--"


"Gak enak kalau nanti mama sampai tahu, ntar mama ngira kita sering main dikamar masing-masing, Kak," sela Vanya dengan suara berbisik.

__ADS_1


Meski Vanya belum tau mengenai Zia yang sudah mengetahui hubungannya dengan Hansen, tapi sedikit banyak Vanya sudah merasakan perbedaan sikap Zia padanya, ibu sambungnya itu terlihat lebih dingin padanya dan tidak sehangat biasanya. Hal itu pula yang memicu Vanya untuk menjaga sikap agar tidak membuat Zia semakin bersikap tak acuh padanya.


"Dikamar aku aja ya." Hansen berujar pelan.


"Tapi, Kak ..." Vanya mencoba menolak.


Sementara, Hansen sudah memikirkan kemungkinan lain yakni jika mereka terlihat dekat didepan sang Mama, justru itu akan membuat Zia semakin marah padanya, jadi bagi Hansen lebih baik Zia tidak melihat kedekatan mereka secara langsung dan dia menolak opsi dari Vanya untuk mengerjakan PR di ruang tv sebab itu akan membuat Zia bisa memperhatikan interaksinya dengan Vanya nanti.


"Bawa aja PR nya kesini." Hansen bersikukuh dengan keputusannya, meyakinkan Vanya dengan sorot matanya.


Hingga Vanya akhirnya mengangguk dan berlalu menuju kamarnya untuk mengambil buku tugasnya.


Beberapa menit kemudian gadis itu kembali ke kamar Hansen dan duduk di meja belajar pemuda itu.


"Yang mana yang kamu gak ngerti?" tanya Hansen melihat pada buku PR Vanya.


"Ini, aku masih bingung, Kak." Vanya menunjukkan bagian-bagian yang masih membingungkan baginya.


"Oh ini begini ..." Dengan telaten Hansen menjelaskan dengan terperinci mengenai PR yang Vanya maksud.


"Kenapa, sih?" Hansen tersenyum sambil mengacak rambut Vanya dengan gemas. Dia tau ada yang ingin Vanya bicarakan padanya diluar tugas sekolah, itu kan yang tadi sudah Vanya bilang?


"Kak ..." panggil Vanya pelan, kemudian gadis itu menunduk dalam-dalam.


"Iya, kenapa?" tanya Hansen lembut.


"Aku mau tanya sama kakak, seberapa yakin kakak sama hubungan kita?" ujar Vanya ragu-ragu.


Hansen tertegun dengan pertanyaan gadis itu. Kenapa tiba-tiba Vanya menanyakan hal semacam itu padanya?


"Aku yakin hubungan kita bakal berhasil, yang terpenting kita kuat melalui apapun ujiannya, Sayang." Hansen mengelus rambut Vanya lembut.

__ADS_1


Untuk kedua kalinya Vanya mendengar Hansen menyebutnya dengan panggilan 'sayang', jujur dia selalu merasa melambung tinggi setiap Hansen memanggilnya dengan seperti itu, cara dan nadanya terdengar sangat menenangkan, juga seolah menunjukkan kasih sayang Hansen yang begitu dalam.


Vanya menatap Hansen dengan mata berkaca-kaca, haruskah sekarang dia mengatakan pada pemuda itu bahwa dia mulai ragu? Ini memang ada kaitannya dengan ujaran Farel padanya, sedikit banyak Vanya menjadi kepikiran. Haruskah dia memang berbalik arah alias merelakan hubungan mereka hanya sampai disini sebelum semua terlanjur jauh?


"Kamu kenapa tanya begitu soal hubungan kita? Kamu mulai takut atau ragu kalau ini semua gak bakal berhasil?" tebak Hansen.


Vanya mengangguk. "Aku takut semakin kita memaksakan semuanya, justru kita berdua akan merasa lebih sakit, Kak," jawabnya tergugu.


"Jadi? Maksud kamu ... kamu mau nyerah?"


Vanya menggeleng. "Aku bingung, Kak. Disatu sisi aku tetap mau bertahan, tapi aku juga takut untuk terus melanjutkan. Aku belum siap untuk merasakan kecewa karena semuanya gak sesuai dengan keinginan kita."


Hansen memegang kedua pundak Vanya dan menatap kedalam netra gadis itu untuk meyakinkannya.


"Van, sejak awal kita jalin hubungan ini, aku udah bilang sama kamu bahwa ini gak akan mudah. Kamu juga yang bilang sama aku bahwa kita gak perlu liat status kita sekarang apa, lagipula kita saling sayang, itu artinya kita harus siap menerima konsekuensi dari pilihan kita yang udah memutuskan untuk berpacaran. Kamu ngerti, kan?"


Vanya mengangguk, sedikit banyak dia juga sadar bahwa semua ini terjalin juga atas kehendaknya, juga perasannya terhadap Hansen. Semuanya sudah terlanjur dimulai dan seharusnya dia sudah siap untuk menerima resiko atas pilihannya sendiri.


"Aku mau kita jalani dulu. Aku mau usaha dulu buat hubungan ini, Van. Yang terpenting kamu masih punya perasaan yang sama terhadap aku. Kamu sayang sama aku, kan?" tanya Hansen yang menatap kedua bola mata Vanya bergantian, menyelidik, seolah mau menggali kejujuran dari tatapan gadis itu.


Vanya mengangguk dengan raut sendu. "Aku sayang sama kakak," jawabnya dengan suara bergetar.


Hansen pun tersenyum tipis. "Kita lewati ini sama-sama, ya. Aku gak minta apapun dari kamu, aku cuma mau kamu sabar dan tetap bertahan apapun yang terjadi. Hmm?"


"Iya, Kak."


Hansen pun menangkup kedua pipi chubby Vanya kemudian mengelusnya pelan.


"Aku sayang banget sama kamu, Van. Aku gak akan ngelepasin kamu kecuali kamu yang memang udah gak mau punya hubungan lagi sama aku."


Hansen membawa Vanya kedalam pelukannya. Pemuda itu berharap ini dapat menenangkannya dalam kondisi dimana dia juga merasa kacau karena keadaan saat ini. Zia yang kecewa padanya, Vanya yang meragu pada hubungan mereka, juga terkait perekam videonya bersama Vanya di pasar malam. Hansen yakin jika ada seseorang yang sengaja melakukan itu. Tapi siapa? Dan untuk apa?

__ADS_1


...Bersambung ......


Maaf ya othor jarang updated tapi novel ini bakal tetap othor lanjutin kalo masih ada yang baca. Terima kasih. Tinggalkan jejak ya yang masih mengikuti kisah Hansen dan Vanya. 🙏


__ADS_2