
Jangan tanya perasaan Hansen saat ini, senyum yang tadinya terbit dikedua sudut bibirnya perlahan menyurut. Dia tidak tau kenapa Vanya mampu berucap semudah itu untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Van, jangan bercanda. Gak lucu. Aku gak sedang ulang tahun, jadi jangan dikerjain." Hansen malah tertawa sumbang demi menutupi rasa gundah dihatinya akibat ujaran Vanya sebelumnya.
Wajah Vanya tampak kaku sekali, dia tidak tersenyum karena guyonan yang Hansen lemparkan. Dia malah menjauh dari Hansen yang lagi-lagi hendak mendekat padanya.
"Udah ya, Kak. Aku cuma mau bilang itu."
Vanya berbalik badan, buru-buru hendak berlalu dari hadapan Hansen karena dia sudah tidak kuat untuk menahan airmatanya. Namun sayang, dengan sigap Hansen memegang pundak Vanya yang nyaris pergi dari sana.
"Kamu gak serius, kan? Bilang sama aku kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Kita sedang baik-baik aja dan gak ada masalah, jadi---"
"Aku cuma mau putus, dan itu bisa terjadi tanpa harus ada masalah diantara kita!" sela Vanya.
Hansen terperangah dengan ujaran gadis itu yang terdengar ketus. Gadisnya tidak pernah berkata seperti ini padanya, bahkan saat mereka belum menjalin hubungan dan Hansen masih sering bersikap menyebalkan didepan Vanya. Vanya selalu manis terhadapnya. Hansen bahkan tidak pernah berpikir jika Vanya mampu berlaku demikian beberapa detik lalu.
Vanya mengendikkan bahu, mencoba menepis tangan Hansen yang memegang pundaknya disana. Sementara Hansen masih tercenung memikirkan perubahan sikap Vanya yang tiba-tiba.
Vanya berderap, menaiki tangga saat Hansen justru mematung diposisinya karena keadaan yang mendadak berubah hanya dalam hitungan jam saja. Padahal sebelum dia berangkat bermain futsal tadi, Vanya menyempatkan untuk menyemangatinya.
Vanya memasuki kamarnya dan menjatuhkan diri ditempat tidur. Dia menangis sejadi-jadinya karena sudah berhasil mengakhiri hubungan dengan Hansen sesuai dengan permintaan Zia.
"Pasti Kak Hansen udah membenci aku sekarang karena aku gak bisa sabar dan menepati janji yang udah aku buat untuk tetap bertahan dalam hubungan ini," batin Vanya meratapi apa yang sudah dia lakukan dengan terpaksa.
"Maafin aku, Kak." Vanya merutuk dirinya sendiri. Dia terlalu menyayangi Hansen dan tidak mau pemuda itu menanggung kesalahan sendirian. Dia tau karakter Papanya, yang pasti akan melimpahkan semua kesalahan itu pada Hansen seorang, tanpa mau tau bahwa Vanya juga ikut andil dalam hubungan terlarang yang sempat mereka bina.
"Aku pikir mama benar, kak. Sebelum papa tau semuanya tentang kita, lebih baik kita berpisah."
Vanya bertekad untuk menghapus nama Hansen dalam hatinya. Dia berharap bisa melakukan itu, meski dia tak yakin itu akan mudah.
Sementara disisi lain, Hansen juga turut naik ke lantai atas, dia melewati pintu kamar Vanya yang tertutup untuk menuju kamarnya sendiri. Sampai didepan pintu kamarnya sendiri, Hansen justru tak jadi membuka pintu tersebut. Hansen malah berbalik arah dan berhenti didepan kamar Vanya. Dia pikir dia harus bicara lagi pada gadis itu dan menanyakan kenapa Vanya memutuskan hubungan mereka secara tiba-tiba.
__ADS_1
Hansen memiliki firasat jika ini ada kaitannya dengan Zia yang sudah mengetahui semuanya. Apa mungkin Zia menegur Vanya saat dia pergi tadi? Jadi, Hansen mau menanyakan pada Vanya terkait hal ini dan berusaha meyakinkannya lagi mengenai hubungan mereka.
Hansen merasa benar-benar tidak bisa tanpa Vanya. Perasaannya sudah terlanjur besar pada gadis itu. Dia bukan hanya menyukai Vanya setelah mereka resmi berpacaran, tapi jauh sebelum hubungan itu terjalin pun Hansen sudah sangat mencintai Vanya.
"Van ..." Hansen mengetuk pintu kamar Vanya tanpa keraguan, dia berharap Vanya berubah pikiran. "Vanya, buka pintunya, kakak mau bicara, Van!" panggilnya lagi.
Tidak mendapat sahutan, Hansen yakin Vanya sedang tidak baik-baik saja didalam sana. Mungkin gadis itu tengah menangis sekarang. Hal itu membuatnya tak gentar dan terus menerus mengetuk pintu kamar Vanya.
"Van, kakak mohon buka pintunya. Kita harus bicara. Aku khawatir sama kamu. Kamu gak kenapa-napa, kan?" tanyanya sambil tetap mengetuk pintu.
Rupanya suara gedoran pintu yang dilakukan Hansen itu mengundang Zia untuk ikut menyusul naik ke lantai atas. Dia melihat Hansen didepan kamar Vanya tanpa dibukakan pintunya oleh sang pemilik kamar.
Sebenarnya Zia juga tak tega melihat putranya menjadi seperti ini. Dia tau keputusannya meminta Vanya memutuskan hubungan mereka terdengar kejam. Tapi ini semua juga demi Hansen. Andai gadis yang Hansen pacari bukanlah Vanya yang notabenenya adalah adiknya sendiri, mungkin Zia tak akan menghalang-halanginya.
"Hans?" Karena tak tahan lagi melihat Hansen seperti itu, akhirnya Zia memanggil sang putra.
Disanalah Hansen sadar jika sang Mama kini berada tak jauh darinya. Dia lekas menarik diri dari depan kamar Vanya, kemudian menghampiri Zia disana.
"Jawab, Ma! Bukan mama yang minta Vanya buat mutusin aku, kan?"
Zia diam tak menjawab, yang justru membuat Hansen yakin bahwa keputusan Vanya tadi adalah benar karena pengaruh dari wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ma, jangan tega begini sama Hansen, Ma." Hansen menatap Zia dengan tatapan mengiba.
"Hans ... jangan membuat Mama bingung. Ini adalah yang terbaik untuk kalian," tegas Zia. Dia membuang muka karena tak tega menatap putranya yang seperti orang frustrasi sekarang.
"Ma, aku bakal lakuin apapun yang Mama mau, tapi jangan paksa aku berpisah sama Vanya."
"Kalian masih muda. Masih bisa mencari ganti yang lain." Zia berujar dengan suara bergetar, dia juga tak tega membuat Hansen hancur seperti ini.
"Gak semudah itu, Ma. Aku gak bisa. Aku cuma mau Vanya." Hansen memohon dengan wajah yang tampak memelas.
__ADS_1
"Udah, Hans. Apapun yang kamu lakukan, kenyataan kalau Vanya adalah adik kamu ... gak akan bisa kamu bantah, dan hubungan kalian selamanya tidak mungkin dilanjutkan!" tegas Zia lagi.
Hansen terdiam, ujaran mamanya seakan mampu menampar sekaligus membungkam mulutnya. Dia sadar, tidak ada gunanya dia memohon pada wanita itu.
"Baik, kalau mama memang gak sepakat sama aku. Bagi aku, hubungan aku dan Vanya gak salah sama sekali. Kita bukan kakak dan adik kandung. Suatu saat, aku bakal bawa Vanya menjadi milik aku, Ma!" tekad Hansen membuat Zia terperanjat karena baru sekali ini Hansen berujar keras didepannya.
Hansen berderap ke kamar yang dia tempati dirumah itu, mengeluarkan baju-bajunya dan menyusunnya asal disebuah tas miliknya.
"Hans? Kamu mau kemana?" tanya Zia yang mendapati putranya hendak pergi membawa tas besar.
"Mama mau aku pisah sama Vanya, kan? Ya udah, sekarang kita udah pisah. Aku gak bisa tinggal disini lagi, Ma. Karena melihat gadis yang aku cintai udah menjauh dari aku, itu akan membuat aku semakin hancur!"
"Hansen, jangan begini, Nak." Wajah Zia tampak sangat terluka karena keputusan sepihak yang Hansen buat.
"Aku pergi, Ma."
"Hansen, jangan pergi Hansen, maksud Mama gak seperti ini ..." panggil Zia dengan tangis yang sudah meluruh.
"Maaf ma. Aku harus pergi."
Hansen keluar dari kediaman Chandra yang dia tempati selama beberapa bulan ini. Dia menyalakan motornya, sebelum benar-benar pergi, pemuda itu melihat ke arah balkon kamar Vanya. Hansen dapat melihat bayangan Vanya yang menyibak gorden jendela disana. Dia tau jika diam-diam gadis itu melihat kepergiannya.
"Aku pasti bakal kembali buat jemput kamu, Van," gumam Hansen menguatkan dirinya sendiri.
Hansen tau jika sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk dia memberontak akan keadaan. Pasti akan ada hari dimana dia diberi kesempatan untuk memiliki power dan dapat menjemput cintanya.
Sementara di kamarnya, Vanya buru-buru menutup gorden jendela karena menyadari jika Hansen menatapnya dari bawah sana. Dia menangis lagi tanpa bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya Vanya berlari mengejar dan mencegah kepergian Hansen yang hendak meninggalkan rumah mereka. Tapi dia juga sadar bahwa itu tak ada gunanya sebab Zia pasti akan tetap memisahkan mereka.
"Maafin aku, Kak. Maafin aku." Vanya membiarkan airmatanya jatuh membasahi pipi dan mengering dengan sendirinya. Dia tidak tau apa hal yang akan membangkitkan semangatnya lagi nantinya. Apalagi setelah Hansen pergi, Vanya tak yakin bagaimana dia bisa menghadapi pemuda itu jika nantinya mereka bertemu kembali di keesokan hari.
...Bersambung ......
__ADS_1