Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
20


__ADS_3

Vanya kembali ke camp dengan buket bunga yang benar-benar dirangkaikan Hansen untuknya. Ia senang sekali dan wajah bahagianya tak bisa ditutupi.


Melihat itu, tentu saja Dira semakin curiga, apalagi ia tau jelas jika Vanya baru saja pergi bersama Hansen tadi. Ia melihat buket bunga yang dibawa Vanya. Karena rasa ingin tau Dira sangat besar, membuat bibirnya sulit untuk menyimpan hal yang ingin diketahuinya.


"Buket bunga kamu bagus, Van. Buat sendiri atau gimana?" celetuk Dira yang terdengar kepo di indera pendengaran Vanya.


Vanya mengulas senyum kikuk. "Uhm, aku buat sendiri, kak," bohongnya.


"Oh ya? Mau dong aku di rangkai kan bunga juga biar jadi buket."


"Hah? Iya, nanti ya ..." Vanya langsung masuk ke dalam tenda karena udara di sekitar semakin dingin.


Senja akan segera tiba, dan saat matahari akan terbenam mereka semua kembali keluar dari camp masing-masing untuk menyaksikan pemandangan itu.


Dengan tenangnya, Hansen merangkul bahu Vanya dan hal itu tak luput dari pandangan semua orang disana. Bagi mereka perlakuan Hansen itu hanyalah karena bentuk rasa sayangnya pada sang Adik, tapi tidak bagi Dira. Ia jelas semakin curiga dengan hal ini dan membuatnya tidak menyukai Vanya.


"Kalau mereka beneran pacaran, itu sih kelewatan ya. Gimanapun kedua orangtua mereka itu percaya bahwa hubungan mereka sebatas kakak adik," batin Dira yang menatap keduanya dengan sinis dari posisinya.


Fero dengan sigap mengambil gambar dengan kamera yang ia bawa untuk mengabadikan momen dimana matahari terbenam.


"Fer, tolong fotoin kita dong!" kata Hansen.


"Oke," jawab Fero sembari mengacungkan jempolnya. "Siap ya?" ujarnya kemudian.


Hansen dan Vanya langsung berpose dengan berlatarkan pemandangan sunset dibelakang mereka. Fotonya tampak sangat bagus di kamera milik Fero. Tampak sangat alami juga wajah kedua orang itu yang fotogenik menambah nilai plus untuk hasil fotonya.


"Ganti gaya, Bro!" kata Fero yang senang dengan model fotonya kali ini.


Hansen dan Vanya berpose yang lain, kali ini, Hansen berdiri dibelakang Vanya yang ada didepannya. Tangan Hansen memegang kedua pipi Vanya dari belakang dan tiba-tiba Vanya mengadah pada Hansen, disaat yang sama Fero pun menjepret momen itu hingga fotonya tampak candid dan alami.


"Wah bagus nih," celoteh Fero.


"Gue fotoin juga dong!" Metha tak mau kalah. Ia mau berpose juga sebelum matahari benar-benar tenggelam.


Pertama Metha berpose sendirian, tapi karena godaan Fero akhirnya ia bersedia berfoto bersama Bima.


"Serasi nih, kalian," goda Fero yang senang sekali menggoda kedua sejoli itu.


Fero melihat pada Dira yang lagi-lagi hanya diam. Dalam hati, Fero menyangka Dira ini memang orang yang introvert dan tidak begitu pandai bersosialisasi. Fero akhirnya memanggil Dira untuk mengajaknya berpose bersama dengan latar belakang sunset tersebut.


Syukurnya dalam ajakan pertama Dira langsung mau. Fero meminta pada Hansen untuk mengambil fotonya dan Dira dengan kamera yang tadi ia gunakan untuk memotret mereka semua.


Ckrek ...


Jika sebelumnya Dira menyetujui berswafoto dengan Fero menggunakan ponsel, kali ini foto mereka juga ada di kamera milik Fero.


"Bagus gak?" tanya Fero pada Hansen.


"Oke juga," jawab Hansen tenang seperti biasanya.


"Gue mau foto bareng Hansen, dong!" celetuk Dira tiba-tiba.

__ADS_1


Hansen dan Fero saling menatap. Tak lama, Hansen juga melempar pandang pada Vanya. Vanya jelas saja tak senang dengan hal ini tapi ia tak mungkin terang-terangan tak mengizinkan hal itu, lagipula Vanya tak mau Dira kembali berpikir yang bukan-bukan mengenainya dan Hansen.


Dengan anggukan samar, Vanya merespon tatapan Hansen yang diartikan pemuda itu sebagai isyarat bahwa Vanya mengizinkannya berfoto bersama Dira.


Hansen tampak kaku disamping Dira, tapi Dira menyunggingkan senyum cerianya ke arah kamera.


...***...


Malam menjelang, para pemuda sudah membuat api unggun didepan tenda kemah mereka. Suasana itu membuat keadaan jauh lebih terang.


Suara jangkrik dan lolongan anjing hutan pun mulai terdengar. Meski begitu, mereka yang berkemah tetap merasa antusias dan bersemangat akan pengalaman yang jarang terjadi ini.


"Kayaknya aku mau buang air kecil deh, Van," cicit Dira yang mengadu pada Vanya disisinya. Saat ini mereka duduk berhadapan didepan api unggun dan menunggu makan malam mereka siap dimasak. Yang memasak memang bukan para gadis, melainkan Mas Seto dan Haris yang terbiasa dengan dunia alam seperti ini.


"Kakak buang air disana aja," tunjuk Vanya ke arah yang tidak terlihat oleh orang lain. Disana ada semacam toilet darurat untuk para pendaki.


"Kamu temenin aku, yuk. Aku gak begitu dekat sama Metha dan gak mungkin juga aku minta temenin sama Hansen kan," kata Dira kemudian.


Vanya tampak berpikir sejenak, meski ia tidak begitu menyukai sikap Dira dan kadang kesal sendiri karena mengetahui jika Dira menyukai Hansen, tapi tak mungkin juga ia membiarkan gadis itu buang air sendirian.


"Ya udah, Ayo!"


Dira dan Vanya bangkit, tak lupa membawa senter ditangan masing-masing.


Hansen yang melihat itu sontak bertanya kemana tujuan mereka.


"Mau kemana?"


"Aku ikut," kata Hansen yang hendak bangkit berdiri.


"Apaan sih kak, masa mau ikut kita ke kamar kecil," tolak Vanya sambil terkekeh pelan.


"Yah aku takut kamu kenapa-napa. Ini di gunung lho!"


"Hmm, ya udah. Kakak nunggunya agak jaga jarak aja ya."


"Oke," jawab Hansen.


Dira tak banyak omong, dia berjalan lebih dulu didepan Vanya dan Hansen yang tampak berjalan bersisian.


Sesampainya dibatas yang Vanya tentukan, Hansen berhenti dan menunggu disana, sementara Vanya terus mengikuti Dira yang menuju letak bilik darurat tersebut.


"Aku disini aja ya, Kak."


"Oh, oke."


Vanya melirik ke semua arah menggunakan senter di tangannya. Sepertinya tempat ia berdiri sekarang sudah aman dan tidak ada bahaya seperti orang asing ataupun binatang.


"Van! Vanya!!!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Dira yang berasal dari bilik darurat.

__ADS_1


"Eh? Kenapa?" gumam Vanya pada dirinya sendiri.


"Van, tolongin aku!" Terdengar lagi suara pekikan Dira.


Vanya buru-buru menuju tempat dimana Dira berada.


"Kenapa, Kak?"


"Ada ular, Van!" kata Dira panik.


"Hah? Dimana?"


"Disana, itu ..."


Vanya melihat ke arah telunjuk Dira dan benar saja jika disana ada ular tapi itu sedikit tertutupi oleh batu-batuan yang ada disana.


"Kalo kakak udah selesai kita cepat pergi dari sini," ajak Vanya.


"Belum juga apa-apa, aku kebelet banget sih ini," kata Dira.


"Ya udah kita cari tempat lain aja," usul Vanya.


"Dimana?" tanya Dira.


"Itu, ada bilik lain. Dibelakang sana, gak jauh, kok!" Vanya tau tempat itu karena saat tadi sore dia berjalan-jalan bersama Hansen, ia sempat melihatnya.


"Ya udah deh."


"Aku bilang sama kak Hansen dulu ya," kata Vanya ingin melaporkan kepergiannya pada pemuda itu, tapi Dira mencegahnya.


"Ih, kelamaan! Aku udah kebelet banget!" Dira segera menarik tangan Vanya saat itu juga dan meninggalkan bilik darurat yang tadinya ingin dipakai.


Hansen sendiri merasa kepergian Dira dan Vanya sudah cukup lama. Ia bahkan sudah beberapa kali memukul nyamuk yang menggigiti kaki dan tangannya. Tapi kedua gadis itu belum juga kembali.


Saat Hansen berpikir ada yang tidak beres, disaat itulah ia melihat seseorang dari arah berlawanan tampak berlari ke arahnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


Itu adalah Dira, tapi dimana Vanya? Kenapa Dira hanya kembali sendirian?


"Dira? Vanya mana?"


"Hans ... Vanya ... Vanya itu ..." Dira tampak ngos-ngosan.


"Mana Vanya?" tanya Hansen tak sabaran


"Disana ..." lirih Dira, wajahnya tampak ingin menangis sekarang.


"MANA VANYA???!!" seru Hansen yang membuat Dira semakin ketakutan.


"Van--vanya jatuh, Hans. Ke jurang!"


"Apa???

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2