Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
25


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, Vanya menuju parkiran untuk bersiap pulang bersama Hansen, tetapi Farel malah menyapanya dan mengajaknya pulang bersama.


"Van, pulang bareng yuk!"


Vanya langsung menggeleng dan mengatakan bahwa dia akan pulang bersama dengan Hansen.


"Ada apa ini?" Hansen tiba disana dan melihat jika Vanya sedang sedikit berdebat dengan Farel yang bersikukuh mengajaknya pulang bersama.


"Begini, Kak, aku mau minta izin biar Vanya pulang bareng aku ya, Kak." Farel angkat suara.


Mendengar itu, tentu saja Hansen tidak senang, tapi dia berusaha bersikap sebiasa mungkin. Padahal, sejak pagi tadi dia sudah kesal dengan cowok bernama Farel ini.


"Vanya kamu mau pulang bareng dia?" Hansen malah melempar pertanyaan pada gadis itu.


"Enggak, Kak. Aku mau pulang bareng kakak," jawab Vanya mantap.


Hansen menatap Farel lagi. "Lo denger kan, dia gak mau pulang bareng sama lo," tukasnya santai.


Farel tak bisa menjawab apa-apa, sampai akhirnya Hansen kembali berkata-kata.


"Gue ingetin sama lo, kalo adek gue gak mau, jangan pernah paksa dia biar mau."


Hansen berkata sembari memakai helmnya, kemudian menyerahkan helm satunya lagi pada Vanya.


"Sorry, ya, Rel. Gue balik duluan," kata Vanya dengan wajah yang dibuat sungkan karena selalu menolak tawaran Farel. Cowok itu hanya bisa berdehem sambil tersenyum. Dia pikir, Hansen ada benarnya tidak seharusnya dia memaksa Vanya yang sudah menjawab tak mau.


Hansen dan Vanya keluar dari area sekolah sambil berboncengan, tapi Hansen tidak bicara apa-apa meski perjalanan mereka sudah cukup jauh dari area sekolah.


"Kak, kakak marah sama aku ya?"


"Enggak. Kenapa aku harus marah?" Akhirnya Hansen bersuara.


"Ya, karena Farel ajakin aku pulang bareng," jawab Vanya hati-hati.


"Itukan dia yang ajakin kamu, bukan kamu yang mau. Aku gak marah, kok!"


"Terus kenapa diam? Biasanya banyak omong."


Hansen menepuk pelan punggung tangan Vanya yang melingkari pinggangnya.


"Aku cuma gak suka aja ada cowok yang deketin kamu, tapi itu memang hak mereka. Cuma, karena aku gak bisa mengakui secara terang-terangan kalo kamu milik aku, itu yang buat aku kesal sama diri aku sendiri."


Vanya menyandarkan kepalanya di punggung Hansen. "Sabar ya, Kak. Ini memang resiko dari hubungan kita. Aku juga gitu waktu Kak Dira terang-terangan bilang suka sama kakak. Rasanya aku mau marah tapi ya gimana?" ungkapnya.


"Tapi sekarang, kalau kamu mau marah sama Dira udah bisa kok, kan dia udah tau hubungan kita." Hansen menyarankan.


"Iya. Awas aja dia masih suka gangguin kakak."


Hansen terkekeh sekilas. Bicara soal Dira, Hansen jadi teringat lagi pada insiden di gunung waktu itu. Dia akan menanyakannya sekarang saja pada Vanya, pikirnya.


"Ehm, omong-omong soal Dira. Kejadian kamu jatuh di gunung waktu itu ada kaitannya sama dia, kan?" tebak Hansen.


Vanya sedikit terperanjat dengan praduga Hansen, dia bahkan mengangkat kepalanya yang tadi dia sandarkan di punggung pemuda itu. Vanya sebenarnya tak mau membahas hal ini lagi, dia menghindari topik ini karena dia tak mau mengadukan perihal sikap Dira pada Hansen.


"Van? Kamu denger kan?"


"E--eh, ya, kak. Aku denger kok."


"Jadi?"

__ADS_1


"Ehm, waktu itu aku jatuh sendiri, Kak. Kepleset."


"Serius, bukan gara-gara Dira?"


"Enggak, kok, Kak."


Vanya memang terjatuh sendiri karena tanah pijakannya yang licin. Dia juga sudah menceritakan hal ini pada Metha tempo hari, tapi saat Dira melihat Vanya jatuh waktu itu, Dira tidak langsung menolong, malah terkesan membiarkan. Entahlah apa yang ada dipikiran Dira. Tapi, Vanya tak mau mengadukan hal itu pada Hansen, ia tak mau hubungan pertemanan antara Hansen dan Dira semakin merenggang nantinya.


"Baguslah kalo gak ada kaitannya sama Dira. Cuma, aku mau kamu tetap hati-hati dan jaga jarak sama dia ya. Perasaan aku gak enak soalnya."


"Ya, Kak." Vanya menurut, dia memang tak mau dekat dengan Dira. Selain karena kejadian tempo hari juga karena sejak awal Vanya tau jika gadis itu menyukai Hansen.


"Eh, kita langsung pulang atau kemana dulu nih?"


"Pulang aja deh, Kak. Takutnya Mama nungguin kita."


"Oke."


Hansen melajukan motornya menuju rumah. Saat tiba dikediaman mereka pemuda itu mencekal lengan Vanya yang hendak berlalu begitu saja.


"Kenapa, Kak?" Vanya melerai tangan Hansen dari lengannya. Ia takut sang Mama melihat ini nanti.


"Nanti malam kita jalan-jalan, mau gak?"


"Kemana?" Vanya tersenyum simpul.


"Kemana aja. Kita berdua." Hansen menaik-naikkan kedua alisnya menggoda Vanya.


Vanya tertawa pelan, kemudian mengangguk.


"Oke, jam 7 ya."


Hansen tampak berpikir sejenak. Dia juga bingung, tapi mengingat gelagat sang Mama yang agak aneh pagi tadi dalam memperhatikannya dengan Vanya, terpaksa Hansen menyarankan untuk merahasiakan kepergian mereka dari kedua orangtua.


"Jadi kita harus bohong, Kak?" Vanya pun sebenarnya tak ingin melakukan hal ini.


Hansen mengendikkan bahu. "Mau gimana lagi, daripada Mama curiga."


"Ya udah deh."


Hansen mengacak rambut Vanya sekilas kemudian membiarkan gadis itu untuk masuk rumah lebih dulu.


"Eh, udah pulang anak gadis mama?" Zia menyambut Vanya didepan pintu masuk.


Vanya menyalami tangan sang Mama dengan takzim. "Iya, Ma..." jawabnya singkat.


"Kakakmu mana, Van?"


"Masih di garasi, Ma."


"Oh ya udah, ganti baju abis itu kita makan siang sama-sama ya "


"Oke. Ma." Vanya mengacungkan jempol kemudian berlalu menuju lantai atas.


Zia menunggu Hansen yang sudah nampak berjalan ke arahnya.


"Hai mamaku yang cantik," gombal Hansen.


Zia tersenyum melihat putra tampannya itu. "Buru gih, ganti baju abis itu makan siang bareng sama mama dan Vanya."

__ADS_1


"Oke, Ma."


Hansen hendak melangkah tapi dia kembali menoleh pada Zia.


"Mama udah istirahat tadi? Masih capek?"


"Udah enakan kok, Hans."


"Syukur deh. Mama jangan capek-capek ya. Aku gak mau mama capek-capek."


"Iya, Sayang." Zia menggamit lengan putra semata wayangnya itu. "Eh, Tante Dona udah pindah ke rumah lama kita lho," katanya memberitahu.


"Ya, baguslah, Ma. Jadi kan ada yang jaga dan nempatin rumah itu."


"Iya, Mama pikir juga gitu. Mudah-mudahan aja dia betah disana ya. Kapan-kapan kita main kesana ya. Mama juga udah lama gak ketemu Tante Dona."


Tante Dona adalah adik dari mendiang Ayah kandung Hansen yang kebetulan datang dari kota lain karena suaminya sekarang bekerja di kota ini. Zia meminta Dona untuk tinggal dirumah lama mereka dan tentu saja Dona tak menolaknya.


"Oke, Ma." Hansen pun berlarian menaiki tangga untuk menuju letak kamarnya.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Hansen, Vanya dan Zia makan siang bersama di meja makan.


"Hans, kamu jadi ambil kuliah di Singapore?"


"Eh?" Hansen menoleh pada sang Mama. Dia memang pernah mengatakan jika dia mau kuliah di Universitas tempat mendiang Ayahnya dulu berkuliah, di Singapore.


Mendengar itu, Vanya juga terkejut diposisinya. Hansen belum pernah bercerita mengenai hal ini pada dirinya.


"Kalau jadi, nanti mama minta Om Dika buat urus semua keperluannya," kata Zia merujuk pada adik iparnya sekarang, adik Chandra yang kebetulan bekerja di Negara Singa itu.


Hansen melirik pada Vanya sekilas, dia memang memiliki impian untuk kuliah jauh, tapi setelah sekarang bersama Vanya, Hansen tak kepikiran lagi mengenai hal itu.


Vanya hanya menundukkan kepala, dia tak menatap pada Hansen karena dia larut pada pemikirannya sendiri mengenai hal ini.


"Aku belum kepikiran lagi sih, Ma." Hansen menjawab ambigu. Jujur, dia bimbang karena memikirkan harus jauh dari Vanya jika dia benar-benar akan kuliah di luar negeri.


"Lho, kenapa? Bukannya kamu semangat banget ya, dulu katanya mau kuliah disana."


"Aku pikir-pikir lagi deh, Ma. Lagian kan, masih ada 6 bulan lagi buat nyelesain kelas 12 ini."


Zia manggut-manggut. "Iya deh, kamu pikirkan baik-baik. Karena kalau udah daftar ntar gak mungkin dibatalin kan."


Hansen mengangguk sambil terus menikmati makan siangnya. Sesekali dia melirik Vanya tapi gadis itu tampak tidak bereaksi.


"Van?" Hansen memanggil Vanya dan Zia tentu mendengarnya.


Gadis itu mengangkat pandangan perlahan-lahan. "Ya, kak?" jawabnya pelan sekali.


Hansen melihat mata Vanya yang sendu. Ia tau Vanya pasti memikirkan soal keinginannya yang mau kuliah diluar negeri.


"Kamu mau kuliah dimana nanti?" Hansen tak mungkin terang-terangan menanyakan perasaan Vanya mengenai semua ini. Nanti malam Hansen akan bicara dengan gadis itu terkait hal ini.


"Aku mau coba di sini aja deh, Kak."


"Iya, disini juga universitas nya bagus-bagus kok, Van." Zia menimpali.


"Tapi kalau aku kuliah di Singapore, gak masalah kan kalau Vanya juga ikut -kuliah disana nanti, Ma?" tanya Hansen pada Zia yang juga mengejutkan Vanya.


"Ya gak apa-apa, tapi kita juga harus tanya pendapat papa kalian kan." Zia menjawab gamang. Satu sisi hatinya memberi izin tapi disisi yang lain dia masih kepikiran soal pesan yang diterimanya pagi tadi, mengenai hubungan Hansen dan Vanya yang semestinya menjaga jarak.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2