Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
23


__ADS_3

Akhirnya, liburan yang mereka habiskan di gunung telah usai dan mereka semua harus meninggalkan villa lalu kembali ke kediaman masing-masing.


"Dir, gue boleh minta nomor wa lo, gak?" celetuk Fero pada Dira dalam perjalanan pulang. Saat ini mereka semua sudah didalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Cipto.


Dira yang sejak tadi melamun akhirnya menoleh pada Fero yang duduk disampingnya. Ya, keduanya menempati kabin tengah karena Hansen dan Vanya memilih duduk bersama di jok paling belakang mobil.


Dira menyodorkan tangannya pada Fero dengan tujuan agar Fero menyerahkan ponsel pemuda itu, lalu Dira akan mengetik nomornya disana. Dira malas banyak bicara, bahkan menjawab perkataan Fero saja dia enggan, karena merasa badmood sejak Hansen menyalahkannya terkait insiden yang menimpa Vanya.


"Makasih ya," jawab Fero semringah setelah Dira benar-benar memberinya nomor gadis itu.


Dira hanya bergumam pelan, kemudian melanjutkan sesi melamunnya sembari menatapi jalanan yang dilalui mobil mereka.


Sementara itu, Hansen dan Vanya saling berbicara sambil berbisik-bisik diposisi belakang.


"Kak Dira udah tau ya soal hubungan kita?" tanya Vanya pada Hansen.


"Iya."


"Apa aku bilang, dia udah curiga."


"Makanya sekalian aja aku kasih tau dia yang sebenarnya."


Vanya menatap Hansen tak percaya. "Jadi, kakak kasih tau dia semuanya?" tanyanya dengan raut kaget.


"Iya, dan itu berhasil buat dia bungkam seketika."


"Kalau dia ngaduin hal ini sama Mama, gimana?"


"Dia gak bakal berani."


Vanya mencubit lengan Hansen. "Kakak nekat banget, sih!" sungutnya.


"Biarin, aku gak suka dia ganggu kamu."


Hansen mengelus tangan Vanya yang mengalami goresan karena insiden jatuh kemarin.


"Masih sakit?"


"Masih agak perih sih, dikit."


"Ya udah, nanti di rumah aku obatin lagi ya."


Vanya mengangguk, kemudian memutuskan tidur dengan menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu.


Perjalanan yang memakan waktu nyaris 3 jam itu akhirnya mengantarkan mereka sampai ke pusat kota kembali.


"Non Dira mau diantar kemana, Non?" tanya Pak Cipto pada Dira setelah sebelumnya sudah mengantarkan Fero dan Metha ke rumah masing-masing.

__ADS_1


"Aku ke Jalan Gaharu aja ya, Pak." Dira menyahut.


"Oke, Non. Bapak pikir mau pulang ke rumah Pak Chandra dulu," ujar Pak Cipto merujuk ke rumah orangtua Hansen dan Vanya.


"Enggak deh, Pak. Aku mau cepat pulang, gerah soalnya."


Entah kenapa ucapan Dira itu seperti sengaja menyindir Vanya dan Hansen disana. Kedua sejoli itu saling pandang sambil mengulumm senyum saat mendengarnya.


"Bagus deh," batin Vanya yang senang karena Dira tau diri untuk segera pulang dan tak berniat mampir dulu ke rumah mereka.


Sedang Pak Cipto tak berpikir aneh saat Dira mengatakan hal itu, dia pikir Dira memang sudah sangat lelah karena menempuh perjalanan jauh.


Mobil itu akhirnya mengantarkan Dira ke kediaman kakaknya yang menjadi tempat tinggalnya sekarang.


"Makasih, ya, Pak." Dira mengucapkan terima kasih pada Pak Cipto yang membantunya menurunkan barang-barang, sementara Hansen dan Vanya tak turun sama sekali untuk mengantar Dira pulang. Lagipula, mereka juga sudah sangat lelah.


Dira juga tak pamit dan berkata apapun lagi pada Hansen maupun Vanya, dia seolah bungkam dan menunjukkan sikap kontra nya terhadap hubungan mereka.


...***...


"Wah, akhirnya kalian pulang juga. Gimana liburannya?" tanya Zia begitu kedua anaknya pulang.


"Seru dong, Ma!" jawab Vanya.


Zia langsung memeluk gadis itu, lalu melihat jika tangan Vanya mengalami lecet-lecet yang cukup menarik perhatian.


"Eh, ini ..." Vanya tampak menyengir. "Biasa lah, Ma, namanya juga baru pertama kali mendaki gunung," jawabnya.


"Yah, tapi masa sampe lecet begini. Udah diobatin belum?"


Vanya mengangguk. "Udah kok, Ma."


Zia langsung menoleh pada Hansen yang tampak sedang menurunkan barang-barang camp nya dari bagasi mobil.


"Hans, kamu gak jagain adikmu, ya? Kok Vanya sampe luka begini?"


"Maaf ya, Ma. Ini memang salah Hansen," jawab pemuda itu tak mengelak.


"Bukan, Ma. Ini kesalahan Vanya sendiri yang gak hati-hati," sela Vanya yang tak mau kakak kesayangannya jadi turut disalahkan.


"Enggak, dong, Van. Kamu itu tanggung jawab Hansen. Kalau kamu sampai luka begini pasti karena Hansen lalai jaga kamu."


"Iya, Ma. Aku salah. Aku udah minta maaf sama Vanya kok, Ma." Hansen menatap sang Mama dengan tampang penuh penyesalan. Meski Zia menyalahkannya, tapi ia senang karena sang Mama sangat peduli pada Vanya yang notabenenya bukanlah anak kandung Zia.


"Ya udah, lain kali liburannya jangan yang ekstrim-ekstrim. Pilih jalan-jalan ke pantai aja, atau ke Mal," kata Zia sambil terkekeh.


Hansen dan Vanya hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Ya udah, ayo masuk! Kalian pasti udah lapar, kan? Mama udah masakin makanan kesukaan kalian tuh."


"Asyik!" seru Vanya dan Hansen bersamaan.


Hansen mengambil alih ransel yang Vanya pakai, ia mau membawakannya. Meski Vanya menolak, tapi pemuda itu tetap bersikeras melakukannya.


"Aku mandi dulu ya, Ma." Hansen pamit untuk naik ke kamarnya lebih dulu, sementara Vanya tampak mengikuti Zia ke arah ruang makan.


"Papa belum pulang ya, Ma?"


"Belum. Kamu gak mau mandi dulu, Van?"


"Iya, Ma. Tapi, aku mau nanya sesuatu dulu sama Mama."


Zia langsung menatap anak sambungnya dengan sorot penasaran. "Kamu mau ngomongin apa sama Mama, Sayang?" tanyanya lembut.


Zia melirik ke arah lantai atas, sepertinya Vanya memang mau bicara berdua dengannya tanpa didengar oleh Hansen.


"Ma, mama kan udah jadi mamanya aku. Kalau seandainya ada yang ngasih tau ke mama mengenai hal yang enggak-enggak tentang aku, mama percaya sama orang itu atau lebih percaya sama aku?"


Zia tampak tersenyum atas ujaran Vanya.


"Ya mama pasti percaya sama kamu dong, Van. Memangnya siapa yang mau ngomong hal enggak-enggak tentang kamu?"


"Ya siapa tau suatu saat mama dihadapkan dengan hal seperti itu."


Zia mengelus rambut Vanya. "Mama percaya sama kamu, Sayang. Mama tau kamu anak yang baik," tuturnya.


"Kalau Kak Hansen, Ma?"


"Kenapa dengan Hansen?"


"Apa mama juga bakal percaya sama Kak Hansen?"


"Tentu aja, Sayang."


Vanya bernafas lega mendengar ujaran Zia, meski begitu ia belum sepenuhnya percaya begitu saja. Sedikit banyak, Vanya was-was jika saja nanti Dira akan mengadukan perihal hubungan mereka kepada Zia dan Zia akan langsung mempercayainya. Meskipun itu bukan kebohongan, tapi Vanya berharap Zia mau menanyakannya dulu kepada ia dan Hansen sebelum menyalahkan mereka begitu saja.


"Ma, jika nanti Kak Dira beneran ngadu ke Mama, aku harap Mama mau menanyakan secara baik-baik kepada aku dan Kak Hansen, dan nggak langsung men-judge bahwa hubungan kami ini salah," batin Vanya.


"Van? Kok melamun? Udah nanya-nanya nya? Kalau udah, buruan mandi, gih! Biar nanti kita makan bareng sama Hansen.


"I--iya, Ma." Vanya pun segera berlalu dan menuju lantai atas untuk mandi.


Sesampainya di lantai atas, Vanya melirik sekilas ke arah pintu kamar Hansen yang tertutup. Ia teringat jika Hansen amat menyalahkan diri karena ia sempat jatuh di gunung.


"Maafin aku ya, Kak. Gara-gara aku kakak jadi disalahkan. Bagian mana dari diri kakak yang bisa aku tolak? Kakak sangat baik dan sayang banget sama aku. Aku cuma bisa balas kakak dengan rasa yang sama, Kak." Begitulah pemikiran Vanya yang kemudian membuka pintu kamarnya sendiri.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2