
Zia terkejut saat pagi ini menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu mengatakan bahwa Zia harus mulai memperhatikan interaksi antara kedua anaknya, Hansen dan Vanya. Pesan yang mengingatkan Zia bahwa Hansen dan Vanya sebaiknya tidak tinggal bersama dan harus memiliki jarak.
Tentu saja Zia merasa aneh dengan pesan yang diterimanya itu. Saat dia mencoba menghubungi nomor tersebut untuk menanyakan maksud dari hal itu, tapi nomornya malah tidak dapat dihubungi.
Sekilas, Zia jadi mengingat perkataan Vanya kemarin yang tiba-tiba saja menanyakan soal kepercayaan Zia terhadap gadis itu. Ya, tentu Zia percaya pada Vanya. Tapi, pesan yang baru saja Zia terima tidak bisa dia abaikan begitu saja. Entah kenapa, dia jadi penasaran dengan arti dari pesan yang dikirimkan padanya itu.
Seperti pagi-pagi biasanya, keluarga mereka akan sarapan bersama di meja makan. Mau tak mau Zia akhirnya memperhatikan Hansen dan Vanya disana. Keduanya bersikap wajar dan tak ada yang patut dicurigai.
"Ma?"
Zia tampak melamun, larut dalam pemikirannya sendiri sehingga dia tidak menanggapi panggilan Chandra.
"Ma?" Sekali lagi Chandra memanggil istrinya, namun Zia tampak tersentak seperti orang yang kaget.
"Eh? Iya, Pa?"
"Mama kenapa melamun?"
"Ng--nggak kok," kata Zia.
"Mama mikirin apa sepagi ini?"
Zia menoleh pada Hansen yang tampak sedang mengunyah sarapannya, begitupun dengan Vanya.
"Gak apa-apa, kok, Pa."
"Yakin? Semuanya baik-baik aja, kan?"
Zia pikir dia belum mau mengatakan hal yang menjadi pikirannya ini pada sang suami.
"Gak apa-apa, Pa."
"Atau mama sakit?" Hansen ikut menimpali.
Sontak Zia kembali melihat putranya tersebut. "Gak, Sayang. Mama gak apa-apa kok. Mungkin cuma kecapekan aja kali," tuturnya.
"Istirahat dong, Ma," cicit Vanya. Gadis itu menyunggingkan seulas senyum yang menunjukkan lesung kecil diujung bibirnya.
"Iya, nanti kalau kalian semua udah berangkat Mama pasti istirahat," jawab Zia.
Zia memperhatikan kembali Hansen dan Vanya saat keduanya malah memilih berangkat ke sekolah bersama menggunakan motor yang dikemudikan oleh Hansen. Meski Zia sudah tau mengenai hal ini, tapi karena pesan yang diterimanya itu membuatnya jadi lebih intens memperhatikan interaksi kedua anaknya.
"Kenapa kamu gak diantar Pak Cipto aja naik mobil, Van?"
"Naik motor lebih cepat nyampek, Ma. Lagian kehindar dari macet," jawab Vanya.
Zia pikir alasan yang diberikan putri sambungnya itu memang masuk diakal.
"Kita pergi dulu ya, Ma." Hansen menyalami tangan Zia dengan takzim kemudian lanjut menyalami tangan Chandra yang juga hendak pergi ke kantornya.
Vanya melakukan yang sama, sampai kemudian kedua remaja itu pergi meninggalkan pekarangan rumah dengan berboncengan motor untuk menuju ke sekolah mereka.
"Mama kalau capek banyakin istirahat ya. Nanti minum vitaminnya juga," pesan Chandra yang juga akan berangkat bekerja setelah memastikan kedua putra-putrinya pergi sekolah.
"Iya, Pa."
Chandra mengecup kening istrinya. "Papa pergi ya. Mama jangan banyak pikiran," katanya lembut.
__ADS_1
Zia mengangguk lalu melambaikan tangan pada mobil sang suami yang perlahan menjauh.
"Bi Inah ..." Zia memutuskan memanggil salah seorang asisten rumah tangga mereka.
Wanita baya yang dipanggil Zia langsung menghadap sang majikan begitu mendengar namanya disebut.
"Iya, Buk?"
"Bi, sini deh. Saya mau nanya sesuatu ke Bibi." Zia meminta Bi Inah mendekat dan duduk di sampingnya, tapi ART itu urung melakukannya karena sungkan.
"Iya, Buk. Saya dengarkan disini saja."
"Bi, saya mau tanya soal Hansen dan Vanya sama Bibi."
"Oh, iya, kenapa dengan Den Hansen dan Non Vanya, Buk?"
"Apa selama saya dan Bapak pergi mereka ada bertengkar?"
Bi Inah menggeleng. "Mereka sangat akur, Bu. Senang melihatnya," jelasnya.
Memang Zia mendapat laporan yang sama setiap dia menelepon ke rumah. Bi Inah menjawab hal yang serupa seperti ini.
"Mereka dekat?"
"Iya, Buk. Dekat sekali. Kadang Den Hansen bantuin Non Vanya buat PR. Kadang mereka nonton tv bersama, makan bersama, berangkat sekolah bersama."
Zia manggut-manggut. Dia merasa hubungan Hansen dan Vanya terbilang normal dan tidak patut dicurigai. Ah, memangnya apa yang harus dia curigai? Mereka berdua bersaudara dan itu wajar saja, kan? Begitulah pemikiran Zia yang selalu menanggapi apapun dengan positif. Dia tak mau mencurigai hal-hal yang justru akan menjadi tambahan pikirannya. Akhirnya, Zia merasa pesan yang diterimanya hanyalah dari orang iseng yang mungkin tidak senang dengan kebahagiaan keluarga kecil mereka.
"Ya udah, Bi. Saya cuma mau nanya itu aja," kata Zia pada Bi Inah.
...***...
"Biasa aja. Emang gitu ya?" respon Hansen.
"Iya. Aku takut Mama mulai curiga sama kita."
Hansen menyunggingkan senyum dibalik helmnya, dia memegang punggung tangan Vanya yang berada di perutnya.
"Kamu aja yang terlalu khawatir, Mama gak mungkin curigain kita," katanya berusaha menenangkan Vanya.
Sebenarnya Hansen juga melihat bagaimana tadi tatapan sang Mama yang begitu serius memperhatikannya dan Vanya tapi Hansen tak mau Vanya kepikiran mengenai hal ini.
"Apa perasaan aku aja ya, Kak?"
"Iya, kamu terbawa perasaan karena Dira udah tau soal kita. Kamu takut Dira mengadu sama Mama, jadi kamu merasa begitu," ujar Hansen.
Vanya mengangguk. Mungkin memang dia saja yang terlalu kepikiran soal hal ini. Lagipula, jika Dira benar-benar memberitahu mamanya, pasti sudah ada perang dunia ketiga. Jadi, untuk saat ini mereka masih aman, pikir Vanya.
"Kita udah masuk sekolah lagi di semester baru. Kamu yang rajin ya belajarnya."
"Kakak juga ya. Gak sampai setahun lagi bakal lulus dan ninggalin sekolah kita."
"Iya, tapi aku gak bakal ninggalin kamu," gombal Hansen.
Vanya terkekeh sekilas, sampai akhirnya dia melerai pelukan tangannya pada pinggang Hansen ketika mereka sudah hampir tiba di sekolah.
"Aku antarin ke kelas ya." Hansen berkata sembari membukakan helm milik Vanya.
__ADS_1
Vanya menggeleng. "Gak usah, Kak. Cukup Metha dan Kak Fero aja yang tau soal hubungan kita. Aku gak mau temen-temen yang lain jadi ikut curiga."
"Ya udah, deh!" Hansen tak bisa menyanggah perkataan Vanya karena itu memang benar adanya. Metha saja sudah mengetahui hal itu, jadi ada baiknya mereka tidak membuat lebih banyak orang lagi yang akan tau mengenai status berpacaran antara mereka berdua.
"Van!"
Sapaan itu membuat Vanya dan Hansen menoleh seketika. Rupanya itu Farel yang menghampiri mereka.
"Ke kelas bareng yuk, Van!" ajak Farel.
Mendengar itu, Hansen mendengkus pelan, dia membuang pandangan ke arah lain berusaha menahan rasa kesal dihatinya. Dugaannya tidak meleset, cowok bernama Farel ini menyukai Vanya. Hansen sangat yakin sekali.
"Kak ..." Farel juga menyapa Hansen disana, yang ia tau Hansen itu adalah Kakak Vanya dan ia hanya berusaha untuk sopan dan ramah.
Hansen tersenyum masam dan melangkah pergi meninggalkan Vanya dan Farel disana. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya, namun ia juga tak mungkin menunjukkan itu secara terang-terangan demi menjaga hubungan rahasianya dengan Vanya.
"Yuk, Van!" ajak Farel lagi.
Sementara Vanya, dia sebenarnya merasa serba salah. Ia tau Hansen pasti tidak senang dengan semua ini. Apalagi Vanya mengingat ketika Hansen pernah marah saat dia diantarkan pulang oleh Farel tempo hari.
Vanya berjalan bersisian dengan Farel tanpa banyak bicara. Sedangkan Hansen sudah berjalan cepat dan tidak terlihat lagi di lorong sekolah.
"Kemarin kamu liburan kemana, Van?" Farel memulai basa-basinya demi bisa mendekati Vanya.
"Eh?" Vanya tampak keki. "Gue ke Villa temen papa didekat pegunungan."
"Wah, seru juga ya."
Vanya hanya mengangguk singkat. Dia merasa tidak nyaman bersama Farel, karena dia tau Hansen pasti akan marah jika dia dekat dengan cowok ini.
"Van!"
Untungnya Vanya langsung mengenali suara itu. Itu adalah Metha.
"Eh, Tha. Ayo buruan!" Vanya melambaikan tangannya, mengajak Metha berjalan bersama menuju kelas. Setidaknya, jika ada Metha, Vanya takkan berjalan berdua saja bersama Farel.
Metha sampai didepan Vanya dan Farel dengan nafas terengah karena dia berlari dari depan gerbang.
"Syukur deh gue gak terlambat," kata Metha.
Selanjutnya, Vanya lebih banyak meladeni Metha ketimbang terlibat obrolan dengan Farel. Kelas mereka yang terletak diujung membuat mereka bertiga harus menyusuri koridor sekolah dengan cukup jauh.
"Van, kayaknya Farel naksir lo, deh!" kata Metha setelah mereka duduk di tempat duduk mereka yang ada dikelas.
"Tauk! Kak Hansen juga bilang gitu."
"Iya, keliatan banget malah," jawab Metha apa adanya.
"Ya biarin aja, itu kan hak dia."
"Gak mau pindah ke dia aja? Dia kan oke juga. Daripada lo sama kakak lo sendiri," ujar Metha apa adanya.
"Lo gak dukung gue sama Kak Hansen?" bisik Vanya yang tak suka dengan usulan Metha.
"Kan lo salah paham sama gue. Gue kan udah pernah bilang ke lo, gue gak mau lo sakit hati terlalu dalam kalo sampe hubungan lo sama Kak Hansen gak berhasil."
Vanya hanya diam tak menanggapi lagi ujaran Metha. Hati kecilnya mengatakan apa yang dikatakan Metha itu benar, tapi perasaannya yang lain tetap mau mempertahankan hubungannya bersama Hansen meski konsekuensinya juga akan sangat besar.
__ADS_1
...Bersambung ......