
Hansen melerai pelukannya pada tubuh Vanya, kemudian merangkum kedua pipi Vanya sembari menatap kedua bola mata Vanya bergantian.
"Van, kita sama-sama lagi ya. Kedepannya, biar jadi urusan kakak. Kamu gak perlu khawatirkan apapun, kakak bakal berani menghadapi semuanya, termasuk papa. Yang penting, kamu selalu disisi kakak dan dukung kakak."
Vanya sebenarnya amat terharu mendengar kalimat Hansen juga ketulusan yang terpancar di netra pemuda itu. Akan tetapi, dia selalu merasa kalah apabila mengingat tentang sang Papa yang akan menentang hubungan mereka berdua. Vanya tidak bisa membohongi hati kecilnya, meski dia mencintai Hansen sama besar seperti perasaan pemuda itu tapi dia juga memikirkan perasaan kecewa papanya apabila semua ini terungkap.
Dengan perlahan dan lembut, Vanya menurunkan kedua tangan Hansen yang masih menetap di pipinya. Dia tersenyum getir menatap pemuda itu.
"Kita gak bisa sama-sama lagi, Kak. Maaf ..." lirih Vanya.
Hansen sedikit tersentak mendengar penolakan Vanya tersebut, akan tetapi dia berusaha ikut tersenyum meski senyuman itu terlihat sangat kecut.
Hansen membalikkan badannya, membelakangi Vanya. Dia mengadah, menatap langit-langit kamar untuk menahan tangisnya yang akan luruh. Baru kali ini, baru kali ini dia harus menangisi seorang gadis yang ternyata benar-benar membuatnya patah hati sedemikian jadi.
Vanya yang berada dibelakang Hansen pun berusaha sekuat tenaga agar tidak menumpahkan airmatanya. Betapa merelakan dan melepaskan orang yang masih kita cintai itu begitu sakit. Harus meninggalkan saat perasaannya lagi sayang-sayangnya. Ini terlalu berat untuk Vanya. Belum lagi dia terus cemburu apabila Hansen dekat dengan gadis lain, tapi kenyataan memang tidak berpihak padanya. Mungkin ... tidak akan pernah.
"Aku ... balik ke kamarku, Kak."
Dan Hansen tidak menanggapi ujaran Vanya yang berlalu meninggalkan kamar baru yang kini Hansen tempati dikediaman besar tersebut. Sekarang Hansen tau bahwa ada dinding pemisah diantara mereka, juga jarak yang seakan Vanya ciptakan untuk keduanya.
Mulai hari ini, sepertinya Hansen harus benar-benar belajar merelakan. Karena penolakan itu terus terngiang di ingatannya. Penolakan yang Vanya lakukan, yang membuatnya patah hati. Apakah dia harus tetap berjuang? Atau benar-benar merelakan segalanya?
...****...
Ujian akhir sekolah akan dilaksanakan dalam beberapa bulan ke depan. Hansen yang mulai pulih pasca kecelakaan pun mulai ke sekolah seperti biasanya. Dia berusaha untuk fokus dengan hasil ujiannya. Tekadnya kini hanya mengikuti alur yang sudah disiapkan Tuhan untuknya. Dia tak lagi mau berusaha ataupun menentang. Mengenai perasaannya, cukuplah dia yang mengetahuinya.
Nyaris setiap hari, mata Hansen harus memanas saat melihat Vanya dan Farel yang semakin dekat. Bahkan terkadang, dia harus melihat pemuda itu mengantar Vanya pulang ke rumah orangtua mereka.
__ADS_1
Hansen hanya bisa melihat pemandangan itu dari kejauhan, sebab melarang tak bisa dia lakukan, begitupun dengan protes pada keadaan.
Jangan tanyakan soal hatinya. Tentu saja segumpal daging itu terasa diremass kuat-kuat.
Sementara Hansen sibuk memulihkan hati yang remuk dan patah bersamaan dengan target untuk lulus ujian akhir sekolah, Vanya juga sibuk dengan kegiatan barunya. Dia memang dekat dengan Farel, tapi mereka tidak memiliki hubungan apapun.
Vanya sudah menegaskan pada Farel bahwa dia hanya ingin berteman dengan pemuda itu dan ternyata farel menyambut baik niat itu. Farel mau berusaha gigih mendapatkan hati Vanya meski dia sendiri tidak yakin itu akan berhasil atau tidak sebab Vanya terlalu mengelu-elukan Hansen didepannya setiap mereka bersama.
Farel bukannya tidak tau bahwa Vanya dan Hansen memiliki hubungan 'lebih' selain kakak dan adik sambung, untuk itulah beberapa waktu lalu dia sempat meyakinkan Vanya bahwa hubungan itu tidak akan berhasil.
Vanya memang putus dengan Hansel, sesuai dengan saran yang Farel berikan, tapi Farel tau bahwa Vanya tidak bisa melupakan Hansen begitu saja, itu terbukti dari setiap bahasan yang Vanya utarakan kepadanya, selalu ada nama Hansen yang terselip diantara banyak ceritanya.
Akan tetapi, Farel bukan pemuda yang egois untuk mendapatkan Vanya, dia masih memiliki stok kesabaran yang luar biasa untuk bisa meluluhkan hati gadis tersebut.
Vanya dekat dengan Farel juga bukan untuk memberikan harapan palsu pada pemuda itu, dia hanya tidak mau pikirannya terfokus pada kandasnya hubungan asmaranya dengan Hansen. Selain itu, Vanya memang ingin Hansen melihat kedekatannya dengan Farel, agar kakak sambungnya itu cepat move on darinya. Dengan kata lain, Vanya berniat membantu Hansen untuk segera melupakannya, meski tanpa pernah Vanya tau jauh didalam hati Hansen bukannya bisa melupakan melainkan sakit yang dia rasakan.
...***...
"Ma, aku mau bicara sama mama."
Hansen mendekati Zia yang tengah membaca majalah di teras samping rumah.
"Ada apa, Hans?" tanya Zia sembari meletakkan majalahnya di meja kecil yang berada tepat disamping kirinya.
Kini Zia menatap Hansen lamat-lamat, dia tau ada hal serius yang ingin sang putra bicarakan. Dalam hati Zia berharap ini bukan pembahasan tentang Vanya lagi atau perasaan Hansen yang masih mencintai anak sambungnya itu.
"Hans udah setuju, Ma." Hansen berucap lirih sambil sesekali menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Setuju? setuju apa maksud kamu?" Zia menatap sepenuhnya pada pemuda itu.
"Kuliah ke luar negeri."
Zia sempat terkejut dengan ujaran putranya, namun lambat laun sebuah lengkungan senyum terbit dibibirnya.
"Serius?"
Hansen mengangguk. Dia sudah memikirkan ini semalaman, dan dia pikir tidak ada lagi hal yang bisa menahannya untuk tetap berada di Indonesia. Mengenai Vanya, sudah dia katakan bahwa perasannya hanya akan menjadi miliknya sendiri. Dia belum memiliki keputusan untuk benar-benar melupakan ataupun membiarkan perasaan itu agar tetap sama tanpa mengurangi kadarnya.
"Hans, mama senang banget sama keputusan kamu, Nak." Zia mendekati Hansen dan memeluknya.
Hansen tidak membalas pelukan Zia, dia hanya berdiri kaku dan larut dalam pikirannya sendiri setelah memberikan keputusan ini.
Tidak lama setelah memberitahukan keputusannya, Hansen pun berlalu dari hadapan Zia. Zia senang sekali dengan hal ini dan dia kembali membahasnya saat mereka tengah makan malam bersama.
"Pa, Hansen udah setuju lho kuliah di Singapore," celetuk Zia ditengah-tengah momen makan malam keluarga mereka.
Hal itu membuat Chandra semringah, tapi tidak dengan Vanya yang langsung pucat saat mendengar hal ini. Sementara pemuda yang sedang dibicarakan, tampak terus menyuap makanannya dengan tampang cuek. Dia memang tidak berkomunikasi lagi dengan Vanya sejak saat itu. Ya, sejak Vanya menolak untuk tetap bersamanya. Mungkin mereka sudah tak bicara satu sama lain sekitar 2 bulanan.
Dan mengenai keputusan Hansen ini, jelas membuat Vanya sangat terkejut, namun sebisa mungkin gadis itu berusaha menetralkan perasaannya dan jantungnya yang mendadak terasa mencelos.
"Ya bagus itu," jawab Chandra menanggapi, dia melirik Hansen sekilas. "... nanti papa bantu persiapkan semuanya, ya Hans!" sambungnya pada sang anak sambung.
Hansen mengadah pada sang ayah sambung. "Iya, Pa. Makasih ya," jawab ya ringan.
...Bersambung ......
__ADS_1
Hai, maaf lama merevisi ini, karena satu dan lain hal 🙏🏻. bab ini udah aku perbarui karena kemarin bab 49 terulang ke bab 50. Silahkan dibaca ulang gaes. Makasih. 💚💚💚