Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
13


__ADS_3

Sampai makan malam tiba, Hansen bersikap seperti mendiamkan Vanya. Vanya tak tahan lagi hingga akhirnya ia menyuarakan protesnya.


"Kak, aku salah apa sih sama kakak? Kenapa kakak diem kayak gini, sih!"


Hansen hanya melirik Vanya sekilas, tak menghiraukan ucapan gadis itu, ia pun melanjutkan makan malamnya.


Vanya kesal sekali melihat sikap Hansen, itu membuatnya kehilangan selera makan. Vanya meletakkan sendoknya dengan keras, kemudian beranjak dari kursi makan saat itu juga.


Vanya berlari menaiki anak-anak tangga dan menuju letak kamarnya. Sesampainya disana, ia menangis. Ia adalah gadis yang sangat perasa, ia tidak biasa diberikan sikap seperti ini. Apalagi sekarang Hansen adalah pasangannya. Ia merasa sedih dengan keacuhan Hansen padanya.


Beberapa menit menangis, Vanya mendengar ketukan pintu dikamarnya. Ia tau itu Hansen, terdengar dari suaranya yang memanggil nama Vanya.


Vanya membukakan pintu dan melihat Hansen memasang wajah terkejut saat melihat wajah sembab Vanya yang sepertinya habis menangis.


"Maaf kalo sikap aku berlebihan, aku cuma khawatir banget sama kamu tadi." Hansen mengusap-usap pipi Vanya dan gadis itu tidak menolaknya, ia juga merindukan perlakuan lembut sang kakak.


"Aku gak tau kamu bakal sesedih ini karena sikap aku," ujar Hansen lagi namun Vanya tetap memilih diam.


"Maafin aku ya." Hansen menangkup kedua pipi Vanya dan menatap lekat ke dalam bola matanya.


Vanya akhirnya mengangguk, disaat itulah Hansen memeluk Vanya dengan penuh kasih sayang.


Vanya mendongak pada Hansen disela-sela pelukan tersebut. "Apa yang buat kakak marah sama aku? Aku rasa aku gak melakukan kesalahan yang besar?" tanyanya menatap kedua mata Hansen bergantian.


Hansen menunduk untuk membalas tatapan Vanya. "Aku gak suka kamu dekat-dekat sama cowok bernama Farel itu. Bahkan dia yang nganterin kamu, kelihatan dia suka sama kamu," ujarnya terus terang. Sekarang Vanya malah tertawa mendengar kejujuran Hansen.


"Kenapa? Ada yang lucu ya?" Hansen melerai pelukan mereka.


"Bukan lucu tapi aneh aja kakak cemburuin aku."


"Gak salah dong, kamu pacar aku sekarang," kata Hansen membela diri.


"Iya, sih. Tapi aku sama Farel itu gak ada apa-apa. Tadi dia anterin yang lainnya juga, kebetulan posisi rumah aku yang paling jauh jadi aku diantar paling belakangan disaat semua temen-tenen udah pada dianterin duluan," jelas Vanya panjang-lebar.


"Ya, maaf. Namanya juga cemburu." Hansen mematut senyum.


"Nah, senyum gitu kan ganteng," celetuk Vanya.


Hansen malu atas pujian Vanya, ia terkekeh mendengarnya. Vanya yang mengetahui jika Hansen tengah malu, justru semakin menggoda pemuda itu.


"Kalau lagi cemburu juga ganteng sih, tapi aku gak kuat kalo di diemin terus," keluhnya kemudian.


Hansen mengacak rambut Vanya. "Beginilah kalau jalin hubungan sama aku, Van. Aku orangnya sangat-sangat posesif. Apa kamu yakin bisa tahan sama sikap aku itu? Bahkan tadi aja kamu sampai nangis karena aku."


Vanya mengangguk. "Aku akan berusaha supaya bisa memaklumi dan bertahan sama sikap kakak," katanya penuh tekad.


"Meskipun aku nyebelin?"


Vanya mengangguk. "Aku juga nyebelin kan?" ujarnya.


Hansen mengulumm senyum. "Ya udah, aku balik ke kamarku dulu ya. Gak enak disini terus, ntar Mbak Sari sama Bi Inah curiga dan mikir yang enggak-enggak," ujarnya.


"Tapi aku masih kangen, Kak." Vanya berucap manja didepan wajah Hansen.

__ADS_1


"Aku takut khilaf lagi, Van."


"Khilaf apaan?" tanya Vanya polos.


"Ya, khilaf ..." Hansen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku balik ke kamar aja ya," pamitnya.


Mau tak mau, Vanya akhirnya mengangguki permintaan Hansen.


Sampai dikamarnya, Hansen merasa lega karena akhirnya permasalahannya dengan Vanya tidak berlarut-larut. Sejauh ini mereka bisa mengatasi problem dengan dewasa. Meskipun tadi Hansen sangat merutuk diri saat menyadari jika dia sudah membuat Vanya menangis.


Hansen malah mengambil ponselnya dan mengirimi Vanya pesan.


[Kalau ada PR, kerjain sekarang sebelum kamu ngantuk.]


Pesan itu langsung dibalas oleh Vanya saat itu juga.


[Bantuin ngerjain PR lagi, mau gak?]


Hansen senyum-senyum sendiri membaca pesan Vanya.


[Mau banget ...]


Vanya terkekeh membaca pesan Hansen, padahal mereka berada di kamar yang letaknya bersebelahan, bisa-bisanya mereka saling mengirim pesan seperti ini.


[Sayangnya aku gak ada PR, kak.] Begitulah jawaban Vanya.


Hansen membalas pesan Vanya dengan emotikon mata berkaca-kaca.


[Kakak gak ngerjain PR?] Pesan Vanya selanjutnya.


[Tugas apa?]


[Menjaga kamu]


Sekali lagi Vanya tergelak membaca pesan dari kakak sambungnya yang sudah merangkap menjadi pacarnya itu. Vanya meletakkan ponselnya di atas nakas, tak berniat membalas pesan Hansen lagi. Ia sedang menikmati euforia kebahagiaan karena akhirnya berhasil menjadi pasangan pria sesempurna Johansen Alvaro.


[Kamu udah tidur, Van?]


Satu pesan masuk lagi ke ponsel Vanya.


Dengan tersenyum Vanya membalasnya.


[Belum kok kak. Cuma lagi ngebayangin wajah kakak aja.]


[Hm, udah pintar gombal kamu]


[Kan ketularan kakak]


Mereka saling membalas pesan sampai larut malam dan akhirnya keduanya jatuh tertidur.


...****...


"Kak, sini deh..."

__ADS_1


"Apa?" tanya Hansen pada Vanya saat mereka sedang sarapan di pagi hari sebelum berangkat sekolah seperti biasanya.


"Ini ..." tangan Vanya terulur, menyentuh ujung bibir Hansen lalu mengusapnya pelan. "Belepotan, Kak," katanya menunjukkan sisa selai cokelat yang tadi tersisa disana.


"Oh!" Hansen ikut menyentuh ujung bibirnya yang tadi dipegang Vanya. "Makasih ya," tuturnya atas perhatian sang adik.


"Walah ... kakak dan adik ini kompak banget ya."


Keduanya terkejut saat melihat Bi Inah datang dari dapur dengan membawa nampan.


Hansen dan Vanya saling menatap seolah mengartikan jika keduanya tak mau Bi Inah jadi menarik kesimpulan atas kedekatan keduanya.


"Hm, iya, Bi. Kakak adik kan harus kompak," ujar Hansen dengan cengiran. Ia tak mau Bi Inah curiga.


"Ya, bener itu, kak!" timpal Vanya


Bi Inah mengulas senyum. "Iya gak apa-apa, Den, Non. Itu emang harus. Meskipun gak ketemu sejak kecil, adik ketemu gede juga tetap harus akur," respon Bi Inah yang membuat Hansen dan Vanya bisa bernafas lega.


Mereka segera menyelesaikan sarapan dan meninggalkan rumah untuk menuju sekolah.


"Kak, kalau bi Inah cerita ke papa mama soal apa yang dia lihat, gimana kak?" tanya Vanya saat mereka sudah berada diperjalanan dan diatas motor.


"Paling dia cuma bilang kalau kita deket."


"Aku khawatir dia ceritain ke Mama secara detail mengenai apa aja yang terjadi sama kita dan mama membuat kesimpulan sendiri," ujar Vanya kemudian.


"Gak akan. Udah, kamu jangan khawatir ya. Semuanya bakal baik-baik aja."


Vanya mengangguk saja. Meski begitu, ia tetap was-was jika kedua orangtuanya sampai tau mengenai hubungannya dengan Hansen.


"Kalau ternyata ketahuan, gimana dong kak?"


Hansen menarik nafas pelan. "Ya, kalau udah terlanjur, sekalian aja aku jujur yang sebenarnya."


Vanya agak tersentak dengan penuturan Hansen.


"Serius? Kakak mau mengaku, gitu?"


"Ya kan kamu bilang kalau ternyata ketahuan, jadi kalau udah begitu aku mau alasan apa lagi coba? Ya sekalian aja aku bilang ke mama kalau aku sayang sama kamu bukan seperti sayang sama seorang adik."


"Tapi aku takut, Kak."


"Apa yang kamu takutin?"


"Aku takut kalau kita dipaksa berpisah."


Hansen terdiam. Ia juga takut jika sampai itu terjadi, tapi bagaimanapun caranya ia tidak akan membiarkan semuanya terbongkar secepat ini. Paling tidak, Hansen butuh waktu sampai ia benar-benar bisa berdiri sendiri tanpa bantuan sang Mama. Hansen siap mengakuinya jika ia sudah lepas dari status pelajarnya.


Sedangkan Vanya sendiri, ia juga belum siap jika semua ini ketahuan oleh sang Papa. Ia tau Papanya menaruh kepercayaan besar kepadanya, tapi demi apapun Vanya juga tak bisa menolak Hansen karena perasaannya juga besar untuk pemuda itu.


Terserah orang mau bilang bahwa cintanya pada Hansen saat ini hanyalah cinta monyet biasa, tapi Vanya mengartikannya tidak sesederhana itu. Cintanya pada Hansen cukup rumit karena dia sadar bahwa rasa itu amat besar.


...Bersambung ......

__ADS_1


KIRIM KOMENTAR, VOTE, GIVE DAN JANGAN LUPA TEKAN JEMPOLNYA❤️🙏🙏


__ADS_2