Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
7


__ADS_3

Vanya menggeliat pelan saat cahaya mentari menyilaukan matanya dan otomatis membangunkannya.


"Astaga, aku kesiangan!" ucap Vanya saat melihat waktu yang terpampang lewat jam dinding di kamarnya.


Gadis itu buru-buru beranjak dan mempersiapkan diri untuk segera berangkat ke sekolah.


Vanya turun ke lantai dasar beberapa menit kemudian, menyambar roti bakar yang sudah disediakan diatas meja makan sembari meminum susu lebih dulu.


Hari ini, Chandra dan Zia tidak di rumah karena kemarin mereka harus pergi secara mendadak ke Semarang untuk mengurus pekerjaan Chandra yang mendesak. Awalnya Zia tak mau ikut, tapi Chandra tetap mengajaknya mengingat mereka yang baru menikah dan Chandra tak ingin meninggalkan Zia diawal pernikahan mereka.


Vanya dan Hansen memaklumi itu, mereka pun menyarankan agar Zia ikut saja hingga akhirnya mereka pun berangkat dengan pesawat malam.


"Non Vanya apa gak sarapan dulu?" sapa salah seorang Asisten rumah tangga yang melihat kehebohan Vanya pagi itu.


"Enggak, Bi! Aku udah mau telat!" jawab Vanya sambil gegas memakai sepatunya.


Tapi mendadak Vanya ingat sesuatu.


"Bi, Kak Hansen udah berangkat ke sekolah?" tanya Vanya pada sang ART.


"Belum, Non. Kayaknya masih di depan sama Pak Cipto."


"Oh, oke." Vanya hanya takut Hansen juga kesiangan sepertinya hingga akhirnya terlambat ke sekolah.


"Kak, kok belum berangkat?" sapa Vanya saat melihat kakak sambungnya itu sedang mengobrol dengan sopir keluarga mereka.


Hansen belum menjawab pertanyaan Vanya, tapi sang Sopir yang lebih dulu menyela.


"Ini Non, ban mobilnya kempes jadi mau dibawa ke tukang tambal ban dulu. Makanya Bapak minta tolong sama Den Hansen biar Non Vanya ke sekolahnya barengan aja," kata Pak Cipto.


"Oh gitu," kata Vanya. Sebenarnya ia juga mau menumpang di motor Hansen kalau hal ini tidak terjadi, karena naik motor pasti lebih cepat sampai ketimbang naik mobil dengan Pak Cipto.


"Emang gak apa-apa, Kak?" tanya Vanya pada Hansen.


Pemuda itu tak menjawab, ia malah memberikan Vanya helm yang sepertinya masih tampak baru.


"Ya udah, Pak. Aku berangkat dulu, ya!" pamit Vanya pada Pak Cipto yang masih ada disana.


"Iya, Non. Hati-hati di jalan."


Hansen sudah menaiki motornya, saat ia ingin menyalakan kuda besi tersebut, ia sempat melirik Vanya yang kesusahan memasang helm nya.


Tanpa kata-kata Hansen menoleh dan membantu Vanya memakai benda itu, Vanya tampak terpana akan sikap gentle yang Hansen lakukan.


"Makasih, kak."

__ADS_1


"Hmm ..."


Motor yang dikendarai Hansen mulai melaju, membelah jalanan padat pada pagi itu. Hansen berpacu dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik kedua tangan Vanya yang memegang ujung jaketnya, untuk itu ia pun tersenyum dalam diam.


"Kayaknya kita bakal telat deh, Kak!"


"Enggak, lo tenang aja!"


"Lihat ini macet begini jalanannya, mana udah jam berapa juga," keluh Vanya.


"Makanya lo pegangan yang bener biar gue bisa lebih ngebut!"


Dengan ragu dan perlahan, akhirnya Vanya benar-benar melingkarkan tangannya ke perut Hansen. Disaat itulah Hansen menaikkan kecepatan berkendaranya hingga akhirnya mereka tiba di kawasan sekolah dan tidak terlambat.


"Makasih ya, Kak! Udah nebengin aku," kata Vanya didepan gerbang sekolah mereka saat Hansen sudah selesai memarkirkan motornya.


"Iya, gak masalah," jawab Hansen berusaha sedatar mungkin.


Vanya tersenyum lembut. "Aku duluan ya, Kak," pamitnya.


Hansen menganggukkan kepalanya sambil menatap kepergian Vanya yang berjalan menjauh menuju kelas gadis itu.


"Woy!"


Hansen menoleh dan mendapati Fero yang mengejutkannya.


Hansen tidak menjawab, ia hanya memutar bola matanya atas kelakuan absurd Fero. Mereka pun berjalan menuju kelas mereka yang berlawanan arah dengan kelas Vanya.


"Gimana rasanya punya adik sambung yang cantik?" ledek Fero begitu mereka menduduki bangku kelas.


Hansen mendengkus, pertanyaan Fero seakan kembali menyadarkannya pada keadaan padahal ia baru saja menikmati saat-saat berdua dengan Vanya tadi.


"Gue bilang juga apa, lo lanjutin aja buat deketin dia. Dia kan bukan adik kandung lo!" usul Fero yang selalu diluar nalar.


Hansen menyentil kuping Fero. "Kalau ngomong dipikir dulu, Bro! Gue gak mau ngikutin saran lo yang aneh!" katanya jengah.


"Aneh apaan? Secara Vanya itu cuma adik tiri lo, gak masalah juga lah!" kata Fero acuh tak acuh.


Hansen hanya diam dengan seulas senyum mirisnya.


"... tapi, kalau lo emang berniat ngelupain dia, ya udah, siap-siapin aja hati lo kalau dia di gebet cowok lain!"


"Apa?" Hansen tersentak akan ujaran Fero kali ini.


"Ya bener, kan? Vanya itu cantik, populer, dan banyak kelebihan dia yang bisa menarik minat banyak cowok. Lo aja bisa suka sama dia. Jadi wajar kalau nanti ada cowok lain yang ngedeketin dia, Bro!" Fero menepuk-nepuk pundak Hansen seolah mengingatkannya.

__ADS_1


Disitulah Hansen terdiam dan mengatakan dalam hati jika ujaran Fero ada benarnya.


"Dan saat itu terjadi, lo harus siapin hati lo supaya lebih kuat lagi daripada sekarang." Fero tersenyum kecut, menunjukkan keprihatinannya atas keadaan Hansen saat ini.


Hingga akhirnya, bel tanda masuk membuat mereka harus menghentikan pembahasan itu.


...***...


"Kak Hansen!" pekik Vanya di koridor panjang yang menghubungkan langsung dengan gerbang sekolah.


Hansen yang berjalan bersama Fero, sontak menoleh ke belakang dan melihat Vanya sedang berlari-lari kecil demi menghampiri mereka.


"Kak, kita pulang bareng ya." Vanya tampak terengah-engah.


Hansen melirik Fero seakan meminta saran atas hal ini, namun sahabatnya itu mengangkat bahu sambil menggeleng pelan. Keputusan ada di Hansen sendiri, begitulah pikir Fero.


"Ya udah, pake helm lo," ujar Hansen kemudian.


Fero yang masih disana menahan gelak karena melihat Hansen tak kuasa menolak permintaan Vanya.


Vanya pun segera mengangguk dan meraih helm yang Hansen berikan. Sebenarnya ia masih bingung kenapa Hansen punya helm baru untuknya. Apa memang sengaja Hansen sediakan untuk saat-saat seperti ini?


"Gue duluan, Bro!" kata Hansen pada Fero. Fero mengangguk dengan senyuman penuh arti yang hanya diketahui olehnya dan Hansen saja.


Vanya pun menyapa Fero untuk berpamitan.


"Duluan ya, Kak!"


"Sip, hati-hati!" kata Fero.


Dalam hati, Fero yakin jika Hansen tidak akan bisa melepas Vanya begitu saja. Ia akan mendukung apapun keputusan sahabatnya karena bagi Fero, Hansen sudah terlalu lama memendam perasaannya untuk Vanya.


Diperjalanan pulang, Vanya memeluk tubuh Hansen seperti saat mereka berangkat sekolah tadi, padahal saat ini Hansen tidak mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Untuk itu, Hansen membiarkannya saja, mungkin Vanya sudah mulai terbiasa, lagipula ia tak mau munafik, ia juga senang dengan keadaan ini.


"Kita makan siang diluar yuk, Kak!" ajak Vanya.


"Kemana?" Hansen menanggapinya dengan serius, karena jikapun ia menolak itu hanya akan mengecewakan sang adik. Adik? Hahaha, Hansen menertawakan dirinya sendiri.


"Ke cafe story' aja, yuk! Aku suka makanan disana soalnya."


"Oke," kata Hansen menurut.


Vanya senang karena sekarang Hansen mulai melunak padanya. Mungkin sebelum orangtua mereka resmi menikah Hansen masih mau menolak kenyataan, tapi sekarang semuanya sudah terjadi sehingga pemuda itu berusaha menjadi kakak yang baik untuknya, entahlah.


Vanya hanya mau menikmati kebersamaan mereka. Terserah mau sebagai apa. Kakak dan adik atau sebagai pasangan, yang jelas Vanya senang jika dia bisa sedekat ini dengan kakak kelas idolanya.

__ADS_1


...Bersambung ......


Dukung karya ini dengan cara vote, like, gift dan tinggalkan komentar. Terima kasih 💚


__ADS_2