Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
11


__ADS_3

Hansen pikir, semalam dia bermimpi indah dan dalam mimpinya itu ia mulai menjalin hubungan dengan Vanya, ternyata setelah ia ingat-ingat lagi, semuanya memang nyata. Pemuda itu terus saja tersenyum membayangkan kejadian semalam dimana dia mencium Vanya.


"Kak?"


Suara panggilan Vanya membuyarkan lamunan Hansen, buru-buru ia bangkit dari posisinya yang masih berbaring.


"Kak, udah bangun belum?" Vanya berniat membangunkan sang kakak.


"Iya, udah kok," sahut Hansen sembari berjalan untuk membuka pintu kamarnya.


Cklek ...


Pintu terbuka dan menampilkan wajah Vanya disana. Hansen menatap gadis itu dengan senyum penuh arti.


"Aku tunggu sarapan di bawah ya, Kak."


Hansen tidak menyahut, dia masih menatapi wajah Vanya sepuas-puasnya. Gadis itu tampak sudah rapi dengan seragam sekolahnya, membuat Hansen selalu jatuh cinta pada Vanya.


"Kak ..." Vanya mengibas-ngibaskan jemarinya didepan wajah Hansen karena melihat pemuda itu tengah melamun. "Mikirin apa, sih?" tanyanya polos.


"Mikirin kamu," jawab Hansen terus terang.


Blush ...


Wajah Vanya langsung memerah, bukan karena ucapan Hansen yang terkesan menggombal, tapi karena baru kali ini dia mendengar Hansen memanggilnya dengan sebutan 'kamu'.


Melihat reaksi merona yang terpancar di wajah Vanya, Hansen langsung mencubit gemas pipi adik sambungnya itu.


"Aku mandi dulu ya. Berangkat sekolahnya bareng aku. Tungguin, jangan pergi bareng Pak Cipto," kata Hansen memperingati Vanya dengan suaranya yang sangat lembut.


Vanya hanya bisa mengangguk patuh, tidak menyangka Hansen bisa bersikap seperti ini kepadanya. Hansen berubah menjadi 100 kali lebih manis sekarang.


Hansen mengacak rambut Vanya sekilas, sebelum akhirnya kembali masuk ke kamar untuk melakukan ritual mandinya.


...***...


Vanya dan Hansen sarapan bersama dan menikmati hidangan yang sudah dibuat oleh ART di rumah mereka.


"Makan yang banyak, biar nambah berat badannya," kata Hansen yang mengambilkan lauk untuk Vanya dan menyendoknya ke piring gadis itu.


"Udah cukup, Kak. Nanti aku gendut," protes Vanya.


"Ya gak apa-apa, malah bagus," jawab Hansen dengan cueknya.


"Enggak mau, nanti kakak lirik cewek lain lagi," ujar Vanya tampak merengut.


Hansen terkekeh. Ia sangat suka sikap manja Vanya dan wajah merengutnya yang nampak imut.


"Enggak lah. Aku cuma mau lirik kamu aja," jawabnya jujur.


Vanya tersenyum lalu melanjutkan sarapan paginya dengan hati yang berbunga-bunga.


Selesai sarapan, keduanya naik ke atas motor besar milik Hansen dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.

__ADS_1


"Non Vanya gak mau dianterin sama Bapak?" tanya Pak Cipto saat mereka berpapasan dengan pria baya itu. Pak Cipto terlihat sudah siap dan menunggu Vanya didepan mobil yang biasa ia gunakan untuk mengantar-jemput gadis itu.


"Enggak, Pak. Aku bareng Kak Hansen aja."


"Oh, ya udah, Non."


"Kita berangkat ya, Pak," pamit Hansen pada Pak Cipto yang diiyakan oleh pria itu.


Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam tapi sesekali Hansen mengelus punggung tangan Vanya yang berada di perutnya.


"Van, kalau di sekolah kita tetap kayak biasa ya," celetuk Hansen tiba-tiba.


"Maksudnya?"


"Ya, temen-teman aku sebagian udah pada tau kalau hubungan kita adalah kakak dan adik sambung."


"Oh, jadi kakak mau backstreet dari mereka soal hubungan kita?"


"Huum, gak semua orang bisa nerima hubungan kita, Van."


"Iya, sih. Aku tau."


"Maafin aku, ya," ujar Hansen dengan nada penuh penyesalan.


"Maaf kenapa?"


"Karena kita masih harus jalani seperti ini dulu. Suatu saat, kalau aku udah mampu berdiri sendiri tanpa bantuan Mama, pasti aku bakal perjuangin hubungan ini, Van."


Vanya tidak menjawab, ia hanya merespon ujaran Hansen dengan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh pemuda itu. Vanya merasa jika Hansen benar-benar lelaki yang tulus padanya dan begitu menyayanginya.


"Apa Kak Fero juga gak boleh tau, Kak?" tanya Vanya saat motor yang dikendarai Hansen memasuki wilayah parkiran sekolah.


"Fero bakalan tau dengan sendirinya tanpa aku kasih tau," jawab Hansen sembari mematikan mesin motornya.


Vanya turun dari motor, diikuti oleh Hansen. Pemuda itu membukakan helm milik Vanya dan menatap ke dalam netra sang gadis.


"Jangan nakal ya," katanya pelan. Area sekolah belum tampak ramai saat mereka tiba.


"Nakal gimana sih, kak?" ujar Vanya sambil mengulumm senyumnya.


"Jangan selingkuh! Ingat udah ada aku," jawab Hansen sembari mencubit ujung hidung Vanya.


Vanya tertawa. "Apaan sih, kak. Aku gak kepikiran sampai kesana. Justru kakak yang harusnya dikasih tau supaya jangan macem-macem," katanya.


Hansen manggut-manggut. "Aku gak akaan macem-macem. Cukup 1 macem doang. Dan itu kamu," gombalnya.


Vanya menggelengkan kepalanya sambil menahan gelak. "Ya udah, ayo masuk ke kelas masing-masing," ajaknya.


"PR bahasa Inggrisnya gak ketinggalan, kan?" tanya Hansen memastikan.


Vanya melipat bibirnya menjadi sebuah garis lurus, pertanyaan Hansen membuatnya mengingat momen semalam dimana ia melanjutkan mengerjakan tugas itu sambil diperhatikan oleh Hansen dari jarak dekat. Belum lagi mengingat soal ciuman mereka. Duh ...


"Van?"

__ADS_1


"Ng ... iya, Kak?"


"Gimana? Buku PR bahasa Inggrisnya, kamu bawa kan?"


"U--udah kok, Kak." Vanya menjawab dengan gugup.


"Bagus kalo gitu."


Hansen dan Vanya mulai berjalan memasuki lorong sekolah, tapi Hansen melewati arah kelasnya.


"Lho, kakak mau kemana?" tanya Vanya yang melihat Hansen tetap berdiri disisinya, padahal harusnya Hansen berbelok arah jika mau menuju kelasnya sendiri.


"Mau anterin pacar," jawab Hansen pelan. Vanya langsung tertunduk malu, lagi-lagi tidak menyangka jika Hansen bisa semanis ini. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja mereka berpacaran?


"Nanti kalau teman-teman aku nanya, gimana, kak?"


"Ya bilang dong kalau aku pacar kamu."


Mata Vanya mendelik pada Hansen. "Serius? Tapi katanya mau backstreet?" ujarnya tak menyangka.


Hansen malah terkekeh. "Ya enggaklah, aku bercanda. Emang kamu mau ngakuin aku sebagai pacar kamu?" ujarnya balik bertanya.


Vanya menggenggam erat kedua tali ransel yang dikenakannya. "Ehm, kalau sejak awal kita bukan kakak dan adik sambung, aku pasti ngakuin kakak sebagai pacar aku, tapi kan ..."


"Ya udah, kan kamu sendiri yang bilang buat jalani semua ini dan jadikan ini sebagai rahasia kita. Jadi, gak perlu dipikirkan terlalu jauh ya," kata Hansen menenangkan gadis itu.


Mereka sudah tiba didepan kelas Vanya dan Hansen pamit untuk menuju ke kelasnya sendiri.


"Aku ke kelas dulu ya. Kamu belajar yang giat."


"Iya, Kak."


Hansen mengusap kepala Vanya dengan lembut.


"Nanti jangan pulang duluan. Oke?"


"Iya, Kak..." jawab Vanya dengan kulumann senyumnya.


Hansen ikut mengulas senyum, kemudian berlalu dari hadapan Vanya saat itu juga.


"Van, kakak tiri lo kayaknya sayang banget sama lo ya?"


Vanya terkejut saat melihat Metha yang menghadangnya di dekat pintu masuk kelas.


"Uhm, ya--ya gitulah," jawab Vanya gugup. Ia yakin tadi Metha memperhatikan interaksinya dengan Hansen.


Metha masih memiliki hubungan kerabat dengan Vanya, itu sebabnya dia tau jika yang menikah dengan Papa Vanya adalah ibunya Hansen, Metha juga sempat melihat Hansen saat pesta pernikahan orangtua mereka itu.


"Kalian itu lebih cocok jadi dua sejoli yang pacaran deh, daripada jadi kakak adek," celetuk Metha kemudian.


Vanya sedikit was-was mengenai ucapan Metha yang terdengar membuat kesimpulan itu, ia takut Metha mengadukan kedekatannya dengan Hansen yang tak wajar--kepada sang Papa.


"Lo ada-ada aja, deh, Tha ... udah ah, ayo masuk," ajak Vanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2