Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
29


__ADS_3

Pagi ini Vanya dan Hansen turun dari lantai atas bersama-sama. Keduanya menuruni tangga sembari saling melempar candaan dan sesekali tertawa cekikikan.


Zia yang sudah berada di lantai dasar melihat keakraban mereka dan lagi-lagi langsung kepikiran mengenai pesan kemarin.


"Apa iya mereka patut dicurigai? Maksudnya mereka punya hubungan yang lebih dari saudara, begitu?" Zia tercenung dengan pemikirannya sendiri.


"Ma?!"


"Eh?" Zia refleks memegang dadanya sendiri karena merasa terkejut melihat Hansen yang mengagetkannya.


"Akhir-akhir ini mama kayaknya sering melamun deh," ujar Hansen.


Zia menggeleng pelan. "Enggak kok, mungkin itu perasaan kamu aja, Sayang," ujarnya menyangkal.


Hansen merangkul bahu sang Mama dan mengajaknya ke meja makan sebab Vanya dan Chandra sudah menunggu disana.


"Mama mikirin apa sih sebenarnya?" tanya Hansen saat perjalanan menuju ruang makan tersebut.


"Gak ada, Hans. Apaan sih kamu ..." Zia tertawa pelan menutupi apa yang sebenarnya dia pikirkan.


Mereka akhirnya sarapan pagi seperti biasanya. Zia kembali memperhatikan interaksi Vanya dan Hansen dalam diam. Sepertinya memang ada sesuatu diantara mereka, begitulah feeling Zia mengatakan.


"Hans, hari Minggu nanti kamu mau kemana?"


Hansen menggelengkan kepalanya. Dia belum memiliki janji, tapi dia sudah kepikiran untuk mengajak Vanya jalan-jalan lagi. Mungkin ke Taman atau ke Danau.


"Kita ke rumah lama yuk, sekalian ketemu sama Tante Dona," ajak Zia.


"Boleh deh, Ma."


"Kalau kamu kemana, Van?" tanya Zia pada Vanya.


"Belum ada janji sih, Ma. Paling ke rumah Metha," jawab Vanya.


"Kalau gitu kamu ikut mama sama Hansen juga yuk. Kenalan sama tantenya Hansen."


"Papa?" tanya Vanya.


"Papa Sabtu ini harus ke Bogor, Van," timpal Chandra pada anak gadisnya.


"Oh, ya udah kalau gitu Vanya ikut mama sama Kak Hansen aja," ujar Vanya menyetujui.

__ADS_1


Zia mau menanyakan pada Dona terkait pemikirannya hari ini, siapa tau dia yang terlalu menganggap biasa kedekatan antara Hansen dan Vanya. Zia mau Dona menilai kedekatan mereka juga nantinya.


...***...


Hari Minggu mereka bertiga pun pergi ke rumah lama Zia yang kini ditempati oleh Dona atau adik dari mendiang suaminya yang pertama. Zia belum mengatakan apapun pada Dona terkait Hansen dan Vanya, memang dia belum menceritakan hal ini pada siapapun termasuk pada Chandra, suaminya.


Mobil yang dikemudikan Hansen akhirnya tiba dipelataran rumah tersebut.


"Jadi dulu Kak Hansen sama Mama tinggal disini ya?" tanya Vanya melihat pada bangunan yang cukup besar tersebut.


"Iya, Van."


Mereka turun dari mobil dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari jauh. Dia berjalan pelan lalu menghampiri pekarangan rumah lama Hansen tersebut.


"Tante Zia!" Itu adalah Dira. Dia tidak menyapa Hansen maupun Vanya, dia justru menyapa Zia lebih dulu.


Melihat ada Dira disana, Hansen dan Vanya saling bertatapan. Dalam pikiran mereka berdua tak mau Dira mengadukan hal yang macam-macam pada Zia. Tapi, jikapun itu terjadi Hansen sudah menyiapkan diri untuk hal ini karena dia tau semua yang dia jalani bersama Vanya akan ada konsekuensinya.


"Dira? Kamu ngapain disini?" tanggap Zia yang melihat Dira menghampiri.


"Ini, Tant. Mau lihat rumah lama. Kebetulan yang punya sekarang itu mau jual rumahnya. Kak Doni tertarik mau beli rumah itu lagi karena rumah itu kan rumah masa kecil kami," jawab Dira.


"Oh... Tante juga lagi ngunjungi rumah lama nih," ujar Zia merujuk pada rumah dihadapannya. "Sekarang ditempati sama Tante Dona," jelasnya.


"Iya, Adik almarhum papanya Hansen."


Dira tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia melirik Vanya dengan senyum sinis, begitupun dengan Hansen yang ada disana. Vanya pura-pura tak melihatnya, sedangkan Hansen berlagak main handphone tanpa memedulikan kehadiran Dira disana.


"Hai, udah pada dateng ya. Ayo masuk!" Tiba-tiba Tante Dona keluar dari rumah dan menyambut kedatangan mereka semua.


Dona melihat ada dua orang gadis yang ada disana. Vanya dan Dira. Dia jadi penasaran siapa diantara dua gadis ini yang adalah anak sambung Zia.


"Anak sambungnya Mbak Zia yang mana nih?" kata Dona merujuk pada Vanya dan Dira.


"Oh iya, kamu belum kenal ya, Don. Ini Vanya, anak mbak ..." kata Zia memperkenalkan Vanya.


Vanya mengulurkan tangan dan menyalami tangan Dona dengan takzim.


"Vanya, Tante," kata Vanya memperkenalkan diri.


"Hai Vanya ... kamu cantik banget deh," ujar Dona jujur. Dia melirik Dira kemudian. "Kalau yang ini siapa?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Aku Dira, Tante... dulu aku tinggal dirumah sebelah tapi sekarang udah gak lagi. Dulu kita pernah ketemu juga sesekali," jawab Dira.


Dona tampak berpikir kemudian mengingat sosok Dira ketika masih kecil. "Oh iya, kamu yang dulu sering main hujan sama Hansen kan," katanya sambil terkekeh.


"Iya, Tante," jawab Dira sambil melirik Vanya. Vanya melengos melihatnya. Mereka seperti perang dingin tanpa kata-kata.


"Ya udah, ayo masuk! Kamu juga mampir yuk, Dira!" ajak Dona.


Mereka semua akhirnya masuk ke rumah yang kini ditempati Dona.


"Mas Rayhan lagi ngurus kepindahan kerjanya, Mbak. Jadi dia udah pergi pagi-pagi tadi." Dona menjelaskan pada Zia mengenai suaminya.


"Ya gak apa-apa, mbak tau kalian masih repot, cuma mbak kangen sama kamu," tutur Zia.


"Aku juga, Mbak. Udah lama ya kita gak cerita-cerita."


Rupanya Dona sudah menyiapkan makan siang untuk mereka semua, disana Dira diam saja. Dia menikmati juga panganan yang disuguhkan Dona. Sementara Vanya tampak canggung disana mungkin karena tatapan Dira yang seperti sengaja mengintimidasinya.


"Kak, aku gak nyaman sama tatapannya Kak Dira," ujar Vanya pada Hansen. Dia berkata sambil berbisik.


"Udah, abaikan aja dia."


"Dia lihatin aku terus. Gimana kalau tiba-tiba dia ngadu atau nyindir kita didepan Mama dan Tante Dona?"


"Selama ada aku disini, dia gak akan berani." Hansen yakin dengan ujarannya itu.


Sampai akhirnya, Hansen mengajak Vanya untuk menonton tv di ruang tengah, untuk menghindari Dira.


Dira tetap didekat Zia dan Dona, dia mau tau apa tanggapan Zia jika dia mengadukan perihal hubungan Hansen dan Vanya, tapi belum sempat dia berkata apa-apa, dia sudah mendengar Zia yang bicara pada Dona terkait hubungan Hansen dan Vanya.


"Don, menurut kamu kedekatan Vanya sama Hansen itu wajar gak, ya?"


"Memangnya kenapa, Mbak?" tanya Dona.


"Mbak pernah dapat pesan dari nomor yang gak dikenal, isi pesannya mbak diminta perhatikan interaksi mereka yang sangat dekat."


"Ya wajarlah mbak, namanya juga kakak adik," jawab Dona.


"Bukan gitu, maksud dari pesan itu kayak meminta mbak memergoki apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, Don. Apa iya, mereka punya hubungan lebih dari sekedar kakak adik?"


Dira mendengarkan itu dari posisinya, dia tak jadi mengadu karena sepertinya Zia sudah mencurigai sendiri hubungan antara Hansen dan Vanya. Tapi, siapa yang mengadukan hal itu pada Zia? Kalau begitu, Dira tak perlu capek untuk mengadu, karena sudah ada pihak yang memberitahu Zia lebih dulu.

__ADS_1


"Baguslah, biar aja Tante Zia yang tau sendiri," batin Dira.


...Bersambung......


__ADS_2