Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
27


__ADS_3

Vanya dan Hansen akhirnya menaiki bianglala tersebut dan duduk berdua di dalamnya. Mereka dapat melihat pemandangan malam dari atas sana.


"Sebenarnya aku agak takut sih, kak!" ujar Vanya sambil memegang ujung baju Hansen erat-erat.


Hansen terkekeh, dia menggenggam jari-jemari Vanya untuk menenangkannya.


"Gak apa-apa, coba kamu tarik nafas dalam-dalam terus hembuskan secara perlahan, nanti kalau bianglala nya udah mulai berputar pasti rasa takut kamu berangsur hilang."


Vanya mengikuti arahan Hansen dan ajaibnya dia benar-benar bisa tenang setelah melakukan hal itu. Namun dia tidak melepaskan genggaman tangan Hansen sepanjang bianglala berputar. Beberapakali mereka saling berteriak saat wahana itu berputar turun ke bawah. Lalu sesaat kemudian mereka tertawa lepas satu sama lain.


Turun dari wahana bianglala, Hansen tetap menggandeng tangan Vanya, dia takut gadis itu lepas dari pantauannya meski sebenarnya Vanya bukan lagi anak kecil yang harus dijaga kemanapun dia bergerak.


"Kamu mau itu, gak?" Hansen menunjuk pada penjual gulali atau gula gula kapas.


Vanya mengangguk dengan antusias, disusul dengan jawaban dari bibirnya. "Mau …"


Hansen membelikan Vanya gulali dan mereka duduk disebuah kursi yang masih berada di area pasar malam tersebut. Vanya tampak menikmati gula-gulanya dengan sesekali Hansen ikut menyuapi ke mulut gadis itu. Senyum dan tawa mereka tidak pernah surut sepanjang momen jalan-jalannya.


"Kamu mau naik apa lagi?" tanya Hansen. "Atau kamu udah laper?" lanjutnya bertanya. Sebelum keluar dari rumah tadi, mereka berdua memang belum makan malam.


"Kita makan bakso yuk, kak!" ajak Vanya. "Setelah itu kita naik kora-kora," sambungnya.


"Tapi aku takut kamu muntah kalau naik kora-kora sehabis makan."


"Ya udah, kalau gitu kita naik kora-kora dulu, baru makan bakso."


"Oke. Tapi udah tau kan caranya biar gak takut naik wahana itu."


Vanya mengangguk, dia yang menarik tangan Hansen untuk menuju wahana yang dimaksudkannya.


Dengan antusiasnya mereka menaiki wahana kedua kemudian menikmati permainan itu dengan berteriak bahagia. Vanya merasa senang sekali malam ini, ini adalah kencan pertamanya bersama Hansen dan ternyata sangat seru. Hansen membebaskan semua yang ingin dia cobai.


Beberapa menit naik kora-kora, akhirnya mereka turun lalu melanjutkan rencana mereka untuk makan bakso.


Vanya tidak heran melihat Hansen yang makan dengan banyak sambal, dia tau pemuda itu penyuka pedas.


"Emang gak pedas ya, kak?"


"Enak tau," jawab Hansen sambil terkekeh.


"Boleh nyicil punya kakak gak?" tanya Vanya dan Hansen langsung mendekatkan mangkuk baksonya ke depan gadis itu.


Vanya tidak ragu mencobai makanan milik Hansen, meski itu terasa pedas tapi ternyata memang enak.


"Enak, kan?" tanya Hansen dan Vanya menganggukinya.

__ADS_1


Setelah makan, Vanya mengajak Hansen menaiki komedi putar tapi Hansen malu untuk ikut naik wahan itu.


"Ayo dong, Kak!"


Hansen menggeleng. "Enggak, ah. Itu kan permainan anak-anak, Van," jawabnya.


"Enggak lho, kita juga bisa naik." Vanya mau menarik lengan Hansen lagi tapi Hansen tetap pada keputusannya untuk tidak menaiki wahana tersebut.


"Kamu aja yang naik, aku nunggu disini," ujar Hansen.


Akhirnya Vanya tak mau memaksakan sang kakak, dia naik komedi putar sendirian. Rupanya Hansen menunggunya sambil menyalakan kamera ponselnya sendiri, dia memvideokan Vanya yang sedang duduk di kuda-kudaan yang berputar tersebut sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Hansen. Mereka berdua tertawa dengan hal itu.


"Abis ini aku mau main itu, boleh ya?" ujar Hansen menunjuk pada permainan lempar gelang.


"Emang bisa?" tanya Vanya.


"Bisa dong," jawab Hansen jumawa, dia bahkan menepuk dadanya. Vanya sampai terkekeh melihatnya.


Hansen kembali menggenggam tangan Vanya dan mengajak gadis itu ke arah tempat permainan lempar gelang yang dimaksudnya.


"Kamu mau hadiah yang mana?" tanya Hansen sebelum memulai permainannya.


"Ih, gaya banget," ujar Vanya terkesan meremehkan, tapi Hansen tertawa mendengarnya. "Aku mau Boneka yang itu," tunjukknya pada boneka beruang madu berukuran sedang.


"Oke, kamu lihat aku main ya." Hansen memulai permainannya setelah menerima beberapa gelang dari penjaga tempat permainan itu.


"Udah, deh, kak. Jangan dipaksain. Lagian aku juga gak ngebet banget mau bonekanya."


"Tapi kan aku udah gaya-gayaan mau kasi kamu hadiahnya," keluh Hansen.


"Ih, gak apa-apa kok, kak."


"Eh, gimana kalau kita main capit?" ajak Hansen, dia ingat permainan itu juga bisa mendapatkan boneka.


"Udah kak, gak usah. Lagian ini udah cukup larut, takutnya kita kemalaman pulangnya."


Hansen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku coba sekali aja, kalau gagal, abis itu kita tetap langsung pulang, gimana?" ajaknya.


Vanya berpikir sebentar akhirnya dia mengangguk. Mereka menuju tempat permainan capit yang ada disatu sisi pasar malam. Disana ada box besar yang isinya berbagai macam bentuk dan karakter boneka, pemain yang menginginkan boneka itu harus berhasil mengeluarkan boneka dari box tersebut dengan pencapit yang ada diatasnya.


"Sekali aja ya, kak!" Vanya memperingatkan Hansen.


"Iya, iya."


Hansen tak langsung main, dia memperhatikan dulu bagian-bagian yang mungkin bisa membuatnya berhasil mencapit bonekanya dengan baik, sampai akhirnya dia siap untuk bermain.

__ADS_1


Hansen tampak sangat fokus, tujuannya adalah sebuah boneka pinguin berwarna biru putih. Namun dia salah sasaran, yang dia dapatkan justru boneka kucing berwarna kuning.


"Yeay!" Vanya berteriak girang. Dia senang Hansen berhasil mendapat boneka dalam sekali bermain.


"Maaf ya," kata Hansen dengan wajah menyesalnya.


"Maaf kenapa? Kan udah dapat bonekanya?" tanya Vanya.


Keduanya berjalan menuju parkiran motor dimana Vanya sudah memeluk boneka kucing yang Hansen dapatkan dari permainan capit.


"Ya, karena cuma bisa kasi kamu boneka yang itu. Padahal tadi kamu maunya yang beruang madu, malah gak dapat. Pilih yang penguin juga malah dapatnya kucing," ujar pemuda itu.


Vanya terkekeh. "Ya ampun, Kak. Aku juga nunjuk asal doang tadi. Yang manapun yang kakak dapat aku senang kok, apalagi kakak berusaha dapatin itu buat aku. Lagian aku juga suka sama boneka kucingnya," kata Vanya jujur, dia memang suka boneka itu.


"Beneran gak apa-apa?"


"Gak apa-apa, kak! Makasih ya. Malam ini aku seneng banget," ujar Vanya.


Hansen memakaikan Vanya helm kemudian menatap lekat pada wajah adik sambungnya itu. "Aku juga seneng banget bisa jalan-jalan sama kamu malam ini. Makasih ya udah mau jalan sama aku," katanya serius 


Vanya salah tingkah karena diratapi Hansen dengan ekspresi seperti itu, dia membuang pandangan ke arah flatshoes yang dikenakannya, dia malu.


Hansen tertawa pelan melihat tingkah Vanya. "Ya udah, ayo naik. Kita pulang sekarang," ajaknya.


Vanya menurut dan baik diatas boncengan motor Hansen, beberapa saat perjalanan dia merasa Hansen memegang punggung tangannya dan menepuk-nepuknya lembut.


"Aku sayang sama kamu, Van. Aku mau kita terus sama-sama kayak gini, aku gak mau kita pisah." Hansen kembali mengutarakan perasaannya pada Vanya.


Vanya langsung ingat mengenai keinginan Hansen yang mau kuliah di luar negeri. Tadi dia tak sempat menanyakannya jadi mungkin sekaranglah saatnya dia bertanya.


"Tapi kakak mau kuliah ke luar negeri?" tanya Vanya dengan intonasi suara yang parau, dia tentu sedih dengan hal ini.


"Itu rencana aku dulu, sebelum kita punya hubungan."


"Tapi kalau emang kakak mau kuliah ke Siangpore, jangan menunda rencana itu hanya karena aku, aku gak mau menjadi penghalang untuk kakak mencapai impian kakak," ungkap Vanya.


Tangan Hansen bergerak mengelus tangan Vanya. "Kamu ikut kuliah ke Singapore juga ya nanti," ajaknya.


"Kalaupun aku ikut kakak kuliah disana. Kita bakal tetap pisah satu tahun kak, sampai aku juga lulus SMA."


Hansen pikir ujaran Vanya benar, tapi dia belum siap melakukan hubungan jarak jauh dengan gadis itu.


"Kamu bener, tapi aku gak bisa LDR, Van … kayaknya aku kuliah disini aja deh."


"Hanya karena aku?" Vanya tak habis pikir jika Hansen mau menunda impiannya hanya karena dirinya.

__ADS_1


"Iya, aku gak bisa kalau gak mantau kamu. Aku gak bisa, Van," kata Hansen mengakui hal yang membuatnya bimbang.


...Bersambung…...


__ADS_2