
Pagi-pagi Mei dan Edwin dikejutkan oleh bunyi bel tak lama disusul ketukan. Siapa sih, pikir Mei enak-enak tiduran malah ada gangguan, Mei bangun, berjalan ke arah pintu.
Menyembul wajah tampan khas oriental, tinggi menjulang.
"Hai James ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Mei dengan suara riang, dan Edwin tertarik untuk menengok siapa tamu Mei. Dari dalam ia bisa melihat wajah tamu Mei, ada rasa tak suka di wajah Ed mendengar suara riang Meisya pada tamunya.
"Aku baru dari bandara, nih oleh-oleh buat kamu, happy valentine yah," ucap James. Mata Mei membulat.
"Makasih James," ujar Mei memeluk coklat besar berpita babypink.
"Yah, aku balik dulu, capek baru dari Canada, eh jangan lupa tugasnya hmmm segera dikumpulkan," ucap James dan berlalu dari hadapan Mei.
"Siapa dia Mei?" tanya Ed dengan nada taksuka dan wajah yang masam. Ditambah lagi Mei yang memeluk coklat besar di dadanya.
"Dosenku kak, dia baik banget, ini nih ngasi coklat," dengan lugu Mei memperlihatkan coklat pemberian James pada Edwin. Ed mendengus kesal, Mei terlihat takut melihat wajah Ed.
"Tuh dosen ngapain sampe ngasi kamu coklat, sampe tahu apart kamu, nggak usah diladeni, ada maunya tuh dosen, ntar kamu dilabrak istrinya baru tahu rasa," ujar Edwin dengan nada kesal. Mei semakin takut dan mundur selangkah.
"Dia emang baik pada semua mahasiswa kok kak, kebetulan mamah nya orang Indonesia dan papanya dari Singapura, jadi dia langsung akrab sama aku begitu tahu aku dari Indonesia, daaan diaa belum nikah, usianya lebih muda dari kakak," Mei memandang wajah Ed dengan takut.
"Emang semua mahasiswanya dia kasi coklat di hari valentin? heh bikin sebel aja, apalagi dia nggak punya istri pasti ada maunya sama kamu, sampe kamu tahu silsilah keluarganya lagi, apa dia suka curhat sama kamu?" suara Edwin semakin terdengar aneh.
"Maaf kak, aku kembalikan besok ke James kalo emang kakak gak suka," ucap Mei pelan. Edwin mendekati Mei.
"Mei aku mencintai kamu, aku nggak mau ada yang dekat-dekat sama kamu," akhirnya suara Ed terdengar lirih di telinga Mei.
"Iyah," jawab Mei pelan.
"Aku nggak mau mereka memanfaatkan keluguan kamu, jangan mau kalo mereka ngasi apa saja, pasti ada maksud di balik itu, nggak ada ceritanya tiba-tiba laki-laki ngasi sesuatu sama perempuan tanpa embel-embel apapun," ujar Ed lagi.
"Tapi James sejak awal emang gitu kak, waktu kuliah pertama kali, dia liat aku, langsung ngajak aku ngobrol setelah selesai kuliah dan ya selalu baik sampe sekarang," sahut Mei lagi.
"Hem kan bener dia suka sama kamu sejak awal liat kamu, kamu cantik Mei," Edwin mendekati Mei mengambil coklat yang masih menempel di dadanya dan memeluknya pelan.
"Kamu mencintai aku kan Mei? jangan dekat dengan siapapun, aku takut akhirnya perasaan kamu semakin tidak jelas pada kakak," ucap Ed sambil mengusap rambut panjang Mei.
"Aku nggak punya perasaan apa-apa kak, baik pada Gavin ato James," Mei menengadahkan wajahnya menatap Ed.
"Iya kamunya, kamu kan nggak tahu hati mereka, kayak James sampe ngasi coklat ke kamu, pagi-pagi, bela-belain, aku jadi nggak pengen balik ke Indonesia Mei," Edwin menatap wajah Mei yg masih tengadah.
"Maafkan Mei kak, Mei nggak pernah punya pikiran jelek ke siapa pun, waktu James ngajak pulang bareng setelah kuliah pertama ya Mei iya aja, kan kebetulan se arah juga sama apart James, dia tinggal di Perth sebenarnya kak, keluarganya di sana cuman karena ngajar di Sydney ya dia punya apart di sini, dan dia nggak pernah macem-macem ke Mei, nyentuh-nyentuh juga nggak, pulangnya aja kalo pas ketemu ya bareng, bener Mei nggak bohong kak," ujar Mei sambil menempelkan pipinya ke dada Ed. Edwin mengeratkan pelukannya.
"Jangan pernah tinggalkan kakak Mei, kamu berjanji untuk menyelesaikan magistermu 1,5 tahun, kakak tunggu kamu, kita segera nikah ya Mei, usia kakak juga sudah tidak muda lagi," suara Edwin terdengar sedih.
__ADS_1
"Mandi sana gih, kakak juga belum mandi, kita ke toko di depan apart bentar ya, beli macam- macam bahan trus kita masak bareng, mau?" Mei mengangguk lalu melesat ke dalam kamarnya.
Dalam kamar Mei menyandarkan badannya ke pintu, ia benar-benar takut mengingat kata-kata Edwin tadi, apa bener laki-laki yang ngasi sesuatu ke perempuan pasti ada perasaan lain.
Sejak awal perkuliahan, James memang selalu baik padanya. Pernah saat mencari literatur untuk tugas, James menemani Mei di perpustakaan kampus sampai malam, Mei takut mau bercerita hal itu pada Edwin. Tapi Mei tidak pernah merasa ada sikap James yang aneh pada dirinya, selain James selalu ada untuk Mei. James memang tampan, tapi Mei tidak ada perasaan apapun padanya.
***
Mei dan Edwinberiringan menuju apartemen mereka setelah berbelanja berbagai macam kebutuhan.
"Mau masak apa kak?" tanya Mei setelah menghempaskan badannya di sofa. Wajah Edwin masih belum sepenuhnya ramah setelah kehadiran James.
"Yang gampang aja, yang kakak tahu," jawab Ed pelan, membuka jaket dan meletakkannya di sofa.
"Iya mau masak apa ayo aku bantu," jawab Mei lagi.
"Pengen masak masakan Chines, lagi pengen, kamu bisa kan?" tanya Ed dan Mei mengangguk.
Pilihan Ed jatuh pada ayam hainan, koloke dan mi goreng sea food. Mei menambahkan cah kangkung biar ada sayurannya, namun Ed ingin cap cay, akhirnya semua menu itu akan di masak.
"Beneran kakak ingin masak semua itu, ntar siapa yang makan kalo nggak habis?" tanya Mei.
"Ya per item nggak usah banyak-banyak porsinya sayang," jawab Ed.
Alhasil lebih banyak Mei yang bekerja di dapur, Edwin hanya membantu hal-hal kecil.
Edwin menatap Mei yang cekatan memasak satu persatu bahan yang sudah disiapkan. Keringat mulai mengalir di kening Mei dan Edwin mengusapnya dengan menggunakan tisu. Mei hanya tertawa sambil mencicipi masakannya pas atau tidak.
"Eh kak, tumben nggak pengen soto buatanku?" tanya Mei.
"Lah tadi bumbunya kan nggak lengkap sayang, kalo masakan chines kan gampang bumbunya, semua tadi yang aku butuhkan ada," jawab Ed.
"Heeeh yang kakak butuhkan, ujung-ujungnya aku yang masak," sahut Mei.
"Ya maksud hati pengen nyenengin kamu eh apa daya, masak ternyata ribet," ucap Ed sambil tertawa, tawa yang akhirnya muncul juga setelah sekian jam sempat hilang gara-gara dosen ganteng.
Saat Mei sedang asik masak, Edwin mendengar notif masuk di ponsel Mei yang ada di dekatnya, Mei tidak mendengar karena bunyi saat menggoreng potongan ayam dengan tepung, untuk koloke mengalahkan bunyi notif ponsel Mei. Perlahan Ed buka karena kebetulan terhalang oleh vasbunga kecil di meja makan. Saat dibuka Ed merasa amarahnya muncul lagi. Ternyata James yang mengirim pesan singkat
Sudah dimakan coklatnya? istirahat yang cukup, besok akan jadi hari melelahkan, tidak sekedar mengumpulkan tugas tapi mempresentasikan dan mempertahankan hasil penelitian yang sudah kamu lakukan seminggu yang lalu
Tidak ada yg aneh dari isi pesan itu tapi, apa sampe segitunya dosen ngirim-ngirim pesan ke mahasiswanya, kurang kerjaan apa, Edwin mendesah berkali-kali. Menatap wajah cantik Mei dari kursi yang ada di ruang makan.
"Ada apa kak, kok liatin aku terus, wajahnyaaa nakutin, mana senyumnya kakak sayaaaang," canda Mei pada Edwin.
__ADS_1
Edwin mengangkat sudut bibirnya sedikit. Ia tidak ingin Mei tahu jika ia membuka ponselnya, ia tidak ingin Mei menganggapnya lancang. Perlahan ia dorong menjauh ponsel Mei.
***
"Taraaaa sudah masak semua, ayo kita makan," ujar Mei melebarkan tangannya.
Edwin berusaha tersenyum agar Mei tidak bertanya-tanya, masakan Mei yang biasanya enak, terasa hambar di lidah Edwin.
"Kakak sakit, kok dari tadi kayak gak napsu makan, Mei hafal kakak deh, nggakada makanan yg dimasak Mei nggak habis di makan kakak," Mei berusaha menambahkan koloke ke piring Ed tapi di tolak dengan halus oleh Ed.
"Nggak kenapa-napa lagi nggak enak perut kakak," jawab Edwin berusaha tersenyum.
Ayam hainan, cap cay dan koloke yang belum ia campur dengan saus Mei sisihkan jadi masih bisa dimakan untuk nanti malam. Cah kangkung terpaksa Mei habiskan sendiri.
Saat Mei membersihkan meja makan setelan mencuci piring, Edwin mengajak Mei jalan-jalan nanti malam.
"Sekitar sini aja Mei, nggak usah jauh-jauh, kayaknya ada cafe sekitar 300 m dari sini," ucap Edwin dan Mei menjawab dengan anggukan.
***
Edwin menunggu Mei ganti baju, ia sampai ngantuk nunggu di sofa, di miringkannya wajah Ed menyangga di meja di ruang tamu. Lama amat tuh anak, ngapain aja, pikir Ed.
Saat Mei keluar kamar, Edwin kaget lihat baju Mei.
"Hei ngapain kamu pake baju tanpa lengan, mana dadanya rada nerawang lagi, masuk angin ntar Mei," Ed memandang tak suka dengan pilihan Mei
"Leh ini ada blazernya kakak, ya ampun, aku ya tahu diri masa pake baju kayak gini jalan-jalan," sahut Mei cepat.
Mereka menyusuri sepanjang jalan tak jauh dari apartemen Mei. Mei menggandeng lengan Edwin, mereka berpegangan tangan.
"Besok aku pulang Mei, pakai terus cincin dari kakak ya, jangan pernah dilepas, jangan pernah tinggalin kakak Mei," ucap Edwin pelan.
"Iyah kak,"Mei menjawab pelan dan mereka berdua memasuki cafe, memesan minuman dan makanan kecil. Duduk di sudut berdua. Edwin memandang sekeliling cafe menoleh pada pengunjung yang lain, sesaat matanya menatap laki-laki yang ia lihat mendatangi Mei tadi pagi, dan di saat yang bersamaan laki-laki itu memandang Edwin dan Mei bergantian. Laki-laki itu duduk agak jauh dari tempat ia dan Mei duduk. Pandangan mata keduanya terlihat aneh, dan Ed baru sadar saat Mei menyentuh lengannya.
"Ayo minum kak, nolah noleh aja, takut ada perempuan itu lagi ya, aku nggak mikir dah, kan kakak nggak cinta sama dia," ucap Mei dengan nada riang.
Edwin menggenggam tangan Mei dan mengelusnya pelan. Ed melihat dari ekor matanya laki-laki itu menatap ke arah mereka berdua. Biar lo tau, kalo Mei sudah ada yang punya, menjauh lo dari cewek gue, pikiran Edwin menjelajah ke mana-mana.
***
"Aku balik ke Indonesia ya Mei, nggak usah ngantar ke bandara, baik-baik disini, jaga hati kamu untuk aku Mei," Edwin mencium kening dan mengecup bibir Mei sekilas. Mei mengangguk dan mengantar Ed sampai depan apartemen. Melambaikan tangan dan tersenyum.
_bersambung_
__ADS_1