Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
17


__ADS_3

"Meisya, aku mencintai mu,sangat mencintaimu, aku katakan semua padamu segala sesuatu yang aku alami dan aku rasakan sejak aku menyatakan perasaanku padamu, karena aku tidak ingin ada yang aku sembunyikan padamu, kakak juga berharap begitu, tidak ada yang kamu sembunyikan dari kakak meskipun sedikit," Edwin melangkah, mendekati Meisya, merengkuh kepala Mei ke dadanya, dan menciumnya pelan. Edwin merasakan debar jantung Meisya.


"Mau kan Mei kamu menceritakan dengan jujur, apa yg sebenarnya terjadi antara kamu dan James sampai melibatkan mamanya,  sampai mamanya menelponmu, berarti sudah ada kedekatan antara kamu dan mama James, kakak tidak akan marah, kakak tahu kamu lebih memilih kakak, tapi kakak yakin ada hal yg tidak kakak ketahui," Edwin masih mengusap punggung Mei, seolah berusaha memberikan ketenangan bahwa ia akan sabar mendengar kan cerita Meisya.


Dilepaskannya pelukan pada Mei, ditangkupnya pipi Meisya dan dipandanginya wajah lugu yg ada di depannya.


"Kamu bukan orang yang pandai berbohong,  matamu adalah bagian yg paling jujur, ceritakan pada kakak, kita duduk di sofa, kakak akan mendengarkan," Edwin menuntun Mei ke sofa, setelah mereka duduk,  digenggamnya tangan Mei.


"Kakak jujur Mei, tadi waktu kakak tahu yang menelpon adalah mama James, hati kakak sempat tak karuan dan sempat juga ada rasa marah tapi, melihat matamu yang selalu memandang kakak dengan penuh cinta,  kakak percaya hati kamu lebih memilih kakak,hanya kakak yakin ada hal yang tidak kakak ketahui," Edwin berusaha tersenyum.


Meisya memandang Edwin dengan rasa bersalah yang besar, ia tahu, jika Edwin berbicara dengan bahasa formal, berarti ia tidak main-main.


"Mei akan cerita semua pada kakak, tapi jangan potong cerita Mei, sampai Mei selesai cerita.Awalnya Mei tidak pernah tahu jika akhir nya akan membingung kan seperti ini,Mei hanya berpikir menolong James satu kali saja karena dia juga begitu,  selalu memudahkan urusan Mei yg notabene masih baru dilingkungan kampus tapi... akhirnya kayak gini," mata Meisya berkaca-kaca.


Mei mulai bercerita lengkap dari awal,  tentang permintaan James agar ia ikut dalam acara keluarga James karena James selalu diolokolok jomblo sampai mati, Mei tidak mengira jika papa mama James akan hadir mengingat jarak Perth yang cukup jauh dengan Sydney, tentang ketertarikan mama James sejak awal pada Mei, tentang undangan ke Perth yang awalnya akan Mei akan jujur pada mama James tentang hubungan pura-pura mereka yang akhirnya gagal gara-gara mama James bercerita tentang kanker yang diderita oleh mama James. Namun satu hal yang tidak akan pernah Mei ceritakan pada Edwin, tentang James yang telah menciumnya, meski ia tidak merasakan apa-apa, ia tidak ingin Edwin merasa kecewa dan meninggalkannya, karena pelan tapi pasti,  Meisya merasakan cinta yang sangat besar pada Edwin.


Edwin menghela napas panjang, digenggamnya tangan Mei,  dipandangi nya wajah cantik nan mungil dihadapannya.


"Kamu terlalu baik, kamu lebih banyak pake perasaan,pakailah logika Meisya, kakak tahu mama James sakit, tapi justru karena sakit kamu harus jujur padanya secepat mungkin,jika dia tahu di akhir, maka akan semakin memperparah keadaan, terimalah telpon dari mama James, jika dia ingin bertemu denganmu,  ayo kakak temui, kita bicara baik-baik, kakak yakin mamaJames tidak akan marah atau benci pada orang semanis kamu," Edwin memandang Meisya dengan perasaan cinta yg amat sangat, wajah ketakutan, cemas dan bingung Mei semakin membuat Edwin gemas, Edwin tersenyum perlahan merengkuh bahu Meisya, mengangkat dagunya dan mencium bibirnya perlahan, bibir Meisya bergertar dan perlahan terdengar isak tangisnya Mei melepaskan ciuman Edwin.


"Maafkan Mei, kak," lirih suara Mei diantara isak tangisnya.


"Kakak akan selalu memaafkanmu, tapi jangan buat keadaan menjadi sulit karena kebaikanmu, tidak setiap masalah selalu pakai perasaan Mei, jika membahayakan dirimu maka pakailah logikamu,"Edwin kembali merengkuh Meisya dalam pelukannya.


"Berhentilah menangis, telponlah mama James, jangan buat dia menunggu, tadi kakak tidak bilang apa-apa saat dia menelpon,kakak hanya bilang kamu ada tamu,dan dia tidak tanya kakak ini siapa, dia hanya bilang akan segera menelpon lagi," Edwin mengurai pelukannya dan mengangguk meyakin kan Mei agar menelpon mama James.


Perlahan tangan Mei meraih ponsel yang ia masukkan dalam celana pendeknya tadi. Dan mulai menelpon mama James. Ada rasa takut dalam hati Mei, ia tidak bisa memprediksi apa yg akan terjadi. Namun tatapan lembut Edwin membuat Meisya sedikit tenang. Tak lama telpon tersambung, Mei pasang speaker agar Edwin juga mendengar pembicaraan mereka.


Halooo Meisyaaaa..

__ADS_1


Halo tante, maaf tadi tante nelpon Mei?


Iya sayang, ada yg ingin tante bicarakan, besok Meisya pulang kuliah jam berapa?


Kebetulan besok tidak ada jam kuliah tante


Ok, kalo gitu siang ya, tante mau ke apartemen kamu (Mei terbelalak kaget dan Edwin mengangguk,bermaksud agar membiarkan saja mama James mendatangi apartemennya)


Oh iya iya tante


Alamat apartemenmu dimana?


Meisya menyebutkan alamat apartemennya


Ok sampai ketemu besok siang ya sayang,  kebetulan suami tante ada urusan bisnis ke Sydney sekalian tante ikut, ada masalah penting yang mau tante bicarakan padamu sayang, ok sampai besok ya


Iya tante


"Tidak apa-apa, terima mama James kakak akan menunda jadwal pulang menjadi lusa pagi-pagi, kakak akan memastikan kamu baik-baik saja, sebelum kakak pulang ke Indonesia."


***


Malam hari karena kelelahan Meisyatertidur pulas di kamarnya. Edwin membuka kamar Mei dan memandangi wajah lugu nan cantik yang tidur dengan napas teratur. Disibaknya rambut lebat dan panjang milik Meisya. Diusapnya pelan pipi Mei dan menciumnya sekilas.


Jam 01.00 Edwin merebahkan badannya di sisi Meisya. Memeluknya pelan dan mulai memejamkan matanya.


***


Mei menggeliat pelan, dan baru sadar jika Edwin tidur di sisinya,  lengan besar Edwin melingkar di pinggang Mei. Perlahan Mei memindahkan lengan Edwin dan melangkah ke kamar mandi.

__ADS_1


Saat keluar dari kamar mandi, Mei melihat Edwin masih tidur pulas. Ia pandangi wajah Edwin, rasa bersalah masih juga dirasakan oleh Meisya.Kedatangan mama james nanti siang benar-benar membuat pikiran Meisya tak karuan.


Edwin bergerak pelan dan membuka matanya. 


"Hei pagi-pagi sudah mandi?" tanya Edwin kaget dan tersenyum pelan. 


"Sudah berdandan pula, mau nunggu mamanya James yaaa?" tanya Edwin menggoda. Terlihat Meisya yang masih ada di sisi kasur dan sudah berdandan cantik dan menopang dagu dengan tangannya.


"Ih nggak kak, ayo kakak cepetan mandi, Mei mau ngajak kakak ke foodtruck dekat-dekat sini nih, yg punya orang Padang, paling sekitar 150 meterlah dari sini, kalo pagi nyiapkan sarapan macem-macem kayak yang di kampus Mei," Meisya menarik Edwin bangun dan mendorongnya ke kamar mandi.


"Aku tunggu diluar ya kak," Mei melangkah keluar kamar.


Tak lama Edwin muncul, Mei memandang Edwin yang selalu terlihat tampan menurut Mei.


"Ih kakak selalu ganteng deh," Meisya terlihat memandangi Edwin dengan tatapan kagum.


"Ya iyalah makanya di buku harian kamu, isinya mengagumi badanku, wajahku, pengen digigitlah, apalah," ujar Edwin santai sambil berlalu tanpa melihat Mei. Dan mata Meisya membulat, mulutnya terbuka lebar.Dan berlari memukul Edwin dengan wajah memerah karena kejelekannya jadi terbongkar.


"Aaaaaaa kakak jahat,  ngapain buka buku harian Mei. Iiiih kapan kakak nyurinya," Mei masih memukuli lengan Edwin. Edwin pegangi dua tangan Mei sambil tertawa lebar.


"Lah kakak nggak sengaja nemu waktu kamu kemana ya, apa pas ikut lokakarya ke puncak apa pas kamu ke sini ikut tes awal apa ah lupa," Edwin masih memegang tangan Mei yang berusaha memberontak.


"Kakak juga ngapain masuk kamar Mei, iiih pasti dulu kakak pura- pura benci Mei kaaan,  huh taunya suka sama Mei, heh pake acara ngusir-ngusir lah," Mei masih saja ngoceh sampai bibir Edwin menekan bibirnya pelan dan segera Edwin lepaskan.


"Ayo ngoceh lagi, kakak cium lagi kamu," Edwin tertawa lebar dan memeluk bahu Mei mengajaknya melangkah menuju pintu


***


Meisya menggandeng lengan Edwin dan keduanya terlihat asik  bercanda, keluar dari area apartemen Meisya,  saat tanpa Mei dan Edwin sadari tatapan mata mama James mengikuti mereka berdua dan mengejar Mei di belakangnya. Menepuk pundak Mei pelan. Mei menoleh dan kaget.

__ADS_1


"Tante!"


__ADS_2