
Sampai di apartemen, Meisya merebahkan badannya di kasur tanpa mengganti bajunya. Ada apa dengan James? Mengapa ia tidak menjawab panggilan dan teriakannya yang berulang? Apakah ada yang salah dengan kata-katanya? Ia hanya mengatakan akan menikah itu saja...
Sampai satu jam kemudian barulah Meisya bangun mengganti bajunya dengan baju rumah. Hari ini Mei merasa beruntung tidak ada perkuliahan, namun besok, seharian ia di kampus.Seminggu lagi James akan datang, Mei mutuskan untuk menuruti kemauan James yg akan menjaga jarak, itu akan lebih baik dari pada James merasa tersakiti dan Mei merasa telah menyakiti James.
Benar-benar hal yang tak pernah Meisya duga jika sejak awal James telah menyukainya. Karena Meisya tidak pernah melihat sinyal itu sejak awal. Mei tidak pernah melihat James menatapnya dengan mesra atau mengumbar kata-kata yang memabukkan padanya, tidak, tidak pernah.
Hanya perhatian- perhatian kecil biasa yg ia terima itupun selalu ditemani tatapan datar James. Mei baru sadar saat semuanya telah terlambat, ciuman dan pengakuan James di Perth telah menjelaskan semuanya. Mei merasa ia terlalu bodoh, ia tidak pernah tahu jika perasaan cinta kadang tidak perlu diungkapkan dan diperlihatkan, itulah James.
Mei menyeret langkahnya ke dapur, menuangkan air minum ke gelas dan meneguk nya sampai habis. Ia benar-benar merasa pusing, dunia cinta baginya benar-benar aneh, menyakitkan, menyesakkan.
Mei kembali menyeret langkahnya ke kamar saat panggilan telepon berbunyi nyaring dari kamarnya. Ah kak Edwin...
Halo kak....
Kenapa? Kok suaramu lemas gitu
Nggak papa.... Kakak masih di kantor?
Iyah, ini baruuu aja makan siang, kamu udah?
Belom, males, tadi dari rumah sakit, mama James dah kembali ke Perth, sukur deh kak tante Melda dah mendingan
Lah harusnya kamu senang, bakal calon mertua dah sembuh
Ih lagi nggak mau gurau
Lah lalu kenapa sayaaaang
Si James aneh kak, tadi dia nelpon, tanya papanya kok ditelpon gak bisa ya aku bilang paling pas lagi otw ke bandara, sampek akhirnya aku bilang ke dia kalo akunya mo nikah eh dianya ngilang pas aku panggil-panggil... aneh
Hmmmm sayaaang sayang, ya jelaslah dia kaget, kamu juga tanpa mukadimah langsung bilang, tapi itu lebih baik jadi dia akan berhenti berharap sama kamu
Tapi jadi aneh kak, tiba-tiba aja dia ngilang
Ya iyalah sayang, dia kaget
Hmmmm gitu ya, kasian James ya kak?
Ya nggak lah, kenapa kasian? Kamu cinta dia apa?
Eh si kakak, siapa yang cinta sama James, aku cuman kasian aja dia jadi mikir, aku kok ya **** ya heheheh... enak-enak ngomong yang lain kok tiba-tiba bilang empat bulan lagi aku nikah, trus dianya ilang
Ya nggak lah, nggak ****, cerdas malah hahahah Mei Mei masih aja mikir perasaan orang lain, nggak mikir perasaan kak Ed yang kangen disini
__ADS_1
Mei juga kangen kak, cepat kesini sama bu Minda
Iya iyaaa seminggu lagi, sabar, udah ya,aku lanjut mau kerja lagi, ada tamu yang mau aku temui
Siapa? Si uler?
Hahahahha nggak lah, udah dulu ya sayang, bai Meisya
Bai kakak
Meisya menutup ponsel dan kembali ke dapur untuk menyiapkan makan, sejak pagi perut nya belum terisi apapun sampai siang seperti ini.
***
Meisya membersihkan apartemennya, sprei ia ganti berikut bedcover, lantai ia bersihkan dengan vacuumcleaner. Dua hari lagi bu Minda dan kak Ed akan datang dan kembali pikirannya mengembara mengingat James yang juga datang di saat yang sama.
Biarlah.. biarlah Tuhan yg mengatur segalanya, apapun yang terjadi ya biar saja terjadi...sampai tanpa sadar Meisya sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia merebahkan badannya di sofa. Mengatur napas dan membuka kaosnya.
Perlahan ia melangkah ke kamar mandi dan mulai membasahi badannya dengan menghidupkan shower.
Selesai mandi ia edarkan pandangannya ke seluruh ruangan, bersih dan nyaman, Meisya tersentak saat pintu diketuk berulang dan bel berbunyi tak henti, pasti si Gavin, tidak ada cara konyol bertamu selain dia.
Mei buka pintu dan tampak wajah menggelikan dengan tatapan sok sadis.
"Apaan?" tanya Mei acuh.
"Ah macam-macam kripik khas Indonesia, makasih, mama kamu datang?" tanya Mei. Gavin mengangguk dan melongokkan kepalanya ke dalam apartemen Mei
"Masuk lah," ujar Mei menepi dan berjalan mendahului Gavin.
"Hmmmm bersih dan harum, makanya dosen ganteng betah kemari," Gavin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Mulut apa tempat sampah?" tanya Mei judes.
"Eh kok marah, kan bener, malah yang kapan hari, pokok lama dah kamu kemana sama si dosen ganteng, kayak mau melakukan perjalanan jauh, hmm dibooking deh lo ya?" mulut Gavin mulai nyerocos.
"Heh makan cabe berapa, kok pedes banget tuh mulut, nggak tahu ya kalo aku mengalami hal memusingkan, nggak bantu malah menghujat dasar kutu, busuknya lo sebar kemana-mana," tak kalah sengit sahutan Mei dengan mata berkaca-kaca. Gavin merasa bersalah dan mendekatkan wajahnya.
"Eh emang ada apa? Apa karena ada masalah sama kamu kok tiba-tiba dia diganti dosen lain?" tanya Gavin.
"Maaf deh aku nggak tahu masalahmu, emang ada apa sih, cerita dong Mei, maaf aku jarang ke sini, abis aku trauma, sejak tau dimarahi kakakmu jadi takut bener mau ke sini lagi," ujar Gavin mulai melunakkan nada bicaranya.
__ADS_1
Mei mendesah pelan dan mulai bercerita lengkap semuanya tentang James, dirinya dan Edwin. Mulut Gavin terbuka lebar.
"Bener kaaaan, aku dah ngira kalo tuh dosen suka sama kamu Mei," ujar Gavin terlihat bernapsu.
"Tapi Gav, dia nggak pernah mesra ato apa lah kata-kata rayuan pulau kelapa lah, nggaaaak nggak ada, ngakunya juga tiba-tiba dan semuanya kacau," mata Meisya menerawang. Gavin menggeleng pelan.
"Kamu lugu banget sih," ucap Gavin sambil menatap Mei.
"Cara orang kan lain-lain Mei, dia termasuk tipe yg nggak perlu ngumbar kata-kata,"ujar Gavin lagi
"Tau nggak, malah kak Ed ngajak aku nikah empat bulan lagi,"suara Mei terdengar mengambang. Gavin kaget dan membuka mulutnya lebar.
"Waduh Mei, trus?"Gavin terlihat penasaran.
"Aku mencintainya Gav, sangat, tapi kalo untuk nikah ya aku maunya nanti aja setelah selesai magisterku," jawab Mei. Gavin menggeleng pelan
"Tapiiii aku pikir bener kak Ed, mending kalian nikah aja, aman dah," Gavin menganggukkan kepalanya.
"Aman gimana?" tanya Mei penasaran.
"Ya aman dari segalanya, pasti dosen ganteng akan mundur teratur dan yang penting lagi aman pas kak Ed ke sini, aku nggak jamin deh kalian nggak ngapa- ngapain, cuma berdua selama beberapa hari, hadeh pasti dah *****- ***** iya kaaan?" mata Gavin membelalak pada Mei. Dan wajah Meisya merona merah.
"Hmmm nggak ngaku nggak papa, wajah kamu dah mengiyakan," Gavin menangkis pukulan Mei sambil tertawa.
"Mau makan Gav, aku masak nih," Meisya beranjak ke dapur menawarkan masakannya.
"Masak apaan sih, bisa dimakan nggak?" tanya Gavin menengok isi dapur dan meja makan, mencomot satu tempura dan mendesis keenakan, ia bawa piring ke ruang tamu. Meisya terbelalak.
"Hei, kucing kamu bawa semua tuh sepiring?" Meisya menahan marah
"Halah kamu kan pinter masak," Gavin masih mengunyah dengan semangat. Dan mencari- cari sesuatu di dapur, ia mengambil saus tomat dan kembali menikmati tempura, cumi goreng tepung dan jamur krispi. Meisya geleng-geleng kepala.
"Hmmmmm kripik ditukar sama lauk sehari ..ck...ck...ck...," Meisya menggelengkan kepalanya.
"Bener-bener deh istri idaman, enak masakanmu Mei,sayang aku kok nggak tertarik sama sekali sama kamu, heran deh apaaaa yang diperebutkan dua om-om ganteng itu. Wahahahah," Gavin semakin meracau tak jelas.
"Om-om kepalamu, mereka laki-laki tampan yang memperebutkan putri cantik nan anggun," Meisya melototkan matanya pada Gavin. Keduanya berhenti berdebat saat pintu apartemen Mei ada yang mengetuk. Keduanya saling berpandangan.
"Weh, siapa ya Gav?" tanya Mei heran. Gavin mengedikkan bahunya dan melanjutkan menghabiskan lauk Meisya yang harusnya untuk makan malam. Meisya beranjak ke pintu membuka pelan dan setengah menjerit ia mundur.
__ADS_1
"Jaaameees....
*****