Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
24


__ADS_3

*SUK*


#24


Aduh gimana Ed, kita kan mau pulang besok ke Indonesia," bu Minda terlihat bingung.


"Diundur sehari saja lah ma, siapa tau James mau ngantar ponsel mama, ato om Ben saja," Edwin secara tak sadar menyebut nama papa James. Wajah mama berubah seketika.


"Kalo mama nggak masalah diundur, kamu trus gimana?" tanya mama. 


"Nggak papa, aku nelpon wakilku ma, kan nggak sering aku ninggal perusahaan," jawab Edwin.


"Terserah kamu dah Ed, telponkan James ya Ed," bu Minda memegang lengan Edwin. Edwin mengangguk cepat. Saat Edwin menoleh ke sisi kanan, ia melihat Mei yang terdiam entah melamunkan apa. Edwin  mendekap kepala Mei ke dadanya. Bu Minda senyam senyum melihat tingkah Edwin.


"Mikir apa sayang?" Ed mencium puncak kepala Mei, Meisya berusaha melepaskan pelukan Edwin, sementara bu Minda pura-pura tidak melihat dan menoleh ke sisi yang lain. Meisya melotot pada Edwin memberi kode dengan tangannya sambil menunjuk-nunjuk bu Minda yang ada di sebelah Edwin.


Edwin menahan tawa dan melepaskan pelukannya. Meisya memukul lengan Edwin pelan.


Penerbangan kali ini meski lama, bagi Mei dan Edwin sangat menyenangkan. Mereka saling mengganggu dan menahan tawa karena ada ibu Minda.


***


Menjelang senja mereka melangkah turun dari pesawat. Edwin terlihat menuntun bu Minda yang terlihat lelah.


"Mama baik-baik saja?" tanya Edwin. Bu Minda hanya mengangguk dan melangkah di sisi Edwin.


***


Edwin membuka pintu apartemen Meisya dan membawa travel bag ke dalam kamar Mei.


"Mandilah dulu Mei, ibu masih ingin rebahan," bu Minda terlihat menarik perlahan syal yang ada di lehernya, membuka outternya dan mulai merebahkan diri dikasur.


"Iya ibu, Mei memang ingin mandi, meski tidak gerah tapi rasanya tidak enak kalo tidak mandi," Mei mengambil baju rumah di lemarinya dan melangkah ke kamar mandi.


"Ed,  ngapain kamu masih berdiri di sini?" tanya bu Minda melihat Ed yang masih memandangnya dengan wajah penuh kawatir.


"Ed kawatir sama mama, mama nggak papa kan?" tanya Edwin lagi.


"Nggak papa sayaaang,  mama cuma ingin rebahan saja, bener," jawab bu Minda menyakinkan Ed.


"Iya dah, Ed mandi dulu, trus mau tidur, capek banget, semaleman nemani James ngobrol, ntar Ed telpon James ya ma mau nanyain ponsel mama," ujar Edwin sambil melangkahkan kakinya keluar kamar. Bu Minda mulai memejamkan matanya.


***


Mei melangkah pelan ke luar dari kamar mandi, ia melihat bu Minda yang tertidur pulas. Mei menatap wajah bu Minda dengan tatapan sedih, hampir semalam ia merasakan kegelisahan bu Minda yang hanya membolak balikkan badannya.


Mei keluar kamar dan melangkah ke kamar Edwin, ia tidak melihat Edwin di kamarnya,  namun Mei mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Mei segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam, ia membuat makanan yang simpel. Ia ingat di kulkas masih menyimpan sawi putih dan wortel, ia keluarkan dan mengambil udang dan meatball di freezer. Ia pisahkan udang kecil akan ia padukan dengan sawi putih dan wortel untuk dibuat asam manis, dan udang yang besar akan digoreng dengan tepung. Biarlah sederhana saja,  sebenarnya ada daging has dalam yang bisa ia buat steak tapi kok Mei merasa malas masak steak malam ini.


Mei sedang motong- motong wortel saat Edwin memeluk Mei dari belakang. Mei agak kaget dan tersenyum perlahan.


"Duduk disana dulu gih,  bentar lagi masak kok kak, kak brenti nyiumin rambut Mei, Mei mau masak dulu ya, ntar kalo sudah pasti Mei yang cium kakak," Mei sedikir mendorong Edwin dengan sikunya.

__ADS_1


*Bener yaaaa, bener loh ntar kakak tagih," Edwin mulai melepaskan pelukannya dan kaget saat bu Minda menepuk pundak Edwin.


"Biasa, mesti gangguin orang masak, kalo di rumah nih suka gangguin bik Sum, suka nyolong tahu tempe yg baruu saja digoreng, di sini gangguin kamu Mei," bu Minda melihat- lihat bahan masakan Meisya.


"Ibu bantu Mei?" tanya bu Minda mulai mengupasi kulit udang. 


"Nggak usah ibuuuu,  ibu istirahat saja, bentar lagi pasti udahan kok," Mei mulai memotong- motong sawi putih.


"Males juga ibu cuma dalam kamar, tadi ibu sempat tertidur bentar, enak rasanya ke badan,  bentar lagi ibu mau mandi, setelah bantuin ngupas udang," bu Minda memisahkan kulit kepala udang dan menyisihkan udang di mangkok kecil. Setelah selesai ia mencuci tangan dan melangkah ke kamar Meisya untuk mandi.


***


Edwin kembali berdiri di dekat Meisya yang mulai menggoreng udang yang sudah dicelupkan pada adonan tepung.


"Hmmmm harum Mei,  bener-bener deh istri idaman, pinter masak,  cantik dan...cup," Edwin mencium pipi Meisya.


"Ih kakak, Mei masih goreng udang jangan gangguin, ntar nggak masak kalo banyak gangguan," ujar Mei pura-pura marah.


"Habisnya nggak ada kesempatan nyium kamu selama di sini," ujar Edwin tertawa geli.


"Makanya cepetan nikah, jadinya nggak perlu nyuri-nyuri buat nyium Mei," tiba-tiba bu Minda muncul di belakang Edwin.


"Iya maaa empat bulan lagi halaaaal bebas mau ngapain Mei," ucap Edwin tertawa lebar.


"Nggak juga kali," Mei terdengar menyahut dengan sewot.


"Lah.kan bener sayang,  ntar kalo dah halal kan aku bebas mau ngapa- ngapain kamu," ucap Ed sambil tertawa.


"Nggak usah didengerin si Ed, Mei, dia emang dah waktunya punya anak,makanya omongannya gitu, eh iya ngomong-ngomong model baju pengantinnya yang mana Mei itu ibu bawa beberapa contoh, ntar setelah makan kita bicarain itu ya," tante Minda membantu Mei membawa masakan yang sudah siap ke meja makan.


"Iya ibu sahut Mei," yang segera mematikan kompor dan membawa saus tomat dan saus sambel untuk udang goreng tepung.


Edwin terlihat makan sangat lahap, ia terlihat menyendokkan udang sayur asam manis ke piringnya beberapa kali.


"Suka apa lapar Eeed, pelan-pelan makannya," ujar bu Minda sambil tertawa pelan. Edwin hanya tertawa tanpa bersuara dan tetap melanjutkan makannya.


"Laper dan suka yang jelas ma, kadang Ed suka ngeri juga,  ntar kalo sudah nikah Ed ngeri takut gendut kayak bapak-bapak beneran,  soalnya kan masakan Mei enak terus, haduh harus rajin ngegym nih," Edwin terlihat memegang perutnya yang masih rata. Terdengar tawa bu Minda dan Meisya.


"Ya biar aja gendut, kan dah punya istri, biar gak ada yang ngelirik-lirik, iya kan ibu?" Meisya menoleh pada bu Minda yg terlihat mengangguk- angguk sambil tertawa.


"Heeeh maunya, aku suru gendut dan kamunya tetep cantik, curang," Edwin terlihat sewot dan menghabiskan minumnya. Terlihat Meisya yang membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya.


***


"Nih Mei coba lihat, ini baju-baju pengantinnya, kamu cari modelnya, ini contoh-contoh souvenir, ini model kamar pengantinnya, trus hiasan saat kalian akad dan resepsi nanti, kalo urusan hidangan ntar ibu yang mikir, ayo cepet pilih kamu sama Edwin, ibu mau rebahan dulu ya, masih capek," ibu Minda terlihat masuk ke kamar Mei.


***


Hari beranjak semakin larut namun Meisya dan Edwin masih asik berdiskusi persiapan pernikahannya, setelah jam menunjukka angka 12.30 malam mereka baru selesai dengan pilihan mereka dan baru bersepakat berdua.


Aduh capek kak,  aku mau tidur dulu," Mei mulai berdiri dari duduknya dan merentangkan tangan nya menggeliat- geliatkan badannya. Namun Edwin menarik Meisya duduk lagi.

__ADS_1


"Aku ngantuk kak bener, udah ya aku hmmppp," Mei kaget karena tiba-tiba Edwin telah mencium bibirnya dengan lembut, agak lama ia merasakan kelembutan bibir Edwin, namun saat tangan Edwin mulai menyentuh leher dan turun ke dadanya, Meisya mulai mendorong dada Edwin pelan dan tangan Edwin ia pegang dan ditariknya dengan pelan.


"Nggak boleh kak, nggak boleh, nunggu empat bulan lagi," Meisya dapat bernapas lega setelah dapat terlepas dari ciuman Edwin. Edwin memeluk kepala Meisya ke dadanya.


"Makasih mengingatkan aku, aku suka lupa kadang Mei," terdengar suara Edwin yang masih parau.


"Bukan lupa, napsu kali," terdengar tawa pelan Mei dan melepaskan pelukan Edwin, dan Edwin juga tertawa menanggapi gurauan Meisya.


"Kalo dah napsu emang suka lupa kan Mei," Edwin mengacak-acak rambut Meisya.


"Kalian belum juga tiduuur, ayo tidur dah jam berapa tuh," tiba-tiba bu Minda mucul diantara mereka.


"Ia ibu, ini dah mau masuk kamar," ujar Mei melangkahkan kakinya ke kamar sambil tersenyum. Setelah Mei menghilang ke dalam kamar, bu Minda menjewer telinga Edwin dan Ed mengaduh meski tidak sakit.


"Anak nakal, udah dibilangin nunggu empat bulan lagi kok, masih saja nakal tuh tangan," bu Minda terlihat marah dan Edwin nyengir- nyengir nggak jelas.


"Iya iya maaa ampun, Ed tidur aja deh ma," Edwin melangkah ke kamar sebelah dan bu Minda pun masuk ke kamar Meisya.


***


Pagi-pagi Mei terlihat segar dan Edwin juga sudah siap menunggu di sofa.


"Kamu ngapain pake topi segala, nggak panas ini?" tanya Edwin sambil tertawa dan mendongak kan kepalanya melihat Mei yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Lagi males ngikat rambut, biar nggak terbang-terbang nih rambut aku topiin aja," Mei tersenyum manja.


"Kakak juga rapih banget kayak mau kemana?" tanya Meisya.


 


"Dingin Mei, makanya aku pakek baju ginian," jawab Edwin bersedekap


"Hei kalian mau kemana?" tanya bu Minda heran.


 


"Ayolah ma, jalan-jalan,  tak jauh dari sini ada foodtruck dengan macam-macam makanan untuk sarapan," ajar Edwin dan diiyakan oleh Meisya.


"Males ah, mama belikan aja, mama nunggu disini, mama masih belum mandi juga," bu Minda terlihat bmalas dan capek.


"Ayolah ibu jalan-jalan bentaaar aja, nggak papa meski belum mandi, masih keliatan cantik kok," ajak Mei juga dan bu Minda menggeleng.


"Iya dah kalo gitu kami jalan dulu ya mama, ntar mama mau dibeliin apa sarapannya?" tanya Edwin.


"Sembarang dah, mama mau," jawab bu Minda mendekap kedua tangannya ke dadanya. Edwin dan Meisya berlalu dari hadapan bu Minda dan menutup pintu apartemen.


Bu Minda segera masuk ke kamar Mei untuk mandi. Dan terlihat segar setelahnya. Terlihat bu Minda menyeduh teh hangat dicampur sedikit lemon, duduk di sofa dan menyesapnya perlahan.


Tak lama terdengar ketukan pintu, ah cepet banget anak-anak itu kembali, deket banget paling tempatnya, pake acara ngetuk pintu segala, biasanya mereka asal buka saja.Pikir bu Minda, yg melangkah kan kaki ke pintu dan membukanya perlahan.


"Ben....."

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2