Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
46


__ADS_3

*SUK*


#46


Edwin dan Mei mulai memejankan matanya,  namun tiba-tiba Edwin bangun dan menatap Mei yang tidur menyamping.


"Sayang, tadi aku kasihan banget sama Al, dia kayaknya emang cinta sama James, trus Jamesnya gitu ya kayak gimana gitu wajahnya," ujar Edwin sambil mengelus pipi Meisya. Mei membuka matanya dan membalikkan badannya. 


"Emang iya kan kak,  kelihatan banget si Al nya kalo sukak sama James, apalagi waktu diseret-seret itu, kan si Al nya senyum-senyum senang, sementara Jamesnya duh aku gemes deh, belajar sukak gitu sama Alice,  cantik gitu padahal, huh dasar," Mei mengusap pipi dan rahang Edwin.


"Enak aja kamu ngomong ya, nggak tau kalo si James itu proses ngelupain kamu sayang,  dikira gampang apa?" Edwin mendekatkan wajahnya ke arah Mei dan mencium Meisya dengan lembut, Mei membalas pelukan Edwin dan tangannya menyusuri dada Edwin, terus mengusap ke bawah, ke pangkal paha Edwin. Edwin kaget dan tersenyum sambil membuka baju tidur Mei perlahan, menciumi bahunya yang terbuka.


"Baiklah aku lanjutkan,  kamu yang meminta lebih Mei sayang," Edwin membuka kaosnya dan tangannya menjangkau ke semua tempat yang bisa ia jangkau... Mei menahan napas saat kepala Edwin menghilang diantara pangkal pahanya dan mendesah perlahan...


***


Pagi hari Mei membuka matanya dan merasakan badannya yang sulit bergerak, terasa pegal dan sakit dibeberapa tempat, mungkin karena terbawa suasana rumah baru, Edwin jadi tanpa henti semalam.


Mei memandang wajah nyenyak Edwin, diliriknya jam masih pukul empat pagi. Diusapnya pelan pipi Edwin dan Edwin menggerakkan badannya, memeluk pinggang Mei dan mulai membuka matanya.


"Masih pagi banget sayang, mau lagi?" tanya Edwin dengan suara serak. Mei memukul dada Edwin.


"Ih, laaagi, nggak, ancur rasanya badanku," Meisya merapatkan selimut ke badannya saat ia merasakan kulit mereka bersentuhan.


"Alah ancuur, tapi tetep aja semangat juga meski bolak balik," Edwin tertawa pelan sambil menciumi leher Mei.


Mei diam saja tak bersuara membalikkan badannya dan tertawa memunggungi Edwin. 


Mei menjerit pelan saat jari Edwin menarik-narik ujung dadanya, menciumi punggungnya dan merapatkan badannya pada badan Mei, dan Mei merasakan gelombang itu lagi... membuatnya hampir pingsan karena lelah dan nikmat yang datang bersamaan.


***


Edwin menjatuhkan kepalanya di bahu Meisya, memeluknya dari belakang dan merasakan deru napas Mei yg masih memburu.


Mei membalikkan badannya menatap Edwin yang masih memejamkan mata, menormalkan napasnya. Mei mencubit pipi Edwin


"Mau bunuh Mei ya?" Meisya terlihat jengkel. 


"Alah mau bunuh gimana, posisi kayak tadi desahan kamu makin jadi aja," Edwin tertawa dan terlihat napasnya masih memburu. Mei memukul dada Edwin. 


"Kakak capek Mei, bener, jangan mukul-mukul," Edwin terlentang dan membiarkan selimutnya diambil Mei. 


Mei segera melilitkan selimut ke badannya dan melangkah perlahan ke kamar mandi, jika mereka terus bergelung berdua, Mei yakin ia akan benar-benar pingsan.


Dipaksakannya melangkah meski badannya terasa pegal, ia hidupkan kran untuk mengisi bathup dengan air hangat dan merendam badannya perlahan.


Mei keluar dari kamar mandi dan melihat Edwin yang masih tidur dengan nyenyak. Didekatinya Edwin, Mei cium kening Edwin perlahan.


"Mandi dulu kakak sayang, kita ke ibu dulu yuk, aku mikir sarapan ibu gimana?" tanya Mei. Edwin berusaha membuka matanya yang terasa lengket.


"Aduh, kakak masih ngantuk Mei, capek lagi,  mama pasti ntar makan sama om Ben,  apartemen ini agak jauh loh sama apartemen kamu itu, biar aku mau nelpon mama, biar nyari sarapan sendiri, nanti kita nyusul ke rumah sakit ya sayang," Edwin meraih ponsel disisi kanan tempat tidur dan menelpon mamanya.


***


Bu Minda menemani om Ben kemoterapi hari ini. 


"Tidak usah mikir efek kemonya Ben, pikirkan kamu harus sembuh, aku akan menunda kepulanganku, harusnya hari ini setelah kamu kemoterapi, aku hanya ingin tahu efeknya, aku akan menemanimu melewati itu," bu Minda menatap om Ben yang memejamkan mata, obat kemo sudah dimasukkan melalui jarum infus, sebenarnya ada obat kemo yang tinggal telan saja, tapi entah mengapa om Ben lebih memilih yang seperti ini.

__ADS_1


"Aku yg jelek gini, akan semakin jelek saat gundul nanti," om Ben tertawa pelan di pembaringan.


"Kapan kamu pernah tampan?" ledek buMinda Om Ben tertawa lagi. 


"Duluuu waktu masih aktif di organisasi kemahasiswaan dan ada adik kelas yang selalu menguntitku, saat itu aku merasa tampan," sahut om Ben tetap memejamkan matanya sambil tersenyum.


"Alaaah cerita lalu, dan aku tidak menguntitmu,  kurang kerjaan apa?" sahut bu Minda cepat. 


"Yaaah tidak menguntit,  hanya mengikuti hampir semua kegiatanku," om Ben menahan senyumnya. Bu Minda menatap wajah om Ben dan matanya memanas.


Om Ben membuka matanya, menoleh pada bu Minda dan mendapati bu Minda yg menyusut air matanya.


"Maafkan aku," suara om Ben terdengar pelan dan bu Minda menggeleng. 


"Ah tidak Ben, aku hanya tiba-tiba saja ingat suasana kampus dan dadaku sakit," bu Minda menutupkan tisu pada matanya dan menekannya pelan.


Om Ben masih menoleh, menatap bu Minda, ada keinginan yang kuat untuk memeluk wanita yg telah mengisi hatinya bertahun-tahun, tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan. Om Ben kembali memejamkan matanya.


"Aku ingin suatu saat kita ke kampus berdua Minda, menyusuri sepanjang koridor kampus kita dan...,"om Ben menghentikan kalimatnya saat didengarnya tangis bu Minda yang tertahan. Kedua tangan bu Minda ditutupkan ke wajahnya dan bu Minda keluar dari ruangan om Ben.


Diluar bu Minda menumpahkan tangisnya, dia tidak menyesali apa yang terjadi, hanya entah mengapa jika ingat kampus maka ia akan ingat semua kisah mereka berdua, setiap sudut kampus seolah mampu menceritakan segalanya.


Setelah agak reda tangis dan emosinya, bu Minda menghapus airmatanya. Duduk di kursi yang ada diluar ruangan om Ben dan menatap lurus ke depan.


Dari jauh Edwin dan Meisya melihat buMinda yang sejak awal keluar dari ruangan om Ben, menangis dan melamun diluar.


"Kenapa ibu ya kak,  masak nggak teguran lagi ntar sama om Ben,  duh Mei jadi ikut sedih," Mei menatap Edwin, Edwin menarik tangan Mei dan mengajaknya melangkah mendekati mamanya.


"Mama, kok diluar, di mana tempat om Ben kemo?" tanya Edwin, bu Minda berusaha tersenyum pada keduanya, meski matanya masih sembab dan ada sisa air mata.


"Ayo masuk, mama antar," mereka berjalan beriringan dan melihat om Ben masih terbaring. Om Ben tersenyum melihat Edwin dan Mei datang, keduanya bergantian mencium pipi om Ben. Dan sekilas om Ben melirik buMinda


Tak lama, terdengar ponsel Mei berbunyi, tampak ia berbicara dengan seseorang, lalu keluar dari ruangan om Ben dan tampak melambaikan tangannya pada seseorang.


Tak lama Meisya masuk ke ruangan om Ben dengan Alice. Edwin tersenyum ia mulai mengerti rencana Meisya.


"Om, kenalkan, ini Alice,  pacarnya James, ya kan Alice," Meisya mengenalkan keduanya dan Alice tersenyum pada om Ben, lalu mencium pipi bu Minda.


Alice ini, apartemennya tetanggaan sama Mei yang dikasi om tuh,  jadinya asik kami bisa janjian kalo kemana- mana berempat," Mei mengerlingkan matanya pada Edwin.


***


James datang bertepatan dengan kemoterapi pertama om Ben selesai. Mereka menuju rumah makan yg menyediakan chines food tak jauh dari rumah sakit. Saat akan duduk Mei mengatur sedemikian rupa agar Alice berdampingan dengan James.


Mereka makan siang penuh canda, terutama Mei dan Edwin yang selalu memancing James agar melayani Al dengan baik.


"James kamu jangan makan sendiri, tuh si Al tawarin, dia kan orang baru di keluarga kita,  masa pacar dicuekin aja, alah James nggak usah ngomomg cepet gih ambilkan lauk buat Alice," Meisya menyuapkan koloke ke mulut Edwin.


James terlihat kesal pada Mei, ia akan membantah ucapan Mei tadi yang menyebut Al adalah pacarnya tapi tidak diberi kesempatan oleh Mei, sehingga James hanya mendengus kesal. Akhirnya karena melihat Al canggung, James menawari beberapa lauk pada Alice dan Alice menatap wajah James, keduanya saling menatap,kembali James kesal saat melihat Al tersenyum padanya.


Saat akan mengambil lauk untuk dirinya, tak sengaja James menumpahkan air ke celana Alice, dengan segera James membersihkan celana Alice, namun tangan Alice memegang tangan James.


"Nggak usah, nggak papa, cuman air, ntar kering sendiri, aku perupa, biasanya yang tumpah lebih parah dari ini," Alice masih menggenggam tangan James dan James menariknya perlahan. Semua yang melihat adegan canggung itu, menahan tawa.


Om Ben hanya senyam- senyum melihat wajah anaknya yang memerah menahan malu, sempat melihat ke arah om Ben dan om Ben pura-pura asik makan. Tiba-tiba om Ben merasa agak mual, bu Minda cepat memberi lemon tea hangat. 


"Gimana Ben, sudah enakan?" tanya buMinda cemas. Om Ben mengangguk

__ADS_1


"Nggak papa, aku harus terbiasa dengan ini, biar nanti aku telpon dokternya, gimana kalo aku pake obat saja, karena kemoterapi kayak tadi buang waktu juga Minda," ujar om Ben melanjutkan makannya.


"Iya bener,  lebih baik yang obat aja, tanya juga kelebian dankekurangan keduanya Ben," buMinda kembali menyodorkan lemon tea hangat pada om Ben.


***


James mengantar om Ben dan bu Minda ke apartemennya.


"Tante biar di kamar sebelah saja, papa di kamar saya, biar saya tidur di sofa," ujar James


"Sembarang sayang,  tante cuma mau memastikan papa kamu baik-baik saja, besok siang tante harus balik ke Indonesia, nggak baik juga terlalu lama meninggalkan bisnis tante di Indonesia meski ada orang yang tante percaya untuk menghandle semuanya, dan kamu cepat pulang ya James, tante nggak enak juga berdua dengan papamu,  sementara kami tidak ada hubungan apa-apa," ujar bu Minda sambil memegang lengan James.


"Iya tante, nanti malam saya akan mengajak Edwin dan Meisya ke sini juga," James menatap wajah bu Minda yang terlihat sungkan.


"Iya iya betul, nanti malam, makan malam sama-sama aja yah,  ajak Al juga James, dia terlihat masih canggung, biasakan berkumpul dengan kami," bu Minda menepuk bahu James dan James terlihat bingung namun menganggukkan kepalanya.


***


James mengetuk pintu apartemen Mei dan Edwin, tak ada sahutan, ia tekan bel. Muncul wajah Edwin dengan rambut basah dan bertelanjang dada.


"Waduh sorry James, lebih baik kamu jemput Alice dulu ke flatnya,  nanti kita berempat ke apartemen kamu, makan bareng disana, Mei masih mandi,  makanya kamu ke Al dulu, trus kesini, trus kita berangkat deh," Edwin mengibaskan rambut basahnya. James menghela napas dengan kesal.


"Aku nggak ngajak Al,  Ed," ujarnya tanpa senyum. 


"Loh Meisya sudah nelpon dia tadi, jam 6  ato 7 akan dijemput kamu biar makan bareng, sudah sana jemput," Edwin menutup kembali pintu apartemennya.


James melangkah dengan kesal, apa maksud mereka semua mendorongnya mendekati Al.


***


James memencet bel, tak lama muncul wajah Al, ia tersenyum dan James terperangah,  lama-lama cantik juga ternyata si Al.. James menggaruk-garuk kepalanya..


"Tunggu ya, aku ambil tasku dulu,kita langsung ke flatnya Mei," ia melesat ke dalam dengan mengangkat sedikit dressnya, James menggelengkan kepalanya pelan.


Harus James akui, Al lumayan cantik jika berdandan ala manusia normal.


Berdua mereka menyusuri koridor menuju lift, kebetulan lift agak rame, James masuk dan menarik Alice, menempatkannya pada posisi aman dari desakan para pengguna lift lainnya, mereka berhadapan, tangan James menekan dinding agar tidak mengenai badan Alice yang hanya berjarak beberapa centi di depannya.


Alice memandang wajah James dari dekat, menikmati momen yang akan sulit ia dapatkan. Lift terbuka saat akan ke luar, tiba-tiba ada seseorang yang tanpa sengaja menubruk badan James, hingga James hampir menyentuh badan Alice, untung James bisa menekan tangannya pada dinding lift, sehingga hanya jarak mereka saja yg menjadi lebih dekat, sesaat mereka saling pandang dengan wajah sama- sama memerah dan James jadi benci pada pasangan pengantin baru yang selalu menyiksanya itu.


***


James menekan bel dan wajah Mei yang menjengkelkan muncul dihadapannya.


"Ayo kita berangkat James, bentar aku panggil Edwin, sayaaang ayoo," Mei berteriak memanggil Edwin.


Berempat mereka menuju apartemen James.


***


"Ben kamu baik-baik saja kan," bu Minda mengetuk pintu kamar mandi, bu Minda cemas karena dari tadi ia mendengar suara om Ben yg muntah-muntah.


Om Ben keluar, sambil memegang dinding dengan lemas, dan berjalan pelan, napasnya terlihat tersengal-sengal. Bu Minda mendekat. Om Ben memeluk bahu bu Minda.


"Minda aku lemas banget rasanya, aku mau makan, karena tadi keluar semua, aku harus kuat, aku harus sembuh" om Ben keluar kamar di papah bu Minda.


Saat keluar kamar, bu Minda agak kesulitan juga memapah om Ben yang tinggi besar. Om Ben menatap bu Minda dari samping. Bu Minda menghela napas.

__ADS_1


"Nggak usah liat-liat aku, kamu sakit, aku ngerawat kamu, besok aku pulang, kamu harus sehat, ngerti," bu Minda berkata dengan ketus, om Ben mendekatkan wajahnya pada bu Minda bersamaan dengan pintu terbuka dan...


Wajah Edwin, Mei, dan James kaget melihat om Ben memeluk bahu bu Minda... Sedang Al hanya diam takmengerti apa yang terjadi...


__ADS_2