
*SUK*
#51
Pagi, Meisya bangun dengan perut perih, ia berjalan membungkuk menuju ruang makan sambil memegangi perutnya, dan meraih roti yang sempat ia beli di bandara. Perutnya terasa melilit, ia tidak ingin penyakit lamanya kambuh, ditekannya perutnya berkali-kali. Ia kunyah perlahan roti yg terasa pahit dimulutnya, Mei cepat membuat madu hangat, diminum nya sedikit demi sedikit.
Setelah agak reda nyeri perutnya, ia segera mandi, setelah itu mencari sesuatu yang bisa dimakan dikulkas nya, ia menemukan spageti dan jamur shitake. Mei membuat spageti dengan cekatan serta toping seadanya, untung ada keju di kulkasnya serta saus tomat yang selalu siap di meja makan.
Saat menikmati spagetinya sendiri, kembali ia ingat wajah Edwin, terasa sakit dadanya, saat ia bangun tidak ada Edwin di sisinya, hampir tiga minggu ia terbiasa tidur memeluk Edwin dan tadi pagi ia merasakan perih berlipat saat di sisinya kosong tak ada siapapun.
Perlahan air mata Mei mengalir lagi, mengingat kembali kenangan tiga minggu di rumah bu Minda, ciuman lembut tiap pagi, dekapan hangat saat ia tidur dan lengan Edwin yang melingkar dipinggang nya saat tiba-tiba terjaga malam hari.
Perlahan Mei hapus air matanya, dengan cepat ia habiskan spagetinya. Lalu mencuci piring kotor dan bergegas ke kamarnya. Terlihat Mei menelpon seseorang.
Ya, saya akan kesana sekarang, pagi ini
Mei menutup ponselnya bergegas membuka travel bagnya. Menghela napas merasakan nyeri tiba-tiba di dadanya saat wajah Edwin kembali melintas.Mei merasakan sakit yg teramat sangat, merindukan suami lebih sakit dari pada saat mereka berpacaran. Mei mengambil jaket, memasukkan dalam travel bag yang belum sempat ia keluarkan isinya.
Mei berganti baju dan segera keluar dari apartemennya, menuju bandara.
***
"Ed berangkat ma," wajah Edwin terlihat lelah seperti kurang tidur
Ia mencium mamanya dan melangkah perlahan tanpa sarapan.
"Jadi kamu tidak berniat menyusul istrimu?" bu Minda bertanya tanpa melihat Edwin. Edwin menatap mamanya dengan pandangan bingung dan mata berkaca-kaca.
"Ed bingung ma, dua hari ini Ed sibuk, semuanya kadung terjadwal, Ed harus bagaimana mama tidak bisakan jika semua nya tiba-tiba harus diundur?" tanya Edwin menyugar rambutnya dengan kasar.
"Kamu pemilik perusahaan, kamu bisa mendelegasikan wakilmu, manajermu, atau bisa jadwal ulang meetingmu, jangan ajari mama untuk hal seperti itu, mama hanya mengingatkan, jangan sampai kamu kehilangan untuk kedua kali," bu Minda berdiri dan meninggalkan Edwin yang terhenyak dan kebingungan. Mengeluarkan ponsel nya dan kembali ia tidak bisa menghubungi Mei. Angkat sayang, angkat, kemana kamu sejak semalam.
Edwin berjalan menuju mobilnya dan menghubungi James, ternyata James juga tidak tahu keberadaan Mei bahkan James kaget Mei sudah di Sydney.
***
Siang Edwin kembali menghubungi James, dan James mengatakan Mei tidak ada di dua apartemennya. Edwin benar-benar kalut. Ia tidak bisa bekerja dengan maksimal, ia tidak akan memaafkan dirinya jika sampai terjadi apa-apa dengan Mei.
***
Sore hari Mei menapak kan kakinya di rumah megah om Ben, ia disambut hangat. Mei memeluk om Ben dan menangis sejadinya.
"Hei Meeei ada apa sayang, ayo masuk, masuk, ke ruang makan saja," om Ben mendekap bahu Mei, melangkah bersama ke ruang makan.
"Ayo duduklah, duduk sayang, kamu, kamu sendirian?" om Ben melihat Mei mengangguk dan masih bercucuran air mata, om Ben memberi tisu pada Mei dan Mei menutup tisu pada wajahnya, menangis sejadinya.
Om Ben berdiri di samping Mei dan mendekap kepala Mei, Meisya memeluk pinggang om Ben.
"Menangislah jika kau merasa akan lebih baik setelah itu, satu hal yang perlu kamu sadari anakku, rumah tangga adalah tempat belajar yang sesungguhnya, kamu akan banyak menemukan kejutan di dalamnya, jika kamu sabar dan dapat bertahan lima tahun pertama, makan akan aman-aman saja di tahun-tahun berikutnya om yakin, kamu dan Edwin akan melewatinya dengan aman," om Ben mengusap kepala Mei.
"Ayo om antar ke kamar mu, om yakin kamu pasti capek, di sebelah kamar om saja, biar kalo ada apa-apa tinggal panggil om, om akan panggil maid untuk menyiapkan makanan untukmu," om Ben memeluk Mei dan mengantar ke kamarnya
__ADS_1
"Istirahatlah," om Ben tersenyum dan meninggalkan Mei sendiri. Sesampainya di dalam kamar, om Ben menelpon bu Minda dan ia tersenyum, om Ben sudah mengira bahwa ada sesuatu antara Mei dan Edwin.
***
Makan malam dilalui berdua dengan om Ben, om Ben menatap mata sembab Mei, ada rasa iba, Mei yang sudah ia anggap anak sendiri, datang padanya seolah ingin mengadu dan mencari perlindungan padanya.
"Tidak kangen Edwin sayang?" tanya om Ben tiba-tiba, Mei menatap om Ben dan meletakkan sendok dan garpunya.
"Kangen om, sangat, baru kali ini saya sangat ingin memeluknya, sebenarnya meski ia sibuk, saya masih bisa merasakan pelukannya saat malam tiba, hanya yang saya sesalkan ia tidak berusaha berkomunikasi dengan saya selama dua minggu itu, dia seolah tenggelam dalam kesibukannya setelah kami dari Bali, masa dia tidak ada waktu untuk sekadar bertanya keadaan saya di rumah, yg menunggunya pulang dari kantor tiap hari," Mei kembali menitikkan air mata. Om Ben mengusap rambut Mei.
"Sayaaaa, saya kangen kak Ed om," dan Mei kembali menangis. Om Ben berdiri dan mengajak Mei duduk di belakang rumah, menghadap taman dan cahaya lampu yang memantul di kolam renang.
"Om telpon Edwin ya sayang?" tanya om Ben, sambil duduk dankepala Meisya masih bersandar pada bahunya, serta isak Mei yang masih saja terdengar.
"Nggak om, jangan, biar saja seperti ini dulu, biar kami belajar bagaimana meredakan emosi, belajar memahami apa yang sebenarnya terjadi, mungkin saya yg egois, mungkin saya yang kekanakan, tapi saya ingin kak Ed tahu bahwa saya adalah istrinya yg tidak hanya pada saat ia perlu saja datang pada saya, saya ingin ada komunikasi seimbang, bukan hanya saya yang harus selalu melapor tiap saya ngapain, dia harusnya juga begitu, jadi saya tahu bahwa ia baik-baik saja," Mei mengusap air matanya.
"Oh ya kapan om Ben kemoterapi lagi?" tanya Mei mengalihkan pembicaraan sambil mengusap air matanya.
"Rencananya dua tiga hari lagi, mau menemani om?" tanya om Ben,dan Mei mengangguk dengan cepat.
"Tidurlah sudah malam, sepertinya kamu perlu istirahat, wajahmu terlihat tirus, matamu cekung sayang," om Ben mengajak Meisya masuk.
***
"James, aku harus mencari kemana?" Edwin terlihat bingung, wajahnya memerah, menahan tangis dan lelah. Edwin baru saja datang dan menuju apartemen James, setelah sebelumnya mendatangi dua apartemennya dan tidak mendapati Mei disana.
Alice dan Kent juga sudah dihubungi keduanya sama-sama tidak tahu. Edwin meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
James menepuk bahu Edwin. Dan menatapnya dengan tatapan iba.
"Maafkan aku, James sudah menyusahkanmu malam-malam begini, kamu pasti capek setelah merawat om Ben," ujar Edwin.
"Ed, bisa jadi Mei menemui papa, papa sudah dua hari ini ada di Perth," James dan Edwin seketika berdiri, James menyambar kunci mobil dan keduanya bergegas ke bandara.
Edwin menelpon om Ben berkali-kali tidak diangkat, mungkin om Ben sudah tidur pikir Edwin.
***
"Bicarakan baik-baik dengan Mei, Ed, dia wanita sabar dan tidak banyak menuntut, jika sampai dia seperti ini, kamu yang harusnya berpikir, apa yang telah kamu lakukan padanya," James menepuk pundak Edwin sebelum berlalu untuk boarding.
James menatap punggung Edwin yang berjalan menjauh. Seketika dadanya perih membayangkan Mei menempuh perjalanan jauh sendiri, dari Indonesia ke Sydney lalu ke Perth. Mei ingin rasanya aku terbang menemuimu, memberikan pelukan hangat agar kau tak sedih lagi.
Mata James memanas dan ia melangkah pelan menuju mobilnya.
***
"Mei, sarapan sayang, sudah hampir jam 8 loh dan kamu masih saja memandangi kolam renang, ini om hampir selesai makan," om Ben memanggil Mei yang duduk bersandar pada kursi taman.
"Nggak pengen om, males, Mei cuma ingin kak Ed, disini, meluk Mei, Mei kangen banget om," dan mata Meisya kembali berkaca-kaca.
Pintu ruang tamu terbuka, muncul seseorang dan om Ben hanya tersenyum menyudahi sarapannya, berlalu meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Om Ben, kak Ed kangen nggak ya sama Mei, sama pelukan Mei, tiap liat kolam renang gini Mei selalu ingat kak Ed, ah sudahlah, Mei harusnya sadar kalo kak Ed nggak akan kangen sama Mei," Mei memejamkan mata.
"Sayaaang...
Suara Edwin terdengar jelas ditelinga Mei yang masih terpejam. Airmata Mei mulai mengalir.
"Yaaaah aku akan memejamkan mata saja, menahan kangen ternyata sesakit ini, sampai suara kak Ed seolah ada di dekatku... biarlah aku terpejam, biar suara itu berulang memanggilku...."
Mei berbicara sendiri dengan suara lirih seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Edwin berjongkok menatap wajah istrinya yg tirus, matanya yang cekung, Edwin merasa sakit di dadanya secara tiba-tiba.
"Meeeiii, maafkan kakak, maafkan kakak....," Edwin meneguk salivanya berkali-kali yang terasa sulit. Meisya membuka mata dan menatap wajah di depannya yang terlihat lelah, masih berjas lengkap, dada Mei berdegup kencang.
Keduanya berdiri dan saling menatap dengan mata berkaca-kaca, lalu Edwin menarik Mei ke dalam pelukannya. Menangis sejadinya, menciumi kepala Meisya dengan sepenuh hati.
"Jangan pergi Mei, jangan pergi lagi, kakak takut, kakak kawatir terjadi apa-apa sama kamu, maafkan kakak yg sudah mengabaikan kamu," Edwin menangis sambil mengusap punggung Mei berkali-kali.
"Bicaralah Mei, bicaralah marahi kakak," ujar Edwin. Dilepaskannya pelukannya, ditangkup nya pipi Meisya.
"Mei kangen..," ucap Mei lirih dan Edwin mengulum bibir Mei, melumatnya dan menggigitnya pelan, keduanya menangis sambil berciuman.
***
Saat om Ben keluar dari kamarnya, ia melihat Mei dan Edwin duduk di kursi taman, menghadap ke kolam renang.
"Biarlah keduanya berbicara dan memperbaiki hubungan mereka," om Ben kembali tersenyum dan mengambil ponselnya, menghubungi bu Minda.
***
"Maafkan kakak, Mei, kakak telah mengabaikanmu, terlalu larut dalam kesibukan kakak," Edwin menggenggam tangan Mei yg masih menatap kolam dan terlihat enggan berbicara, bagi Edwin ini lebih mengerikan, ia lebih baik Mei memarahinya.
"Bicaralah Mei, maafkan kakak yang sudah bikin kamu kayak gini, kakak lebih suka kamu yang ceria dan cerewet, jangan diam Mei," Edwin mengusap punggung tangan Mei.
"Tanpa Mei bilangpun, Mei yakin kakak sudah ngerti apa yang terjadi pada kita, Mei cuma ingin komunikasi kita dua arah, nggak cuma Mei yg harus aktif bicara ke kakak, seharian selama dua minggu, kakak sibuk di kantor sampai malam, kita hanya bertemu di pagi hari itupun kakak belum tentu sarapan, sepanjang hari Mei sendiri, ibu yg juga sibuk dengan usahanya dan bik Sum yang tidak mungkin selalu Mei ganggu kerjaannya, harusnya disaat tidak sibuk, kakak bisa nelpon Mei sekedar nanya, apa Mei masih bernapas ato tidak, dari pagi sampai malam di kantor, apa tidak ada waktu meski cuma lima menit buat nelpon Mei, cuma itu yg Mei sesalkan, biarlah Mei disini saja kak, jangan ajak Mei pulang lagi ke Indonesia," Mei masih memandang lurus kolam yang ada di depannya.
Edwin diam saja, ia tidak tahu harus berkata apa, karena yang dikatakan Mei semuanya benar.
"Kamu masih mencintai kakak kan Mei?" pertanyaan bodoh yang Edwin sesalkan setelah itu terucap. Air mata mengalir lagi di pipi Meisya.
"Mei akan selalu mencintai kakak,sebesar apapun kakak menyakiti Mei," dan Edwin menarik Mei lagi dalam pelukannya.
***
"Edwin, mandilah dulu, lalu kalian sarapan, ini sudah lebih dari jam sembilan," om Ben menyadarkan lamunan keduanya. Edwin menoleh dan mengangguk lalu tersenyum pada om Ben
Edwin menatap Mei yang juga sempat menatapnya meski sekilas, ia tahu istrinya masih marah.
"Mau mandiin kakak Mei?" tanya Edwin dan pipi Mei memerah..
***
__ADS_1