
*SUK*
#52
Pulang ya sayang ke Indonesia, kakak janji nggak akan ngabaikan kamu lagi, masih lima hari lagi perkuliahanmu dimulai," Edwin membujuk Mei saat mereka akan tidur. Mei diam saja, Edwin memandang wajah Meisya yang hanya memandanginya tanpa berkata sepatahpun, disematkannya rambut Mei dibelakang telinga nya yg sempat menutupi wajah lelahnya.
"Please sayang, pulang ya, kakak kangen soto buatan kamu, lamaaa banget aku nggakmakan soto buatan kamu," Edwin menciumi jemari Mei sambil tak henti menatap wajah istrinya.
"Percuma Mei bikin, nggak akan ada waktu buat kakak untuk menikmatinya," suara Mei lirih dan matanya kembali berkaca-kaca, Edwin meraih kepala Meisya ke dadanya, ia benar-benar merasa bersalah telah membuat istrinya jadi seperti ini.
"Kakak janji, kakak janji Mei nggak akan ngabaikan kamu lagi," Edwin melepas pelukan nya, mengangkat dagu Mei dan mulai ******* bibir mungil Mei yg sejak tadi ia tahan untuk tidak menggigitnya, Edwin merasakan penolakan dari Meisya. Namun saat perlahan Edwin mengusap dada Meisya ia merasakan tiba-tiba justru Meisya yang mengigit bibirnya dan ia sempat mengaduh lalu tersenyum saat menatap wajah istrinya mulai memerah dan napasnya mulai menderu. Mei memejam kan matanya saat Edwin mulai membuka semua yg melekat di badannya dan Edwin kembali merasakan penolakan saat ia akan menciumi leher istrinya, Mei mendorong kuat dada Edwin, namun Edwin tetap menciumi leher, dada dan berlama-lama disana sambil memegangi kedua tangan Meisya. Mei terengah dan akhirnya memeluk Edwin, meremas dan mencakar punggung suaminya, saat Edwin bergerak semakin tak menentu, menyerangnya dari berbagai arah, Mei merasakan Edwin yang tak biasa.
"Kak, aku... capek," saat Mei sudah mencapai pelepasannya namun ia merasakan Edwin yang belum juga selesai dan malah memeluknya dari belakang, masih saja menciumi tengkuknya.
"Sebentar lagi sayang, pulang sayang ya, pulang ya," Edwin masih sempat berbicara masalah itu,dan kembali bergerak, memeluk Mei dari belakang, menarik pinggang Mei mendekati nya dan memasukinya dari belakang, Mei memejamkan matanya merasakan badannya yang penuh, dan Edwin yang kembali ia rasakan sangat tak biasa, dan berakhir dengan geraman Edwin di telinganya sambil berkali-kali menyebut namanya.
Edwin membalik badan Mei menghadapnya, memeluk dan mengusap lembut punggungnya.
"Pulang sayang, kakak mohon, kakak janji akan memenuhi permintaan Mei," ia melihat istrinya tengadah menatapnya.
"Benar, kakak janji tiap hari sarapan dan makan malam di rumah?" Mei berharap sambil matanya bergerak-gerak mencari kesungguhan Edwin. Edwin mengangguk dan melihat Mei kembali menangis.
"Mei mendambakan keluarga yang utuh kak, Mei kangen kakak makan di rumah, Mei jadi merasa sesedih saat di panti, saat menatap anak yang merayakan ultah dengan papa mamanya dan mereka makan bersama, sedang Mei makan dengan teman-teman, meski ramai dan banyak orang, hati Mei merasa kesepian," Edwin semakin mengutuki dirinya yang tak memahami perasaan istrinya, diusapnya air mata Mei yang masih saja mengalir.
Akhirnya mereka tidur saling mendekap, merasakan kembali kedekatan yang awalnya Mei enggan melakukannya.
***
Keesokan harinya saat sarapan Edwin menyampaikan pada om Ben bahwa ia akan kembali ke Indonesia membawa Mei serta. Mei menoleh pada Edwin.
"Kakak pulanglah duluan aku akan menemani om Ben kemoterapi," ujar Mei pelan.
"Tidak sayang, jangan, pulanglah Mei, om akan minta James atau Al menemani karena om akan mencoba obat kemo yang seperti obat minum itu, yang tinggal telan saja, jadi nggak makan waktu banyak, pulanglah," ujar om Ben sambil memegang tangan Mei dan meyakinkannya.
Akhirnya keduanya pulang, om Ben melepas dengan lega, ada kebahagiaan dalam hati om Ben, saat melihat keduanya saling berpegangan tangan menuruni tangga menuju mobil yang disiapkan om Ben untuk mengantar mereka ke bandara.
***
Perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya malam hari mereka menginjakkan kaki di rumah, bu Minda memeluk Mei yang terlihat cekung matanya dan wajahnya yang agak tirus.
"Tidurlah sayang, istirahatlah," Mei mengangguk dan menuju kamar Edwin, Edwin masih mendorong travel bag istrinya dan membawa tasnya di tangan satunya saat mama menghadangnya.
"Perbaiki pola kerjamu, ingat, kamu punya istri, jadi selama Mei disini, yang mungkin cuma beberapa hari lagi, pulanglah lebih awal," bu Minda menatap Edwin yang mengangguk.
"Iya ma,aku akan pulang lebih awal, akan menemaninya di rumah, aku tidak sadar jika aku membuatnya mengingat kesedihannya saat di panti," Edwin mencium mamanya dan melangkahkan kakinya ke kamar.
***
Waktu Mei yang tersisa di Indonesia benar-benar digunakan Edwin untuk memanjakan istrinya. Ia pulang lebih awal untuk makan malam di rumah, terkadang mereka janjian bertemu di mall dan makan serta jalan-jalan di sana.
Perlahan Edwin melihat kembali keceriaan Mei, senyum dan tawanya serta celoteh manjanya saat ia tiba-tiba menciumnya dengan rakus.
__ADS_1
***
Malam hari sebelum Mei kembali ke Sidney, mereka tidur berdekapan, saling memandang dalam diam, dan akhirnya Mei mulai memejamkan matanya.
"Hei heeei kamu akan membiarkan kakak membuka mata sendirian?" Edwin menggigit ujung hidung Mei dan Mei menjerit tertahan.
"Ih kakak, sakit," Mei memukul dada Edwin dan meringkuk di dada Edwin sambil memejam kan matanya lagi.
"Besok kamu balik,masa kita nggak ngapa- ngapain?" tanya Edwin dan terdengar tawa lirih Mei.
"Kita sudah ngapa- ngapain tiap hari kak, besok Mei balik, harusnya biarkan Mei istirahat," Mei mulai menepis tangan Edwin saat, merasakan tangan Edwin menurunkan celana dalamnya dan mulai mengusap milik nya perlahan, serta bibir Edwin yang mencari-cari dan terus bergerak di lehernya. Akhirnya Mei terhanyut juga dan merasakan lelahnya saat hentakan terakhir Edwin ia rasakan. Mei pukul perlahan dada Edwin yang masih terlentang dan mengatur napas.
"Sebel deh, nggak tau besok Mei perjalanan jauh," ujar Mei menarik selimut menutupi badannya. Edwin tersenyum dan masih memejamkan matanya.
"Maaf sayang ya, besok terpaksa aku nggak bisa ngantar, ada beberapa kerjaan yang harus aku selesaikan," ujar Edwin.
"Nggak papa," Mei melilitkan selimut ke badannya dan melangkah ke kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi ia melihat Edwin yang telah terlelap, Mei menyelimuti badan Edwin dan merebahkan badan di sisi suaminya. Mei memeluk Edwin yang tertidur dengan napas teratur, akhirnya ia juga tertidur karena lelah yang mulai ia rasakan.
***
Sebulan menjalani masa perkuliahan semester dua membuat Mei mulai menjalani aktivitas rutin sebagai mahasiswa, dan ada pemandangan baru yang membahagia kan, ia mulai sering melihat James mengantar Al pulang. Sore setelah dari galeri Al biasanya menyempat kan sesekali menemui James dan terlihat mereka berjalan beriringan menuju mobil
Meisya kadang ditawari untuk pulang bersama namun ia menolak, dengan alasan masih ada yg harus ia kerjakan di kampus bersama teman-temannya. Meski sebenarnya James tahu itu hanya akal-akalan Mei saja, karena James kembali mengajar Mei di semester dua ini.
Mei tidak ingin kebersamaan mereka terganggu, Mei sering merasa tidak enak pada Al, karena jika ada Mei, maka James selalu lebih memperhatikannya. Mei sering melihat Al yang menghembuskan napasnya dengan berat tiap kali melihat James memperlakukannya dengan manis dan lembut, itu yang Mei hindari.
***
Mei agak terkejut juga dengan nafsu makannya mungkin karena lelah banyak tugas dan lapar, ia menghabiskan sepanci kecil sup dan dua kali nambah nasi, Mei tertawa geli sambil mencuci piring dan panci sup.
Kembali menekuni tugasnya membuat Mei lupa pada perutnya yang kekenyangan. Saat asik mengerjakan tugasnya, Mei dikejutkan oleh pintu apartemennya yg terbuka dan terlihat wajah bu Minda, Mei terpekik kegirangan dan memeluk ibu mertuanya
"Apaan sih Mei sayaang, kayak tahunan nggak ketemu ibu," bu Minda memberikan oleh-oleh yang Mei minta sejak beberapa hari lalu, macam-macam kripik khas Indonesia. Tak lama Edwin muncul dan langsung memeluk istrinya yang sedang meletakkan sesuatu di meja.
"Ih kakak bau, sana mandi, ih beneran deh, sana masuk kamar sebelah, kamarku ditempati ibu," Mei mendorong badanEdwin dan ia terlihat mual. Edwin sampai membaui badannya sendiri.
"Masa sih sayang perasaan aku nggak bau deh," ujar Edwin merasa kesal karena baru datang malah di dorong-dorong oleh Mei.
Bu Minda tertawa dari dalam kamar.
"Sudah sana Ed, mandi, salah kamu sendiri, tadi malam dari kantor nggak ganti kemeja langsung berangkat ke sini, mama suruh mandi nggak mau."
"Loh aku nggak keringeten mamaaa, kantorku acnya dingin banget, tadi di pesawat ia juga, ah Mei aja yang hidungnya bermasalah, tapi ia dah aku mandi saja," Edwin mengacak rambut Mei dan Mei kembali menjauh.
***
Edwin keluar dari kamar dengan celana katun dan kaos tipis, rambut nya terlihat masih basah
Edwin menghampiri Mei dan menciumi kepala nya dari samping. Mei mencium pipi Edwin dan kembali asik menikmati keripik kentang oleh-oleh bu Minda.
__ADS_1
"Heeisssyy kalian ini, meski ada mama tetep aja, mesra-mesraan," bu Minda asik menekuni ponselnya dan terlihat sedang menelpon. Mei dan Edwin tertawa bersamaan. Ternyata bu Minda menelpon om Ben, mereka diundang makan malam oleh om Ben, besok om Ben berulang tahun.
"Eh ma, tadi kan Edwin beli pizza, mana yah?" tanya Edwin dan bu Minda menunjuk meja makan, Edwin melangkahkan kakinya menuju sekotak pizza ukuran besar.
"Hmmm lezaaaat nih sayang, makan yuk," Edwin melangkah menuju sofa dan terlihat Mei menatapnya aneh dan bangun menjauhi Edwin sambil menutup hidungnya.
"Kaaak tutup,tutup kotak pizzanya, bau bawang bombainya kebangeten sumpah," Mei berjalan ke arah dapur dan terlihat mau muntah.
Bu Minda menatap Mei dengan pandangan penuh selidik.
"Mei kapan kamu terakhir mens?" tanya bu Minda hati-hati. Mei terlihat bingung.
"Yaaa sebelum nikah ibu, emang kenapa bu?" tanyanya lagi, Edwin terlihat menutup kembali kotak pizza dan menatap wajah istrinya dengan memelas.
"Lalu apa hubungannya mama, kotak pizza, Mei dan mensnya?" tanya Edwin kembali membuka kotak pizza sedikit, menariknya sepotong dan mulai menikmati pizza bermasalah yang terasa enak dimulutnya.
"Berarti dua bulan ini kamu nggak mens?" tanya bu Minda lagi, dan Mei mengangguk. Bu Minda tersenyum dan berjalan mendekati Mei yg masih berdiri di dapur
"Ada klinik kesehatan terdekat sekitar sini Mei, kita periksa, ibu curiga kamu hamil," bu Minda meraih tangan Meisya. Mei melongo menatap bu Minda.
"Ibuuu saya nggak mual- mual waktu pagi, makan enak terus, nggakpusing, nggak ada perubahan," Meisya masih terlihat bingung karena ia merasa baik-baik saja.
Edwin melesat mendekati Meisya dan mencium perut istrinya yang tertutupi kaos dan memeluk Mei sambil berjongkok.
"Aaaah beneran nih maaa, ada bayi kita sayang diperutmu," ujar Edwin berdiri dan mencium kening Meisya
"Alaaah jangan lebai Ed, ini juga masih mau periksa," bu Minda menepuk bahu Ed dan menuju ruang makan melihat isi tas yang ia bawa tadi dan mengeluarkan makanan yang lain, ada salad buah yg sempat ia beli tadi saat akan masuk ke apartemen Mei.
Mei mendorong Edwin lagi dan menyuruh Edwin sikat gigi setelah makan pizza, karena Mei merasa mulut Edwin bau bawang bombai.
***
Sore hari setelah pulang dari sebuah klinik kesehatan, Edwin bukan main senangnya, ia tuntun pelan-pelan Mei, istrinya ternyata hamil empat minggu, ia sempat memeluk Mei di klinik, dan Mei melihat Edwin dengan kesal.
"Kaaak apaan sih, Mei ini cuman hamil nggak sakit apa-apa ih pake acara dituntun segala," Mei menarik tangannya, dan bergegas masuk ke apartemennya.Bu Minda tertawa geli melihat keduanya.
***
Malam hari mereka di jemput James dan menuju sebuah restoran Jepang, disana sudah menunggu Al dan om Ben yang berbicara dengan akrab.
Meisya, dan bu Minda tampak mencium pipi om Ben dan Edwin memeluk om Ben dengan hangat.
Tak lama makanan dan minuman yang dipesan oleh om Ben datang, mulai disajikan di meja dan om Ben menyilakan makan, Mei terlihat mual dan menutup mulutnya.
"Sayaaaang nggak papa kan?" Edwin melihat Mei kawatir,Mei menggeleng memberi kode bahwa ia baik-baik saja.
"Nggak enak badan Mei?" tanya James tak kalah kawatir, menatap Mei sambil menyodorkan air putih.
"Nggak papa James, biasalah namanya hamil muda," ujar bu Minda menjawab pertanyaan James.
Om Ben dan Al tampak suka cita memberi selamat pada Mei dan mencium pipinya. Hanya James yang terlihat menunduk menatap makanan dan berwajah datar, mengerjab- ngerjabkan matanya, serta menghembuskan napas dengan berat...
__ADS_1