
"Waaah kok sampek malem nyah baru nyampek rumah?" tanya bik Sum yang membukakan pintu rumah, Mei mengekor di belakang bu Minda.
"Heh biasalah biiik, delay dan delay,capek sampek kita yg nunggu ya Mei, sudah sana masuk kamar Mei, istirahat, dua bulan lagi perkuliahan dimulai, persiapkan semuanya ya sayang, seminggu sebelum perkuliahan mulai, nanti ibu antar ke Aussie lagi," ujar bu Minda dan Mei menganggukkan kepala nya sambil tersenyum.
Perjalanan yang melelahkan dari Australia ke Indonesia, agak lama nunggu di bandara karena delay. Mei melangkah pelan ke kamarnya. Ia kaget saat sampai di depan kamarnya karena pintunya agak terbuka sedikit. Ia dorong perlahan, Mei melihat pemandangan yang membuat dadanya nyeri seketika. Edwin tidur di kasurnya sambil memeluk jaket yg biasa ia pakai. Mei buka sepatunya, ia letakkan di luar kamar dan melangkah pelan mendekati kasur. Ia pandangi Edwin yang tidur nyenyak. Pelan Mei duduk di sisi Edwin yang tidur terlentang dan mendekap erat jaket merah miliknya. Ah wajah tampan sempurna, siapa yang tidak akan jatuh cinta jika terus menerus berada di dekatnya. Telunjuk Mei pelan menyentuh bibir Ed yang agak terbuka. Menyentuhnya pelan sampai ke dagu, leher dan berhenti di dada Edwin.
"Sekarang kau yang membuatku merinding Mei," ucap Edwin pelan, namun sanggup membuat Mei terlonjak dan menahan malu. Ia mundur seketika.
"Aku akan sering ke Aussie menengokmu, ternyata anak teman mama yang kuliah di Aussie laki-laki kan Mei?" tanya Edwin dan Meisya mengangguk pelan.
"Lalu apa masalahnya kak, aku juga nggak gitu kenal, kemarin waktu ketemu juga cuman basa-basi aja," ujar Mei semakin memundurkan duduknya.
"Sudah malam kakak, sana masuk kamar gih, aku mau istirahat, capek bener, tadi delay pesawatnya, jadinya nunggu agak lama," ujar Mei lagi sambil memelas.
"Nggak boleh kalo kakak disini, semalaaaam aja," pinta Ed. Mei menggeleng dengan keras.
"Sejak aku menikmati ciuman kakak, aku jadi takut, aku takut sama diri aku sendiri, aku takut nggak bisa brenti," ucap Mei mengerjap cepat.
"Memang aku mau ngapain kamu sampe kamu nggak bisa brenti, Mei?" tanya Edwin menahan tawa.
"Ih kayak nggak ngerti aja, kayak di novel-novel itu, pegangan dulu, trus ciuman, trus *****- *****, trus buka-buka baju, nah kalo Meinya nggak kuat nahan trus mau digituin kan berabe" ujar Mei dengan polosnya mengatakan semua yang ada dalam pikirannya. Edwin tertawa sambil geleng- geleng kepala. Menarik Mei kepangkuannya dan memandang dari jarak dekat. Mei menjerit tertahan.
"Nah kan bener, kak kalo posisi gini hmm bener dah, untung aku pake celana jins,cuman kakak pake celana bahan kaos jadinya rada gimanaa nih eh kak ayo turunin aku, aduh kerasa nih gundukan kakak," ucap Mei yang bibirnya langsung ditutup dengan tangan besar Edwin.
Edwin kembali tertawa dan mencium kening Meisya.
"Aku akan sangat merindukan segala keluguanmu Mei," ujar Edwin dan mengangkat Mei kembali dan mendudukkannya di kasur.
"Iiiiih geli dah," ujar Mei sambil mengedikkan bahunya.
"Sana kaaak ayo masuk kamar kakak, aku ngaaaantuk bangeeet aaah ini, besok aja kalo mau bobok sini, bawa kasur tipis, kakak tidur di bawah yah," ujar Mei berdiri dan menarik Edwin menuju pintu, akhirnya Edwin bangun dan memandang Mei lagi.
"Aku merindukanmu Mei, lima hari terasa lama," ujar Ed pelan.
"Iyaaa iyaaaa aku juga iyaaa bukan rindu, tapi ingat aja," ucap Mei mendorong dada Edwin, melambaikan tangan dan mengunci pintu.
***
Di kamar bik Sum bu Minda mendadak membangunkannya.
"Bik, tadi aku ke kamar Ed kok nggak ada, nginep di mana dia?" tanya bu Minda kawatir.
"Hmmm ini nih ada cerita baru nyah, den Ed jadi sering tidur di kamar non Mei, sejak Non Mei berangkat sama nyonyah, haduh sudah saya bilangin, eh itu sekarang ada di kamar non Mei, biar dah paling rame tuh dua orang," ujar bik Sum sambil menahan kantuk.
Bu Minda menahan tawa, dan geleng-geleng kepala lalu keluar dari kamar bik Sum.
***
Edwin masuk ke kamar nya dan merebahkan badan, berusaha memejamkan mata meski sulit. Besok hari minggu, ingin rasanya ngajak Mei jalan-jalan tapi gimana caranya minta ijin mama, Ed merasa sungkan dan tidak enak. Lamunan Ed kemana-mana dan baru jam 3 dini hari bisa memejamkan matanya.
***
Jam 8 kamar Edwin diketuk bu Minda. Tidak ada sahutan, bu Minda masuk dan melihat kasur yang kosong, kemana tuh anak pikir bu Minda.
"Ada apa ma?" tanya Edwin yang baru keluar dari kamar mandi.
"Bisa minta tolong sayang, antar Mei ya beli beberapa baju, jaket, celana untuk dibawa ke Aussie, mama masih capek, mama kadung janji sama Mei, jam 10 mau antar Mei ke mall, mau sayang ya?" tanya bu Minda dan Edwin mengangguk dengan cepat.
Bu Minda mendatangi kamar Mei dan mengatakan bahwa jam 10 Edwin yang akan mengantar Mei ke mall, bu Minda memberikan credit cardnya pada Mei, yang diterima Mei dengan ragu.
"Pakailah, beli semua yg kamu butuhkan," ujar bu Minda mengelus bahu Mei.
"Iya ibu terima kasih banyak," ucap Mei pelan sambil menunduk.
***
"Titip Mei ya Ed, jangan diajak bertengkar, yang sabar nunggu Mei belanja yaaa," ucap mama melambaikan tangan pada keduanya saat mobil Ed hendak keluar pagar.
"Mau kemana nih, Mei?" tanya Edwin.
"Terserah kakak, kata ibuk aku disuru beli baju-baju buat kuliah, jaket, celana dan lain- lain, pilihin ya kak, aku kadang suka bingung," pinta Mei yang dijawab dengan anggukan dan senyuman Edwin.
Sampai di mall mereka memilih beberapa baju, sweeter, jaket tebal, dan celana panjang.
Tiba-tiba Edwin menarik tangan Mei ke sebuah gallery yang menjual cincin berlian. Memilih sebentuk cincin yang cantik dan menyematkannya ke jari Mei. Mei terbelalak, rasanya begitu cepat kejadian ini berlangsung
"Kakak?" ujar Mei dengan pandangan bingung.
__ADS_1
"Pakailah, sebagai ganti ku saat kau di Aussie sana," ujar Edwin memegang jari Mei dan melangkah keluar dari gallery itu.
"Kita makan ya Mei?" ajak Edwin dan Mei mengangguk. Mereka duduk berhadapan, Mei merasa jengah juga Edwin memandanginya dari tadi.
"Kak, aku pindah ke sisi kakak saja ya, kakak mandangin aku terus, akunya jadi malu, bingung mau ngapain, ntar kalo makanan datang aku nggak bisa makan, malu mau bukak mulut," ujar Mei yang disambut oleh tawa tertahan dari Edwin.
"Meeei Mei masa sampe malu bukak mulut," Edwin tak bisa menahan tawanya, meski sudah ia tahan.
Edwin tergagap seketika saat tepukan keras mendarat di pundaknya.
"Apa kabar beruang kutub, wah sudah cair rupanya es di kutub, aku lihat dari tadi kamu bisa tertawa lebar," ucap dokter Zaki yg disambut tawa lebar Edwin dan keduanya bersalaman. Mei tersenyum dan mengulurkan tangan pada Dokter Zaki serta wanita di sisinya yang terlihat menuntun anak berusia 3 tahun.
"Silakan lanjutkan, kami sudah makan, kami tinggal dulu ya," ujar dokter Zaki melangkah keluar dan matanya yg mengedip ke arah Mei yang menunduk, Edwin terlihat mengepalkan tangannya. Tak lama ada notif masuk ke ponsel Edwin, yang ternyata dari dokter Zaki.
Benar-benar modus lo Ed, pura-pura sakit, nggak taunya perawat nya diembat juga
Otak lo rusak Zak, ini proses, aku baru menyadari kalo aku menyukainya setelah ia lima hari meninggalkan rumah
Heleh sok cuek lo 😂😂 nggak taunya mau juga, tapi btw selamat, aku tunggu lo ngantar undangan ke rumah
Edwin tersenyum membaca pesan singkat dari sahabatnya dan meletakkan ponselnya saat makanan yang mereka pesan datang.
"Kakak kok senyum- senyum?" tanya Mei.
"Ini ada pesan singkat dari teman yg sakit jiwa," jawab Edwin mulai makan.
***
"Kemana saja sayaaang kok sampe malem baru pulang?" tanya bu Minda Mei menatap Edwin dan Edwin terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Anu ma, tadi Ed ngajak Mei nonton, mumpung ada film bagus," jawab Edwin.
"Oh iya iya, coba mama lihat apa saja yg dibeli," ujar bu Minda mulai membongkar-bongkar bawaan Mei.
"Wah cantik-cantik Mei, kamu pinter milih," puji bu Minda.
"Kak Edwin yang milihin ibu, dan ini creditcard nya nggak kepake, karena kak Ed yg belikan semua," ucap Mei pelan dan menatap Edwin dengan pandangan takut. Bik Sum di dapur terdengar tertawa terkekeh.
"Oh yaaaa iya dah nggak papa, kakak yang baik, belikan adiknya macem- macem, iya dah sana bawa semua ke kamar mu Mei, heeei Ed bantu Mei bawakan ke kamar nya gih," bu Minda menahan senyum melihat Edwin yang salah tingkah.
***
"Maaf kak," ujar Mei pelan.
"Boleh aku masuk?" tanya Edwin. Dan Mei menggeleng.
"Nggak boleh, sudah malem, ntar dipangku lagi, kena itu lagi, kakak tambah mesum, nanti aku pengen beneran," ujar Mei menampakkan wajah kesal dan Edwin kembali menahan tawanya, lalu mengacak rambut Mei dan berlalu dari kamar Mei.
*****
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa keberangkatan Meisya ke Australia tinggal seminggu. Edwin terlihat gelisah, karena ia semakin merasa tidak siap berpisah dengan Meisya. Selama beberapa hari ini dicobanya untuk tidak ke kamar Mei, di meja makan ia coba tidak memandang Mei. Ternyata dadanya semakin sakit, ia bahkan sering sulit tidur. Hanya membolak balikkan badannya dan tertidur jika lewat dini hari.
Bahkan beberapa hari terakhir Edwin menenggelamkan dirinya pada pekerjaan kantor dan pulang larut.
Begitu capek ia langsung tidur, dan pagi-pagi sekali ia sudah berangkat. Sebenarnya ada tanya dalam hati Mei, tapi ia merasa ini lebih baik, sebelum ia benar-benar menyukai Ed akan lebih baik jika rasa itu ia bunuh sekalian.
Entah mengapa malam ini Mei merasa agak melow suasana hatinya, mungkin karena besok ia akan berangkat ke Australia, ia pandangi kamarnya, dan terduduk di kasur dengan dada sakit. Di saat yang bersamaan pintu kamarnya terbuka dan tampak wajah lusuh Edwin, masih menggunakan jas lengkap berarti ia baru pulang dari kantor selarut ini.
Edwin melangkah pelan, mereka saling pandang tanpa bicara, jarak mereka semakin dekat. Edwin dapat melihat mata Mei yang berkaca- kaca. Sedetik kemudian mereka telah saling memeluk dengan erat.
Air mata Meisya mengalir deras, Edwin merasakan dadanya sakit yg teramat sangat, ia katupkan gerahamnya menahan air matanya agar tidak tumpah.
Airmata Mei membasahi dada Edwin. Lama mereka hanya saling memeluk. Edwin mengusap rambut Mei pelan. Isakan lirih Mei membuat Edwin merasakan perih yang menjalar ke perutnya.
"Aku mencintaimu Mei," bisik Edwin lirih ke telinga Meisya. Sesaat isak Mei jadi pelan dan berkurang.
"Tidak, kakak tidak mencintai Mei, perasaan kakak seperti ini karena besok Mei akan berangkat, kakak hanya sedih saja," ucap Mei masih menyisakan tangis.
"Tidak Mei, seminggu ini kakak mencoba menjauh, yang kakak rasakan malah semakin sakit dada kakak, lalu mengapa Mei menangis?" tanya Edwin pelan.
"Nggak tau, Mei merasa bingung mengapa kakak menjauh, Mei cuma merasa sedih saja nggak akan ketemu kakak lagi, itu saja," ucap Mei menempelkan pipinya di dada Edwin.
Ditangkupnya pipi Mei dan dipandangnya dari jarak dekat oleh Edwin.
"Mungkin kamu mulai mencintai kakak Mei," ujar Ed pelan dan mencium bibir Mei lama, menggendongnya ke kasur dan menidurkan Mei di sana, Edwin membuka jasnya dan mencium leher Mei, Mei merasakan sesuatu yang aneh menjalar ke seluruh tubuhnya, dan merasakan tangan Ed yang mulai menyentuh dadanya,Mei merasakan dinginnya tangan Ed, Mei mendorong badan kekar Ed yang entah kemana kemejanya. Sesaat kemudian Ed menatap Mei
"Aku akan berhenti jika kamu ingin aku berhenti Mei, atau akan aku lanjutkan," ucap Ed dengan suara parau.
__ADS_1
"Berhenti kak, berhenti," ucap Mei lirih dengan wajah memerah. Ed membetulkan kaos Mei. Memakai kembali kemejanya dan mendekati Mei.
"Baik-baik di sana Mei, belajarlah dengan rajin, cepat selesaikan dan kita menikah, aku akan menengokmu bulan depan, maaf aku tidak akan mengantarmu ke bandara, karena saat kakimu melangkah mendekati pesawat, aku kawatir akan menarikmu kembali ke rumah, pakailah terus cincin dariku," ucap Edwin, mencium kening Mei dan melangkah menuju pintu.
Mei mengejar Ed dan memeluknya dari belakang.
"Terima kasih sudah menjagaku dengan baik, aku akan berusaha mencintai kakak, aku akan memastikan perasaanku pada kakak," ujar Mei lirih. Edwin hanya diam, pandangan nya tetap ke depan, karena ia kawatir jika ia menoleh, melihat Mei sekali lagi, ia tidak akan pernah keluar dari kamar Mei.
Perlahan Mei melepaskan pelukannya dan Edwin melangkah tanpa bersuara menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Ed segera masuk ke kamar mandi, menghidupkan shower dan membiarkan air dingin membasahi kepalanya. Ed menutup matanya membiarkan air dingin meluruhkan segala kegundahannya.
***
"Bik Suuuuum, kemana Edwin yaaa aku mau pamit berangkat ngantar Mei, maksudku agar sekalian Mei pamit ke Ed," teriakan bu Minda di sambut oleh bik Sum yg datang tergopoh-gopoh.
"DenEd sudah berangkat sejak pagi ke kantor nyah, wajahnya lusuh kayak capek," ucap bik Sum.
Bu Minda menatap Mei dan mengusap bahu Mei
"Apa tadi malam Ed mendatangimu sayang?" tanya bu Minda. Mei mengangguk perlahan, ia tidak berani menatap bu Minda karena matanya yang sembab dan menyisakan air mata. Bu Minda menghela napas dan mulai mengerti alur ceritanya.
***
Mei melihat keluar jendela pesawat.
Selamat tinggal kakak, aku akan belajar mencintaimu dari jauh.
Pikiran Mei mengembara entah kemana, ia sadar saat bu Minda menyentuh tangannya.
"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya bu Minda.
"Iya ibu," jawab Mei pelan. Bu Minda bisa melihat mata sembab Mei dan hidung Mei yang memerah. Bu Minda tersenyum dan memejamkan matanya.
***
"Akhirnyaaa kita sampai di apartemen ya Mei, kita istirahat Mei, eh buka dulu pintunya, passwordnya kan pake tanggal lahir kamu Mei, buka aja," pinta bu Minda. Disaat pintu terbuka, bu Minda melihat anak temannya yang lewat tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Gaviiin, sini sayang," bu Minda berteriak karena Gavin akan segera menghilang jika tidak di panggil.
"Eh tante, kapan datang?" tanya Gavin mencium tangan bu Minda dan tersenyum pada Mei.
"Ini barusaaan, mau kemana?" tanya bu Minda lagi.
"Ada perlu bentar ke toko tante, ada beberapa kebutuhan harian yang habis, biasalah tante, nyetok-nyetok?" ujar Gavin dengan ramah.
"Oh iya iya, tante masuk dulu ya?" bu Minda melangkah masuk ke apart Mei. Dan Gavin melangkah keluar area apart mereka.
***
Mei dan bu Minda baru saja selesai makan saat ada notif masuk ke ponsel Mei, Mei melihat ponselnya dan agak menjauh dari bu Minda.
Sudah sampe sayang?
Yah
Lagi ngapain
Baru selesai makan, sama ibu
Aku kangen, paling dua minggu lagi aku ke Aussie
Duh janganlah kak, nggak enak ke ibu
Biarin, yang kangen kan aku, bukan mama, udah dulu ya, bai, love U 😘
Bai
Bu Minda melihat Mei menjauh, sambil senyum-senyum dengan wajah cerah. Hmmm sampai kapan keduanya main kucing-kucingan sama aku, pikir buMinda geleng-geleng kepala.
"Istirahat dulu Mei, tiduran ato apa gitu, " ucap bu Minda pelan namun membuat Mei tersentak kaget karena masih asik dengan lamunannya.
"Eh iya iya ibu," jawab Mei dan melangkah menuju kamarnya.
***
Di kamar Mei menerawang lama, dan tersenyum mengingat kata sayang, dalam pesan pendek Edwin, heh apa-apaan tuh kakak panggil sayang.
Taklama ada notif pesan masuk lagi, saat dilihat ternyata Edwin ngirim foto dirinya sendiri dalam berbagai pose, Meisya tertawa geli, karena di bawah foto ada tulisan kalo kamu kangen kakak, pandangi foto ini dulu, Mei merasa Edwin terlalu yakin jika ia akan merindukan Edwin, meskipun pada kenyataannya ia sering mengingat semua yang mereka lewatkan di kamar Mei.
__ADS_1
Mei menghembuskan napas dengan berat, ia tidak menyangka Edwin yg awalnya dingin bisa memperlakukannya seperti itu, Mei juga tidak mengira jika reaksi tubuhnya yang hampir tidak menolak semua perlakuan Edwin, ia gelengkan perlahan kepalanya. Mencoba mengembalikan kesadarannya karena bulu kuduknya meremang mengingat perlakuan Edwin padanya. Bu Minda maafkan saya. Dan Mei tertidur dengan ponsel didadanya.
_bersambung_