Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
6


__ADS_3

Pagi-pagi Meisya sudah berkutat di dapur, membuat soto sesuai keinginan Edwin. Bik Sum senyum-senyum mengawasi Mei sambil mencuci beras.


Setelah selesai ia segera membuat teh hangat dan mengantarnya ke kamar Edwin.


Didorongnya pelan, lalu pintu terbuka agak lebar.


"Kak, bangun, aku bersihkan badannya ya, nggak usah mandi, aku lap pakai air hangat ya," ujar Mei lirih. Edwin membuka matanya perlahan. Mei sentuh kening Ed, lumayan agak turun panasnya.


"Ah kaos kakak basah, tadi malam berkeringat ya, kok nggak nelpon Mei," ujar Mei lirih. Segera mengambil air hangat, membuka kaos Ed dan mengelapnya perlahan, Meisya menahan napas saat memandang badan Ed dari jarak yang sangat dekat.


Haduuuuh pemandangan yg sangat indah ya Tuhan, biarlah berlama-lama nggak papa, agar aku tetap menikmati tiap lekukan ototnya, pikiran gila Mei muncul lagi dan memukul kepalanya pelan.


"Pusing juga Mei?" pelan suara Ed bertanya,  namun cukup membuat Mei kaget dan menggeleng pelan.


Mei mengeringkan badan Ed denganhanduk kecil dan memakaikan kaos ke badannya.


"Tunggu kak, sandaran dulu ya, duduk dulu, ini teh hangatnya," Mei meminumkan teh sambil menatap wajah Ed yang masih pucat.


"Tiduran nggak papa kalo kakak capek nanti jam 7 aku suapin, sotonya sudah siap," ucap Mei kembali merapatkan selimut ke badan Edwin.


***


Tak lama bu Minda menelpon Meisya dan menanyakan keadaan Edwin. Lama Mei menjelaskan sampai terdengar panggilan Edwin. Akhirnya percakapanpun dihentikan.


"Ada apa kak?" tanya Mei pelan. 


"Aku mau sarapan Mei," jawab Edwin pelan dan Mei bergegas turun menyiapkan semangkuk soto dan dengan hati-hati membawa ke kamar Edwin.


"Bangun yok kak," suara Mei pelan sambil menata bantal di punggung Edwin.


Mei menyuapi dengan pelan, melihat gerakan bibir Edwin yang mengunyah pelan. Sementara Edwin menatap wajah Mei yang terlihat agak lelah. Menyadari Edwin menatapnya, wajah Mei memerah. Edwin menahan senyum.


"Kamu lelah ya Mei,  merawatku sejak kemarin malam?" tanya Ed, Mei menggeleng, tumben nih kakak tampan sejak kemarin nggak ngajak bertengkar, pikir Mei.


Selesai makan, Edwin meminum obatnya, Mei memberikan satu per satu.


"Tidurlah kak," ujar Mei menaikkan selimut ke dada Edwin. Edwin memegang tangan Mei, Mei bingung dan mencoba bertanya.


"Kakak pingin apa?"


"Temani aku," ujar Edwin pelan sambil menatap Mei dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kak, kakak sakit, tidurlah, jangan tatap aku seperti itu," ucap Mei merasa jengah.


"Kenapa, tidak boleh?" tanya Edwin pelan dan tangannya masih memegang tangan Meisya.


"Aku normal kakak, jangan pandangi aku seperti itu, aku bisa mengartikan lain,  padahal yg ada dipikiran kakak, kakak tidak memandangi aku, aku mirip seseorang yang tetap kakak cintai kan?" tanya Mei dengan tatapan memelas. Seketika wajah Edwin menegang.


"Siapa yg memberitahu mu?" tanya Edwin kehilangan senyumnya. Mei menggeleng.


"Itu tidak penting, jadi berhentilah memandangiku,  melihatku diam-diam, perlakuan kakak padaku bisa membuatku jatuh cinta pada kakak,  sementara dalam hati,  pikiran dan mata kakak,  ada orang lain yang tergambar dalam wajahku, tidurlah kak, istirahatlah," ucap Mei berusaha menarik tangannya dari genggaman Edwin.


"Mei, ajari aku agar bisa mencintaimu," suara Edwin terdengar memelas. Meisya menggeleng pelan.


"Masih banyak waktu bagi kita untuk saling belajar kak, aku baru sebulan disini,kita belum saling mengenal betul, yakinkan kakak, bahwa yang kakak lihat adalah aku, bukan orang lain yg berwajah mirip aku," Mei berusaha tersenyum. Ditariknya jemari Mei yg masih digenggam Edwin lalu melangkah ke pintu.


"Mei," terdengar suara Edwin, Mei berhenti dan menoleh. 


"Kau mau menunggu kan, sampai aku yakin, bahwa yang aku lihat adalah dirimu, bukan orang lain?" tanya Edwin dengan suara ragu.


Mei tersenyum dan mengangguk. Edwin memejamkan matanya dan menghembuskan napas dengan lega.


***


Keesokan harinya Bu Minda datang dan langsung ke kamar Edwin.


"Sayang, gimana, sudah enakan?" tanya Bu Minda kawatir dan mencium kening Edwin.


"Sudah mendingan ma,  besok aku masuk, sudah nggak gemeteran lagi, aku kecapean kayaknya, lupa makan, trus malemnya pas jemput Mei kan kena hujan," ujar Edwin menjelaskan pada mamanya.


"Syukurlah, Mei merawat mu dengan baik, berbaik-baiklah padanya, ia anak yang patuh, dan tahu balas budi, maka nya mama berencana untuk menyekolahkan nya ke Australia,  ambil magister disana, sayang jika kepandaiannya hanya berhenti di sisi mama sebagai sekretaris," ujar mama tersenyum menatap Edwin, seketika dada Edwin berdegup kencang. Ia harus jauh dari Meisya sementara hatinya baru saja belajar menemukan kenyamanan setelah lima tahun tersiksa?

__ADS_1


Edwin berusaha duduk dan menatap mamanya, Bu Minda menyadari keterkejutan Edwin tapi ia biarkan saja.


"Ada apa sayang, ada yang kamu pikirkan?" tanya bu Minda.


"Emmm apakah Mei tahu rencana mama, kapan mama akan memberangkatkan Mei?" tanya Edwin tiba-tiba dengan wajah bingung. Bu Minda menahan senyum, ia berusaha tetap serius memandang Edwin.


"Hmmm belum,  rencananya besok mama akan mengatakan pada Mei dan yaaaa secepatnya ia akan mama berangkat kan, usianya masih muda banyak kesempatan yang bisa dia raih," ujar bu Minda dengan nada meyakinkan.


Edwin menghembuskan napas dengan berat. Dan memejamkan matanya. Bu Minda melihat perubahan wajah Edwin, dan semakin menahan senyumnya dengan pura-pura menoleh ke sisi lain.


***


Malam saat Mei akan tidur tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Bentar bik Suuum, ih malem-malem ngapain bibik ke sini?" terdengar suara Mei yg menyeret sandal kamarnya dan berjalan pelan menuju pintu, saat dibuka alangkah kagetnya ia menemukan tubuh tinggi menjulang. Secepatnya Mei berbalik dan memakai jaketnya, ia hanya menggunakan tanktop dan hotpans saat Edwin muncul dihadapannya. Saat ia kembali menemui Edwin ia menemukan wajah murung Edwin.


"Boleh aku masuk?" tanyanya ragu. Mei mengangguk pelan, ada apa, pikir Mei. Edwin melangkahkan kakinya perlahan masuk ke kamar Mei dan menutup pintunya. Mei kaget karena tiba-tiba Edwin memeluknya.


"Jangan pergi Mei,  jangan pergi, aku baru belajar menyukaimu, belajar menghilangkan rasa sakit, lalu tiba-tiba kau harus pergi jauh," ucap Edwin terdengar parau.


Yaa amploooop... akhirnya aku menemukan kedamaian di dada bidang nan menggairahkan ini, akhirnyaaaaa ya Tuhan, pikiran nakal Mei untuk sementara menikmati pelukan Edwin namun sedetik kemudian dia berusaha melepaskan diri,  namun Edwin semakin mendekap Mei dalam pelukannya.


"Kak, kata siapa aku akan pergi, aku disini nggak kemana-mana,  lepasin aku, dadaku sakit kak," suara Mei terdengar menahan sakit. Edwin mulai melepaskan pelukannya namun memegang bahu Mei. Menatap Mei dengan wajah memelas. Oh ya Tuhan seorang pemilik perusahaan memohon padaku untuk tetap di sisinya,ah kayak mimpi aja, ntar bangun jatoh dari kasur, pikiran Mei kembali mengembara.


"Mama baru saja mengatakan padaku,  akan menyekolahkanmu ke Australia, ambil magister, jangan Mei,  jangan jauh dari aku, di sini program magister banyak dan juga bagus, jangan mau ya Mei?" pinta Edwin memelas.


"Apakah aku akan bisa menolak permintaan orang yang sudah menjadikanku seperti sekarang? aku tidak bisa menolaknya kak," jawab Meisya menengadah menatap Edwin.


Kembali Edwin memeluk Mei, diciumnya kepala Mei, Mei merasakan meremang seluruh badannya.


"Jadi kita harus jauh Mei?" tanya Edwin dengan suara parau. 


"Justru dengan berjauhan, kita bisa memastikan hati kita kak, aku akan menyelesaikan 1,5 tahun, dulu strata satu aku selesaikan tiga tahun, tidak lama kan 1,5 tahun," ucap Mei pada Edwin.


Diciumnya lagi kepala Mei, Mei mendorong badan Edwin menjauh.


"Kenapa?" tanya Edwin bingung.


Didorongnya badan Edwin dengan kuat,  Edwin kaget dan menatap kembali wajah Mei.


"Ih kakak kok nyium- nyium, kan kita nggak pacaran, perasaan kita juga belum pasti, ntar aja nyiumnya kalo Mei bener-bener cinta sama kakak," ucap Mei dengan wajah kesal dan Edwin tertawa sambil menggelengkan kepalanya dan kembali mencium kepala Mei perlahan. Benar-benar bocah nih anak, pikir Edwin. Ia lepaskan pelukannya dan mencubit hidung Mei.


"Tidurlah, kakak akan kembali ke kamar," ujar Edwin melangkah keluar dan menutup pintu kamar Mei. 


*****


Makan malam kali ini terasa lain karena Edwin lebih sering melamun dan sesekali menatap Mei dengan pandangan sedih.


"Mei, ada yang akan ibu sampaikan, teruskan makannya, kita santai aja sambil makan," ucap bu Minda pada Mei yang menghentikan makannya sesaat.


"Gini, ibu ingin kamu melanjutkan sekolah, ambil magister di Australia, biar ibu tanya ke teman ibu dulu, yang bagus dimana,  mekanismenya kayak apa, tesannya kapan, pokok ***** bengeknya akan ibu tanya lengkap ke teman ibu yang kebetulan anaknya sekolah di Aussie juga, mau kan Mei?" tanya bu Minda pelan sambil tersenyum.


Sejenak Mei bernapas berat, menatap wajah Edwin yang juga menatapnya, meski ia sudah mengetahui dari Edwin, namun tetap merasa kaget saat bu Minda menyampaikan secara langsung.


"Gimana Mei?" tanya bu Minda lagi saat menyadari dua orang dihadapannya saling pandang dan berusaha bernapas dengan wajar.


"Iya ibu, saya mau," ujar Mei yang diiringi suara Edwin yang tersedak saat mengunyah makanannya. Bu Minda kaget dan cepat mendekatkan air minum ke tangan Edwin.


"Sayaaang,  kamu nggak papa kan?" tanya bu Minda kawatir. Edwin menggeleng cepat dengan wajah memerah, ia minum lagi air dengan sekali teguk. Meisya menatap Edwin dengan rasa bersalah. Dan bu Minda menahan senyum melihat wajah keduanya.


"Baiklah Meisya, kamu siapkan saja segala sesuatu yg berhubungan dengan ijazah, transkrip nilai S1 kamu, kawatir nanti diperlukan saat melaksanakan tes di sana," ujar bu Minda tersenyum pada Mei dan melirik Ed yang terlihat masih memandang piring kosong di hadapannya.


Bu Minda meninggalkan mereka berdua. Mei segera membawa piring kotor ke dapur. Edwin berdiri menyandarkan badannya pada tembok dapur, saat Mei mencuci piring.


"Ngapain kakak ngikut kesini, sana masuk kamar, istirahat," ucap Mei sambil membilas piring kotor.


Mei menuju kamarnya saat semuanya beres dan Edwin mengekor di belakangnya. Saat tiba di depan kamar Meisya,  Edwin memegang lengan Mei.


"Kamu benar-benar ingin menjauh dariku?" tanya Edwin lirih. Mei tak menjawab, ia masuk ke kamarnya dan kembali Edwin mengekor.


Mei duduk di kasur dan bersila menghadap Edwin. 

__ADS_1


"Aku harus bagaimana kak, apa aku bisa memilih, aku tidak punya kekuatan untuk menolak," ucap Mei menengadahkan wajahnya melihat Edwin yg perlahan mendekati Mei sambil tetap berdiri.


"Lagian, apa alasanku menolak kak, masak alasan karena mau belajar mencintai kakak?" ucap Mei lagi sambil mengerjabkan matanya.


Edwin yg awalnya sedih jadi menahan tawa melihat wajah lugu Mei. Didekatinya Mei dan didekapnya kepala Mei lalu diciumnya perlahan.


"Nyiuuum lagi, sudah dibilangin, aku merinding kalo kakak nyium," ujar Mei dengan wajah menengadah menatap Edwin.


Edwin tertawa pelan, mengacak rambut Mei. Dan kembali terlihat sedih.


"Aku akan sangat merindukanmu Mei," ucap Edwin pelan dan menarik Mei ke dalam pelukannya.


Meisya diam saja, ia biarkan Edwin memeluknya erat dan lama.


"Kak, aku boleh meluk kakak?" tanya Mei pelan. Edwin tak menjawab ia hanya mendekap Mei semakin erat. 


"Aduh kok gini," ucap Mei lirih.


"Kenapa?" tanya Edwin pelan menikmati harum rambut Mei. 


"Aku kok deg-degan ya kak?" tanya Mei tanpa mengharap jawaban. Edwin semakin gemas, ia mengangkat dagu Mei dan mencium bibirnya lama.


Mei menikmati ciuman Edwin dan mendorong nya pelan saat ia mulai kesulitan bernapas.


"Kak, jangan gini lagi,  aku takut benar-benar jatuh cinta sama kakak," ucap Mei dengan wajah memerah.


"Lalu, apa masalahnya jika kita suatu saat benar-benar saling mencintai Mei?" tanya Edwin cemas.


"Nggak kak, kayaknya aku takut menghadapi bu Minda,  ia adalah orang yang sangat aku hormati, alangkah kurang ajarnya aku jika tiba-tiba menjalin hubungan dengan putra kesayangannya, aku merasa tidak pantas,  aku hanya anak yatim piatu yang beruntung dibiayai dan disekolahkan oleh ibu Minda," ujar Mei dengan wajah memelas.


"Sejak kapan kamu mempunyai pikiran seperti itu?" tanya Edwin menatap Mei dengan tajam.


"Sejak tadi, saat aku tiba-tiba ingin memeluk kakak dan menikmati ciuman kakak, aku akuu terlalu serakah jika menginginkan kakak menjadi pendampingku," ucap Mei lirih. Edwin mengangkat dagu Mei.


"Tatap mataku Mei, aku akan benar-benar memastikan bahwa yang aku lihat adalah dirimu, dan disaat itu sudah pasti, aku tidak ingin kau menolakku,  kau sudah berjanji akan menungguku sampai aku benar-benar melihatmu sebagai Meisya," ujar Edwin. Meisya kembali memeluk Edwin dan melepasnya lagi.


"Kembalilah kekamarmu kak, sudah malam,  tidak baik jika kita terlalu lama berdua," Mei berusaha tersenyum dan mengantar Edwin sampai pintu, lalu menguncinya dengan rapat.


Edwin berjalan menunduk menuju kamarnya dengan pelan seolah tanpa tenaga, tanpa melihat bu Minda yang ada di dapur, yang terlihat kaget saat mengetahui Edwin baru keluar dari kamar Meisya. Bu Minda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara Mei membuka buku harian nya dan mulai menulis.


"Jangan biarkan aku mencintainya Tuhan, mengapa tadi ada debaran aneh saat ia menciumku, biasanya aku bisa menolak tapi mengapa kali ini aku menikmatinya. Mungkin akan lebih baik aku menjauh, membuang rasa aneh, sebelum tumbuh subur dan semakin dalam. Maafkan saya bu Minda, maafkan saya jika menikmati pelukan Ed"


Mei menutup bukunya,  berganti baju tidur dan merebahkan badannya perlahan. Berusaha memejamkan mata.


***


Dua hari ini rumah sepi,  hanya ada Edwin dan bik Sum. Mama dan Meisya ke Australia melihat langsung apartemen yang akan ditempati oleh Meisya nanti.


Meisya sudah resmi diterima di salah satu perguruan tinggi di Australia. Dua bulan lagi perkuliahan akan dimulai.


Edwin makan malam sendiri, melamun dan menatap gelas di depannya sementara kunyahannya terlihat melambat.


"Kangen non Mei ya den?" tanya bik Sum yg membuat Ed tersentak. 


"Bibik sok tahu," Ed tersenyum.


"Heeeem bibik ini sudah tua, sudah banyak makan asam garam, bibik bisa melihat kalo den Ed suka sama non Mei, cuman non Mei kayak masih bingung den, dekati pelan-pelan den, tapi den Ed harus pastikan, beneran suka apa ndak ke non Mei,  kalo sudah pasti ya ngomongo," nasehat bik Sum rupanya mengena di hati Edwin.


"Aku nggak enak sama mama bik, mama setuju nggak ya kalo suatusaat, aku bener-bener cinta sama Mei dan ingin menikahinya?" tanya Edwin ragu. Bik Sum terbelalak.


"Weh pasti mau deeeen,  wong mama den Ed sukaaa banget sama non Mei, makanyaaa cepetan pastikan hati den Ed, suka sama non Mei apa tidak, apa emm maafkan bibik kalo lancang, apa den Ed suka karena wajahnya kayak non Freya?" tanya bik Sum hati-hati. Edwin menghembuskan napas pelan.


"Awalnya aku juga ragu bik, tapi saat Mei hilang lima hari, aku mulai sadar bahwa yang aku rindukan sosok Mei, bukan Freya, mereka sosok yang berbeda,  mungkin karena Mei jauh lebih muda, ia sangat lugu bik, apa adanya, sementara Freya berpembawaan dewasa dan tenang," ujar Edwin masih menatap gelas yang kosong.


"Nah apalagi sudah pasti, cepet bilang den, nanti keburu diambil orang, hemmm siapa yg nggak jatuh cinta kalo liat non Mei, wajahnya cantik, mungil, pinter segalanya dan yang jelas pinter masak soto kesukaan den Ed," goda bik Sum sambil tertawa renyah. Mau tidak mau Edwin tersenyum lebar mendengar gurauan bik Sum.


"Makasih sudah menemani saya makan bik, saya ke atas dulu bik," Ed melangkahkan kakinya ke kamar.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2