Mencintai Asisten Mama

Mencintai Asisten Mama
44


__ADS_3

*SUK*


#44


Papa, mengapa begitu banyak bagianku dan,  dan aku tidak tau harus diapakan semua warisan dari papa, aku bukan orang yang tepat papa warisi semua itu,  ok lah kalo rumah dan ranch, tapi kalo perusahaan, aku pikir papa salah orang, perusahaan papa yang di Sydney dan Perth adalah perusahaan besar, benar-benar besar papa, apa jadinya jika aku yang pegang, tidak pa, aku tidak sanggup," James terlihat bingung.


Edwin menepuk bahu James. 


"Jalanilah dulu, kamu orang cerdas, tidak akan membutuhkan waktu lama untuk belajar," ujar Edwin menenangkan.


"Orang itu cerdas dibidangnya masing- masing Ed,jika berbicara masalah penelitian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kampus mungkin aku jagonya tapi jika berhubungan dengan dunia bisnis, aku jadi keliatan **** banget, bukan duniaku itu Ed," James menggelengkan kepalanya. Om Ben menatap James dengan sedih.


"Belajarlah pada Edwin,  James, belajarlah," ujar om Ben pelan. 


"Aku sibuk papa, sebentar lagi aku akan diangkat ketua jurusan, pekerjaanku akan semakin banyak, tidak ada waktu untuk itu,  penelitian yg masih aku kerjakan, mengoreksi tesis mahasiswa dan entahlah apa lagi..," ujar James terdengar putus asa.


"Biarlah Edwin yang mengurus kedua perusahaan besar papa, aku tidak mampu, atau lebih baik aku di komisaris saja,  tolong lah aku Ed," pinta James pada Edwin.


Sekali lagi Edwin menepuk pundak James. 


"Aku bantu pasti, belajar sedikit demi sedikit,  pasti bisa, yakin aja James, oh ya gimana kalo kita rame-rame liat apartemen baru hadiah dari om Ben," ajak Edwin


"Ok lah aku antar kalian,  tapi jangan lama-lama ya,  siang nanti aku ke kampus," ujar James.


***


Berlima mereka memasuki area apartemen mewah. Meisya memandang takjub sepanjang koridor menuju flat mereka.


"Diluar aja bagus gini ya kak, apalagi ntar di dalam," ujar Mei dengan riang. Om Ben tersenyum melihat wajah riang Meisya.


Meisya memencet password sesuai tanggal pernikahan mereka dan Mei terpekik girang melihat warna peach yg mendominasi,  warna kesukaannya. Mei memeluk om Ben, dan om Ben mengelus kepala Meisya. BuMinda hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Mei.


"Makasih om, sangat bagus, cocok untuk kami pengantin baru, dan yang jelas ini lebih luas dari apartemen Mei yang sebelumnya om," ujar Edwin mengamati sekelilingnya.


Edwin menoleh saat James terdengar menyapa seseorang. Dilihatnya ternyata Kent.


"Kamu pindah ke sini Kent?" tanya James dan Kent menggeleng. 


"Aku menjenguk Al, dia sakit, sepertinya dia memikirkan kata-kata mu James," ujar Kent pelan dan berusaha tersenyum.


James merasa tak enak pada Kent. 


"Kent kalo boleh tau di flat mana Alice?" tanya James dan Kent memberi tahu James.


Kent segera pamit pada Edwin, Mei dan semuanya karena akan ke kampus, Kent ada jadwal pagi.


Saat semuanya masih berkeliling melihat-lihat apartemen Mei dan Edwin, James pamit pada Edwin.


"Ed, aku ke apartemen Al dulu ya, ada perlu dikit,  tidak akan lama," ujar James melangkah menuju lift hendak ke lantai tiga.

__ADS_1


Didepan apartemen Al, James sempat ragu. Namun akhirnya ia tekan bel, berulang dan saat terbuka, Al terlihat kaget.


"Ada apa?" tanyanya dengan wajah murung. 


"Boleh masuk?" tanya James dan Al mengangguk.


Mereka duduk berhadapan. James kaget melihat wajah Al yang tumben bersih. Al menatap wajah James, James merasa bersalah jika mengingat kata-kata terakhirnya pada Al,  ia telah mengusirnya secara kasar.


Maafkan aku, maaf jika aku..," belum selesai James berbicara Al memotong. 


"Aku yg salah, aku terlalu memburumu, seharus nya aku sadar jika aku jauh di bawah standar mu, kamu laki-laki bersih tak sepantasnya wanita sepertiku terlalu berharap kamu menoleh padaku, aku yg pernah hamil tidak sepantasnya berharap kamu akan menerimaku," Alice menatap James dengan mata berkaca-kaca.


James hanya diam menatap Al yang akhirnya menyusut airmatanya perlahan.


"Maaf... aku, aku sudah membuatmu tidak nyaman, aku tidak akan menemuimu lagi," Alice menunduk dan meneguk salivanya yang terasa sulit masuk ke tenggorokannya.


"Aku juga minta maaf Alice, akuuu... aku masih sulit melupakan Mei, aku mencintainya tidak serta merta, butuh waktu,  saat aku benar-benar mencintainya ternyata dia sudah memiliki seseorang, saat ini aku berusaha mencintainya sebagai kakak, sulit memang.... mungkin kita lebih baik berteman Alice," James menatap Alice yang mengangguk dan menunduk.


"Aku kembali ke apartemen Mei dan Edwin dulu ya Al," James pamit,  Al mengantarnya sampai pintu.


"James," Al memanggil James dan James sekali lagi menatap Alice yang sebenarnya cantik dengan tampilam bersih hari ini. 


"Aku,  tidak akan mengganggumu lagi," suara Al terdengar tercekat.


"Aku tidak melarangmu menemuiku, maaf jika kata-kataku menyinggungmu,  aku sibuk akhir-akhir ini Al, jadi pikiranku kalut, hanya jangan terlalu sering ke tempatku," James sekali lagi menatap Alice dan berlalu dari hadapan wanita yang masih menatap punggungnya hingga hilang dari pandangan mata Alice.


***


"Dari sodaranya Kent pa?" jawab James. 


"Asik dong James, Al juga di sini, kita bisa berempat keluar bersama ya kak?" goda Mei sambil melihat Edwin dan James.


"Yah bener, ntar malem yok James," ajak Edwin dan James tidak menjawab hanya menatap Edwin dan tersenyum dengan terpaksa.


"Aku sama Mei mau nyoba nginep disini ntar malam James, kasian mama, keganggu ya ma?" Edwin tertawa dan bu Minda mencebikkan bibirnya pada Edwin.


"Tapi kita pulang dulu ya kak, ambil baju dan kosmetikku dulu," ujar Mei. 


"Ya iyalah sayang, kakak juga mau ambil dokumen perjanjian kerja sama dengan perusahaan om Ben," Edwin masih melihat James yang terlihat bingung.


"Eh James, aku tunggu bener ya ntar malam, jam 8 nggak pakek lama, ok," Edwin menepuk pundak James dan James mengangguk pelan.


"Ayo kita balik ke apartemen dulu, eh iya Ben, jangan lupa ya besok jadwal kemoterapi pertamamu," bu Minda mengingatkan om Ben. Om Ben mengangguk dan semuanya melangkah untuk pulang.


***


James mengantarkan Mei, Edwin dan buMinda ke apartemen Mei,  sedangkan om Ben untuk sementara berada di apartemennya, agar memudahkan jika akan ke rumah sakit dengan bu Minda besok.


***

__ADS_1


Selama di kampus James resah,  bagai mana caranya mengajak Al nanti malam. Dari tadi ia memandangi ponsel nya, tadi saat meminta nomor Al pada Kent ia sudah diledek habis-habisan oleh Kent.


Akhirnya James beranikan diri menelpon Al..


Halooo


Aku Al


James?


Yah, eeemmm nanti malam, mau ikut aku?


Kemana?


Jalan, eh Edwin dan Mei ngajak kita makan, mau ya Al?


Kamu tidak malu mengajakku?


Mau nggak Al?


Aku harus pakai baju apa?


Sembarang, asal kamu nyaman aja


Kamu tidak malu mengajakku James


Pertanyaan itu lagi, mau kan Al?


Iya


Jam delapan kurang aku ke tempatmu


Yah


James menutup ponsel nya dan menghembus kan napas lega. Wanita aneh pikirnya,  pertama kayak jagoan lagaknya eh sekarang malah kayak orang sakit.


***


Jam delapan kurang, James memencet bel di apartemen Al, agaklama baru dibuka, James agak kaget melihat penampilan berbeda Al.


"Masuklah, aku mau ambil tasku," ujar Al pelan. James mengekor di belakang Alice. Saat sudah di depan James lagi, James menatap Al dari atas ke bawah.


Rambutnya diikat, meski disisi kanan kiri rambutnya berjatuhan namun justru terlihat menarik dan bibirnya disapu lipstik tipis.


"Aku tidak memaksamu tampil sebagai orang lain, kalo kamu merasa nyaman pake celana dan kemeja, nggak papa Al," ujar James lagi. 


"Aku kawatir kamu malu, aku kawatir kamu...," belum selesai Al bicara James memotong.


"Kalo gini terus kamu nggak akan nyaman memulai sebuah hubungan Al, jadilah diri kamu sendiri,"ujar James lagi. 

__ADS_1


"Tapi nggak papa kok James, ini nyaman juga, kita berangkat aja," Al membawa tas selempang dan membuat James menahan tawa, dressnya sudah cantik eh tasnya tetap tas model cowok.


Keduanya berjalan menuju pintu, Al berusaha memakai stilletonya,dan berusaha menyeimbangkan diri, James kawatir melihat Al dan benar dugaan James, Al oleng dan hampir jatuh, James menangkap bahu Al dan keduanya saling menatap dengan pandangan bingung.


__ADS_2